
Masih di area pemakaman...
Devan menyentuh bunga yang berada di atas pusaran ayahnya. Masih segar, benar-benar baru di letakkan. Namun yang lebih mencolok adalah makam yang lainnya.
Yang berada tidak jauh dari makam sang ayah, karena terdapat bunga yang sama di atasnya.
Hingga saat ini, dia sendiri masih tidak tahu, sebenarnya itu makam siapa?
Namun yang ia ingat, Ayahnya selalu betah berdiam diri di atas makam itu. Serta selalu mengajaknya menghabiskan waktu di sana, setiap tanggal ulang tahunya.
# Flashback is on...
Devan menarik jas sang ayah pelan, membuat Tuan Hari menoleh kebawah.
"Papih, aku bosan... Ini kan hari ulang tahun ku. Ayo adakan pesta sekarang saja." (Devan 8 tahun)
"Pesta akan di adakan tiga hari yang akan datang, seperti biasa. Sekarang, kita berdoa saja dulu disini."
Bibir Devan mengerucut.
"sebenarnya siapa yang di makamkan di sini, sih?" Devano kecil bertanya, dengan polosnya. Sementara sang ayah hanya menyunggingkan senyum, serta mengusap kepalanya lembut. Setelah itu kembali memandangi makam di hadapannya.
"Dia bidadari tercantik, di bumi ini. Setelah nenek," jawabnya.
"Bidadari cantik? Setelah nenek?" Bingung, lalu menarik lagi jas ayahnya, membuat Tuan Harison menoleh. "Bidadari tercantik itu, Mamih. Bukan yang ada di sini."
Tuan Harison, terdiam sejenak. Menghela nafas, lalu mengusap kepalanya lagi.
# flashback is off
Dan jawaban itu selalu ia dapatkan berulang-ulang. Bahkan sampai Devan bingung sendiri.
"Karlina Andara." Devan membaca nama di nisan itu. "Tunggu?"
tatapannya menggambarkan, bahwa ia tengah menyadari sesuatu, lalu menyentuh angka di bawahnya.
"Taβ tanggal kematiannya, sama dengan tanggal kelahiran ku?"
Semakin di buat pusing dengan itu, Devan mengingat satu hal? Ia sering bermimpi wanita cantik yang memangkunya saat masih kecil, menggunakan gaun putih dengan lingkaran bunga di kepalanya.
Wanita itu selalu datang dalam mimpinya, saat ia tengah dilanda kesedihan. Dan ia benar-benar merasa tenang manakala wanita dalam mimpinya itu hadir.
"Bidadari cantik?? Siapa sebenarnya kau?"
π
__ADS_1
π
π
Beberapa Minggu berlalu, semakin dekat pula dengan hari pernikahan.
Sang ibu benar-benar tak pernah membahas itu. Semenjak dirinya mendeklarasikan sebuah niatan untuk menikahi gadis itu.
Bahkan ia harus mengurus semua keperluannya sendiri. Tanpa campur tangan sang ibu.
Wanita itu memang tak pernah mengeluarkan kata penolakan ataupun persetujuan. Namun setidaknya sebagai seorang ibu, bukankah dia harus berbicara empat mata dengannya? Sebagai kemantapan hati sang putra.
Pagi yang tenang...
Keluarga itu tengah menyantap hidangan sarapan pagi bersama. Nyonya Lili menelungkupkan garpu dan pisaunya di atas piring. Pertanda Ia telah selesai menyantap makanannya. Lalu memandangi ke tiga anaknya, dengan bibir tersenyum hangat.
"Anak-anak, hari ini Mamih dan Ayah kalian ini akan melakukan perjalanan ke Swedia. Sekitar sepuluh hari, dan lanjut lagi ke Lass Vegas selama dua Minggu. Kalian jaga diri kalian baik-baik ya?"
Devan membeku, ia menghentikan pergerakan pisaunya yang tengah memotong roti lapis di atas piring.
Dia tahu aku hendak menikah, kan? Kenapa malah pergi.
Devano masih menundukkan kepalanya. Sementara Zaeni hanya diam saja sembari menyunggingkan senyum. Berbeda dengan Delia, gadis itu terlihat tidak suka.
"Lamanya?" Protes Delia.
"Mamih tahu, kan? sebentar lagi aku akan mengadakan perayaan kelulusan ku, loh."
"Mamih tahu, bukankah perayaan mu itu masih satu bulan lagi. Mamih pasti sudah pulang."
"Tepati janji mamih yang akan membuatkan pesta meriah?"
"Pasti sayang, mamih sudah menyiapkan."
"Yeaaayyy..." Delia merasa bahagia.
"Lalu bagaimana dengan acara ku. Yang tinggal menghitung hari? Apakah Mamih lupa?" Devan menyela. Dia sudah menggenggam garpu dan pisaunya amat kuat. Emosinya benar-benar sudah ingin pecah.
Liliana menghela nafas.
"Sayang, Mamih minta maaf sekali. Kau harus mengadakan pesta mu tanpa kehadiran Mamih."
Sraaaaggg... suara kursi yang di dorong paksa kebelakang hingga terjungkal.
Devan beranjak tiba, lalu menggebrak kuat meja itu. Hingga ada beberapa piring juga gelas yang terjatuh dan pecah. akibat hantaman kedua tangannya.
__ADS_1
Delia yang melihat itu terkejut bukan kepalang, sama halnya dengan Zaeni. Namun berbeda dengan Lili yang hanya memandanginya tanpa ekspresi.
"Kau sangat tidak adil...!!! Kauβ" Devan menuding wajah sang ibu dengan pisau yang ada di genggamannya.
Dimana Liliana hanya diam saja. Menengguk minuman di gelasnya lalu mengusap bibirnya dengan santai. setelah itu menatap Devano lagi.
"Mamih, tidak bisa lagi. Berbicara apapun, karena kau yang sekarang semakin tidak mau menghargai Mamih." Tuturnya dengan nada bicaranya yang datar.
"Mamih pikir, dengan usia mu yang semakin bertambah akan semakin membuatmu dewasa. Dan sekarang, kau berani menodongkan pisau roti itu kearah Mamih?"
Devan terdiam, tangannya gemetaran. Dia merasa bersalah atas itu, namun ia benar-benar sudah tidak tahan dengan segala ketidakadilan yang dilakukan ibunya selama ini. Membuatnya tanpa sadar menghunuskan pisau itu kearah wanita yang ia tahu adalah ibu kandungnya sendiri.
"Mamih semakin merasa kecewa dengan sikap mu yang sekarang." Sambungnya, yang lantas membuat tangan Devan turun, seraya semakin memperkuat genggamnya.
"Aaaahhhh...!" Devan yang kesal langsung membanting pisau itu dan meraih jas di tangan sang pelayan, kasar. Yang sedari tadi memeganginya.
Lantas keluar dari ruangan makan tersebut.
Liliana mendesah. Kedua tangannya terkepal erat.
*Anak tidak tahu di untung, masih baik aku membiarkan mu hidup dan tinggal di sini.
Tunggu saja sampai stempel emas itu di temukan?
Kau akan ku tendang ke jalanan, bersama istri miskin mu itu*.
Liliana beranjak, Sekertaris Erik pun sigap memasangkan jas di bahunya. Setelah itu turut keluar.
Baru beberapa langkah, wanita itu menghentikan langkahnya.
"Erik?"
"Ya, istri ku?"
"Aku baru menyadari satu hal. Sejak kapan anak itu suka dengan aksesoris?"
"Maksudmu?" Erik merasa bingung.
"Cincin yang Devan pakai. Kau melihatnya?" Ucap Liliana.
Erik terdiam sejenak, mengingat-ingat. Lalu mengangguk.
"Bukankah sebelumnya tidak pernah terlihat dia memakai itu? Batu permata yang menjadi hiasannya besar sekali, dan sepertinya aku tidak asing dengan batu permata seperti itu? Tapi di mana, ya?"
Sekertaris Erik kembali mengingat. Ia pun seperti tidak asing dengan batu permata itu.
__ADS_1
"Ahh... Sudah nanti saja. Kita harus segera jalan." Potong Liliana yang kembali melanjutkan perjalanannya.
Bersambung...