
Di tempat lain.
Kedua mata Kunia mulai terbuka, tubuhnya masih merasakan sedikit lemas. Ia menoleh ke sisi samping. Di lihatnya Devan tengah memandangnya, dengan tangan menopang kepalanya.
"Kau sedari tadi di situ?" tanya Kuni lemah. Perutnya masih sedikit tidak enak, namun jauh lebih baik.
"Emmm..." Devan membenahi selimut yang di kenakan Kunia. Tanpa memalingkan pandangannya sama sekali.
"Kita di rumah sakit, ya?"
"Iya," jawab Devan singkat.
"Kenapa kau bawa aku ke rumah sakit?"
"Kau pikir dengan caramu pingsan tadi tidak cukup membuat ku khawatir? Itulah alasan ku membawa mu ke sini."
Kunia terdiam, ia tidak percaya bahwa Devan bisa mengkhawatirkannya.
"Kau khawatir, dengan ku?"
"iya... aku khawatir padamu. Dan itu sangat menyusahkan."
"Hiissshhh....!" Kunia mendengus, sebal.
"Kau harus tahu bahwa tubuh mu itu berat, mungkin kau harus diet setelah ini," protesnya.
"Aku tidak seberat itu, jangan ngarang ya."
"Kau bilang ngarang? Hei– aku yang menggendong mu sendirian sampai sini. Lihat tanganku yang kelelahan ini, saat mengangkat beban tubuhmu..." Devan menunjukkan lengannya.
Membuat Kunia tersenyum, lantas mendorong lengan itu, menjauh. Ia memiringkan tubuhnya dengan satu tangan di tekuk menjadikan bantalan.
"Terimakasih," gumamnya. Devan semakin menurunkan tubuhnya. Hingga wajah mereka semakin dekat.
"Hanya Terimakasih?" Tanyanya pelan, namun lembut.
"Memang kau mau apa? Selain terimakasih, kau sudah punya semuanya. Tidak mungkin 'kan, masih mengharapkan hadiah dari ku yang miskin."
Devan terdiam, ia menyentuh wajah Kunia, mengusap pipi itu lembut. Kunia yang merasakan sentuhan itu pun berdebar.
Wajahnya lantas memerah, namun tatapannya tak mampu terlepas dari wajah sang suami.
"Kalau hadiah aku tetap akan menerimanya, apapun itu. Asalkan dari mu."
"Dari ku?" Kunia sempat berfikir sejenak. "Hemmmm... Kira-kira kau suka apa ya? Oh... kau suka cincin tindik seperti yang berada di telinga mu itu, 'kan? Mau ku belikan yang baru?"
Devan tersenyum. Ia mengangguk pelan.
"Tapi, pasti tidak bisa semahal jika kau membelinya sendiri. Karena aku akan membelinya dengan uang ku sendiri."
Devan kembali mengangguk. Tangannya berpindah, mencengkeram dagu Kunia lembut.
"Tidak masalah, aku akan tetap menerimanya... karena yang paling penting adalah dirimu yang memberikan itu."
Mereka saling pandang, membuat Kunia semakin gugup.
"Mbak Kunti–"
__ADS_1
"Iiiih..." Kuni menepis tangan Devan, "aku tidak suka julukan itu."
Devan terkekeh tanpa suara. "Lalu kau mau ku panggil apa?"
"Ya apa saja, jangan Mbak Kunti lagi." Kunia memutar tubuhnya membelakangi Devan.
"Itu panggilan sayang ku kok," jawaban Devan kemudian. Membuat Kunia terdiam.
"Pa... panggilan sayang?" Masih membelakangi.
"Iya– panggilan sayang. Mbak Kunti, aku suka memanggil mu itu, karena membuat ku bergetar."
Kunia menoleh kebelakang. Pria itu sudah duduk menyandar di kursinya.
"Bohong–"
"Kau bilang itu bohong, kapan sih aku pernah membohongi mu? Memang benar kok, setiap kali aku memanggil Mbak Kunti. Disini..." Menyentuh dadanya. "Selalu bergetar."
"Dev?" Kunia memutar lagi tubuhnya menghadap Devano. "Kau tahu artinya itu, tidak?"
Devan menggeleng.
"Tidak?"
"Iya, tidak. Namun aku hanya berfikir, suka menyebut itu."
"Berarti kita sama, aku pun ada julukan yang sering ku sematkan untuk mu. Namun, membuat ku bergetar."
"Julukan apa itu?" Devan mencondongkan tubuhnya menopang dagu.
"Si sinting?" Bertanya dengan nada yang sedikit di tinggikan. Kunia mengangguk polos.
"Dan aku selalu bergetar juga ketika menyebut mu itu."
"Sinting... Si sinting..." Devan mendesah, ia berkaca pinggang. "Jadi kau selama ini menjuluki ku, si sinting?"
"Iya... habis, kelakuan mu membuat ku gila. Apalagi yang pas coba? selain Si Sinting."
Devan geleng-geleng kepala. Ia menyibak rambutnya kebelakang, gusar. Lalu menoleh ke arah Kunia lagi.
Wanita itu sudah tertawa, ia memegangi tangan Devan. "Tidak lagi untuk sekarang kok."
Ngeri sekali tatapannya itu, sepertinya Dia marah. (Kunia)
Devan menepisnya.
"Hei– maaf aku hanya bercanda." Kunia kembali meraih tangan Devan, namun di tepisnya lagi. "Dev–"
"Kau bilang aku sinting kan? Jadi untuk apa memegangi tangan ku."
"Aku sudah bilang, aku itu hanya bercanda. Maaf..."
"Ck...!"
"Devan..."
"Jangan sebut nama ku, panggil saja sinting, sebagaimana kau menyukainya."
__ADS_1
"Tidak lagi Dev– akan ku berikan julukan lain."
"Tidak perlu...!!"
"Dev–"
"Ku bilang jangan sebut namaku!!"
"Okay, sayang– maaf."
Devan terdiam, ia menoleh sejenak kearah Kunia yang sudah tersenyum manis lantas memegangi lagi tangan itu.
"Maaf– aku benar-benar hanya bercanda."
"Kau sebut apa tadi, sayang?"
"Iya."
"Ckckck... Dalam hati kau pasti masih menyebutku sinting kan?"
"Tidak, sejujurnya yang membuat ku bergetar bukan itu. Tapi julukan sayang itu, makanya aku tak memanggil lagi."
"Kenapa begitu?"
"Ya mau gimana, aku gugup setiap kali memanggil mu itu." Nyengir.
"Ck..."
"Hei– sayang. Aku akan memanggil mu itu mulai sekarang," Kuni masih menggenggam tangan itu. Devan pun menghela nafas.
"Janji, akan memanggil ku itu? Bukan si sinting?"
Kunia mengangguk. "Iya janji, sayang... Sayang... Sayang... tuh aku menyebutnya beberapa kali kan?"
"Lagi."
"Apa?"
"Panggil aku dengan sebutan itu lagi. Lebih banyak dari yang tadi."
"Hemmmm... iya sayang... sayang... sayang..."
"Lagi..."
"Sa.. emmmmpp." Sebuah ciuman pertama mendarat mulus di bibirnya. Devan tak bergerak, ia hanya diam saja lalu melepaskannya. "Kau... mmmppp."
Kunia yang hendak protes membuatnya menerima lagi ciuman itu, begitu terus hingga ketiga kalinya. Yang terakhir ini lebih lama, bahkan Devan kini merubah sedikit posisi Kunia agar terlentang menghadapnya.
Apa ini? Dia mencium ku dengan lembut?
Reflek, mata Kunia terpejam. Perlahan, ia membalas kecupan itu. Membuat Devan menghentikan sejenak, nampak seperti ia menyukai itu. Lalu melanjutkannya.
Keheningan tercipta, menemani sepasang suami-isteri baru itu menikmati penyatuan cinta mereka. Walaupun hanya dari kecupan lembut di bibir.
Tanpa ingat jika mereka masih berada di rumah sakit. Atau mungkin sebenarnya ingat namun tidak peduli lagi, kalau tiba-tiba saja ada perawat atau dokter yang masuk.
I love you, Mbak Kunti. I love you, isteriku. –gumaman Devan dalam hatinya.
__ADS_1