I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
pacar bodohnya Anwar


__ADS_3

Sebelum kembali ke rumah, Kuni lebih dulu datang ke sebuah kafe yang tidak jauh dari tempatnya melamar pekerjaan tadi.


Ia mengatur janji untuk bertemu Anwar, yang jika tidak salah kantornya tidak jauh dari Diamond's. Walaupun Dia tidak pernah tahu, di mana tempatnya. Karena Anwar tidak pernah memberitahukannya secara gamblang, hanya bilang di kawasan tertentu, namun tidak pernah di sebutkan apa nama perusahaan tempatnya bekerja.


Gadis itu duduk dengan semangat menikmati suasana kafe yang nyaman, dengan secangkir Coffee latte dimana terdapat kepala beruang yang terbuat dari creamy foam, muncul dia atas kopinya.


Bentuknya yang bagus dan lucu membuat Kuni merasa sayang untuk meminumnya. Hingga sebuah lonceng di pintu berbunyi, tanda ada yang masuk. Gadis itu menoleh, ia melihat Anwar masuk. Bibirnya tersungging sembari tangannya melambai padanya.


Dengan ekspresi wajah yang tak nampak senang, Anwar mendekati dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Kunia.


"Kakak, aku senang kau datang."


"Emmm..." Pria itu menoleh ke kiri dan ke kanan. "Apa kau tak ada niatan untuk memesankan ku minuman? Kau tahu aku buru-buru hanya untuk menemui mu, kan?"


Kuni tersenyum. "Kau ingin aku memesankan sesuatu, seperti biasa."


"Dompet ku tertinggal di rumah."


"Tidak usah memikirkan itu, Aku ada kok." Gadis itu segera beranjak, hanya dengan mendengar ucapan Anwar tadi, ia sudah paham. "akan ku belikan, kau suka Americano Coffee, kan?"


"Emmm... Pesankan aku croissant juga. Aku tadi tidak sempat sarapan karena buru-buru."


"Oh..." Kuni berfikir sejenak, menghitung-hitung uang yang ada di dompetnya sendiri. "Okay... Akan ku belikan juga."


Kuni berjalan cepat menuju stand makanan di depan. Sementara Anwar hanya menyunggingkan separuh bibirnya.


Ia mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya.


"Uang ini untuk mengajak Reni makan siang nanti. Sekarang biarkan saja Kuni yang membayar. Lumayan untuk menghemat." Anwar kembali memasukkan dompetnya. Ia pun melihat pesan chat di ponselnya dari Reni.


📲 (Sayang terimakasih ya untuk kemarin... Aku senang.)


Anwar tersenyum, lalu mengetik sesuatu.


📱(Apapun untuk mu... Akan kuberikan. ❤️❤️)


Anwar menghela nafas lega. Hari ini mungkin ia akan mulai mengatakan sesuatu. Sesuai dengan janjinya kepada Reni, bahwa hubungannya dengan Kuni harus berakhir hari ini juga. Jadi dia tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi jika hendak mengantar-jemput kekasihnya itu.


Kuni yang datang dengan nampan berisi pesanan Anwar membuat pria itu membenarkan lagi posisi duduknya.


"Ada lagi?"


"Tidak, ini sudah cukup," jawab Anwar menarik gelasnya lebih mendekat. "Kau bilang kau ingin mengatakan sesuatu, apa? Cepatlah katakan, karena aku pun akan mengatakan sesuatu."

__ADS_1


Kunia tersenyum. "Kau mau mengatakan sesuatu juga? apa?"


"Hal yang cukup serius, yang mungkin akan membuat mu tercengang. Jadi, lebih baik kau saja dulu yang berbicara." Anwar menggigit ujung croissant-nya yang sedikit crunchy di luar serta lembut di dalamnya. Ia merasakan roti yang ia makan itu amat lezat, mungkin Reni akan suka roti ini.


"Hal yang cukup serius? Aku jadi penasaran." Kuni tiba-tiba saja merasa berdebar saat mendengar itu. mungkinkah Dia akan melamar ku?


Entah keyakinan dari mana, namun itulah yang melintas di pikirannya saat ini, sehingga senyumnya semakin melebar, tak sabar menanti pria yang tengah menikmati roti khas Prancis itu mengutarakannya.


Anwar melirik ke arah Kuni. "Lebih baik kau saja yang bicara lebih dulu."


"Tidak-tidak... Kau saja dulu, aku akan berbicara setelah mu."


"Kau yakin?"


Kunia pun mengangguk-angguk semangat, semakin tidak sabar. Sementara Anwar memasukkan potongan terakhir kedalam mulutnya lalu meminum kopi yang di pesan Kuni tadi.


"Makanan dan minuman di sini enak," puji Anwar berkata jujur.


"Benarkah? Kalau begitu ini akan jadi tempat favorit kita."


Anwari menatap gadis itu. –bodoh, yang ada ini akan menjadi cafe favoritku dengan Reni.


"Ayo cepat katakan, Kak."


Deg...! Seketika senyum Kunia meredup. Ia menatap Anwar tidak percaya.


"A–apa?"


"Kita putus... Kau dan aku, lebih baik berakhir saja." Dengan santai Anwar berkata seperti itu. Sementara gadis di hadapannya masih tercenung, sudut matanya sudah menganak sungai.


"Kita?"


"Iya... Kita putus. Sekali lagi ku katakan pada mu, kita putus saja."


Bulir bening di salah satu mata Kunia menetes begitu saja. Dengan sedikit gemetaran, ia meraih tangan Anwar seraya menggenggamnya erat.


"Apa... Apa salah ku? Aku buat salah apa pada mu?"


"Tidak ada. Kau hanya terlalu baik untuk ku."


"Tidak... Aku tidak terlalu baik untuk mu, aku masih banyak kekurangannya. Tolong katakan saja, apa salah ku."


"Ku bilang tidak ada... Kita sudah terlalu lama menjalin hubungan. Namun aku belum juga mapan, bagaimana pria sepertiku masih kau pertahankan? Maka lebih baik kita akhiri saja, agar kau bisa mendapatkan yang lebih baik."

__ADS_1


Kunia menggeleng cepat. "Tidak– kau sudah yang paling baik untuk ku. Tolong jangan akhiri hubungan kita. Ku mohon... Aku baru saja menaruh surat lamaran pekerjaan di Diamond's. Aku akan meniti karir ku, kita akan bahagia Kak. Kau janji akan menikah dengan ku, iya kan? Aku tetap akan meluangkan waktu di setiap akhir pekan untuk merawat nenek mu aku janji. Asal jangan akhiri hubungan kita."


Anwar berfikir sejenak. –Diamon's Benarkah Dia akan bekerja di sana? Tapi kan, belum tentu diterima juga. Tapi kalau ternyata di terima? Gajinya pasti tinggi, lumayan juga ya?


"Kak Anwar– ku mohon jangan akhiri hubungan kita."


"Bukankah aku selalu merepotkan mu? Lagi pula, hutang-hutang ku juga masih banyak pada mu. Kau pasti merasa terbebani kan?"


"Tidak kok, kau jangan berfikir seperti itu. Aku sudah anggap lunas, tidak perlu kau merasa aku terbebani karena kau yang selalu meminjam uang pada ku. Sungguh Kak."


Anwar tersenyum licik. –sungguh ya... Ada wanita sebodoh Dia. Aku tidak habis pikir, tapi? Baguslah, tinggal bagaimana aku berbicara pada Reni. Agar gadis itu percaya aku sudah benar-benar putus dari Kuni. Karena lumayan juga jika sampai dia benar-benar bekerja di perusahaan milik keluarga Atala itu.


"Kak Anwar, aku benar-benar mencintai mu. Sungguh... Sungguh Kak, tolong jangan akhiri hubungan kita. Kumohon..." Kunia masih memohon pada pria di hadapannya dengan air mata yang sudah berderai-derai.


Hingga sebuah panggilan telepon membuat Kunia melepaskan genggamannya. "Sebentar Kak."


Kuni mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya, sembari meraih tissue untuk menghapus air matanya. Ia melihat panggilan itu menggunakan nomor yang biasa di gunakan kantor.


"Hallo... Ya selamat pagi." Kunia manggut-manggut, dengan bibir tersenyum senang. "Benarkah? Ya Tuhan... Syukurlah, baiklah besok saya akan datang."


Anwar mengerutkan keningnya, sembari menyeruput kopi di gelasnya. Menunggu gadis itu selesai.


"Iya Bu, terimakasih... Terimakasih banyak." Kuni menutup panggilan teleponnya.


"Apa?" Sedikit penasaran juga Anwar pun bertanya.


"Aku tidak percaya, secepat ini aku di terima. Besok, aku harus interview dan tanda tangan kontrak kerja."


Anwar terkejut, ia tidak percaya Kuni benar-benar di terima. "Serius?"


Gadis itu mengangguk cepat. "Iya Kak, aku sudah bisa bekerja mulai besok katanya."


"Waaaah... Hebatnya." Anwar masih tidak percaya.


Mendengar itu Kunia meraih tangan kekasihnya. "Jadi bagaimana? Kita tidak putus kan."


"Ya... Tidak, kita masih bersama sekarang dan selamanya." Spontanitas Anwar mengatakan itu.


"Sungguh? Sungguh kan, kita tidak jadi putus?"


"Iya sayang... Kita tidak akan putus. Lagi pula bagaimana bisa aku melepaskan wanita paling sempurna sepertimu, yang ada aku akan gila karena meratapi kesendirian ku." Anwar meraih tangan Kunia dan mengecupnya lembut. "Maafkan ucapan konyol ku tadi ya, aku mencintaimu."


Mendengar itu Kuni langsung tersipu malu, ia mengangguk dan sedikit merasakan lega. Seolah kebahagiaannya kini berlipat-lipat, dia yang di terima kerja. Dan hati Anwar yang tidak jadi hilang, tanpa ia tahu senyum yang Anwar berikan adalah tanda kelicikannya.

__ADS_1


mesin ATM yang semakin penuh isinya, bagaimana mungkin aku akan melepaskan mu. Apalagi kau bodoh Kunia hahaha. (Anwar)


__ADS_2