I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
mata-mata


__ADS_3

Hari kembali berjalan sebagaimana mestinya. dengan cuacanya yang lumayan terik, di barengi semilir angin yang menyibak dedaunan.


hari yang cukup pas untuk bermalas-malasan, di rumah seperti yang di lakukan pasangan baru itu.


Berhubung ini adalah hari pertama mereka sebagai sepasang pasutri. Devan memilih untuk mengambil cuti selama lima hari ke depan.


Kegiatan mereka tak lain adalah berdiam diri bermain PlayStation. Sampai beberapa jam, sampai ia merasakan kebosanan.


Karena memang, tujuan Devan mengambil cuti bukan untuk berbulan madu, melainkan untuk mengurus semua rencana pemindahan posisi dirinya di Diamond's.


Devan melemparkan konsolnya setelah sudah beberapa kali kalah saat bermain game soccer.


"Sudah hentikan. Aku benar-benar bosan," runtuknya merasa kesal.


Kunia lantas tersenyum, pria itu memang tidak pandai-pandai amat. Tak seperti Gentar, lawannya yang seimbang. Dia rasa, Devan ingin berhenti bermain bukan karena jenuh melainkan pria itu malu karena terus-menerus di kalahkan olehnya.


"Aku akan keluar sebentar lagi. Kau tetaplah di rumah."


"Kau mau kemana?"


"Hanya bertemu seorang notaris."


Kuni manggut-manggut. Tidak mau bertanya lebih banyak, karena ia tak ingin menjadi istri yang selalu ingin tahu urusan suaminya.


"Emmmm kalau di rumah terus mungkin aku akan bosan... Nanti aku mau main ke Food truck, Bu As saja. Boleh kan?"


Devan terdiam, sebenarnya ia amat penasaran dengan Bu As.


"jam berapa?"


"Saat kau pergi saja."


"Baiklah. Pulangnya akan ku jemput, karena aku tidak lama kok. jujur saja aku ingin makan rice bowl buatannya lagi."


"Okay–" tersenyum.


Sekarang Kuni sudah mulai jarang menampakkan tampang bersungutnya. Mungkin sebab pria itu sudah tidak begitu menyebalkan, di tambah statusnya yang sebagai seorang suami. Sudah mampu membuatnya memiliki alasan untuk sedikit lebih patuh.


***

__ADS_1


Mobil sudah keluar area perumahan. Ia melirik kaca spion, melihat satu mobil yang seperti mengikuti.


Sudah ku duga, walaupun selalu berganti mobil. Tapi aku yakin, mereka itu mata-mata.


Devan memang menyadari, segala apa yang ia kerjakan tak luput dari pantauan orang-orang asing yang selalu mengikutinya. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa harus sampai seperti itu dan siapa yang menyuruh, apakah Mamihnya? Atau Sekertaris Erik?


Baiklah kita akan mulai bermain.


Devan menginjak pedal gas, lebih melaju kencang. Meliak-liuk, menyalip mobil-mobil di depan.


Di lihat lagi mobil di belakang pun turut membuntuti, ngebut juga seperti dirinya.


sementara lampu lalulintas di depan sudah berubah kuning. Devan menarik separuh bibirnya, semakin ia mempercepat, hingga sampai di ujung lampu. Ia lolos, dan yang di belakang harus berhenti karena tertahan lampu merah di perempatan jalan tersebut.


Nice!! –Devan menyeringai.


Namun, yang membuntuti memang bukan hanya satu, kembali dari jalur yang lain. Sebuah mobil lain memasuki lajurnya, berjalan mengikuti.


Sudah ku duga. Aku akan menemukan empat sampai lima mobil yang lain. Sebenarnya untuk apa mereka membuntuti ku?


Devan sudah benar-benar geram. Ketika setiap harinya harus menghindari para mata-mata yang selalu mengikuti. Kembali ia berusaha menghilang dari jangkauan mereka, dan terus melakukan hal yang sama. Sampai ia merasa benar-benar aman, untuk bertemu Notaris Evans.


–––


Mobil berhenti di sebuah basemen apartemen. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, sebelum akhirnya keluar dari dalam mobilnya.


Melangkah dengan santai, menyusuri satu demi satu mobil yang terparkir di sana.


Berjalan pelan, dengan perasaan seperti ada yang mengikuti. Sedikit ia menunduk sembari garuk-garuk kening, menoleh ke belakang.


seorang laki-laki… Apa aku masih di buntuti? Sial!


Terus saja melangkah, hingga sampai ke depan lift. Ia menekan tombol itu, sembari menunggu pintu terbuka. Sesekali masih menganalisa pria di belakang yang semakin mendekati lalu berdiri di belakang.


Tanpa ba-bi-bu lagi. Devan memutar tubuh pria asing tersebut, mencengkeram baju di bagian dadanya sembari mengarahkan tinju.


"Tuan– ini aku," ucapnya sembari menaikkan topi yang menutupi wajahnya. Menahan pukulan Devan sebelum mendarat di wajah pria yang menggunakan set Hoodie, berwarna abu-abu.


"Andre?" Devan mengendurkan cengkraman di bajunya. Andre nyengir, dan kembali menurunkan topi itu. "Kita?"

__ADS_1


Andre meletakkan jari telunjuknya di bibir.


Saat pintu lift terbuka, Andre berjalan lebih dulu. Masuk ke bilik tersebut.


"Ada pengintai lain. Ia berada di sudut arah jam enam," bisik Andre yang melihat seseorang lainnya. Devan mengerti, ia lantas menyusul Andre.


Di dalam lift...


"Saya menunggu di sini sudah sekitar hampir satu jam."


"Benarkah?"


"Ya– sebelum ini ada dua orang yang berjaga, sepertinya mereka tahu kalau Tuan mau bertemu Notaris Evans."


"Lalu, apakah kau sudah menghalau mereka?"


"Sesuai apa yang Tuan muda inginkan. Tapi, yang satu tadi luput. Maaf Tuan," kata Andre.


Devan tersenyum, memang Andre tipe yang selengean. Namun pekerjaannya benar-benar rapi dan amat mampu untuk di andalkan.


"Tuan, aku sudah mengganti pertemuan ke tempat lain. Tuan Evans Ada di gedung sebrang."


"Kenapa?"


"Emmm– sebab beberapa hari terakhir, notaris Evans mengalami sebuah teror misterius. Dua kali ia mendapatkan minuman yang mengandung obat penenang dengan dosis tinggi. Setelah saya memberitahu beliau untuk berhati-hati."


Devan terdiam. Sepertinya ini bukan lah pekerjaan yang perlu di remehkan. Dengan beberapa penemuan Andre, semakin membuktikan jika orang-orang suruhannya yang menghilang bisa jadi mati terbunuh.


Lalu siapakah yang melakukan itu?


Sekertaris Erik kah?


Ya... sudah pasti Dia. Devan beranggapan, bahwa nyawa sang ibu pasti tengah terancam. Dan melihat dari gesture Mamih, seperti melakukan sesuatu yang membuatnya merasa di rugikan, bisa jadi akibat tekanan dari suaminya sendiri.


Aku yakin, Erik pasti sudah merencanakan ini. Dia ingin menguasai, harta peninggalan Papih.


Gusar, ia benar-benar tidak bisa berlama-lama. Segera ia harus merebut haknya sebagai pemimpin Diamond's. Pintu lift terbuka, keduanya lantas keluar.


"Berarti, Kita langsung pindah gedung sekarang?"

__ADS_1


"Ya Tuan, lewat sini. Namun sebelum itu, kita berganti busana dulu." Andre menyerahkan kantong keresek berwarna hitam. Sebuah pakaian sederhana, untuk Tuannya.


Setelah semuanya selesai, mereka pun terpaksa menggunakan tangga darurat untuk turun, sehabis Andre mematikan sistem kerja CCTV tempat mereka melintas.


__ADS_2