I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
Zaeni


__ADS_3

Zaeni mengetuk pintu kamar Delia, sebelum masuk.


Kamar yang tak pernah terkunci nampak kosong. Ia mencari sosok sang adik, di dalam dan menemukannya baru keluar dari dalam kamar mandi.


"Kakak?" Sedikit terkejut. Saat melihat pria yang berpakaian santai di sisi ranjangnya. Tengah berdiri memandangi dirinya.


"Kakak pikir, kamu kemana?"


"Hanya kekamar mandi," menekan tombol di dekat sandaran tangannya. Hingga roda itu menggelinding sendiri lebih mendekati Zaeni.


Pria itu pun duduk di atas ranjang sang adik. Menunggu Delia mendekat.


"Bagaimana hari, mu?"


"Baik–" Delia tersenyum, saat tangan halus kakaknya mengusap lembut pipinya yang kemerahan. "kakak tidak praktek?"


Zaeni menggeleng. "Aku ambil cuti hari ini. Rencananya, hendak mengajakmu kesuatu tempat."


"Wah– mau." Bersemangat.


"Ya sudah, ku panggil pelayan dulu untuk membantumu ganti pakaian, ya."


Delia manggut-manggut, merasa senang.


"Kebetulan hari ini kakak ipar pergi, jadi aku agak bosan."


Zaeni tersenyum. "Ya sudah aku keluar dulu, sembari memeriksa sebentar, kondisi Omahnya Devan."


"Ya, kak. Nanti ketemu di ruangan bawah, ya."


Sang kakak mengangguk sembari beranjak. Ia berjalan keluar kamarnya lantas meminta salah satu pelayan di sana untuk membantu Delia. Sebelum memasuki kamar Nyonya Briana.


Tok ... tok ...


Zaeni mengetuk sopan, sebelum akhirnya mendengar sautan dari Bu Asmia di dalam.


Setelah masuk, ia mengangguk sekali. Menyapa mereka berdua dengan sopan.


Nampak di sana Bu Asmia tengah menyuapi wanita renta dengan bubur.


"Selamat siang, Nyonya." Zaeni menyapa ramah. Hingga bibir wanita itu tersenyum sembari mengangguk.


"Silahkan Tuan Zaeni." Bu Asmia beranjak dari kursinya. Mempersilahkan ruang untuk pria berpenampilan santai itu.


"Terimakasih, Bu." Zaeni mendekati Nyoya Brianna sembari menarik troli berisi alat-alat medis yang di perlukan. Lantas duduk di kursinya. Menekan pangkal botol plastik, berisikan cairan antiseptik.


"Bagaimana kabar, Nyonya?" Zaeni mengusap kedua tangannya. Meratakan cairan tersebut sampai ke sela-sela jari.


"Aiiikkk..." (Baik.) Lirih beliau berusaha untuk menjawab. Dengan bibir yang masih sedikit terkatup rapat.


"Syukurlah, tapi tangannya sudah agak ringan, ya?"


Nyonya Brianna mencoba menggerakkan tangannya. Menunjukkan hal baik setelah di rawat oleh Zaeni dan temannya itu.


"Omah– bahkan bisa, memukul lenganmu. Seperti ini." Nyonya Brianna menepuk pelan lengan Zaeni sembari terkekeh. Setelah mencoba berbicara, walaupun dengan suara yang amat tak jelas.*


Zaeni tertawa, pelan.


(Aslinya omah masih kesulitan berbicara, khas seseorang yang terkena stroke. Tulisan di atas untuk memudahkan dialog saja.)*


"Nyonya bisa saja." Zaeni sudah memasang sarung tangan lateks. Setelah itu memeriksa tekanan darahnya. "Wah, tekanan darah Nyonya cukup tinggi. Nanti Zaeni kasih obat ya. Sekarang Zaeni akan menyuntikkan obat ini dulu."


Bibir keriput itu tersenyum, senang. Mempersilahkan Zaeni untuk melakukan apapun.

__ADS_1


Ya, pemuda di sebelahnya benar-benar berusaha sekali untuk menebus kesalahan kedua orangtuanya. Berkat perawatan khusus itu, membuat Brianna pulih lebih cepat.


"Tahan sebentar ya, Nyonya." Zaeni mendorong obat itu hingga masuk ke pembuluh darahnya. "Okay– sudah selesai. Besok tinggal bersiap untuk bertemu dokter Ardina."


Lembut ia berbicara, setelah mengeluarkan jarum dari tempatnya menyuntikan obat tadi.


Brianna mengangguk pelan, sementara Zaeni langsung mengemas kembali peralatan tersebut. Membawanya kembali ke sudut ruangan, setelah itu menyimpan beberapa yang perlu di masukkan ke dalam lemari steril.


Ia mendekat lagi. "Baiklah, hari ini tugas saya sudah selesai. Nanti sore, saya akan periksa lagi ya. Sekarang, minum dulu obat ini. Supaya tekanan darah Nyonya kembali stabil."


Brianna menyentuh tangan Zaeni yang tengah memegangi botol berisi obat.


"Jangan memanggilku, Nyonya. Panggil saja, Omah."


Zaeni terdiam.


"Panggil aku Omah. Panggil omah saja ya– jangan Nyonya."


"Nyonya?" gumam Zaeni, walau ucapan Brianna tidak jelas. Namun ia bisa mengerti sedikit.


"Omah" kata Briana mengulangi.


"Saya tidak pantas memanggil Nyonya dengan sebutan itu."


"Ini aku yang menyuruhmu. Panggil aku Omah. Mulai sekarang."


"Tapi, Nyonya."


Brianna menggoyangkan tangan, Zaeni. "Omah–"


Mata indah Zaeni mengkristal. Tergugu untuk mencoba mengucapkan kata itu.


"O–mah–"


"Biasakan ya, seperti adikmu juga. Diapun sama, memanggil ku itu."


"Omah–" Zaeni bergumam lagi, sebelum akhirnya meraih tangan Brianna, mengecupnya lembut. Merasa bahagia.


Dia anak yang baik ... sekretaris Erik pun dulu adalah pemuda yang jujur dan baik juga. Namun, entah mengapa ia menjadi seperti itu. Mudah-mudahan, kau pun tetap konsisten menjadi pemuda baik hati ya. –Brianna membatin. Seraya mengusap-usap punggung tangan anak itu.


***


Di sebuah kawasan taman hiburan...


Zaeni mendorong kursi roda adiknya. Menyusuri tempat tersebut. Gadis yang tengah menikmati gula-gula berwarna pelangi itu menikmati suasana nyaman di taman tersebut.


"Kakak, kenapa tadi lama sekali?"


"Kakak mengobrol sebentar sama Omah." Tersenyum senang. Tangannya masih mendorong pelan kursi roda tersebut.


"Kakak di minta untuk memanggil beliau, dengan sebutan Omah juga?" Delia menoleh penuh semangat. Membuat rambut panjangnya yang tergerai, tersibak angin.


Dengan jepit berwarna putih di sisi kiri dan kanan poninya, menahan agar poni yang sudah sepanjang bawah matanya tidak menghalangi pandangan.


"Iya–"


"Omahnya kak Devan, amat baik ya?"


Zaeni tersenyum lagi. "Iya–"


Masih terus menyusuri kawasan yang sudah nampak ramai pengunjung. Mereka berkeliling, tanpa menaiki satu wahana sekalipun. Walaupun Zaeni sudah menawarkan, namun Delia tidak mau. Dia lebih suka jalan-jalan saja. Setelah suntuk di rumah selama ini.


"Dokter Zaeni?" Seorang wanita dengan seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun memanggilnya. Zaeni pun menoleh, mencari asal suara itu.

__ADS_1


"Loh, dokter Ardina disini?"


Wanita berpawakan tinggi, dengan rambut panjang sedikit menggelombang itu tersenyum.


"Ini hari liburku. Sekaligus mengajak anakku jalan-jalan."


"Oo ..." Zaeni mengalihkan pandangannya pada anak laki-laki tampan di sebelah Ardina. Sementara Delia melambaikan tangannya ceria pada anak tersebut. Yang di balas langsung olehnya.


"Hallo, om. Kakak–" sapanya sembari membungkuk sekali dengan sopan.


"Halo juga– siapa namamu, tampan?" Zaeni mengulurkan tangannya. Sebenarnya Dia sudah tahu, namun untuk basa-basi saja.


"Aku Zidan."


"Wah nama kita sama." Kata Zaeni.


"Oh ya?"


"Iya, inisial depannya saja. Z ..." jawab Zaeni. Mereka yang di sana tertawa.


"Bunda, ayo kita naik kincir angin." Ajak anak itu kemudian, setelah berbincang sebentar.


"Oh, baiklah sayang." Ardina kembali menoleh kearah Zaeni lalu Delia. "Maaf kami harus pergi dulu."


"Okay ... Have fun, ya."


"Iya Dokter." Dina menyentuh pundak anaknya. "Ucapkan salam, nak."


"Om, kakak. Zidan pergi dulu ya, sampai jumpa lagi."


"Ya ampun, lucu sekali. Kapan-kapan kita harus ketemu ya," jawab Delia, yang menerima jabat tangan dari anak itu setelah mengangguk.


Pandangan Zaeni lantas mengikuti mereka untuk beberapa saat hingga semakin menghilang di tengah kerumunan.


"Jangan di lihat. Dia kan istri orang."


Zaeni terkekeh. "Siapa yang istri orang? Dia janda kok."


"Hah...!! Serius?"


"Iya– suaminya sudah meninggal satu tahun yang lalu. Karena kecelakaan pesawat. Suaminya itu pilot di maskapai X." Zaeni kembali mendorong kursi itu.


"Ya Tuhan– kasian, anaknya masih kecil lagi. Tapi dia cantik sekali," gumamnya.


"Ya memang cantik dan ramah."


"Ehemmmm..." Delia menggoda dengan dehamannya itu.


"Apa?"


"Kakakku sepertinya tertarik dengannya–"


"Ngaco! Aku itu sudah berteman lama, bahkan dengan mendiang suaminya juga."


"Hahaha– suka juga tidak apa kok."


"Sudahlah, kita makan eskrim saja yuk." Zaeni mencoba mengalihkan, dengan wajahnya yang sedikit bersemi itu.


"Pesannya yang rasa Dokter Ardina, ya?" Ledeknya.


"Delia– ku cubit pipimu nanti, ya."


"Hahahaha."

__ADS_1


Mereka terus berjalan, menghampiri kafe yang menyediakan es krim, sorbet dan gelato.


__ADS_2