I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
surat kode


__ADS_3

PIK... PIK... PIK...


Suara kunci kode pintu yang di tekan oleh seseorang di depan. Membuat Evans sedikit terhenyak. Beliau beranjak kemudian, lalu membungkuk sedikit setelah melihat siapa yang datang.


"Tuan muda?"


"Notaris Evans, bagaimana kabarmu?" Menjabat tangan pria tersebut.


"Saya baik, Tuan. Silahkan duduk."


Mereka berjalan menuju kursi sudut yang berada di ruangan itu.


"Mau saya buatkan minuman dingin, Tuan?"


"Tidak perlu. Saya hanya ingin, menanyakan tentang kedudukan saya, setelah ini."


"Saya paham, namun tetap kita membutuhkan stempel emas."


"Stempel emas?"


"Iya Tuan, perubahan nama kepemilikan akan sah dengan stempel emas. Itu yang tertera di surat wasiat tersebut."


Devan garuk-garuk kepala. Nampak cincin itu sedikit mengalihkan perhatian sang notaris.


Namun beliau kembali berfokus pada wajah Devano.


"Apa tidak ada cara lain?"


"Tidak ada Tuan. Sebaiknya, kita berusaha untuk mencari tahu dulu. Di mana stempel emas itu, di simpan."


"Aku sudah berusaha mencari di kamar Omah, dan juga Papih. Bahkan sampai ke ruangan kerja. Tapi tidak di temukan. Apakah Mamih tahu?" Gumam Devan, mendengar itu Evans terdiam. Justru jika Nyonya Lili tahu, itu yang bahaya.


"Tapi, setidaknya. Tuan muda bisa kan menduduki kursi Presdir? Agar bisa kembali memegang kantor pusat." Tanya Andre.


"Mungkin bisa... Saya akan mengusahakan. Secepatnya kita atur pertemuan dengan Nyonya Lili dan Sekertaris Erik."


"Kenapa masih seperti sulit? Bukankah saya sudah menikah, dan sudah cukup umur juga?"


"Masalahnya, peraturan sekarang berbeda Tuan. Banyak permainan yang membuat saya saja agak sulit untuk menemukan celah masuk ke sana. Sekertaris Erik benar-benar berpengaruh besar atas semua struktur organisasi perusahaan Diamond's."


"Sial!"


"Sabar Tuan, kita akan mencoba lebih jelih lagi. Setelah ini– stempel emas itu, pasti segera kita temukan," ucap Andre menenangkan. Devan pun menghela nafas.


Ia memang selalu bermain dengan cincinnya, memutar-mutar bagian permatanya. Namun tak sekalipun, ia menyadari jika permata itu bisa di buka.


***


Di tempat berbeda, ia melihat sebuah mobil mewah memasuki kawasan. Namun perhatian bukan di sana, melainkan mobil lain yang turut berhenti.


Beliau menyunggingkan separuh bibirnya.


Sudah ku duga, setelah Mbak Kuni menikah dengan Tuan muda. Dia pasti tak luput dari pantauan para ajudan remahan itu.


Bu Asmia memakai kacamatanya. Selama ini, beliau merubah penampilannya. Dia yang belum begitu tua menggunakan rambut palsu yang berwarna putih. Di tambah kacamata besar, juga kulit yang ia rubah menjadi lebih gelap padahal sebelumnya beliau memiliki warna kulit yang putih.


"Bu Asmia–" sapa Kunia ceria seperti biasa.


"Hallo Nona muda, cerianya hari ini?" Terkekeh.


"Apa sih memanggil ku Nona, panggil saja seperti biasa."

__ADS_1


"Loh, kan biar cocok. Setelah menikah dengan Tuan muda."


"Ya... Ya... Tapi aku tetap lebih suka di panggil nama saja."


"Hehehe– Mbak Kuni mau pesan apa?"


"Belum mau pesan, nanti saja."


Bu Asmia tersenyum, ia meletakkan segenggam sendok yang baru ia keringkan dengan lap. Setelah itu bertopang dagu.


"Bagaimana rasanya menikah?"


"Biasa saja."


"Oh ya?"


"Emmm..." jawabnya. –memang biasa saja, selain benjol di kening. Gara-gara semalam.


Kuni menyentuh bagian keningnya yang masih terasa nyeri.


Di sana mereka masih mengobrol kesana-kemari, menceritakan banyak hal. Sembari tertawa, bahkan tanpa sadar sudah melewati waktu yang lumayan panjang lebih dari satu jam.


Kuni menoleh ke kiri-kanannya. Ia hanya mendapati dua orang bertubuh kekar di meja lain, yang hadirnya hanya berselang beberapa menit darinya.


"Kok belum ada yang hadir?"


Bu Asmia tersenyum. "Ada kok– Mbak Kuni ini, dan dua orang mas-mas di sana. Kan pelanggan ku yang hadir."


"Loh, saya kan beda. Maksudnya, pelanggan lain lagi."


"Ini kan sudah lewat jam makan siang. Mungkin akan ramai lagi nanti sore."


Kuni manggut-manggut. Sementara itu kepala Bu Asmia terangkat, mengamati dua pelanggan lain yang tak kunjung pergi dari sana.


"Pangeran mu datang, ibu ke Truk dulu ya."


"Iya–" Kuni mengangguk sembari terkekeh. Lalu menoleh kebelakang. "Sudah tiba? Cepat sekali acaramu selesai?"


"Memang kau mau aku lama ya?"


"Tidak juga."


"Pesankan aku yang sama seperti waktu itu. Namun di bungkus saja, kita makan di tempat lain–" mengusap kepala Kunia lembut.


Sekarang pria ini nampak lebih manusiawi ya? (Kunia)


"Baiklah." Kuni beranjak, hanya untuk berteriak. "Bu– bungkus dua ya!!"


"Hei– kecilkan suaramu. Bisa kan?" Protes Devan.


"Aku tidak bisa berbicara pelan, tuh."


"Tapi kau kan bisa maju ke sana!"


"Tidak bisa juga." Ledek Kunia.


"Dasar!"


Kunia terkekeh, tak lama Bu Asmia menghampiri, memberikan sebuah bungkusan itu pada Kunia. Devan sempat memperhatikan wanita di hadapannya, seperti ia kenal. Namun siapa?


Karena penampilan Bu Asmia sama sekali tidak seperti koki wanita yang bekerja untuk omah-nya dulu.

__ADS_1


"Ayo jalan."


Devan terhenyak, masih memandangi Bu Asmia dengan seksama. Sementara wanita tua itu hanya tersenyum hangat. Ia pun geleng-geleng kepala, setelah itu beranjak sembari menggandeng tangan Kunia.


.


.


.


Di tempat lainnya...


Di sebuah danau yang sejuk, Devan meraih satu yang sudah di buka oleh sang istri. Mereka memiliki memakan makanan itu di dalam mobil, di tepi danau.


"Daging lada hitam," gumam Devan sembari tersenyum senang, ia nampak semangat membuat Kunia mendengus.


"Sepertinya kau senang sekali sih?"


"Iya lah– koki itu paham, kalau aku suka ini." Celetuknya asal.


"Hmmm, ngomong-ngomong benar juga ya? Ini sudah ke dua kalinya Bu Asmia memberikan mu lauk yang sama. Padahal aku tidak pesan itu. Tapi kau suka."


"Siapa?"


"Apanya?"


"Nama yang kau sebut tadi?"


"Bu Asmia... Ada apa?" Tanya Kunia, karena pria itu langsung terdiam.


"Aku mengenal nama itu, tapi orangnya berbeda."


"Oh ya?" Kunia mulai memakan nasinya.


"Iya–" Devan menyendok masih itu penuh, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Lagi ia memandangi namanya yang tertera di paper bolw. "Rasanya–"


Mungkin aku hanya rindu Bu Asmia.


Tersenyum, sebelum menyendok nasinya lagi. Hingga ia menemukan sesuatu yang turut masuk ke dalam mulutnya.


"Apa ini?" Mengeluarkannya cepat. Kunia yang penasaran menoleh.


"Kertas?" Tanya wanita itu terheran-heran. "Kok bisa ya, ada kertas di dalam nasinya? Bu Asmia itu orangnya hati-hati loh."


Devan tak peduli dengan kata-kata Kunia, karena kertas yang di lapisi plastik itu, sepertinya terdapat tulisan di dalamnya. Ia pun menyerahkannya pada Kunia, nasi di tangannya lalu membuka kertas yang berada di dalam plastik kecil itu.


"Tulisan?" gumam Kunia, ia ingin turut membaca. namun sulit, ketika tangan Devan yang satu, menekan keningnya agar tidak mendekat.


[ Makam keluarga Atala, ketika langit baru saja menghadirkan sang raja yang membawa sekali sinar teriknya, esok hari. Datanglah ke sana, maka akan kau temui sinar yang tersembunyi, selama ini. Namun, tetap harus hati-hati dengan banyaknya telinga dan mata yang selalu membuntuti. Jangan bawa mereka turut serta. ]


Devan mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti maksudnya.


"Apa tulisannya?" Kuni masih penasaran. Namun segera kertas itu di remas Devan, seolah tak boleh terbaca juga oleh sang istri.


"Bukan apa-apa. Makan saja dengan benar, jangan sampai nasi itu masuk melalui lubang hidung mu," Devan merebut lagi rice bowl miliknya.


"Kau pikir aku sebodoh itu apa? Dasar!"


Devan tak peduli, ia hanya makan saja sampai habis walaupun pikirannya masih terus mencermati setiap kata yang di tuliskan di kertas tersebut.


Sepertinya itu bukan sebuah kata-kata karangan biasa yang tak sengaja masuk. Aku harus cari tahu.

__ADS_1


Ia pun mengeluarkan ponselnya lalu mengetik sesuatu untuk sang wakil personalia, Andreas Manoppo.


Bersambung...


__ADS_2