I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
bulan madu Devano dan Kunia.


__ADS_3

Warning!!!


sedikit mengandung, bacaan 21+. Mohon untuk bijak ya. Walaupun tak begitu vulgar sih hehehe. tapi yang masih di bawah umur, atau mungkin yang tak nyaman setelah tanda bintang tiga di skip saja ya. terimakasih...


🍂


🍂


🍂


Inggris dan Britania Raya, merupakan wilayah metropolitan terbesar di Britania Raya. Berlokasi di sepanjang Sungai Thames.


London telah menjadi permukiman utama selama dua milenium sejak didirikan oleh Romawi pada abad ke satu dengan nama Londinium.


Pusat dari London kuno, yaitu City of London, sebagian besar masih tetap mempertahankan batas-batas abad pertengahannya. Sejak abad ke sembilan belas.


Nama London juga digunakan untuk menyebut kota metropolitan yang berkembang di sekitar pusat ini.


Saat ini, suhu negara itu tengah mencapai minus enam belas derajat Celcius.


Udara yang amat dingin, dan beku jika di bawa untuk bepergian.


Kunia yang nampak sangat antusias, memasukkan kedua tangannya hingga sebatas pergelangan tangan ke dalam tumpukan salju yang tebal di tempatnya berpijak. setelah itu mengangkatnya.


Ya, ini kali pertamanya melihat salju. Karena seumur-umur, ia tidak pernah berkunjung ke negara empat musim.


"Kyaaaa– lihat, aku dapat salju yang lebih banyak dari yang tadi. Luar biasa loh. Bisa setebal ini."


Devan yang berdiri sembari memasukkan kedua tangannya di dalam saku mantel jasnya, hanya geleng-geleng kepala. Sudah berapa kali ia turut berhenti hanya untuk mengikuti keinginan Kunia memunguti salju.


"Sayang– kenapa disini tidak luntur ya? Aku kalau habis membersihkan kulkas, sisa salju yang menumpuk di freezer lantas ku lempar ke wastafel saja langsung luntur, loh."


"Haiiiiih– kau pikir saja secara logika? Jangan samakan dengan negara tropis. Jelas langsung meleleh lah. Udaranya kan panas, Kau ini–"


Kunia terkekeh, ia pun tersenyum jail saat melihat Devan memutar badan hendak berjalan lebih dulu. Lalu meletakkan tumpuk salju yang berada di kedua tangannya itu ke atas kepala Devan.


"Aaaaarrrhhh, dingin!" Devan segera menepuk-nepuk kepalanya yang tak menggunakan topi itu.


Kuni pun tertawa. "Serangan salju dari ku."


Devan yang memandang gusar itu mendekati lalu menarik pipinya.


"Aaaaaa ... sakit sayang, aku kan cuma bercanda."

__ADS_1


"Bercanda?"


"Iya, pengen main salju. Hanya itu."


Devan pun melepaskan cubitan di pipi Kunia.


"Bermain salju?" Tanyanya kemudian, membuat Kunia manggut-manggut.


"Bermain salju tidak seperti itu." Devan meraih salju di bawahnya, mengepal dengan kedua tangan hingga berbentuk bola, lalu mundur dua langkah.


"Dev– kau mau apa?" Ia melihat tangan Devan sudah bersiap, seperti hendak melemparkan itu padanya.


"Kau bilang ingin bermain salju, ya seperti ini."


"Jangan– jangan ... Kyaaaaaa!" Bola salju itu mengenai tubuh Kunia, cukup keras. Devan pun tertawa lepas, melihat raut wajah jengkel Kunia. "Sakit, tahu!"


"Oh ya? Itu tuh tidak seberapa. Lebih sakit terkena lemparan bola basket, tahu." Devan sudah mengambil lagi salju tersebut, lalu melemparkannya kembali pada Kunia.


"Devaaaaaan." Kunia menangkis dengan lengannya. "Kau kekanak-kanakan."


"Kau yang memulainya lebih dulu. Lihat ini...!" Sekarang bola salju yang di buat Devan jauh lebih besar dari pada yang tadi.


"Hei– hei– kau mau membunuh ku ya?" Kunia melangkah mundur, lalu berlari menjauh karena Devan turut maju dan kini berlari juga hendak melempar bola salju itu.


"Aaaaaa... Tolong siapapun, Suami psikopat ini hendak membunuhku." Kunia masih berlari menghindari kejaran Devan.


Namun karena laju kakinya yang tak secepat Devan membuatnya lebih mudah di tangkap Devan. Pria itu membuang bola saljunya, lantas menarik tangan Kunia, merengkuhnya kemudian.


"Kena kau–" naas kaki Devan tergelincir jalan yang licin, hingga mereka berdua terjatuh ke tanah yang sedikit miring ke bawah. Tidak curam, namun tetap membuat mereka jatuh menggelinding kebawah.


Teriakan Kunia dalam dekapan Devano terdengar nyaring, bahkan hingga mereka berhenti menggelinding di tanah yang sudah datar. Nafas keduanya tersengal-sengal. Jantung mereka terpompa keras.


"Kau tidak apa-apa?" Devan yang berada di bawah Kunia, masih tersengal-sengal. Kedua tangannya memeluk erat.


"Tidak– aku tidak apa-apa. Kau sendiri bagaimana?"


"Aku tidak apa-apa." Masih tersengal-sengal.


"Dasar, kita jadi jatuh kan jadinya?" Kunia memukul pelan dada Devan. Pria itu terkekeh.


"Maaf, istriku. Tadi itu licin. Tapi syukurlah, tidak terlalu curam." Setelah terdiam sesaat, mereka lantas tertawa bersama.


"Sayang, rasanya hangat." kata Kuni setelah meredam tawanya.

__ADS_1


"Iya kau hangat, tapi punggungku membeku."


"Ya ampun." Kuni melepaskan tangan Devan, setelah itu bangun. Ia membantu Devan juga untuk bangun. Membersihkan salju yang menempel di jaket sang suami setelah itu mereka memutuskan untuk kembali ke rumah penginapan.


***


Di dalam kamar mandi yang hangat.


Kunia melihat luka lecet di siku sang suami. Memberikannya sedikit obat, setelah mereka mandi.


"Tadi katanya tidak apa-apa?" Kunia meringis sendiri, saat menempelkan pelan kapas dengan obat itu ke luka Devan.


"Tadi memang tidak apa-apa. Saat mandi baru terasa perihnya," jawabnya, sembari memandangi wajah Kunia.


"Pantas lah perih, sampai seperti ini."


Devan menarik pinggang Kunia yang masih memakai handuk. Terlilit diatas dada sampai bagian bawah bolongnya.


"Dev, aku belum selesai." Mata Kunia mengerjap.


"Sudahlah biarkan saja," Devan mulai mencium bahu polosnya. "Sebelum makan malam, aku mau sekali."


Kunia mendorong dada bidangnya. "Kau ini, memang tidak bosan ya?"


"Tidak. Mau terus malah." Devan mulai menyambar bibir manisnya, m*lum*tnya dengan lembut. Sembari tangannya melepaskan handuk di tubuh Kunia. Membawanya maju hingga mentok ke dinding kaca shower.


mereka masuk lagi kedalam bilik mandi itu.


Tangannya mulai menyambangi daerah yang menjadi favoritnya. Membuat mata Kunia terpejam, menikmati sentuhan demi sentuhan lembut yang di berikan Devan.


Salah satu tangan Devan menekan keran air.


Bulir-bulir hujan dari air hangat mulai berjatuhan membasahi tubuh mereka.


"Kunia? Aku mencintaimu." Devan berbisik di dekat telinganya. Kunia yang lantas memeluk tubuh Devan, menyandarkan kepalanya di bahu hanya diam saja. Ia tersenyum tipis. "Kenapa tidak menjawab?"


"Aku tidak bisa menjawab, karena saking bahagianya. Kau tahu, dulu aku pernah menjadi wanita yang tidak ternilai di mata pria yang ku cintai."


Devan mengusap punggung polos itu. Ia memang sedikit tau cerita masa lalu Kunia dengan mantan kekasihnya. Kunia melepaskan pelukannya, memandangi wajah sang suami.


"Dan saat bersamamu. Kau seolah merubah semuanya. Dari aku yang tak ternilai. Menjadi aku yang sangat berarti." Kunia berjinjit, mencium bibir Devan. Sebenarnya ia menitikkan air mata, namun karena air yang masih menghujani mereka membuat bulir bening itu tak nampak. "Terimakasih Suamiku. Aku mencintaimu, lebih dan lebih besar dari apa yang kau bayangkan."


Devan tersenyum. Kembali menyatukan bibirnya. Sembari bermain air, tidak peduli dengan perih di kedua sikunya itu.

__ADS_1


__ADS_2