I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
hari melamar pekerjaan


__ADS_3

Hari yang sibuk bagi Kuni untuk mempersiapkan CV-nya.


Sepertinya gadis itu sudah mantap untuk bekerja.


ya... Lebih baik begitu.


Karena mau sampai kapan? hidupnya terus bergantung pada sang ayah.


Bahkan mungkin saja jika Dia bisa berpenghasilan sendiri, Anwar pasti akan lebih bangga memilikinya.


Dan disaat pria itu membutuhkan bantuannya, ia tak perlu bingung-bingung lagi meminta bantuan pada sang ayah. Sudah cukup ia membohonginya, sudah cukup ia membuat sang ayah kesusahan. Walaupun setiap kali ia beralasan banyak demi bisa mendapatkan uang jajan tambahan, sang ayah tidak pernah menanyakan di mana barang yang ia beli. Namun tetap saja, rasa bersalah kerap muncul menghantui pikirannya.


Kuni menata semua kertas penting, seperti foto copy ijazah, surat lamaran, SKCK, dan lain sebagainya yang lantas ia masukan kedalam amplop coklat.


"Yeeeaaah... Selesai. Aku akan bekerja sebagai wanita karir. Aku akan sukses dan naik jabatan." Kuni mencium map-nya lantas memeluk senang. Kembali ia melirik ke arah ponselnya, tidak ada satu pesan chat pun yang masuk dari Anwar. Sebuah helaan nafas keluar dari bibir tipisnya. Hal yang sudah biasa, sehingga tak membuatnya merasa tersakiti oleh sikap kekasihnya.


"Tidak apa-apa. Nanti aku akan bilang sendiri saja pada pria itu ketika aku sudah di terima," gumamnya. Pandangan Kuni beralih pada langit di luar jendela. Tersenyum penuh keyakinan, menaruh harapan pada nasibnya sendiri. Semoga Tuhan membuatnya bisa diterima di perusahaan berkelas seperti Diamond's. Walaupun kata orang susah untuk bisa duduk di bangku karyawannya saja. Namun jika di lihat dari IPK-nya yang lumayan tinggi? Mungkin saja masih bisa menjadi pertimbangan sang calon atasan agar bisa menerimanya. Iya... yang penting usaha saja lebih dulu, niatkan semua yang akan kau lakukan itu untuk ibadah kata-kata bijak sang ayah yang akan selalu menemaninya saat melamar pekerjaan esok hari.


"Ah... Sudah tidak sabar untuk segera bertemu besok." Kuni menoleh ke arah dinding, tempat pakaiannya tergantung. Walaupun Dia hanya menaruh surat lamaran saja. Sebenarnya kalau kata saudara si Gentar itu Kuni bisa mengirimkannya melalui email. Namun tidak apa, gadis itu ingin lebih sopan saja menaruh surat lamaran dengan catatan tangannya sendiri.


Brmmmmmm...


Suara mobil yang baru saja memasuki kawasan rumah mereka membuat Kuni melirik ke bawah. Ia seperti tidak asing dengan suara mobil itu, mungkinkah pacar Reni?


Kuni berjalan, ia amat penasaran sebenarnya. Pasalnya tidak pernah sekalipun Reni menyembunyikan setiap pacarnya dari dirinya. Sikap gemar pamernya Reni kan tidak pernah hilang sejak masa kanak-kanak.


Apapun yang ia punya, tidak pernah sekalipun tak ditunjukkannya. Semua benda yang harus lebih baik dari milik Kuni, dan ketika Kuni bisa membeli yang sama, maka ia akan merengek meminta yang lebih lagi kepada orangtuanya.


Sama halnya soal pacar, ia hanya mau pria tampan dan mapan, jauh di atas level yang dimiliki Kunia.


Herannya Kuni tetap betah berteman dengan Reni. Seburuk apapun sikapnya, ia tidak pernah suka merebut apapun yang menjadi kepunyaan Kuni. Ya... Ya... Bagi Reni yang gemar bersaing, ia tidak pernah tertarik untuk memiliki barang milik Kunia. Yang ada dia hanya meremehkan, karena selera gadis berambut pendek itu yang buruk. Tidak hanya itu, seorang Reni walaupun agak pedas jika berbicara, namun ia tetap teman curhat paling nyaman untuknya berbagai cerita, setiap apa yang diucapkan Reni sehabis dirinya bercerita selalu disampaikan dengan kata-kata yang jujur namun ada benarnya. Itulah kenapa pertemanan mereka tetap awet hingga saat ini.


Tetapi untuk sekarang, gadis itu malah justru jadi lebih tertutup. Pacarnya saja sangat jarang untuk menjemputnya langsung. Sampai-sampai ia jadi punya pikiran, akankah Reni menjalin hubungan dengan suami orang?

__ADS_1


kau pasti sudah gila jika punya pikiran seperti itu. Seorang Reni paling anti jika didekati oleh pria beristri. Jadi itu tidak mungkin– Kuni menggeleng cepat sembari memukul kepalanya sendiri.


Dengan membawa rasa penasaran lebih, ia pun segera keluar menuju balkon kamarnya mencoba untuk mengintip, kali saja nampak.


Dan di luar, ia hanya melihat Reni yang sedikit tertutup pohon. Sementara mobil itu pula hanya terlihat bagian atapnya saja.


"Warna mobil itu kok tidak asing ya?" Kuni berjinjit, menggerakkan kepalanya mencari celah agar lebih nampak. Namun sia-sia. Pria itu tidak keluar sama sekali dari dalam mobil dan langsung pergi begitu saja. Helaan nafas panjang pun ia hembuskan. "Ck...! Sepertinya pria itu keren sekali. Sampai-sampai di sembunyikan oleh Reni. Sudah lah... Besok ku tanyakan sendiri saja sehabis melamar pekerjaan."


Gadis itu menguap akibat kantuknya setelah lelah seharian mengurus semua persyaratan kerja. Kini ia pun kembali masuk menutup pintu balkon, serta menguncinya.


Lantas berjalan menuju tempat peraduan untuk menghilangkan penatnya setelah seharian beraktivitas.


***


Di sebuah gedung kantor yang paling tinggi di kawasan itu.


Lokasi yang amat strategis, karena terdapat banyak ruko yang menjual makanan ternama di sana. Kawasan elit yang benar-benar sibuk. Kuni baru saja turun dari mobil ayahnya, setelah mengecup punggung tangan sang ayah meminta restu agar semuanya lancar.


Pak Gayus pun sudah memberikan banyak wejangan untuknya sepanjang perjalanan mereka.


Gadis yang kini sudah berdiri di depan gedung itu menata sedikit poninya lalu mengepalkan satu tangannya.


"Okeeehh... Semangat... Semangat..." Gadis itu berjalan dengan penuh percaya diri, sesaat sebelum sebuah mobil masuk dengan ugal-ugalan.


Tiiiinn.... Tiiiin....


"Wooooy....!!!" Kuni menghentak kesal, mobil berjenis Ferarri itu hampir saja menabraknya tadi. Namun seketika ia mengelus dada. " Dasar orang kaya, lihat saja siapa orang itu? Dan apa jabatannya. Awas saja jika hanya karyawan biasa. Akan ku balas kau!!"


Gadis itu masih berdiri di sana mengamati seorang pria yang keluar dengan jas berwarna hitam. Nampak seorang satpam bersafari hitam berlari cepat, membungkuk berkali-kali. Kening Kunia berkerut ia berkacak pinggang, lalu geleng-geleng kepala.


"Ouuuhhh sepertinya Dia karyawan sombong. kasian satpam itu, sudah membungkuk beberapa kali tapi malah di lewati saja. Paling apa sih jabatan dia, paling manager Ckckck..." Kuni menghela nafas, tidak penting tahu siapa Dia. Lebih baik masuk saja dan serahkan surat lamaran itu.


–––

__ADS_1


Di depan meja resepsionis...


Gadis itu bergumam, membaca doa sebelum menyerahkan surat lamaran itu pada seorang wanita yang tengah menatap aneh kepadanya.


"Tolong jangan sampai hilang, dan katakan pada bos di sini. Kalau aku adalah seorang pekerja keras, jadi perusahaan tidak akan rugi menerima ku. Okay..!"


"Emmm... Baiklah, Nona. Nanti jika ada pemberitahuan, anda pasti akan kami hubungi."


"Begitu ya? Kira-kira berapa lama?"


"Entah lah tergantung bagian personalianya. Soalnya, kepala personalia disini agak jarang masuk."


"Seorang personalia jarang masuk? Kenapa tidak di pecat saja orang seperti itu? Benar-benar tidak profesional."


"Hehehe... Mohon maaf kami harus kembali bekerja. Anda boleh pulang lebih dulu."


"Oh– ya sudah... Mudah-mudahan aku di terima dan kita bisa jadi teman kerja ya disini." Dengan gelagat sok akrab, Kunia menepuk-nepuk pelan lengan wanita yang nampak risih itu, namun masih berusaha tersenyum.


Kuni pun memutar tubuhnya, menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.


aku akan bekerja disini... Aku akan jadi orang yang keren. Hehehe. Senyum-senyum tidak jelas, ia pun lantas keluar dari lobby itu dengan rasa percaya diri lebih juga keyakinan jika dia akan diterima.


Sementara seorang resepsionis pria memasuki meja itu.


"Siapa Dia, Kenalanmu?"


"Enak saja, Dia itu pelamar yang baru menaruh surat lamarannya di sini."


"Apa? Wanita itu berasal dari Goa mana? Hari gini masih menaruh surat lamaran. Kenapa tidak kirim via email saja sih? Bikin susah saja." Terkekeh.


"Makannya aku pun bingung, sudah biarkan saja. Aku pun tidak yakin dia akan di terima oleh Tuan Devano."


"Ckckck... Kasian sekali. Ayo lanjutkan pekerjaan kita."

__ADS_1


"Okay." Merekapun kembali sibuk dengan pekerjaannya, masing-masing.


__ADS_2