I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
Hari persidangan


__ADS_3

Devan baru saja menghentikan laju Mobilnya. sudah disambut dengan senyum hangat Bu Asmia yang tengah memotongi beberapa bunga kering di depan rumahnya.


Beliau bergegas meletakkan gunting yang ia pegang, lalu mencuci tangannya dan bergegas mendekati Devano.


"Tuan muda, Anda datang?"


"Iya, Bu. Boleh saya masuk?"


"Tentu saja. Silahkan, Tuan."


Devan berjalan lebih dulu memasuki rumah yang sudah terbuka.


Dan duduk santai di sofa. Sementara Bu Asmia berpamitan sebentar kebelakang, membuatkan minuman untuk tamu yang amat ia hormati.


Beberapa menit kemudian...


Bu Asmia keluar dengan nampan berisi dua cangkir kosong, serta teko berukuran sedang berisi teh bunga chamomile. Teh yang mengeluarkan aroma wangi yang menenangkan.


Bu Asmia menuangkan teh tersebut dengan hati-hati, lalu menyuguhkannya pada Devan.


"Silahkan Tuan."


"Terimakasih, Bu." Devan mengambil cangkirnya. Menghirup aroma segar dari tehnya. Lalu menyeruput sedikit.


"Sungguh saya senang, ketika Tuan datang menemui saya. Andai saja Tuan datang dengan Nona muda, saya akan lebih merasa senang lagi."


Devan tersenyum, ia meletakkan lagi cangkirnya ke atas meja.


"Istriku saat ini sedang menemani Delia kesuatu tempat. Ya ... ibu bisa membayangkan seperti apa kondisinya saat ini. Yang butuh teman setiap harinya. Mungkin besok-besok saya akan mengajaknya kemari."


Bu Asmia manggut-manggut, beliau pun menuang air teh itu untuk dirinya juga.


"Ibu, tinggal sendirian? Tidak ada yang membantu pekerjaan rumah?"


"Ada, Tuan. Mereka datang seminggu, tiga kali. Lagi pula, saya hanya tinggal sendirian. Pun jarang dirumah. Makanya rumah tidak perlu mendapat perawatan setiap hari. Hanya sedikit, dan itu bisa saya tangani sendiri."

__ADS_1


Devano mengerti, rumah ini nampak rapi. Seperti rumahnya dulu yang menjadi tempat tinggal sementaranya juga. Karena Bu Asmia sangat menyukai kebersihan.


"Bagaimana, kabar Nyonya besar?" Tanya Bu Asmia kemudian. Kembali memecah keheningan.


"Sudah mulai membaik. Zaeni yang bertanggungjawab untuk perawatan Omah sepenuhnya. Atas kemauan Dia sendiri. Dengan bantuan dokter Ardina, spesialis saraf."


"Syukurlah kalau begitu. Berarti, kapan kira-kira Nyonya Brianna bisa pulang ke rumah?"


"Mungkin sekitar satu Minggu lagi. Aku ingin memaksimalkan perawatan Omah. Beliau harus benar-benar sembuh." Devan menjawab dengan optimis, membuat Bu Asmia tersenyum.


"Bu As?" Sambungnya setelah terdiam sesaat.


"Ya, Tuan?"


"Boleh saya bertanya, tentang ibu kandungku?"


Bu Asmia tercenung, pikiran berkelana samar-samar mengingat wajah ramah Karlina dulu.


"Aku hanya penasaran. Setidaknya, bisa tahu karakternya walaupun cuma sedikit." Devan tersenyum kecut. Mengingat, ia tak pernah mengenal ibunya dengan baik. Serasa, amat jahat sekali. Dia bahkan mencela dan sangat tidak menyukai saat di ajak ke makam seorang wanita di setiap tanggal kelahirannya. Yang rupanya adalah makam ibu kandungnya sendiri.


"Wajahnya teduh penuh kehangatan. Senyumnya pun amat manis dan menawan. Beliaulah yang kerap kali membagikan bonus dadakan pada kami semua para pekerja. Makanya, kami amat sedih ketika tahu, beliau sakit keras secara tiba-tiba."


Devan mengingat ucapan Liliana, yang mengatakan ia telah meracuninya. Membuatnya semakin merasakan sakit di hatinya.


Kenapa bisa Dia melakukan itu pada Mamih kandungku? Kalau memang sebenarnya Mamih itu amatlah baik seperti apa yang di ceritakan Bu Asmia.


"Ya ... puncak kesedihan kami sampai pada saat beliau berpulang. Bagaikan tidak ada lagi warna di rumah itu. Hidup kita semua seperti monokrom. Jangankan Tuan Harison yang jadi lebih banyak murung. Kamipun sama, pada saat itu."


Devan mulai mengerti, kenapa Ayahnya selalu menitikkan air mata di atas pusaran wanita itu. Memang, cinta sejatinya bukanlah wanita yang ada di rumah. Yang mengaku sebagai ibunya. Melainkan Dia yang sudah terkubur jasadnya.


"Apakah ada ucapan, yang pernah Bu Asmia dengar? Seperti kata-kata terakhirnya."


Mata Bu Asmia yang sedikit mengembun, saat mengingat kebaikan demi kebaikan Karlina. Hanya bisa membalas tatapan itu dengan sendu. Lantas menggeleng pelan. Devan sedikit kecewa, karena tidak ada sedikitpun pesan yang ia ketahui.


"Namun, yang saya ingat. Beliau pernah berkata: Saat anaknya lahir. Ia ingin menjadi ibu yang baik, dan memberi kesan yang akan membuat anaknya bangga memiliki ibu seperti beliau."

__ADS_1


Mata Devan bergerak-gerak. Menahan genangan air yang mulai membanjiri sudut matanya.


"Dan? Ingin pula, jika anaknya laki-laki; dapat memiliki karakter seperti papihnya. Tuan Harison Atala. Pria berwibawa dengan hati yang halus dan penyayang."


Devan menyeka cepat air matanya, serta bertekad dalam hatinya, akan menjadi seperti apa yang di inginkan mendiang ibunya.


Ia akan menjadi cucu yang berbakti pada Omahnya, suami yang penyayang, serta saudara yang baik untuk Zaeni dan Delia.


***


Hari persidangan pun tiba.


Seorang jaksa penuntut umum membacakan semua bukti-bukti serta tuntunannya kepada kedua terdakwa.


Hingga hakim pun mulai berbicara, membacakan putusannya. Bahwa ia memberikan hukuman mati untuk Liliana dan juga Erik.


Bagaikan jantungnya seakan rontok. Zaeni melebarkan bola matanya. Tidak bisa menahan tetesan air yang berjatuhan.


Walaupun sudah mengajukan banding beberapa kali. Keputusan hakim sudah benar-benar bulat.


Hingga suara ketukan palu pun terdengar. Seperti memukul keras dadanya.


Sama juga dengan Delia. Yang menangis tersedu-sedu, memanggil ayah dan ibunya.


Di sana sekretaris Erik hanya menghembuskan nafas panjang. Ia pun sejatinya takut dan merasa sedih saat menerima hukumannya. Ia pun menoleh kearah samping, Liliana di sebelahnya. Wanita itu hanya menatap lurus kedepan dengan angkuh, walaupun air matanya menetes di kedua matanya. Dengan tangan yang terkepal kuat.


Setelah sidang berakhir, Devan sempat menghampiri mereka berdua. Berdiri di hadapan Liliana.


Wanita itu langsung meludahi wajah Devano. Membuat Devan sedikit memalingkan wajahnya, karena terkejut.


"Sudah senang kau, Hah!!! Bahagia sekarang? Setelah membawaku ke situasi ini. Apa dendamu sudah terbalaskan? JAWAB ANAK TIDAK TAHU DI UNTUNG!!!" Hardik Liliana.


"Maafkan aku Mamih," ucap Devan pelan.


"JANGAN SEBUT AKU MAMIH...!!! aku bukan ibumu." Wanita itu tertawa lepas, sejenak. "Seharusnya, aku membunuhmu saat itu juga. Saat dimana? ANAK SIALAN SEPERTI DIRIMU BARU DI LAHIRKAN....!!!"

__ADS_1


Lili yang terus mengamuk, lantas di seret masuk oleh dua petugas wanita. Untuk kembali memasukkan Dia ke lapasnya.


__ADS_2