I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
lamaran tulus.


__ADS_3

Raut wajah itu berubah. Ia seperti tidak menyukainya. Apa yang di sebutkan Devan tentang hanya menginginkan status pernikahan.


Lalu maksudnya?


Apakah dia pikir Kunia serendah itu, sampai mau mempermainkan sebuah mahligai rumah tangga?


Baginya sebuah pernikahan adalah momen sakral sekali seumur hidupnya. Mau sebanyak apapun uang yang akan dia terima dari anak itu, tidak akan membuatnya bahagia.


Sebaliknya, ia akan memiliki stampel sebagai seorang wanita yang pernah berstatus istri kontrak. Jika itu yang di maksud Devano, melakoni pernikahan palsu hingga batas waktu yang ditentukan. Setelah itu bercerai. Itu adalah hal konyol yang tidak akan pernah mau ia lakukan. Walaupun Devan tak pernah membahas tentang kawin kontrak. Dia hanya mengajak untuk menikah, itu saja.


Kunia menghentak tangannya, melepaskan diri dari genggaman seorang pria yang menurutnya semakin terlihat bocah, dengan segala keinginannya yang tak masuk akal sehat.


"Kau bercanda? Menikah hanya untuk status?"


"Mau bagaimana lagi, aku butuh status itu. Demi?" Devan menghentikan ucapannya. –Tidak mungkin aku mengatakan, demi mendapatkan sebuah warisan.


"Demi apa? Hei bocah– aku memang bawahan mu, tapi bukan berarti kau bisa merendahkan serta memperalat ku seperti ini..!" Kunia berkacak pinggang. "Lagi pula, apa dendam mu terhadap ku belum cukup tersalurkan, selama tiga bulan ini?"


"Kau salah faham."


"Kalau begitu, jelaskan supaya aku bisa mencernanya dengan baik. Jika bukan karena ingin merendahkan ku?"

__ADS_1


Dersik angin masih menyibak rambut mereka. Tiupannya semakin kencang, sehingga mengakibatkan rambut Kunia yang sebatas bahu, lebih panjang sedikit itu berkibar.


"Kau tidak bisa menjawabnya kan? Bagaimana bisa kau mengajakku menikah, namun alasan mu itu sangat tidak jelas?"


Pandangan Devan masih tertuju pada wanita yang usianya cukup jauh di atas Dia. Lalu menyentuh ke-dua Pipinya.


Deg... Deg...


hei... Hei... Hei... Jangan gila– apa yang hendak kau lakukan, hah! –kunia ketar-ketir.


"Sebutkan, apa saja syarat mu. Aku akan memenuhinya? Berapapun harta yang kau mau, akan ku berikan. Walaupun yang kau inginkan adalah, separuh aset keluaga Atala."


Kunia mendesah sinis, menurutnya sudah cukup pria itu membuatnya semakin tidak terima. –benar-benar dia itu sedang merendahkan, ku?


Ia pun menepis tangan Devan berniat untuk pergi. Namun seketika itu Devan kembali menahannya, melingkari bahu Kunia dengan kedua tangannya. Mendekap dari belakang. Kunia pun tercenung, dengan apa yang di lakukan Devan.


"Aku bukan pria yang mudah jatuh cinta, aku tak memungkiri jika aku memang belum memiliki rasa sama sekali pada mu. Tapi, kau...! Kau membuatku mampu untuk bertahan hidup, di tengah-tengah kemelut yang ku hadapi saat ini." Ucapnya, –lebih tepatnya, kau membuatku merasakan kenyamanan.


Kuni membisu, ia tidak mengerti. Apa yang di katakan pemuda itu, mungkinkah sebuah tipu muslihat untuk menyakinkannya, dan akhirnya mau menikah dengan pria tersebut.


"Mbak Kunti, ayo kita menikah. Kita jalani saja, aku tidak akan mengecewakan mu. Tolong bantu aku, aku butuh kau."

__ADS_1


Tidak Kunia, seperti apa dulu Anwar mengutarakannya saat hendak mengajakmu merajut kasih. Diapun bilang tidak akan mengecewakanmu. Lalu nyatanya? (Kunia)


Ia melepaskan kedua lengan pria itu, lalu menoleh kebelakang. Mendapati tatapan tulus pria di hadapannya, dimana Devan seperti terus-menerus untuk menundukkan kepalanya.


apa itu.... Apa dia menangis? Matanya nampak berkaca-kaca?


"Kau?" Kunia hendak menyentuh mata yang sudah mulai menggenang. Lantas pria itu memalingkan wajahnya, ia mendesah. Sedikit berjalan menjauh.


"Jika kau bilang ini terlalu terburu-buru itu benar, jika kau berfikir aku hanya membutuhkan status pernikahan ku, itu pun benar. Tapi aku punya alasan, kenapa aku melakukan itu. Dan aku belum bisa menjelaskannya sekarang. Ma–" Devan menggeleng pelan, "maaf."


Mendadak hatinya, jadi iba. Pria itu tak se-songong biasanya. Kata maaf yang ia ucapkan seolah benar-benar tulus terlontar. Dari semua itu lebih membuatnya terkesan menyedihkan, –ahh... Aku yakin dia tak suka di sebut begitu.


"Aku butuh wanita yang tak memandang harta ku. Aku pun menginginkan wanita yang tak begitu menggilai ku karena tampang ku. Dan semua ada pada dirimu." Ia kembali menoleh. Seperti sebuah sihir, manakala angin menyibak bagian poninya. Pria itu lebih bersinar dari biasanya, membuat Kunia sedikit terkesima.


"Mari jalani semua ini, Mbak Kunti." Ucapnya tulus, membuat kedua mata Kunia mengembun, "Bukan sebuah pernikahan Kontrak melainkan Pernikahan yang sesungguhnya, dan mari kita atur satu janji. Aku tidak akan melakukan apapun sebelum adanya keyakinan di sini." Ia menepuk dadanya sendiri.


Deg... Deg...


"Jadi, bagaimana? Bersediakah kau menikah dengan ku?" Devan pun mengulurkan tangannya, Lantas mengembangkan senyum. Ia tak pernah menunjukkan senyuman manis dan setulus itu sebelumnya.


Gadis itu masih terdiam, semua ucapan Devan sukses membuat bulir bening di ke-dua netranya menetes.

__ADS_1


Dengan di saksikan semburat jingga yang indah di langit, serta hembusan angin yang mengawal mentari masuk ke peraduannya. Pria itu benar-benar melamarnya.


__ADS_2