I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
Liliana


__ADS_3

Setelah memberikan kejutan kecil. Mereka kini langsung bertolak ketempat lain, yaitu suatu tempat yang ingin Devan kunjungi.


Kuni yang sedari tadi masih tergugu ketika mendapati kecupan tak terduga di keningnya mulai tersadar. Lebih-lebih tangannya masih kencang bertaut dengan Devan. Ia pun menarik paksa, membuat pria itu menoleh ke arahnya.


"Hei– apakah kau selalu seperti itu?"


"Apa?" Devan bertanya datar.


"Mencium wanita sesuka hati, mu?" Kuni mengambil satu langkah, mundur.


"Apa kau marah, hanya karena itu?"


"Tentu...! Tentu aku marah. Kau pikir aku semurah itu? Walaupun kau sudah mendapatkan restu untuk membawa ku, semenjak ibuku mendapatkan voucher belanja darimu. Tentu saja kau tidak bisa seenaknya melakukan kontak fisik dengan ku."


"Dasar tidak tahu terimakasih."


"Apa katamu, tadi?"


"Iya kau itu tidak tahu terimakasih, setelah ku tolong mengangkat mu tinggi di depan dua orang yang sudah membuatmu kecewa, dan kau malah justru marah karena perbuatan itu? Memangnya kau pikir, aku melakukan itu karena nafsu? Sudah jangan berkoar. Semua ku lakukan karena Kau sudah menolongku tempo hari di meja makan, sekarang aku pun melakukan hal yang sama bahkan lebih. Itu jackpot namanya untuk mu."


Jackpot katanya? (Kunia)


"Lagi pula, kau itu bodoh. Kenapa kau menangisi pria yang sudah menikah? Sementara di luar sana ada banyak pria lain yang lebih baik darinya. Membuang-buang waktu saja," gerutu Devano, yang mengingat tatapan sendu Kuni terhadap sepasang pengantin baru itu.


"Kau itu tidak tahu tentangnya yang baik, bahkan lebih baik dari mu," jawab Kunia tak mau kalah.


"Oh ya? Setidaknya aku tidak pernah meminta uang pada wanita ku. Dan menikah dengan sahabat dari pacar yang sudah ku porotin." Devan menuding kening Kunia. Ucapan Devan telak menusuk ke dada gadis itu.


Bagaimana Dia bisa berbicara seperti itu? Pasti ini ibu yang memberi tahu. –gadis itu menepis tangan Devano, kemudian.


"Hei– kau ini tahu apa? Jangan memberikan statement yang tidak benar ya?"


"Kau masih membelanya? Dasar otak dangkal, bisa jadi di dalam kepalamu itu tidak ada lipatannya sama sekali ya?"


Mulut itu, sepertinya benar-benar di ciptakan untuk menghina orang dengan jujur, ya? –Kunia bersungut.

__ADS_1


"Ckckck Memang dasar cinta membuat bodoh seseorang ya? Dasar!" Devan melenggang pergi, melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar yang tinggal sedikit lagi. Sementara Kunia memilih untuk mengikuti pria itu hingga sampai pada pelataran Lobby.


Mobil sudah tiba, setelah di antar oleh pegawai dari jasa Valet. Tanpa memerintahkan gadis itu untuk masuk, Devan sudah masuk lebih dulu. Melihat Kunia masih diam saja Devan pun membuka kaca mobilnya.


"Kau mau diam disana, saja? Masuk!"


Kuni menghela nafas, dan memutuskan untuk segera masuk kedalam mobil milik pria yang usianya terpaut beberapa tahun di bawahnya. Ya, entah sampai kapan permainan ini berlanjut. Walaupun jujur saja ia masih kurang suka dengan sikap tengilnya, dan ucapannya yang menyebalkan itu.


Namun tak bisa di pungkiri bahwasanya pria itu memang sudah berjasa. Membantunya, memberi rasa percaya diri untuk menghadiri acara pernikahan Reni dan Anwar. Jadilah fenomena kekalahan Renita di tampakkan baginya untuk yang pertama kali. Karena dia tidak pernah melihat Reni se-lemas itu ketika mendapati sesuatu yang di miliki Kunia. Walaupun dia tak bermaksud bersaing untuk hal apapun.


Mobil pun melaju, meninggalkan gedung mewah tempat acara pernikahan Reni dan Anwar berlangsung.


***


Di tempat lain....


Sebuah mobil mewah memasuki pelataran Lobby salah satu rumah sakit khusus kejiwaan.


Sekertaris Erik keluar, lantas membukakan pintu untuk sang istri. Mereka pun melangkah bersama beriringan memasuki gedung tersebut. Yang langsung di sambut ramah oleh si pengurus.


"Nyonya besar, beberapa hari ini tidak mau makan, nyonya."


"Bagaimana bisa, apakah kau tidak membujuknya?"


"Para perawat sudah berusaha untuk membujuknya, namun bibir itu terus terkatup tidak ingin di buka."


Nyonya Lili yang mendapatkan jawaban itu hanya diam saja, hingga mereka pun masuk kesebuah lift.


Di salah satu ruangan yang luas, di lantai paling atas dari gedung tersebut. Ruangan yang penuh dengan cahaya dari luar kamar, karena dinding yang terbuat dari kaca tersebut


memberikan pemandangan indah di luar.


Duduk seorang wanita Tua, di salah satu kursi roda. Tengah memeluk salah satu bingkai foto seorang pria berjas rapi dengan seorang anak laki-laki yang berada dalam gendongannya. Mata sepuh itu menatap sendu keluar, mengguratkan kehidupannya yang merana.


Cklaaak... Suara pintu terbuka, tak lantas membuatnya menoleh. Tatapan sendunya itu berubah datar, ia tak ingin merespon sesiapapun yang mengunjunginya seperti biasanya.

__ADS_1


Liliana pun semakin mendekati wanita tua itu, dan berjongkok di hadapannya. Wajahnya yang kaku dan dingin berubah menjadi lebih hangat.


"Apa kabar, ibu?" Sapanya lembut, sembari meraih tangan kanan ibu mertuanya, serta mengecup punggung tangan tersebut dengan takzim. Lantas kembali mengangkat kepalanya, "Ibu? Maaf, Lili amatlah jarang untuk mengunjungi ibu. Ibu pasti kesepian?" Tanyanya kemudian. Namun ia tak mendapati jawaban dari ibu mertuanya itu, yang masih diam saja menatap keluar. Bahkan ia pun tak menoleh sama sekali kearah menantunya.


"Ibu, ku dengar ibu tidak mau makan? Kenapa? Nanti ibu sakit." Liliana memberikan isyarat, agar perawat tersebut menyerahkan bubur yang ia pegang kepada wanita yang masih betah berjongkok di hadapan wanita tua itu.


Dan setelah mangkuk berisi bubur hangat di berikan, Liliana kembali tersenyum.


"Ini makanan sehat, agar ibu cepat sembuh." Satu suapan sudah terarah pada Nyonya besar, sang komisaris utama di Diamond's corporation. Namun bibirnya masih saja terkatup rapat, tidak mau dibukanya. Sorot matanya masih menatap dingin kearah dinding kaca. "Ibu ayolah makan, ibu bisa sakit."


Liliana berbicara dengan amat lembut, mencoba untuk menyuapi ibu mertuanya. Namun sama sekali tak ada respon dari beliau.


"Sekali saja– ayolah ibu,"


Praaaaakkk... Sebuah tepisan keras membuat tangan itu menjatuhkan sendok bubur yang sudah di arahkan kepadanya.


Nyonya Lili pun hanya menatap sendok yang jatuh itu tanpa ekspresi, sejenak. Lalu menoleh lagi kearah sang ibu mertua. Bibirnya kembali mengulas senyum.


"Maafkan Lili, Bu. Apa mungkin ibu mau menu baru? Adakah yang ingin ibu makan, saat ini?" Tanya beliau, lebih lembut dari pada ucapan sebelumnya. Dan wanita itu sama sekali tak meresponnya, tak pula sekalipun melirik kearah wanita di hadapannya.


"Baiklah, jika ibu tidak mau. Tapi maaf, Lili harus pergi. Karena pekerjaan sedang banyak saat ini." Beliau kembali mengecup punggung tangan sang ibu mertua, Lalu beranjak.


Ia kembali menyerahkan mangkuk di tangannya kepada sang perawat. Lalu berjalan mendekati Sekertaris Erik.


"Usahakan secepatnya, wanita tua itu untuk segera menandatangani map merahnya." titah Liliana dengan suaranya yang lirih. Yang hanya di dengar oleh sang suami.


"Baik, istriku." Sekretaris Erik mengangguk sekali, sementara Liliana kembali melangkahkan kakinya yang di susul pula oleh Sekertaris Erik di belakang.


Sebelum keluar dari rumah sakit, pandangan nyonya Liliana tertuju pada televisi layar datar di ruang tunggu. Sebuah berita yang menayangkan acara eksklusif pernikahan putra seorang walikota yang namanya cukup tersohor. Namun fokusnya bukan itu, melainkan adanya Devano serta gadis yang tempo hari di bawa kerumah. Tangannya sedikit terkepal geram melihat apa yang Devan lakukan pada gadis itu.


"Kau sudah mencari tahu, siapa wanita yang di bawa Devano tempo hari ke rumah saat acara makan malam?"


"Sudah, istri ku."


"Bagus, tunjukkan padaku nanti di kantor."

__ADS_1


"Baik." Jawab Sekertaris Erik. Setelah itu mereka kembali melanjutkan langkahnya keluar dari rumah sakit tersebut.


__ADS_2