
Di atas ranjang Kunia duduk bengong.
Tatapannya terarah pada sebuah dinding kaca.
Lagi Dia terbayang hal yang membuat mukanya menjadi merah.
"Haaaiiiiissshhh...!!! Otak, oh otak! Dasar tidak berguna," lirih dia mengumpat dirinya sendiri. Entahlah, ini sudah hari ke-duanya di rumah ini sebagai istri Devano.
Namun bukan berarti Dia siap untuk melakukannya sekarang. Lebih ke-karena pria itu yang tak kunjung menyatakan perasaannya.
Kunia memukul kepalanya sendiri.
Apa yang kau pikirkan? Apa hanya karena sudah menyatakan cinta lalu kau langsung mau? Berhubungan itu?
Oh Tuhan... Kenapa isi kepala jadi begini. Hiks– semua sebab terkontaminasi yang tadi. Kunia merasa geram sendiri.
Hingga ia mendengar suara pintu ruangan ganti terbuka. Membuatnya kembali duduk dengan normal. Ya... Kamar mandi ada di dalam ruangan ganti itu.
Jangan nengok, jangan melihatnya... (Kuni)
Devan tersenyum tipis, melihat Kunia yang menjadi salah tingkah. Ia yang sudah menggunakan pakaian santainya melangkah mendekati.
Setelah itu duduk di sebelah sang istri.
Ngapain Dia duduk di sini, sih? (Kuni)
"Apakah kau marah karena tadi?" Tanya Devan.
"Tidak!"
"Lalu kenapa kau seperti ini?"
Kunia hanya menoleh sebentar lalu memalingkan wajahnya lagi.
Kau itu benar-benar tidak paham atau bagaimana sih? Jelas aku malu lah.
"Maaf–" lirih Devan mengucapkan kata maaf.
Kunia menoleh, "kenapa kau jadi minta maaf."
"Ya– mungkin sudah membuatmu tidak nyaman."
Kunia terdiam. Dia kembali memalingkan wajahnya, sembari garuk-garuk kepala. Bingung juga ingin berbicara apa?
Karena sebenarnya Dia juga yang salah.
"Itu– itu bukanlah salah mu kok. Aku yang tanpa sengaja masuk. Setelah dari luar, aku ingin membasuh muka ku. Karena tak mendengar suara di dalam jadi aku masuk saja."
"Aku tidak marah sih, sebenarnya."
__ADS_1
Mau kau marah atau tidak, akunya yang sudah terlanjur malu. Kau ini bagaimana sih!!
Kuni kembali terdiam, jujur Dia belum berani menatap wajah Devan.
"Mbak Kunti." Devan meraih tangan Kunia. Membuat gadis itu menoleh lagi, namun perlahan menurunkan pandangannya ke arah tangan. "Terimakasih, untuk hari-hari yang menyenangkan."
Kedip... Kedip... Matanya berkedip dua kali. Pria itu berbicara dengan pandangan serius.
Berdeham kemudian, "hal menyenangkan apa, aku tak melakukan apapun."
Devan tersenyum. Ia masih merasakan debaran yang tak biasa. Namun lidahnya kaku untuk berbicara. Ia pun menarik tangan itu, agar tubuh Kunia masuk kedalam pelukannya.
Kunia terdiam, jujur saja saat ia masih berhubungan dengan Anwar memang pernah dia di peluk pria itu. Namun tak sehangat dan senyaman pelukan Devano.
Pria itu tak berucap apapun, selain hembusan nafas yang terdengar memburu di dekat telinganya. Kunia merasakan berdebar, terlebih saat tangan Devan membelai lembut rambutnya.
Dev– bisakah, kau terjemahakan ini pada ku. Setiap pelukanmu mengandung apa, cinta kah? Atau mungkin hal lain? –kunia tidak berani menafsirkan sendiri.
Sementara Devan, tengah memejamkan matanya.
Menikahimu, bukanlah hal yang salah. Aku tak pernah senyaman ini. Apakah karena masih baru? kuharap tidak. – Devan mempererat pelukannya.
Ada sekitar lima menit, mereka berpelukan. Devan pun melepaskan pelukannya, menatap wajah Kunia yang nampak gugup membalas tatapannya.
Ku lepaskan hatiku, untuk pertama kali padamu. Semoga kau tak mematahkannya. kunia...
Seperti sebuah sihir, mata Kunia reflek terpejam. Menerima apa yang akan di lakukan Devano untuknya.
Tok... Tok... Tok...
Keduanya terperanjat. Devan dan Kuni saling memalingkan wajahnya yang memerah itu.
"Siapa–" seru Devan kemudian.
"Ini saya, Fendi. Tuan," jawab seorang pria di luar.
Devan tak menyahut, Dia hanya beranjak tanpa berbicara apapun dan langsung melangkah mendekati pintu.
Kunia sendiri menghela nafas panjang lalu menghembuskannya.
Tadi itu apa? Kenapa aku diam saja. Dia?
Kuni segera membuka laci meja, meraih cermin dan berkaca.
Tidak ada kotoran mata. Berati yang tadi beneran ia akan mencium ku?
Deg... Deg...
Kunia tersenyum, ia merasa senang. Padahal ciuman tadi belum berhasil mendarat di bibirnya.
__ADS_1
.
.
Di luar...
"Ada apa?" Devan kembali menutup pintu kamarnya.
"maaf Tuan muda. Nyonya dan Tuan sudah kembali. Mereka ingin makan malam bersama, Tuan muda dan Nona Kunia."
Aneh... Mamih bilang akan lama, namun kenapa tiba-tiba sudah kembali? (Devan.)
"Bilang pada mamih, kami akan turun lima menit lagi."
"Baik Tuan." Mengangguk sopan, setelah itu melenggang pergi. Sementara Devan kembali masuk.
Di dalam kamar, nampak Kunia sedang memegangi bandul kalungnya.
Sebuah hadiah manis dari Devano malam itu, masih konsisten ia pakai.
"Kalung jelek ini masih saja kau pakai. Besok kita ke toko, untuk ganti yang baru." Devan mengatakan itu dengan mimik wajah senang, ketika melihat kalung pemberiannya masih melingkar di leher istrinya.
"Tidak usah, kau ini buang-buang uang sekali sih. Lagian ini masih bagus."
"Apa kau tidak bosan? Bukankah wanita suka berganti-ganti perhiasan?"
"Itu untuk orang lain, kalau aku cukup satu. Bahkan jika ini di pakai puluhan tahun pun tidak akan ku lepaskan."
"Janji ya kau tidak akan melepaskannya."
"Ya... Selagi masih bagus. Dan tidak rusak. Aku akan memakainya terus."
"Ku pegang ucapan mu itu, sebisa mungkin kau harus menjaganya jangan sampai hilang. Kalung itu ku pesan khusus soalnya."
Kunia menoleh. "Kau pesan khusus?"
"Iya, kan ada inisial nama kita di baliknya."
"Oh..." Kunia memutar sedikit. Jadi KD ini inisial ku dan dia? Ku pikir maksudnya si diva top tanah air.
"Sudah hentikan kekaguman mu, yang receh itu. Ayo kita turun, untuk makan malam. Mamih sudah menunggu kita."
"Mamih, mamih mu sudah kembali."
"Ya– ayo turun, kita temui Beliau." Tersenyum senang, ia ingin segera menunjukkan sang istri pada ibunya.
"oh... okay." Kunia turut turun, ia membenahi dulu rambutnya, sebelum bertemu dengan sang ibu mertua.
bersambung...
__ADS_1