I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
mimpi buruk


__ADS_3

Malam yang begitu sunyi, membalut ketenangan untuk sepasang suami-isteri yang tidur dalam satu selimut.


Tidak ada yang mereka lakukan selepas berpelukan. Rasa lelah yang mengungkung jiwa, sudah membuatnya tak memiliki daya untuk melakukan hal apapun lagi.


Devan tertidur, malah sebelum Kunia turut tertidur di sebelahnya. Memandangi untuk beberapa saat, ketika kekaguman, serta rasa sayang yang bertambah.


Wanita itu bahagia... belum pula Devan menyatakan perasaan yang sesungguhnya, ia sudah paham.


Jika lelaki itu, pasti sudah menaruh hati padanya.


Bukan berarti sok percaya diri. Perhatian kecil, serta kelakuan manjanya sudah menunjukkan? Laki-laki bertubuh nyaris sempurna, dengan postur profesional itu juga merasakan hal yang nyaman. Sama seperti dirinya saat ini.


Kunia mengecup kening pria itu, sembari tersenyum. Sebelum akhirnya benar-benar memejamkan matanya. Tertidur di sisinya.


–––


Gelap, serta dingin yang amat menusuk...


Membuat Devan mengitari pandangannya ke segala penjuru. Seolah tempat itu tak ada ujungnya, karena sejauh matanya memandang. Hanya gelap dan gelap yang ia temukan.


Tempat apa ini?


Bergumam, dalam hati. Ia terus-menerus memicingkan mata. Tidak nampak apapun, selain gelap dan suara angin yang mendersik.


' Devano... Devan–'


Sebuah panggilan yang membawa kehangatan, mengalahkan hawa dingin yang menusuk tubuhnya tadi. Membuat Devan menoleh kebelakang. Mencari sosok hangat yang memanggilnya.


Seberkas cahaya mulai muncul berbarengan dengan seorang wanita cantik yang sering ia jumpai dalam mimpinya. Merentangkan kedua tangan, mengarah padanya.


' Ini Mamih. Kemari lah...'


"Mamih?" Tanpa perlu dia mencari tahu siapa wanita tersebut? Dadanya sudah lebih dulu di buat sesak, seolah memberi jawaban. Bahwa itulah cinta pertama dalam hidup yang sesungguhnya. Bergegas menghampiri wanita itu, berjalan amat berat. Menembus kegelapan. "Mamih–"


Panggilnya lagi, semakin lama semakin cepat kakinya berayun hingga akhirnya berlari. Menuju seorang wanita yang tengah melemparkan senyum terbaiknya.


Hingga sebuah asap hitam yang pekat muncul dari belakang. Memberikan jeratan tali hitam di leher wanita itu.


Kaki Devan terhenti, "Mamih–"


Nampak wanita itu kesakitan, akibat tercekik. Sementara satu tangannya masih terulur kepadanya.


"A... apa yang terjadi. Mamih?"


Bersamaan semakin pekatnya asap itu, seolah hendak menelan tubuh sang wanita yang di sinyalir adalah ibunya.


' Mamih mencintaimu... Devan.'


"Mamiiiih...!!" Kakinya mendadak kaku, tak bisa di gerakan.


sementara asap hitam yang pekat tadi semakin menebal saja, dan hilang pula sosok wanita berbusana putih itu.


Lantas berganti menjadi sosok lain, yang ia kenal. Menggunakan gaun hitam, melambaikan tangan kanannya kedepan. Namun ia menyembunyikan belati di tangan kirinya.


' Devan, kemari lah... Datang pada mamih.'


Devan termenung. Sosok Liliana yang anggun itu memegangi pisau yang ia sembunyikan di punggungnya. Membuatnya enggan menghampirinya.

__ADS_1


' sayang, apakah kau sudah tak mencintai mamih, lagi?'


Tampangnya nampak sendu, membuat kaki Devan reflek mengambil satu langkah maju.


' Dev...!! Devano...'


Ia menoleh ke belakang, cahaya lain muncul. Namun ia tak melihat siapa yang memanggilnya, hanya suara saja.


' jangan dekati Dia. Jangan ikuti kemauannya.'


Devan di buat bimbang, kembali menoleh kearah Mamih Liliana. Wanita itu sudah mengganti dengan senyum liciknya, mengangkat belati itu tinggi-tinggi.


' Anak bodoh... binasalah kau! '


"Tidak... Tidak, jangan!!" Devan mundur satu langkah.


' binasalah kau, seperti yang lainnya... '


"Tidak... tidak!!"


.


.


"AAAAARRRRRGGGGGHHH...!!!" Pria itu langsung duduk, setelah terjaga. Berkali-kali di bangunkan, oleh sang isteri. Akhirnya Dia bisa terbangun juga.


Seraya mengusap wajahnya kemudian, nafasnya masih nampak tersengal-sengal.


"Kau kenapa? Sering sekali sepertinya, mengigau? Namun kali ini lebih parah."


Devan masih terdiam, mengatur nafasnya. Ia benar-benar ketakutan, sepertinya.


Sepasang mata indah itu mengerjap di hadapannya. Menyiratkan tanda tanya besar.


Kuni tak banyak bertanya lagi, ia langsung turun dari ranjangnya. Lantas menuangkan air ke dalam gelas, menyerahkan pada sang suami kemudian.


"Ambil ini, minumlah... agar kau tenang."


Setelah di terima, segera di teguk habis isinya oleh Devan. Kemudian menurunkan gelas itu di pangkuannya.


"Dev?"


"Aku sudah baik-baik saja. Aku biasa bermimpi seperti ini." Devan menunduk, pertanyaan dalam hatinya sudah terjawab. Mimpi buruk yang datang setelah mimpi indah, sudah menunjukkan siapa sosok jahat yang selalu mengarahkan belati berlumuran darah kepadanya. Tangannya mengepal kuat gelas itu.


Sigap, Kunia menyentuh tangannya. Membuka satu persatu jari-jari tangan yang mencengkeram kuat gelas tersebut.


"Jangan kau hancurkan lagi," ujar Kunia, setelah gelas itu terlepas dari kedua tangan Devano.


Ia lantas meletakkannya di atas meja, lalu kembali menggenggam erat tangan itu.


Pria itu memandangi sang isteri, lekat.


"Dev, kau harus tahu? mimpi itu ada tiga..." menepuk-nepuk pelan tangan itu. "Satu adalah bunga tidur karena kau terlalu memikirkan satu perkara. Kedua sebab setan yang mengganggu alam bawah sadar kita. Lalu yang ketiga? Adalah sebuah pertanda. Bisa jadi hal buruk, atau mungkin sebaliknya."


"Pertanda?" Gumam Devan. Kunia mengangguk.


Devan menghela nafas. "Mungkin ibu kandung ku sudah memberikan isyarat selama ini. Namun aku tidak tahu?"

__ADS_1


Kunia tersenyum, nampak pancaran lain di wajah sang isteri.


Devan menyentuh pipi itu, mengusap lembut dengan ibu jarinya.


"Aku mendengar suaramu di dalam mimpiku."


"Emmm?"


"Iya. Aku mendengar suaramu, memanggil ku. Itulah sebabnya, aku bisa lolos."


"Aku memang memanggil, Mu... Karena kau mengigau 'tidak... Jangan...! Aaaaa...' kau harus, tahu itu berisik. Makanya aku membangunkan mu. Rupanya masuk kedalam mimpi, mu?"


Devan terkekeh, ketika Kunia memperagakannya.


"Aku sering melihat kau seperti ketakutan saat tidur. Tapi tidak separah tadi. Kau benar-benar sampai berteriak-teriak... Aku kan jadi terkejut."


"Maaf... sudah menganggu tidur mu."


"Tidak masalah. Aku justru mengkhawatirkan mu..."


"Aku sudah tidak apa-apa."


Devan menoleh ke arah jam dinding. Masih pukul satu dini hari.


"Ku pikir sudah pagi..."


"Sebab kau tidur terlalu dini. Makanya bangun tengah malam, mengira sudah lagi."


"Benarkah?"


"Emmm... Jam delapan malam tadi."


"Begitu ya? Pantas aku merasa segar."


"Iya kau segar... tapi aku masih mengantuk." Kuni kembali merebahkan tubuhnya. "Tidur lagi saja. Yuk..."


Cuppp...


Devan mengecup kening, Kunia. Membuat mata yang tadi sudah di pejamkan kembali terbuka.


"Jangan dulu tidur," bisik Devan di dekat telinganya. "Temani aku." Sambungnya kemudian.


Temani, Maksudnya?


Kunia membulatkan matanya. Pria itu kembali menurunkan wajahnya mengecup pipi Kunia, namun lebih dekat ke telinga.


"Aku boleh meminta hak ku sebagai suami, tidak?"


A... apa?


Kunia mematung, sementara Devan sudah tersenyum.


"Aku ke toilet, dulu..."


"Ehh...? Dev?" Langsung duduk, di mana Devan sudah turun dari ranjangnya.


"Aku bersiap-siap dulu, setelah ini gantian kau." Sembari senyum-senyum, Berjalan menuju pintu yang terdapat toilet di dalamnya.

__ADS_1


"Apa itu tadi? Katanya, masa iya itu? Hei...!" Panik... Panik...


Pria itu tak mendengarkan, Dia sudah masuk ke ruang ganti.


__ADS_2