
Keheningan menyergap ruangan luas itu.
Dev masih tidak paham, kenapa tiba-tiba cincinnya sudah ada di depan mata.
Lirikan itu berpindah pada Kunia, wanita yang sama-sama bingungnya hanya bisa membisu.
"Ini ada padamu, sejak kapan?"
Gelengan pelan di tujukan Kuni, sebagai jawaban ia tidak tahu apa-apa.
"Jelaskan, kenapa ada padamu." Lagi Devan bertanya, ia bukan marah karena Kunia tak mengatakan dengan jujur jika cincin itu ada padanya.
Namun lebih ke rasa ingin tahu, dimana Dia menemukan ini, atau mungkin dari siapa dia mendapatkan benda ini.
"Dev– aku tidak tahu apa-apa. Bahkan aku baru mengganti tas ku pagi ini, ku bawa ke rumah sakit, setelah itu tidak mengeluarkan apapun lagi... aku sendiri pun bingung, kenapa bisa cincinnya ada di tas ku."
Netra kecoklatan itu menurun, kembali melihat-lihat stempelnya. Ia beranjak cepat, keluar dari kamar mereka tanpa berbicara apapun lagi. Seolah belum yakin dengan keasliannya.
Ia berlari cepat menuruni anak tangga menuju ruang kerjanya.
Braaaakkkk...
Pintu itu di buka kasar, ia bergegas membuka laci lalu
mengambil salah satu surat resmi milik Omah, meletakkan di atas meja kerjanya, setelah itu menekannya stempel tersebut di sebelah stempel yang sudah ada. Melihat logo serta warnanya dengan seksama.
"Sama– ini benar stempel emas yang asli."
Devan mengukir senyum, entah bagaimana bisa cincinnya kembali. Tapi itu tidak penting, yang jelas dengan alat ini Dia bisa segera mendapatkan apa yang ia inginkan. Kekuasaan yang bisa melawan wanita itu.
Aku akan meruntuhkan mu, serta semuanya. Mamih palsu ku! – Devan menggenggam kuat cincin itu. Hasrat untuk membalaskan dendamnya mulai memuncak.
Kedua matanya sudah merah nanar... seraya memandangi foto ayahnya, berdiri di sisi sang nenek yang sedang duduk di sebuah kursi tunggal berwarna merah.
Aku akan merebut hakku, dan menyelamatkan Omah... lalu memastikan mereka akan mendapatkan hukumannya.
Bergegas Devan menyambar blazer panjangnya, membungkus tubuh yang hanya mengenakan celana training berwarna abu-abu serta kaos berwarna hitam.
Tak lupa ia membawa segala berkas yang di perlukan, untuk menemui Notaris Evans.
Buru-buru, ia pun menyentuh saku celananya. Niat hati ingin menghubungi Andre, namun ponselnya tertinggal di atas.
__ADS_1
Di sisi lain, Kunia berjalan pelan mendekati pintu ruangan kerja yang terbuka lebar.
Sedikit merasa khawatir sebelum masuk. Mata sendunya menatap pria yang sudah bersiap hendak keluar.
"Dev– kau mau pergi? Ini ponselmu." Pelan mengulurkan tangannya yang sedang memegangi ponsel milik sang suami.
Yang ada di pikirannya saat ini adalah: suaminya marah, karena mengira ia sudah menyembunyikan cincin itu darinya.
Wanita itu menggigit ujung bawah bibirnya, manakala sang suami mendekati Dia yang tengah berdiri di bibir pintu. Mengikis jarak antara mereka.
Tatapan dingin, seolah mencecarnya.
Dia marah besar, ya?
Devan meraih ponselnya, dengan sedikit gerakan cepat. Membuat Kunia sigap menutup mata.
"A... aku benar-benar tidak tahu apa-apa, sungguh. Cincin itu sudah ada di tas ku. Tolong jangan berpikir buruk tentang ku, aku tidak mungkin mengkhianatimu... tidak mungkin aku berani melakukan itu." Memelas, Kunia berbicara dengan rasa takut tak seperti biasanya.
Dulu mungkin Dia berani. Namun tidak untuk kali ini, rasa cintanya terhadap Devano sudah semakin dalam. Jika kesalnya Dev seperti biasa mungkin masih ia tanggapi dengan candaan.
Namun untuk masalah cincin, atau hal yang berkaitan tentang masalah besar sang suami.
Ia paham betul, seperti apa luka di hati suaminya. Jadi dia tidak mungkin berani, mengambil andil untuk mengkhianati suaminya juga.
Wanita itu menggeleng, pelan. "Hanya Delia, Sekertaris Erik, dan terakhir Dokter Zaeni."
"Zaeni?"
"Aku hanya menyapa, untuk berpamitan saat tidak sengaja bertemu di lorong rumah sakit." Buru-buru Kunia menjelaskan, ketika satu alis Devano terangkat. Ia takut Devan salah faham.
Devan terdiam, untuk berpikir.
Kalau Delia tidak mungkin, karena dia sedang tidak di rumah.
Namun malam itu, Zaeni pun sedang tidak di rumah... Kemungkinan besar yang mengambilnya adalah Sekertaris Erik. Tapi kenapa Dia mengembalikannya?
Tatapan itu terarah lagi pada Kunia. "Apakah kau bertemu cukup lama dengan Sekertaris Erik?"
"Tidak, namun saat menerima telepon dari mu aku ada tertinggal tas di bangsal Delia," jawab Kunia jujur.
Bisa jadi, memang benar Sekertaris Erik. Sebelum ini Kunia menjalin hubungan baik dengan Delia, anak itu kan kesayangannya Sekertaris Erik.
__ADS_1
Belum lagi, Kuni bilang perubahan Sekertaris Erik yang mulai mau berdialog baik dengannya, walaupun hanya sesekali. –Devan masih tercenung memandangi wajah sang istri.
"Dev– kau tidak mengira aku yang telah menyembunyikan cincin ini, kan? Demi Tuhan, aku tidak tahu apa-apa... kenapa cincin itu ada di dalam tas ku pun aku tidak tahu."
Devan merengkuh tubuh sang istri kedalam pelukannya. Lalu mencium kepalanya itu.
"Kau tidak perlu takut, aku percaya padamu. Terimakasih Kunia, terimakasih kau secara tidak langsung membantu cincin ini kembali."
Kunia mematung tidak mengerti maksudnya.
"Aku pergi hanya sebentar, mempersiapkan sesuatu. Untuk bahan besok, sebelum bertemu dengan Mamih Liliana."
Kunia mengangkat kepalanya. "Jadi itu benar-benar stempel emas yang kau ceritakan itu?"
Devan mengulas senyum, lalu mengangguk. "Benar..."
"Ya Tuhan..."
"Aku akan bisa mengambil alih perusahaan Omah kembali. Aku akan memimpin Diamond's... Kau mau membantuku tidak?
"Apa?"
Devan berbisik sesuatu di telinga Kunia, cukup lama.
Kunia nampak manggut-manggut, memahami. Setelah itu terdiam sejenak.
"Aku tidak memaksamu, sayang. Jika kau tidak mau, aku tidak apa-apa."
"Aku akan coba mendatanginya besok. Walaupun sepertinya agak sulit."
Devan mengecup kening Kunia.
"Terimakasih... Ku harap kau berhati-hati, ya? Usahakan ponselmu selalu aktif..." Devan mengusap-usap pipinya lembut dengan tatapan khawatir.
Kunia mengangguk, "kau juga. Hati-hati Suamiku."
Devan mengangguk-angguk. Meraih tangan Kunia menciuminya berkali-kali.
"Aku Perginya, ya. Tidurlah dengan nyaman, malam ini aku tidak pulang."
"Iya–" harap-harap cemas, serta berat hati Kunia mengiyakan.
__ADS_1
Devan pun mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Kunia. Dengan perasaan yang tak nyaman, namun semuanya harus ia lakukan. Demi sebuah kemenangan esok hari. Mengumpulkan semua bukti-bukti kejahatan itu, lalu menemui Notaris Evans.
Tuhan... Ku harap kau melindungi istri ku, besok.