
Samar... Aroma disinfektan menyeruak, menghinggapi indera penciumannya.
Sementara mata sepuh itu masih belum mampu terbuka, selain suara lirih yang ia dengar. Pertanda ia akan segera terbangun.
Omah...
Bola mata yang masih rapat terbungkus kelopaknya pun nampak bergerak-gerak. Disertai dengan gerakan kecil jemarinya.
Usaha keras pastinya dari wanita yang usianya sudah di atas tujuh puluh tahun itu bereaksi, demi memperoleh kembali kesadarannya.
Omah...
Suara lembut si pemuda masih terus memanggilnya. Memacu semangatnya untuk segera siuman.
Ia berharap ini bukan mimpi yang selama ini selalu datang. Yang ketika terjaga, ia masih berada di kamar sempit dan pengap, setelah dipindahkan dari rumah sakit khusus kejiwaan ke rusun kumuh.
Begitulah ingatannya yang seketika mengalir dengan sendirinya, penggambaran sebuah nestapa yang selama ini beliau rasakan.
Hingga silau lampu yang serasa membutakan sebagai penyesuaian, membuat kelopak mata yang hampir terbuka seluruhnya itu kembali menutup.
Lembutnya kecupan hangat di keningnya yang keriput itu membuat beliau yakin jika ini bukanlah sebuah mimpi.
Sebuah harapan yang ia gurat kan di setiap doa-doanya telah menjadi kenyataan.
"Omah..." jelas suara Devano terdengar lagi, lembut menyapanya. Punggung Dev berguncang kuat. Merasa bahagia saat omah-nya bisa kembali terjaga setelah beberapa jam tak sadarkan diri. "Omah ini Devan ... cucu Omah."
Lirih bibirnya yang masih menempel itu, berbicara. Membuat aliran air keluar dari sudut mata Omah Brianna.
Devano...
Omah yang hanya bisa berbicara dalam hati, pun mulai turut menangis. Ia bersyukur, bahkan jika bisa ia ingin memeluk dan menciumi cucu satu-satunya itu.
"Syukurlah ... syukurlah Ya Tuhan, terimakasih ... terimakasih," racaunya tak jelas, sembari terisak-isak.
__ADS_1
Devano benar-benar bahagia ketika bisa kembali memeluk tubuh Omah-nya. Walaupun dengan kondisi yang berbeda.
Tangan lembut Kunia pula mengusap bahu itu, turut menangis. Melihat momen mengharukan di hadapannya.
Terlebih saat mata Omah memandangi Devano dengan rasa rindu yang teramat. Nampak bibir yang terkatup itu bergerak-gerak, sementara air matanya semakin menderas bercucuran membasahi pipi.
Devano mengangguk, seraya mengusap lembut pipi wanita tua itu yang basah karena air matanya.
Ia paham, Omah tidak bisa berbicara. Sehingga cukup melihat ekspresi saja ia sudah paham. Jika beliau sangat bahagia juga melihat dirinya.
"Omah, masih mengenali ku ... iya kan?"
Mata Omah mengedip pelan sekali, tanda Dia mengangguk. Devan pun tersenyum, meraih tangan keriput itu dan menempelkan punggung tangannya di bibirnya.
"Dev– tidak percaya bisa mencium tangan Omah lagi. Maaf ... maafkan Devan Omah. Karena baru menemukan Omah sekarang," menciumi lagi lalu kembali menatap wajah yang hanya mengulas sedikit senyum yang amat lemah. "Omah pasti menderita sekali selama ini..."
Kembali Devan menghela nafas, ia benar-benar tidak kuasa menahan rasa bersalahnya ketika melihat tubuh renta itu.
Seperti memberikan ucapan terimakasih, Omah menepuk-nepuk pelan tangan Devano lalu mengedip sekali.
Devan yang menyadari tatapan itu langsung bergeser sembari memegangi kedua pundak Kuni.
"Ini istriku, Omah. Namanya Kunia..." Devan memperkenalkan langsung, dimana Omah Brianna kembali mengangguk dengan isyarat kedua matanya sembari menitikkan air mata.
"Omah– salam kenal." Kunia menempelkan punggung tangan itu di keningnya, dengan takzim. Menyapa wanita renta yang sepertinya menerima Dia sebagai cucu menantu.
"Dia memang tidak cantik, tapi Dia baik hati kok Omah," ujarnya sembari terkekeh pelan. Belum lagi saat Kunia menyikut perutnya dengan seluas senyum yang masih mengembang karena Devan langsung mencium kepalanya.
Tangan Omah bergerak pelan, membuat Devan sigap mendekati mengangkat tangan itu lalu menempelkan ke kepalanya. Sementara tangan satunya kembali melambai ke Kunia.
Wanita itu lantas memutar, ke sisi sebelahnya melakukan hal yang sama.
Omah hanya memejamkan matanya, kembali menangis. Ia senang ketika bisa kembali berkumpul bersama mereka.
__ADS_1
Dengan harapan semoga tidak ada lagi duka nestapa yang menghinggapi keluarga Atala lagi untuk selamanya.
***
Di tempat lain.
Seorang perawat baru saja keluar dari ruangan Dokter Zaeni.
Selang beberapa detik ketika pintu itu di tutup. Zaeni termenung, pikirannya yang penuh dengan kerumitan nampak berkelana.
Jaga adikmu ... karena mulai besok, mungkin ayah dan ibumu sudah tidak bisa lagi bersama dengan kalian.
Kata-kata terakhir dalam percakapannya via panggilan suara membuat Zaeni tidak mengerti.
Namun hari ini dia paham, ketika mendapati kabar ayahnya telah menyerahkan diri bersama dengan sang ibu yang turut tertangkap.
Zaeni menarik laci kerjanya, meraih sebuah bingkai foto dirinya yang tengah di gendong sang Ayah, bersama dengan Liliana sebelum menikah lagi dengan Harison.
Wajah itu memang tidak pernah tersenyum, namun ia tetaplah ibu yang baik baginya. Walaupun dunia memandang dia sebagai seorang penjahat.
Keheningan kembali menyergap, walaupun samar terdengar aktivitas rumah sakti di luar ruangannya. Namun pikirannya tak bisa berbohong, bahwa apa yang ia rasakan seperti tengah di campur aduk.
Antara kesedihan tentang masalah yang di alami kedua orangtuanya, di tambah memikirkan sebuah penjelasan apa yang akan ia sampaikan pada sang adik yang kondisinya belum pulih betul.
Bulir hangat mulai membanjiri rongga matanya, menutupi netra hitam yang sedikit kecoklatan itu. Seulas senyum terpaksa ia kembangkan, di tambah dengan helaan nafas sesak.
Lagi, ia menangis seorang diri. Dengan luka menganga yang kembali terbuka di relung hatinya. Setelah terakhir ia menangis di kamarnya, ketika tahu sang ibu pergi dan tak kembali di malam itu.
Lantas menggendong bayi kecil, yang ia lihat melalui siaran televisi mendampingi seorang bos besar beberapa Minggu setelahnya.
Ya... seperti makan buah simalakama. Di sisi lain, ia tak ingin kedua orangtuanya menghabiskan sisa umur mereka di dalam tahanan atau bahkan mendapatkan sebuah hukuman mati. Namun di sisi lain ia lega, ketika Nyonya Brianna sudah di temukan kembali.
Tuhan ... tolong berikan pengampunan untuk Ayah dan ibuku.
__ADS_1
Di angkatnya bingkai foto itu, lantas ia kecup cukup lama. Sembari membiarkan bulir-bulir bening miliknya berjatuhan begitu saja. Sebagai pelampiasan rasa sakitnya, dengan mata yang terpejam.