
Hari berganti, tak tahu seperti apa perasaannya saat ini. Yang seakan mendung tengah memenuhi seluruh jiwanya.
Nangis tak bisa, karena ia tidak ingin cibiran sang ibu datang karena melihat matanya sembab. Bagi sang ibu, menangisi cecunguk itu adalah sebuah perbuatan yang sia-sia. Menghabiskan tenaga secara cuma-cuma. Namun ia tak bisa memungkiri, jika saat ini memang hubungannya dengan Anwar sudah seperti sebuah telur yang berada di ujung tanduk.
Ketika semalam ia memutuskan untuk mentransfer sejumlah uang lagi pada Anwar. Pria itu hanya membaca isi pesan chat yang Kuni kirim tanpa membalasnya. Gadis itu masih mencoba untuk menanti, mengemis maaf dari pria di sebrang. Seolah semuanya tidak ada artinya, Anwar tetap marah walaupun ribuan kata maaf terucap dari ketikan tangannya di setiap pesan chat yang ia kirim.
Siangnya, ia menghampiri Reni yang sepertinya baru pulang dari membeli sesuatu.
"Kuni, kau sudah lama di depan pintu pagar rumah ku?" Tanya Reni yang baru keluar dari taksi online.
"Tidak sih, aku hanya ragu-ragu saja. Antara mau masuk atau tidak," jawabnya dengan ekspresi wajah sedih. Tapi sepertinya Reni menangkap itu, dan mengajaknya untuk masuk.
Di dalam kamar yang mendominasi warna pink. Reni tengah mencoba parfum serta body parfumnya yang baru ia beli.
Setelah itu mengulurkan pergelangan tangannya pada Kuni.
"Bagaimana, wangi tidak?" Tanya Reni. Kuni pun hanya mengangguk setujui. Karena memang wanginya enak sekali. "Aku baru mendapatkan kiriman uang tadi pagi dari kekasihku."
"Begitu ya?" Kuni tersenyum kecut. Nikmatnya jadi Reni, dia selalu bisa beli apapun dari uang yang di berikan oleh kekasihnya. Bahkan semua pacar Reni amatlah royal, tidak ada yang bisa menolak permintaannya.
"Aaah.... Hari ini aku senang, walaupun hanya di belanjakan dengan nominal satu juta. Padahal yang ku butuhkan lebih dari itu. Lihat? Masih banyak barang yang belum ku beli." Mengoceh tanpa henti, membuat Kunia urung untuk menceritakan kesedihannya kepada Reni. Ia malah justru lebih banyak mendengarkan cerita Reni yang ke sana kemari hingga beberapa jam lamanya, memamerkan apa saja yang ia beli dari sejak kemarin. "Oh... Bagaimana hubungan mu dengan Kak Anwar?"
"Aku?"
"Kau pasti terluka karena baru putus ya?" Tanya Reni polos, tangannya masih fokus mengusap-usap punggung tangannya sendiri setelah di olesi serum sedikit.
"Putus? Aku tidak?"
"Sebentar– aku akan menerima panggilan telepon dari kekasih ku dulu." Reni mengalihkan saat mendapati ponselnya bergetar. Ia berjalan keluar kamarnya menuju balkon, menerimanya panggilan itu dengan ceria.
Kuni pun tersenyum, ia menoleh ke arah meja rias milik Reni. Ada banyak make up berjejer di sana, dari berbagai jenis merek. Semuanya seperti tidak murah, dan benar-benar berkualitas baik.
Di sudut lain, ada sebuah ruang khusus untuknya membuat Vidio tutorial saat mengaplikasikan beberapa make up-nya. Ia pun mencoba untuk menyentuh botol bening berisi cairan bening dengan tutup berwarna silver di atasnya, semacam facial treatment Essien yang harganya lumayan mahal.
"Jangan...!" Seru seorang gadis di depan pintu kaca pada Kunia yang hendak melihat cairan bening di botol kaca itu. "sudah ku bilang kan? Jangan sentuh apapun yang ada di kamar ku, kau itu tidak bisa hati-hati orangnya. Semua ini mahal tahu."
__ADS_1
"Maaf– aku hanya ingin melihat-lihat. Kali saja aku bisa membeli dan mencoba untuk memakai juga."
Reni pun menghela nafas. "Ini semua mahal, aku tidak yakin kau bisa membelinya."
Walaupun ucapan Reni sedikit menusuk, namun tak cukup membuat sakit hati Kuni yang sudah kebal dengan hinaan sahabatnya itu.
Baginya itu lah Reni, gadis bermulut pedas namun baik. Kuni masih fokus menatap ke arah Reni yang sedang mengusap wajahnya menggunakan kapas yang di basahi cairan micellar.
"Emmmm Ren... Aku ingin bertanya, agar kulit wajah ku bisa cerah dan mulus seperti mu. Aku harus memakai make up yang seperti apa?" Tanyanya polos.
"Tumben kau bertanya seperti itu? Biasanya amat malas tuh, untuk bertanya seperti alat merias diri."
"Kau yang pernah bilang aku itu harus bisa merawat diri ku kan?"
Reni menatap dari ujung rambut hingga ke ujung kaki sahabatnya itu. Paling lama di bagian wajahnya.
"Ya ampun, wajah mu kusam, berminyak, banyak komedonya, di tambah pori-pori besar. Sungguh aku sendiri pun bingung. Sepertinya tidak ada merek makeup yang bisa menutupi kekurangan-kekurangan pada wajah mu itu."
"Ah... Masa sih? Mungkin kah aku harus mencoba skin care seperti yang kau pakai ini."
"Hei... Ku bilang jangan sentuh. Ih– kau ini ya?" Reni menepis tangan Kunia kasar.
"Ya? Tapi kan, tidak semua jenis kulit itu memiliki kecocokan krim yang sama seperti orang lain pakai."
"Maksudnya?"
"Krim ku belum tentu cocok dengan wajah mu," jawab Reni.
"Begitukah?"
"Iya."
"Lalu bagaimana, ayolah tunjukkan aku di mana tempat mu melakukan treatment. Ayolah Ren–"
"Ih... Cari lah sendiri tempat mu melakukan perawatan. Setiap gadis mana ada sih yang mau berbagi info tempatnya membeli skin care?"
__ADS_1
"Ayolah Reni, kasih tahu aku. Kau ini masih saja pelit sih– kalau dulu masalah PR sekolah kau pelit wajar. Kalau ini?"
"Ku bilang tidak mau. Cobalah untuk mendatangi rumah kecantikan di ujung gang sana. Konsultasikan pada dokternya."
"Di– disana? Apa kau juga memeriksakan kulit wajah mu di sana?"
Reni terdiam sejenak, lalu menggeleng. "Tidak sih, aku punya tempat sendiri."
"Issssshhh... Aku mau yang tempat mu, Ren."
"Sama saja Kuni, lagian tempat ku itu mahal. Karena para artis banyak yang melakukan perawatan di sana."
"Tidak apa aku pasti bisa membayarnya, memang berapa sekali perawatan."
"Lebih dari satu juta untuk skin carenya saja. Kau tidak akan mampu membelinya."
"Le– lebih dari satu juta?"
"Iya. Dan jika yang di ujung gang sana, mungkin satu paketnya tidak sampai tiga ratus ribu."
Kunia tersenyum lebar. "Baiklah aku akan mencoba mendatangi rumah kecantikan itu, sekitar?" Kuni menghitung-hitung dengan jarinya. "Sekitar satu Minggu lagi, kan jatah dari ayah sudah turun."
Reni menyunggingkan separuh bibirnya. "Ya sudah sana kau boleh pulang. Aku mau bekerja untuk mereview produk yang baru ku beli."
"Oh... Baiklah. Aku akan pulang. Nanti ajari aku juga untuk makeup ya?"
"Untuk apa mengajari mu, kau hanya perlu membuka Chanel ku kan? Belajarlah dari sana."
"Tapi aku kan susah Ren, untuk mengikutinya."
"Setiap orang awam mana ada yang langsung bisa sih, terus saja belajar lama-lama juga bisa kok. Sudah sana pulang–"
"Iya... Iya deh." Kuni sudah keluar dari kamar Reni karena dorongan pelan dari gadis itu.
"Saat keluar jangan lupa tutup pintu dan juga pagar rumah ku ya."
__ADS_1
"Siap Tuan putri." Kunia nyengir ia pun langsung melenggang pergi meninggalkan Reni yang hanya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Dasar polos, enak saja mau cantik seperti ku. Level mu itu sangat jauh di bawah ku, jadi tetaplah pada posisi mu itu ya Kunia." Bergumam dengan nada mengejek setelah itu ia pun masuk ke dalam kamarnya untuk memulai pekerjaannya.