
Jam makan siang tiba, hari ini Kunia tidak makan di kantin karyawan.
Dia sudah merindukan, rice bowl buatan Bu Asmia.
Nasi putih yang di atasannya terdapat Chicken pop dengan saus bulgogi yang lezat serta taburan wijen di atasnya, atau mungkin rice bowl dengan toping ayam rica-rica suwir yang pedas dan beberapa toping lainnya yang sudah menggugah selera. Selalu sukses membuat galau gadis itu untuk memilihnya.
Makanan lezat tak lengkap jika tanpa minuman yang nikmat pula. Satu cup lemon Tea yang segar, di tambah daun mint juga. Sangatlah cocok untuk menu makan siangnya.
Duduk disebuah meja yang berada dalam naungan pohon rindang. Itulah kesempurnaan waktu makan siang untuknya. Seolah membuatnya tak rugi ketika harus berjalan lebih jauh hingga sampai pada food truck milik Bu Asmia.
Sruuuupppp... Kuni menghabiskan sedotan terakhirnya. Setelah menghabiskan tiga porsi rice bowl dengan tiga varian yang berbeda.
Bu Asmia mendekat, meletakkan sebuah bungkusan berisi lima buah waffle.
"Senang rasanya melihat mu makan banyak seperti ini." Bu Asmia terkekeh.
"Aku kan harus mengisi perutku sebagai amunisi, bu. Karena, seperti yang pernah ku bilang? Dikantor, aku itu kerja di luar batas kewajaran."
"Apa?" Kembali terkekeh.
"Iya, bos ku itu memiliki kepribadian ganda. Di depan orang dia baik dan pendiam. Sementara di depan ku? Dia kurang lebih seperti VOC."
"Hahaha... Mbak Kunia bisa saja."
"Ini, ku bayar sesuai bill. Terimakasih ya Bu, seperti biasa makanannya amatlah lezat. Sayang aku harus segera kembali ke kantor."
"Terimakasih juga, Mbak Kunia dan bekerjalah dengan semangat." Bu Asmia menerima uang tersebut.
"Okay, aku jalan dulu ya Bu. Sampai jumpa nanti sore–" gadis itu melambaikan tangannya setengah berlari menjauh dari food truck tersebut.
__ADS_1
"Hati-hati Mbak Kuni, dan selamat bekerja–" Bu As tersenyum, lalu merapikan mejanya. Membuang box makanan serta cup yang telah kosong ke dalam tong sampah, setelahnya ia pun membersihkan meja dengan cairan pembersih.
***
Di kantor...
Seorang wanita masih sibuk memeriksa satu persatu data yang masuk. Sarah yang belum sempat makan siang hanya bisa menahan bunyinya perut akibat lapar. Karena bokong yang sudah sedari pagi terpatri di kursi, akibat pekerjaan yang menumpuk.
Kruuukkk...
"Aiiiissshhh!! Kenapa perut tidak bisa kompromi begini sih?" Sarah sudah ingin beranjak dan berlari keluar. Namun akibat masih merasa tanggung membuatnya memilih untuk tetap bertahan. Ia pun mengepalkan tangannya kuat. "Ayo– sedikit lagi, semangat!"
Ketik ketik ketik... Terus saja wanita yang bisa di bilang sudah hampir memasuki kepala empat namun masih jomblo.
Di sisi lain, Andre yang tak sengaja melewati area HRD pun menoleh sekilas sembari melanjutkan langkahnya, hingga ia pun mundur kembali saat mendapati wanita pujaannya, sedang bekerja sendirian di ruangan tersebut. Ia pun mengusap-usap rambutnya agar lebih rapih. Lalu berjalan mendekati Sarah, menyenderkan punggungnya kemudian setelah sampai di meja sang kepala devisi tersebut, tanpa melakukan apapun, selain diam.
Karena sadar di sebelahnya ada seseorang? Wanita itu menoleh malas.
"Tidak, hanya memeriksa. Pegawai teladan seperti mu. Sekaligus mengawasi." Tersenyum lebar.
"Aku tidak perlu di awasi. Sudah sana pergi. Kau mengganggu pekerjaan ku saja."
"Hei– aku ini baik hati. Kau jangan terlalu kaku," ujar Andre hingga membuat Sarah melengos tidak peduli. "Emmm... Apa kau sudah makan?"
"Sudah...!" Jawabnya ketus.
Kruuukkk.... Suara perut yang berbunyi, seolah sudah meronta tidak tahan. Sehingga ia menjawab sendiri dengan jujur.
"Kau lapar, ya? Aku punya roti isi, mau berbagi dengan, ku?" Ledek Andre.
__ADS_1
Sarah pun menoleh, ia melihat roti lapis itu nampak lezat. Lalu kembali menoleh ke wajah pria yang masih berbinar-binar memandanginya.
"Tidak tuh–" jawabnya cepat. "Lagi pula, aku tidak Sudi berbagi makanan dengan Curut seperti mu."
"Hei... Hei... Jangan salah, memang benar aku Curut bagimu. Tapi hati ku ini salju, saking putih dan bersihnya." Andre menarik turunkan alisnya. Membuat Sarah mendesah lalu beranjak dari kursinya, serta melepas kacamatanya kemudian.
"Kau mau ku beri pilihan tidak? Mumpung aku masih bisa tahan."
"Apa? Pilihan untuk kencan kah?"
"Hahaha– kencan? Dasar bedebah satu ini," ia menyingsingkan kedua lengannya. "Ayo pilih saja, kau mau ku banting ke depan atau ke belakang?"
"Eh..." Andre mulai pias.
"Yang mana yang mau kau pilih?" Sarah mulai mencengkeram kerah Andre,
"a... aku, aku."
"Kenapa takut? Kau pikir selama ini aku main-main?"
"Ya... ya... ampun, ampun."
"Tidak perlu ampun-ampunan. Tinggal pilih saja, mau ku hajar sampai babak belur atau Sebaiknya kau keluar saja sana, DAN JANGAN GANGGU AKU!!" Sarah sempat menggebrak mejanya, membuat Andre terperanjat.
"Ba– baiklah, baiklah. Tapi besok aku akan datang lagi, sebagai gantinya. Ini untuk mu saja, bekerjalah dengan semangat. Okay!" Andre langsung saja ngibrit dari tempat itu. Membuat Sarah menghela nafas.
"Hah– dasar anak itu. Baru saja mau ku tunjukkan, cara membanting seorang Curut genit itu bagaimana dia malah sudah kabur duluan.
Ia kembali duduk di kursinya, namun sebelum itu ia melirik ke sebuah bungkusan putih. Lalu menghentak kemudian.
__ADS_1
"Ck... Kalau bukan karena lapar. Tidak mau aku memakannya." Sarah pun menyambar bungkusan berisi roti lapisnya, sebelum lanjut bekerja. Tanpa menyadari jika ada bibir yang sedang terkekeh dari kejauhan.
"Di makan juga kan– dasar muna." Andre merasa senang bukan kepalang, ia pun kembali melenggang pergi.