
Setelah semuanya selesai, ia kembali dengan pakaian yang amat cocok melekat di tubuhnya.
Yakin ini baju wanita? Kenapa cocok sekali di tubuhku?
Andre tak ingin ambil pusing, ada baju ganti saja Dia sudah bersyukur sekali. Apalagi sebagus ini.
Sarah yang sudah duduk di kursi dengan kotak P3K di pangkuannya tercenung sesaat, ketika melihat Andre keluar. Dengan pakaian itu membuatnya nampak lebih keren.
Tak ku sangka, baju itu jadi ku berikan padanya tanpa harus sembunyi-sembunyi meletakkan di meja kerjanya besok. Sebagai hadiah ulangtahunnya. Padahal sebelumnya aku sempat bingung bagaimana cara meletakkan itu agar tidak ketahuan.
Wajah Sarah memerah, ketika mengingat hal konyol yang ia rencanakan tadi. Ia pun memalingkan wajahnya.
"Bajunya bagus sekali, aku suka. Bagaimana kalau ku bayar saja? Tidak usah di kembalikan, ya..."
"Tidak perlu– aku bilang kan itu baju gratisan dari bawahanku. Kalau kau mau, ambil saja."
Andre menangkap tingkah gugup Sarah yang terus menolak tatapannya. Terlebih saat Dia duduk di dekatnya, Sarah hanya berdeham tak menggeser posisi duduknya sama sekali.
"Itu kotak obat, untuk apa?"
"Untuk apa lagi? Tentu saja untuk mengobati luka di wajah mu," jawabnya ketus, seperti biasa.
Andre nyengir, ia mengarahkan jari telunjuknya pada Sarah...
"Wah... Wah... Kau mau mengobatiku? Serius?"
Sarah menoleh sebal, ia langsung menepis jari telunjuk itu. "Kau tidak mau ya sudah..."
"Idiiih... Jelas aku mau, laaaah. Nih... Wajahku, ayo obati." Andre memasang wajahnya sembari memejamkan matanya lebih mendekat pada Sarah. Bibirnya terkatup senyum.
"Ka– kau sedang apa?" Sarah mendorong kening itu, "jauhkan wajahmu itu dari ku."
"Loh, mau mengobati itu harus dekat-dekat. Kali saja kau mau yang lain setelah ini."
"yang lain apa maksudmu?" tubuhnya beringsut.
"Mencium ku di sini mungkin," menunjuk pipinya.
Plaaaaaakkkkkkk... Sarah menampar pelan pipi itu. Yang justru membuat Andre tertawa.
"Jangan harap ya!!!" Membanting kotak obat itu di pangkuan Andre, "bawa itu pulang, dan obati saja lukamu sendiri."
__ADS_1
Sarah beranjak, namun segera di tahan Andre.
"Jangan-jangan... Kau saja, ya. Maaf, aku hanya bercanda. Ayo duduk lagi."
"Dasar Curut..."
"Ya... ya ... aku Curut. Makanya duduk sini, dan obati Curutmu ini." Menarik pelan hingga Sarah kembali duduk, lalu meletakkan kotak obat itu di tangan Sarah. "Ayo obati aku."
Sarah mendengus sebal. Ia mulai membuka kotaknya, mengambil pinset, kasa dan cairan pembersih luka.
Dengan tiga alat itu, Sarah mulai membersihkan luka di wajah Andre. Namun kemudian ia mendapati luka meradang di bagian lehernya.
"Ya Tuhan, lehermu terluka. Yakin kau hanya di kejar anjing?" Sarah menyentuhnya sembari meringis. "Ini sih perlu ke dokter, ada lecet-lecet juga. Kau pasti habis terjerat sesuatu?"
Andre meraih tangan Sarah, lalu memindahkannya lagi ke wajah.
"Obati saja yang di wajah... Yang itu tidak penting."
"Hei– kau butuh ke rumah sakit."
"Ya aku tahu. Nanti aku akan kerumah sakit setelah mendapatkan jawabannya dari mu."
Kening Sarah berkerut. "Jawaban apa?"
"Aku itu mencintaimu sejak lama... Kapan kau akan menerimaku?"
Sarah berusaha melepaskan tangannya. Ia tetap tidak mau menjawab. Bukankah itu lucu?
Wanita bertubuh sedikit gemuk, dengan usia yang jauh di atas pria itu.
Mungkin sangat tidak pantas apabila menjalin hubungan dengan Andre yang notabene banyak digandrungi para gadis di kantor mereka.
Lalu apa kata bawahannya nanti? Dia pasti akan menjadi bahan cibiran para gadis-gadis itu karena di anggap tidak tahu diri.
"berpikirlah dengan waras, aku bukan gadis ABG lagi..."
"Sarah– aku tidak hanya mengajakmu pacaran. Aku serius dengan mu... Kalau kau mau, aku akan melamarmu sekalian. Kita ke NTB besok juga boleh."
"Hei– kau gila ya?"
"Kenapa... apa kau tidak percaya?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak... wanita yang lebih muda itu banyak. Kau mau menjalin hubungan dengan wanita Tua seperti ku? Lihatlah dengan mata waras mu.
yang bening, mulus, langsing, masih muda. Di kantor kita banyak? Lalu kau mau dengan ku yang seperti ini?" Sarah geleng-geleng kepala, merasa miris.
Karena ia tidak pede dengan penampilannya sendiri, dengan bentuk tubuhnya, dan dengan umurnya yang jauh di atas Andre.
"Aku mencintaimu, hanya kau."
"Tutup mulutmu dan pulang saja sana."
"Aku mencintaimu, Sarah... Aku mencintaimu."
"Aiiiissshhh...." Sarah menutup telinganya. "Aku tidak mendengar itu. Keluarlah, sana keluar."
Andre meraih kedua tangan itu melepaskannya.
"Dengarkan aku... Aku– mencintai–mu– Sarah Wijayanti. Seorang kepala devisi HRD, yang memiliki suara melengking hingga satu oktaf ketika marah. Iya itu kau... Kau yang ku mau... Kau yang ku cintai bukan yang lain."
Sarah mematung, matanya mengembun. Ucapan itu terdengar tulus keluar dari Andre. Tidak selengean seperti biasa, yang tiba-tiba menghampirinya hanya untuk tersenyum lalu berkata; Nikah yuk...
Walaupun ia harus mendapatkan lemparan berkas di wajahnya terus-menerus, karena terus datang dan datang lagi. Untuk mengatakan hal yang sama, ataupun hanya mengajaknya berkencan di setiap malam Minggu.
"Sar–"
"Kau suka sekali bercanda, aku tidak percaya mulut buaya sepertimu."
"Aku tidak bercanda dengan orang banyak. Apa kau pernah lihat aku bertingkah sama dengan yang lainnya, seperti kepadamu?"
Tidak... Kau lebih sopan ke yang lain. Kau bahkan terkesan sok cool dengan para gadis. Aku sempat khawatir menafsirkannya... Karena aku tahu diri. (Sarah)
"Aku serius menyukaimu. Jadi terimalah aku..."
Sarah tak menjawab, ia hanya melanjutkan pekerjaannya. Mengobati luka ringan Andre di wajah, lalu menutupnya dengan plester.
"Aku sudah selesai, ini juga sudah malam. Sana keluar saja– aku lelah mau istirahat." Tutur Sarah, dingin. Ia menata peralatannya ke tempat semula.
Andre pun menghela nafas, ia tertunduk untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya beranjak.
"Terimakasih sudah mengobati. Maaf aku telah mengganggu mu. Aku permisi pulang... selamat malam, Sar." Pria itu lunglai, melangkah keluar.
Rupanya, menerima seseorang itu memang tidak mudah.
__ADS_1
Bulir bening mulai terjatuh, ia ingin sekali menahan Andre. Namun gengsinya mengalahkan gerakan hati. Membuatnya hanya mampu menyesali penolakannya sendiri.