I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
nonton film


__ADS_3

Devan membawa laju mobilnya dengan tegang, setelah melakukan kesepakatan sebelumnya. Semua sebab ejekan Kuni yang mengatakannya pria penakut karena tak mau menonton film bergenre horor.


Ahh ... sial!!! Kenapa aku setuju nonton film horor, hanya gara-gara gengsi?


Devan sedikit mengeluarkan keringat dingin, di tengkuk lehernya.


Jelas saja, mungkin memang tidak ada yang ia takuti di dunia ini, namun di dunia lain??


Mereka sudah mulai tiba di pelataran mall. Dengan cool Devan keluar dari mobilnya, lagi ia menyibak rambutnya kebelakang, dan apa yang ia lakukan tiba-tiba saja membuat Kuni sedikit terpukau. Lalu kemudian mendengus sebal.


Heh ... bocah! tolong lah, jangan kau sibak rambutmu itu. Apakah kau sedang tebar pesona saat ini? lihat semua wanita di sekitar kita– ingin rasanya ku colok satu persatu mata mereka, yang bahkan tak mau berkedip saat melihat mu.


Aku berfikir seperti ini bukan karena cemburu. Hanya saja, rasanya geli melihat para ABG itu menatap mu penuh kekaguman... Intinya aku tidak suka, dengan cara mu tebar pesona itu. Tengil...!!


batin Kunia sebal. Sedangkan Devan yang sama sekali tak memperhatikan sekitarnya, nampak tidak peduli dengan pandangan para gadis remaja, lebih-lebih dua yang paling dekat dengan mereka.


Menggandeng lagi tangan Kunia setelah menyerahkan kunci mobil pada jasa Valet.


Lalu membawanya masuk sebelum masuk ke dalam lift, menuju lantai paling atas tempat di putarnya film tersebut.


Sesaat senyum Kunia tersungging sinis, pada anak ABG yang masih memakai seragam SMA mereka.


Rasanya sungguh membanggakan Ketika bisa membuat iri para gadis remaja yang turut berjalan di belakangnya.


Hingga akhirnya telinga kuni menangkap suatu bisikan.


Ya walaupun samar-samar namun tetap masih terdengar, lumayan jelas.


"pssstt...! enak ya punya majikan mau menggandeng tangan asistennya seperti itu."


Apa asisten katanya? Kalian ini ya? Bisa-bisanya menggosipkan orang lain di belakang orangnya langsung. (Kuni)


"Yakin itu asistennya? Masa gandeng tangan?"


"Ya habis, kalau pacar? Sepertinya tidak mungkin deh."


"Memang tidak mungkin, bisa jadi itu bibinya. Hihihi."

__ADS_1


"Parah–" Mereka cekikikan.


"Bener kan? Cocoknya Dia itu bibinya si pria di samping." Cekikikan lagi.


Cih ... Asisten? Bibi? Kalian lihat ya ... Siapkan jantung kalian.


Kuni menghentikan langkahnya.


"Sayang–" menyebut kata sayang dengan nada manja. Devan pun mematung kemudian. "calon istri mu ini, ingin makan es krim itu."


ucap Kunia, semakin melembutkan nada suaranya. Dengan kepala mendongak manja ke atas.


Mamam tuh ... Dasar anak ABG. –dalam hati tersenyum jahat untuk dua ABG di belakangnya.


Devan pun menyentuh kening kunia. "Apa kau sakit? Bicara mu aneh sekali." Tuturnya, tentu saja dengan suaranya yang datar.


"Aku hanya ingin manja pada mu sayang. Kau tau? Di belakang kita itu banyak sekali lambe turahnya."


"Lambe turah?" Bergumam lirih, tidak mengerti maksudnya.


"Hmmmmm... Ayolah, aku ingin mendinginkan hati ku ini." Kunia menarik-narik lengan Devan sembari menunjuk tempat di jualnya es krim. "Aku mau es krim... Mau es krim, sayaaaaang." Menggigit ujung jarinya, sok imut.


"Merepotkan sekali sih kau ini...!!"


Walaupun menggerutu, tapi Devan tetap melangkahkan kakinya ke sana. Membelikan apa yang di inginkan Devan tadi.


Dua wanita yang ada di belakang Kunia dan Devan tadi pun saling tatap.


"Mereka pacaran ternyata, sayang sekali ya." ucap si A.


"Iya ... Kasihan si pria juga. Pasti tertekan itu, bisa jadi di jodohkan. Yuk lah kita pergi." Ajak bestie-nya kemudian. Yang lantas melenggang pergi.


Di sisi lain Kunia tersenyum, penuh kemenangan.


Dasar ABG tidak punya kerjaan. Masih sekolah sudah suka menggosipkan orang lain... Tunggu saja nanti setelah kalian sudah jadi ibu-ibu kontrakan baru cocok. (Kunia)


"Ini es krim mu," ucap Devan sembari menyerahkan satu es krim Cone untuk Kunia.

__ADS_1


"Ka...kau sudah membelikannya?" tanya Kunia terkejut. –cepat sekali?


"Iya, kau bilang ingin es krim kan? Jika kurang kau bisa memintanya lagi. Aku sudah memborong semuanya."


"Nani!!!" (Bahasa Jepang artinya....Apa!!) Kuni tercengang.


"De... Dedek... Devan maksudku, aku minta satu loh. Bukan semua kau borong seperti ini? itu berlebihan namanya."


"Ya memang kenapa? Aku itu tidak mau, kalau kau menganggap ku pelit karena hanya membelikan satu saja," jawabnya santai.


"Tapi!! Aku hanya mau satu cone ini saja. Dan aku tidak akan berpikir kau pelit!"


Ya Tuhan, dasar anak orang kaya. apakah mereka seroyal itu, Aku rasa tidak. Hanya kau yang tidak normal. (Kunia.)


"Kau bisa nambah sesuka hati mu. Sebagai hadiah julukan baru itu."


"Apa?"


Devan tersenyum. "Sayang–"


"Aiiiih... Itu hanya karena satu hal. Kau tidak tahu itu."


"Memang aku tidak tahu. tapi apapun alasannya aku setuju dengan panggilan baru mu itu. Jadi panggil saja dengan itu terus, seperti tadi." Devan membungkuk sedikit mendekati telinga Kunia. "Kalau bisa nadanya lebih manja dari pada yang tadi."


Kunia merinding saat mendengarnya. Ia pun geleng-geleng kepala.


"Aku tidak mau melakukannya lagi," jawabnya cepat.


"Tapi itu bagus, jadi kau cepat mendapatkan hati ku. Itu kan yang kau inginkan? Makanya berlaku manja terus setelah ini ya?"


"Hei–"


"Sudah-sudah... Intinya aku suka dengan julukan itu, pertahankan. Okay...!" menepuk-nepuk pangkal kepala Kunia pelan, sembari tersenyum.


Kuni menepuk keningnya. Ketika menyadari ia melakukan kesalahan hanya karena kesal dengan dua ABG tadi. Ia jadi harus memanggil sayang pada Devan mulai sekarang. Dan lagi masalah es krim?


Kuni lantas memutuskan untuk membagikan es krim itu gratis pada semua pengunjung di sekitar yang menginginkan es krim tersebut.

__ADS_1


Dan setelahnya ia pun menarik tangan Davan serta membawanya pergi dari sana, menuju tempat tujuan awal mereka yaitu menonton film.


__ADS_2