I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
malam pertama yang merana


__ADS_3

Setelah itu, Devan menghampiri Bu Sukaesih yang hendak memasak daging sapi yang beliau beli.


"Ibu mau masak apa? Boleh ku bantu?"


"Eh– tidak usah. Masa tamu membantu?"


"Tidak masalah, saya ini bisa masak. Dulu saya pernah tinggal dengan pengasuh saya pada saat lulus SMA hingga masa kuliah. Dan pengasuh saya itu sempat menjadi juru masak juga di rumah utama. Makanya saya jadi pandai memasak sekarang."


"Woah benarkah? Jadi penasaran dengan masakan mu."


Devan tersenyum, ia pun menyingsingkan kedua lengan panjangnya. Lalu mulai memotong-motong daging. Dan benar, walaupun dia seorang pria kaya tapi sepertinya piawai sekali memegang pekerjaan dapur.


Setelah memakai satu wadah, tanpa sungkan Devan langsung mencucinya.


"Dapur itu harus senantiasa bersih, itu yang di ajarkan pengasuh saya di rumahnya."


"Hebatnya– yang begini yang enak di pelihara, tidak bikin darah tinggi setiap hari." Bu Sukaesih melirik kearah Kunia yang sedang membantu mengupasi kentang.


"Aku juga bisa masak. Tidak usah menyindir," balas Kunia.


"Bisa masak apa? Kau tidak ingat kemarin, kau bahkan hampir membakar rumah ini. Saat ibu titipkan ayam rebus pada mu, dan kau malah ketiduran? Untung saja hanya panci dan ayamnya yang gosong. Dasar tidak berguna."


Pletaaak... Bu Sukaesih menjitak kepala Kunia, yang lantas mengaduh.


"Kenapa di bahas terus sih? Aku sudah bilang tidak sengaja. Aku itu lelah, karena PEKERJAAN di kantor." Kunia menatap sebal ke arah pria yang sempat mengangkat kepalanya menoleh kebelakang, saat mendengar kata kerjaan di kantor. Lalu kembali fokus pada wajan di atas kompor tersebut sembari geleng-geleng kepala setelahnya.


"Bisa saja kau menjawab, ya?"


"Ibu, coba ini." Devan memberikan sedikit, untuk Bu Sukaesih cicipi. Ibu paruh baya itu pun meraihnya, lalu meniup sejenak, setelah itu memakan potongan daging tersebut.


Kunyah-kunyah, selanjutnya memejamkan mata.


"Emmmmm... Seperti hidangan restoran." Bu Sukaesih mengacungkan jempolnya. "Kau hebat sekali, Nak."


Saking gemasnya Bu Sukaesih sampai menarik pipi Devano, yang sejatinya tidak begitu disukainya apabila ada yang menarik pipinya itu.


Tak lama Gentar masuk ke dalam dapur, dengan headphone di leher. Pria itu mendekati mereka bertiga.


"Harum sekali?"


"Iya– calon menantu Uwa ini, yang masak."

__ADS_1


"Ibu...!" Kunia menghentak pelan lagi.


"Pria keren Ini calonmu, kak?" Gentar sedikit terpukau dengan penampilan pria yang tengah mematikan kompornya itu. Lalu mendekati Kunia, dan duduk di sebelahnya. Sementara Kunia langsung


menggelengkan kepala pada Gentar.


"Bukan-bukan..."


"Kenapa bukan? Kalau iya? Ibu juga sudah merestui."


"Hei–" Kunia semakin panik, terlebih ekspresi sang ibu yang mendadak lebih ceria.


"Tunggu-tunggu... Jadi benar? Kau mau jadi menantu ibu nak?"


"Mau, aku saja sudah melamar Kunia didepan makam ayah ku." Devan menjawab blak-blakan. Dan hal itu justru membuat Kunia semakin kelabakan.


"Waaaah... Ayah harus dengar ini." Bu Sukaesih berjalan dengan rasa semangat keluar dapur untuk menghampiri suaminya. Dan baru sampai di depan pintu ia kembali hanya untuk menarik Gentar keluar. "Ayo keluar, jangan ganggu sepasang kekasih sedang berduaan."


"Oh... Baiklah." Gentar terkekeh kecil, mengikuti Uwa-nya keluar.


Kunia pun menoleh kearah Devan, ia hendak menggetok kepala pria yang tengah menengguk air mineral. menggunakan sendok di tangannya. Namun terhenti saat Devan menoleh.


"Kau sudah tidak bisa menolak ku lagi sekarang." Devan mengedipkan satu matanya sembari meletakkan gelasnya dan beranjak. Dimana Kunia semakin menggenggam sendok itu dengan erat. Setelah itu merebahkan kepalanya dengan lemah di atas meja. Seolah bayangannya beralih, menjadi Devan yang tengah mengikatkan tali anjing di lehernya.


Kunia meremas kepalanya, ia merasa frustasi mendadak.


"Aku tidak mau menikah, apalagi dengan dia. Hiks... Aku tidak mau ada penyiksaan level paling pedih karena jabatan dia yang bos berubah jadi suami. Huaaaa... Tidak ... Tidak mau..."


***


Di sebuah hotel...


Reni duduk menatap keluar kamar, menanti sang suami yang sedang berada di dalam kamar mandi tengah bebersih.


Ia masih dibayang-bayangi Kunia dan Devan tadi siang. Sepertinya ini trik atau kebohongan, yang di buat oleh Kunia. Tapi? Tidak mungkin seorang anak konglomerat seperti Devan mau berpura-pura.


Reni menunduk frustasi, kedua kakinya berkali-kali menghentak-hentak di lantai.


"Tidak mungkin... Tidak mungkin, Kunia dengan seorang Devano? Aaaaaa." Reni meremas kepalanya, karena semakin memikirkan itu, membuatnya semakin kesal.


Saking sibuknya memikirkan Kuni, ia bahkan tidak sadar jika Anwar telah selesai, dan kini tengah duduk sembari memeluknya dari belakang. Memberi kecupan lembut di bahunya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Reni pada Anwar, dengan ekspresi wajah yang nampak dingin.


"Apalagi? Ini malam pertama kita, tentu saja aku ingin menyentuh mu." Hendaknya Anwar memeluk Reni, namun wanita itu memberikan penolakan. Ia malah justru mendorong tubuh Anwar, lalu beranjak. Dimana aksinya itu membuat Anwar terkejut. "Hei– apa yang kau lakukan?"


"Aku tidak akan mau kau sentuh, sebelum janji mu itu kau realisasikan!!!" Reni menuding kening sang suami.


"Astaga...! Aku sudah bilang kan? Apartemen sedang di renovasi. Sabar sayang, nanti kita pindah." Anwar hendak mendekati, namun Reni kembali memundurkan langkahnya.


"Hei– aku tidak bodoh ya? Renovasi apartemen itu tidak sampai berbulan-bulan. Dan lagi, mobil mu? Mana? Mana mobil mu? Kenapa tadi kita ke hotel ini pakai taksi?"


Deg...!


Anwar tergugu, karena sejatinya mobilnya itu sudah di gadaikan untuk menambah biaya pernikahan yang tak sedikit.


"MANA?!" pekik Reni.


"Sa–sayang... Dengarkan aku ya. Mobilku itu sedang turun mesin. Jadi harus masuk bengkel."


"Turun mesin? Jangan membohongi ku ya?"


"Serius sayang, aku tidak bohong. Lagipula, ini malam pertama kita. Sebaiknya kita bersenang-senang bukan malah seperti ini." Anwar berusaha menenangkan kemarahan Reni, yang sedari siang tadi sudah uring-uringan.


"Bersenang-senang?" Reni tersenyum sinis, ia pun berjalan menuju ranjang lalu melempar suaminya dengan bantal, hingga mengenai wajahnya. "Bersenang-senang lah dengan bantal itu di sofa sana!"


"A–apa? Sayang, kau bercanda kan?"


"Aku sungguh-sungguh. Intinya sebelum aku masuk ke apartemen yang kau janjikan itu, JANGAN HARAP KAU BISA MENYENTUH KU!!!"


"Ren?"


"Jangan mendekat–" Reni meraih bantal guling, lalu memukuli suaminya dengan bantal tersebut berkali-kali.


"Ya... Ya... Okay, baiklah... Baiklah..."


"Sana ke Sofa, itu– SANA!!" Reni mendorong tubuh itu, hingga membuat Anwar berjalan lesu menuju sofa. Setelahnya duduk sembari memandangi sang istri yang sudah mulai merebahkan tubuhnya di ranjang yang empuk.


kenapa bisa seperti ini? Bagaimana aku bisa menjelaskan, kalau apartemen itu sebenarnya belum ku beli?


Anwar menggaruk kasar kepalanya, ia benar-benar merana. Lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Mencoba untuk memejamkan matanya. Walaupun susah, karena udara AC yang dingin membuatnya sedikit menggigil. Ia pun kembali mengangkat kepalanya, melihat Reni sudah tidur dengan tubuh berbalut selimut yang tebal.


"Ck...!" Kembali Dia merebahkan kepalanya memeluk bantal.

__ADS_1


Jika saja itu Kunia, pasti Dia tidak akan melakukan ini padaku. –entah mengapa, ia jadi merindukan kebaikan Kunia saat ini. Karena memang, sikap Kunia dan Reni sangatlah berbanding terbalik. Dan ia tidak pernah menduga, Reni akan bersikap acuh dan kasar seperti ini. Bahkan di malam pertama mereka.


bersambung...


__ADS_2