
Remang-remang di kamar yang hanya bercahayakan lampu tidur dan sorotan laptopnya.
Riuh suara renyahnya keripik kentang, beradu dengan dialog berbahasa asing dari sang artis di layar laptop yang menyala.
Membawa serta seorang wanita yang usianya sudah tidak bisa di bilang muda lagi, hanyut dalam kisah cinta Negeri gingseng.
~ Aku mencintaimu Jerim– sungguh aku mencintaimu... Kau boleh tidak menyukai ucapan tulus ini, namun aku tetap akan mengatakan itu. ~
"Aiiih... Terlalu pikir panjang sekali sih? Terima saja, ayo terima! Jarang-jarang ada laki-laki yang mau mengejar seorang wanita sampai seperti itu. Dasar bodoh...! Janganlah kau menyia-yiakan Pil Song yang sudah mengorbankan jiwa raganya untuk mu, Kim Jerim," tandasnya menggebu-gebu.
Krauss... Krauss... Fokus menonton Drama yang sangat ia tunggu-tunggu lanjutannya di setiap malam akhir pekan.
Karena tidak ada yang bisa ia kerjakan selain on going serial favoritnya. Atau mungkin melakukan maraton Drama yang sudah tamat.
~ Kau tahu aku sudah punya anak? Kau juga tahu kehidupan kelamku sebelum ini. Kau yang seorang aparat dengan pangkat tinggi mu itu sangatlah tidak cocok denganku. Pergilah, dan simpan saja kata-kata itu untuk Dia yang lebih pantas. ~
ucap sang wanita dalam drama tersebut, di bawah hujan salju, sembari menitikkan air mata.
"Bodoh!!! Aku tahu kau mencintainya kan? Iya kan? Terima saja... Ayo terima." Sarah mulai geregetan, karena sang wanita mulai memutar tubuhnya hendak pergi. Namun seketika di tahan, si pria menarik tangannya lalu memberikan kecupan tulus di bibir.
Sraaaakkk...
Sarah mematung, menjatuhkan bungkusan Snack kentang yang ia pegang.
"Ya Tuhan... sweet sekali..." Gumamnya, sebelum akhirnya jejeritan, jejengutan, guling-guling dan lain sebagainya setelah melihat adegan tersebut.
"Huaaaaaa... Irinya, aku iri sekali. Walaupun aku tahu itu hanya adegan yang sudah di atur skenarionya. Namun tetap saja, itu romantis sekali."
Sebagai seorang wanita yang tidak pernah mendapatkan sentuhan cinta... atau mungkin pernah.
__ADS_1
Namun ya... ia tidak ingin mengingat lagi.
Ketika kisah cintanya harus kandas setelah terjalin sepuluh tahun, sementara si pria harus menikah dengan wanita lain karena perjodohan.
Seolah mematikan bara cinta itu, lantas menggantinya dengan air yang membeku. Ia tidak bisa lagi menerima hati manapun hingga saat ini.
Padahal hobinya sendiri menonton ataupun membaca cerita romantis. Tapi tak pula membuat kehidupan aslinya, semanis serial drama tersebut.
Sedang asyik-asyiknya menikmati Drama di laptopnya.
Sebuah ketukan membuatnya terperanjat.
Sarah meraih ponselnya, menilik jam digital. Sudah jam sebelas, siapa agaknya yang datang. Sebab ia tidak pernah kedatangan tamu sekalipun.
Tok tok tok...
Dengan malas, Sarah beranjak. Setelah menekan tombol berhenti di laptopnya lalu menyalakan lampu kamar, sebelum keluar ke ruangan tamu.
Dan ruang tamu minimalis di luar. Gadis itu menyalakan lampunya lalu membuka pintu.
Sedikit terkejut dengan seseorang yang ia lihat berdiri di depan pintu.
"Andre?" gumamnya. Melihat pakaian pria itu basah dan kotor, belum lagi memar di mana-mana, luka yang mengeluarkan darah di pelipis, juga di tulang hidungnya. Membuat Sarah tidak bisa banyak bertanya.
"Aku ingin mengembalikan ini. Tadi tertinggal di atas meja mu." Andre mengulurkan alat kejut listrik milik Sarah. Tangan itu terangkat pelan menerimanya. "Terimakasih, ini sempat menyelamatkan ku tadi. Aku permisi–"
Mengangguk singkat, sebelum memutar tubuhnya pergi meninggalkan Sarah yang hanya diam saja beberapa detik.
"Tu– tunggu dulu, Curut–" Sarah menghentikan langkah Andre. "Masuklah dulu, kau terlihat tidak baik-baik saja."
__ADS_1
Andre menoleh, lalu menggaruk kepalanya.
"Aku baik-baik saja, tadi itu aku di kejar anjing kompleks." Tertawa garing.
"Masuklah... di rumahku tidak ada makanan, namun teh atau kopi ada." Gumam lirih Sarah sembari masuk lebih dulu meninggalkan Andre yang kini tengah tersenyum lalu melangkahkan kakinya pelan.
–––
Di dalam ruang tamu yang tertata rapi, Andre berdiri sembari menggendong tangan di belakang. Baju yang basah membuatnya tidak berani duduk. Takut Sarah berkoar, itu yang ada di pikirannya.
Matanya menyusuri setiap sudutnya. Minimalis namun rapi dan nyaman. Sangat membuatnya betah.
Sungguh, ini kali pertama pria itu masuk ke rumah wanita liar seperti Sarah. Kesempatan langka yang amat ia syukuri.
Sarah keluar dengan nampan berisi kopi panas, dengan tiga potong martabak manis sisanya tadi di atas piring kecil.
"Kau beruntung, aku punya sisa martabak manis ini. Walaupun sebenarnya bisa untuk ku jadikan sarapan pagi besok setelah ku hangatkan." Meletakkannya di atas meja. Sementara senyum Andre semakin tersungging lebar, dengan gigi-giginya yang nampak.
Memang seperti itulah Sarah, wanita yang terkenal pelit dan perhitungan. Bahkan sampai martabak saja ia simpan untuk di jadikan sarapan, esok hari.
Sarah kembali kedalam, mengambil sesuatu. Setelah itu melemparkannya ke Andre yang sigap menerimanya. Melihat lagi dengan seksama, set Hoodie berwarna hitam dengan dua garis vertikal berwarna putih di sisi lengan dan kakinya.
"Pakaian itu hadiah dari bawahan ku. Tapi Dia sepertinya sengaja ketika memberikan itu dengan ukuran kecil. Hanya untuk mengejekku yang bertubuh besar ini."
Andre tidak peduli dengan ocehan itu, ia malah justru senang.
"Terimakasih–" nampak semakin sumringah.
"Emmm... Sudah sana ganti bajumu, kamar mandi ada di dalam. Pintu yang berada dekat dengan dapur."
__ADS_1
"Okay–" bergegas masuk, ke dalam. Jujur saja, sejatinya ia memang sudah risih dengan pakai basah ini.