
Devan memasangkan helmnya untuk Kuni.
"Duduklah," titahnya kepada Kunia yang langsung menuruti. Pria itu pun berjongkok hanya untuk memasangkan sepatu tersebut.
Sungguh manisnya, Dia? Kenapa aku sempat takut saat mau menikah dengannya.
Kunia tersentuh, karena saat merajut kasih dengan Anwar. Pria itu sama sekali tak pernah berlaku semanis ini.
Jangankan berjongkok untuk memasangkan sepatu, jalan saja tak pernah menggandeng tangannya.
Bahkan lebih suka berjalan di depan Kunia.
Devan mengangkat kepalanya, setelah selesai memasang sepatu di kedua kaki isterinya.
"Ayo, sudah siap?"
"Sayang, kau yakin? Aku tidak akan jatuh."
"Tidak akan... Aku menjamin, tidak akan melepaskan tanganmu. Sini mana tanganmu?" Menengadahkan kedua tangannya sembari beranjak.
Ya Tuhan... Kunia tersenyum ia meletakkan ke-dua tangannya di atas telapak tangan sang suami.
"Aku benar-benar takut."
"Bangunlah dengan hati-hati. Sembari menjaga keseimbangan kedua kakimu."
"I–iya." Mulai bangun, perlahan. Sejenak ia hampir terpeleset, namun segera di peluk erat oleh Devan. Keduanya tertawa setelah saling tatap beberapa saat.
"Tidak apa-apa, jangan takut. Berdirilah dengan rileks."
"Sungguh aku tegang sekali." Kunia mulai berdiri dengan normal.
"Sudah cukup seimbang?" Tanyanya, Kunia pun menjawab dengan anggukan. "Baiklah kita siap untuk jalan."
Devan melangkah pelan mundur, Kunia pun mengikuti. Berjalan sangat hati-hati, bibirnya tak bisa menahan senyumnya. Ketika kedua kakinya mulai mampu berjalan beralaskan sepatu roda.
"Aku bisa..." Tertawa senang.
"Ku bawa berlari, ya?"
"Jangan–" rengekannya manja, membuat Dev terkekeh.
Langit yang semakin menggelap, membuat cahaya lampu LED di sekitar semakin berpendar. Riang tawa Kunia dan juga Devano, membawa mereka semakin menikmati malam yang indah ini.
seperti ini... Kita akan terus berpegangan. Tidak peduli sesulit apapun untuk melangkah. Asal tetap bersama... setidaknya aku masih memiliki alasan untuk tetap hidup.
Devan memutar tubuhnya menghadap depan. Memindahkan tangan Kunia di lingkar pinggangnya.
"Pegangan yang kencang, aku akan membawamu melayang."
"Ja– jangan terlalu cepat. Devaaaaaan..." Semakin erat Kunia mencengkeram pakaian di pinggang Devano. Sembari fokus dengan keseimbangannya, sementara kakinya hanya diam saja. Karena terbawa tubuh Devano, ia jadi turut melaju kencang.
Aku tak pernah sebahagia ini sebab sebuah rasa yang dinamakan, cinta... sungguh.
__ADS_1
Jika bukan karena adanya pria sinting yang membuatku sinting juga. mungkin sampai saat ini, aku masih menjadi Kunia yang meratapi pernikahan Reni dan Anwar.
Kunia yang tengah tertawa lepas. Tanpa peduli banyak pasang mata yang memandangi mereka dengan berbagai pikirannya masing-masing.
Keseruan masih berlangsung.
Setelah puas bermain di arena sepatu roda. Kuni dan Devan berjalan-jalan lagi.
Mengunjungi deretan pedagang kaki lima, lalu berhenti di tenda aksesoris.
"Wah... Kita masuk yuk." Menarik tangan sang suami masuk. Kunia memilih-milih, ada banyak aksesoris di sana. "Aku pernah janji ingin membelikan mu cincin tindik. Tapi kok rasanya di bandingkan dengan yang kau pakai itu, tidak ada yang minimal mendekati bagusnya."
Devan bercermin, lalu melepaskan miliknya sendiri. Setelah itu menghadap ke istrinya.
"Sekarang pilihkan yang mana saja, aku akan menghargai itu."
Kunia tersenyum. "Sungguh?"
"Iya."
"Aaaaaa.... Kenapa aku semakin gemas padamu, Dede." Kunia memeluk di lingkar leher sang suami, riang.
"Apa kata, mu? Siapa yang kau sebut, Dede?" Gusar.
"Hahaha... Kesayangan. Aku hanya bercanda, Dedeeeevano." Tertawa garing. Masih memeluk lingkar leher itu.
Jangan marah... Jangan marah... Repot soalnya. (Kunia)
"Ck...! Sudah cepat, pilihkan yang bagus untukku."
Semangat, Kunia memilih-milih. Lalu meraih salah satunya.
"Bagaimana dengan ini?"
"Apa itu bagus untuk ku?" Tanya balik.
"Menurutku iya... tapi kan? Kau yang mau pakai, jadi kau harus memilihnya sendiri."
"Pilihkan saja, kalau kau bilang bagus? Berarti memang bagus."
Kunia menoleh lagi, ia cukup galau saat melihat semuanya.
"Ayo pasangkan."
"Nanti dulu, biar ku lihat lagi. Semuanya bagus, jadi bingung."
"Pasangkan saja, dengan yang ada di tangan mu. Kau kan tadi sudah memilih satu."
"Begitu ya? Ya sudah coba ku pasangkan, yang ini saja." Kunia berjinjit, namun tetap kesulitan. "Hei– membungkuklah. Aku tidak sampai."
"Makanya jangan terlalu pendek." Seringai tipis pun terbit dari bibir Devano, setelah sukses mendapatkan wajah cemberut Kuni. Setelah itu membungkuk membiarkan Kunia memasangnya.
"Ya ampun... Bagus." Pujinya. Devan pun menoleh ke cermin. Ia tersenyum, senang.
__ADS_1
"Lumayan," gumamnya.
"Kau menyukainya?"
"Iya, aku menyukainya." Devan memberikan kecupan di kening Kunia, dengan gerakan kilat. Lalu mengusap kepalanya. "Terimakasih, isteri ku."
"Sama-sama, sayang."
Devan yang gemas langsung menarik pipi Kunia, pelan. Yang berujung tawa keduanya.
***
Malam masih panjang, mereka duduk di sebuah bangku taman, sembari menikmati jagung bakar, sakaligus menonton live music di dekatnya.
Kepala Kunia menyandar di bahu suaminya. Menggigit beberapa biji jagung yang memiliki citarasa manis alami dari jagungnya bercampur saus asam, manis, pedas. Benar-benar cocok, sesuai lidahnya.
"Mbak Kunti?"
"Hiiissshhh, kau memanggilku itu lagi?"
Devan tersenyum, mengusap lembut ujung bibir Kunia dengan ibu jarinya.
"Aku ingin bertanya, kenapa kau dulu membenci ku sekali?"
"Emmm... Karena kau terlalu di puja para wanita? Kupingku panas mendengar curhatan kekaguman mereka pada mu. Menurutku itu berlebihan. Padahal, kau itu termasuk pria sombong yang sok cool."
Devan mengerutkan keningnya. "Memangnya ada yang menyukaiku?"
Kunia menoleh. Lalu mendesah... "Kau tidak ingat? Apa sedang menjadi pria belagu lagi? Dengan cara pura-pura tidak tahu bahwa kau pernah mendengar pangeran idaman para gadis kampus? Lalu meminta ku untuk menceritakan kilas balik, mu dulu?"
"Aku bertanya serius. Memang ada yang menyukaiku?"
"Astaga... serius kau tanya itu? Kau benar-benar tidak ingat? Jika setiap hari banyak wanita yang meletakkan surat cintanya di loker mu, bunga dan coklat juga?"
"Apa yang kau maksud, sampah kertas yang selalu membuatku geram karena harus membuangnya setiap hari."
"Sampah kata, mu?"
Devan mengangguk. "Sungguh aku tidak pernah memperhatikan siapapun. Selain senior menyebalkan yang membuat ku harus berjaga-jaga setiap harinya."
Kunia bungkam, karena memang tidak ada hari baginya, untuk mencari ide gila. Demi bisa mengerjai juniornya.
"Dan kau tahu? Aku sampai bersumpah jika bertemu lagi, ingin rasanya ku pasung tubuhnya. dan ku kurung di gudang olahraga. Seperti saat Dia mengunci ku di sana dulu." Devan menatap tajam kearah Kunia yang kini tengah nyengir kuda. "Kau tahu, aku berjam-jam di sana sampai lemas..."
"Hehehe... Kau tahu, kan? Terkadang anak gadis ada sisi nakalnya?"
"Tapi nakalmu itu sudah seperti iblis betina, tahu?"
"Maaf sayang... Jangan dendam lagi pada ku. Aku sudah berubah baik kok. Lagi pula kita sudah baikan... Iya kan? Iya kan? Iya dong..."
Devano hanya menghela nafas, lalu membuang muka. Sementara salah satu tangannya terangkat lantas merangkul di bagian leher sang istri kuat
"Aaaaarrrhhh... Aku tercekik... Lepaskan tanganmu." Kunia memukul tangan itu. Sementara Devano hanya senyum-senyum, tidak peduli.
__ADS_1
bersambung...