
Sudah cukup berjalan-jalan santai. Keduanya pun memutuskan untuk pulang ke kediaman Kunia.
Seperti biasa, Devan akan mengobrol dan menghabiskan sisa waktunya untuk bermain PS bersama Kunia ataupun Gentar yang memang betah berada di rumah itu.
Hingga tak terasa, waktu sudah mulai gelap. Devan pun berpamitan.
–––
Di depan pagar rumah, Kunia menunggu pria itu masuk ke dalam mobilnya. Menyandar sejenak di bodi mobil, Devan terdiam.
"Persiapkan dirimu. Kita akan bertemu lagi di hari-H."
Kunia membisu, ia hanya mengangguk. Entah mengapa semakin dekat namun dia sendiri justru semakin merasakan keraguan. Apakah keputusan yang ia ambil sudah benar?
Kalaupun tidak, mau di bawa kemana nantinya. Hubungan yang sudah terjalin pada sebuah benang merah pernikahan.
"Jaga kesehatan mu. Jangan rusak acara kita."
Kunia kembali menjawab itu dengan anggukan kepala.
Terdiam lagi, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk maju satu langkah, lantas meraih tubuh mungil Kunia, memeluknya kemudian. Walaupun sedikit ragu di awal, Devan tetap bisa melakukannya. Serta membelai pelan rambut pendek itu.
Deg...! Kunia terkejut, ini kedua kalinya pria itu memeluknya secara sadar, walaupun terasa kaku.
"Bersabarlah, menghadapi ku nanti. Dan bertahanlah untukku. Ku mohon, karena kau akan tahu, seperti apa kehidupan ku yang sesungguhnya. Yang mungkin tidaklah sesuai dengan apa yang kau bayangkan."
Kunia mengangkat kepalanya pelan, menangkap pria itu pula tengah menatap kearahnya. Ia lantas kembali menunduk.
Devan tersenyum tipis, ia merasa nyaman dalam posisi ini. Ya, soal perasaan dia belum bisa mengakuinya. Namun ia suka, berada dekat dengan gadis dalam dekapannya itu.
Kembali melepaskan, ia lantas mengusap kepala Kunia cepat lalu membuka pintu mobilnya. Saat dirinya kembali merasakan gugup.
"Masuklah dan istirahat. Terimakasih untuk hari ini." Devan bergegas masuk kedalam mobil lalu menutupnya. Mobil pun melaju pelan, dan pergi. Setelah membunyikan klakson.
Kunia mengusap lengannya, ia pun tersenyum. Namun setelah itu meredup lagi.
"Jangan dulu merasa senang. Jangan dulu– ku mohon jangan dulu berdebar." Kunia menepuk-nepuk dadanya, lalu berjalan masuk kedalam rumahnya.
Di sisi lain, Devan tersenyum. Ia menyentuh dadanya, mengingat wajah Kunia yang memanggilnya sayang dengan nada manja tadi.
"Ini– seperti ini kah? Rasanya bahagia, setelah sekian lama, hati ku kering?" Devan semakin menginjak pedal gas itu. Hingga mobil semakin melaju kencang, di jalan raya yang mulai lengang itu.
💐
💐
💐
Hari-H tiba...
Semua tamu undangan sudah berkumpul di salah satu gedung hotel ternama milik Diamond's.
Setelah melakukan sumpah pernikahan keduanya, tadi pagi. Kini tiba saatnya resepsi pernikahan yang di adakan di sore harinya.
Walaupun hanya di hadiri beberapa tamu saja, tanpa kehadiran Liliana maupun Sekertaris Erik.
Acara tetap berjalan dengan lancar, dekorasi dan Katering pun sudah di siapkan dengan baik.
Salah satu rasa syukur yang tak bisa di utarakan dengan kata-kata.
__ADS_1
Di dalam ruangan khusus. Keduanya hening tak bersuara. Menahan gugup yang luar biasa, setelah resmi berstatus suami-isteri.
Devano duduk di sebuah kursi berhadapan dengan wanita bergaun putih, dengan bahu terbuka, sebelum keluar beberapa menit lagi, menghampiri para tamu.
Pandangannya seolah tak lepas dari wanita di hadapannya. Tengah duduk di kursi rias membelakangi cermin.
Devan meraih secarik tissue, lalu mengulurkannya pada Kunia. Gadis itu mengangkat kepalanya, berbarengan dengan tetesan bulir bening dari salah satu sudut matanya yang keluar.
"Terimakasih." Meraih dengan pelan. "A–aku melow bukan karena apa? Hanya mengingat tangisan ayah tadi. Saat menyerahkan ku pada mu."
Gadis itu mengusap air matanya. "Dia ingin, putri satu-satunya bahagia. Tapi?"
Tak berani melanjutkan, Kunia memilih untuk kembali terdiam. Sementara tatapan Devano tak sama sekali terlepas dari gadis itu.
Satu masa yang terlewat, tak pernah aku berpikir akan menikahi seorang adis manapun.
Aku bahkan mengutuk apa itu pernikahan, ketika rasa cinta ku terpatahkan oleh sesuatu tak senonoh yang tanpa sengaja ku lihat.
Aku jadi tak percaya cinta, karena Ayahku ku mendapatkan pengkhianatan karena cinta itu. (Devan)
Tangannya hendak meraih tangan Kunia, pelan.
Namun gadis itu sudah menghela nafas, dan tersenyum lebar. Membuat Devan urung.
"Yaaah... Sudahlah. Ini jalan kita sekarang, berusaha untuk hasil terbaik. Walaupun rupanya tidak baik? Aku harap, semuanya bisa menerima dengan berlapang dada."
"Maksudmu?" Tanya Devan.
"Ya– jika tidak ada kecocokan di antara kita. Bukankah jalan tengahnya adalah perpisahan dengan cara baik-baik?"
"Tarik omongan mu itu! memang siapa yang berniat untuk menikah, namun untuk berpisah?"
"Harusnya apa? Bisa-bisanya kau berfikir seperti itu? Padahal baru saja kita bersumpah tadi pagi." Gusar, ia pun beranjak. "Hentikan pembicaraan konyol ini, mari kita keluar sekarang. Dan bersandinglah dengan ku sampai akhir. Sampai menua, bersama."
Kunia sedikit tak percaya dengan ucapan terakhirnya. Pria itu sudah menekuk sikunya.
Ku harap, itu ucapan yang sesuai di hati mu. Walaupun belum terucap dengan jelas. Kalau kau? ... Mencintaiku. (Kunia)
Ia pun beranjak lalu mengaitkan tangannya di lengan Devan yang tertekuk itu.
Tak lama pintu di ketuk oleh seorang pelayan yang meminta keduanya keluar. Karena acara akan segera berlangsung.
–––
Di luar serangkaian acara berlangsung.
Kunia dan Devan menebar senyum bahagianya pada semua tamu yang hadir.
Nampak Bu Sukaesih dan pak Gayus menerima banyak ucapan selamat dari tamu mereka, ataupun tamu dari keluarga Atala.
Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari seseorang.
"Apakah Reni dan ibu, juga suaminya itu tidak datang?" Tanya Bu Sukaesih, berbisik pada Kunia yang terlihat cantik dengan gaun pengantinnya.
"Aku tidak tahu. Sudah lah biarkan saja."
"Hemmmm... Sudah jelas mereka tidak akan mau datang. Yang ada malu."
"Ibu jangan bicara seperti itu. Mulai sekarang berhenti memikirkan hal yang tidak penting."
__ADS_1
"Ya– ya..." Mereka masih menerima jabatan tangan dari para tamu undangan, yang memberikannya selamat.
–––
Setelah berjam-jam melakukan serangkaian acara Kunia dan Devan kini bisa bernafas lega.
Akhirnya acara mereka selesai juga. Di Salah satu ruangan khusus yang di pakai untuk berganti pakaian tadi.
Devano melepaskan jasnya lalu melepaskan kedua kancing di lengannya.
Setelah itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Melonggarkan dasinya juga.
Kunia merasa canggung ia tidak berani duduk di ranjang itu, namun memilih untuk duduk di kursi riasnya.
"Kau tidak lelah?" Tanya Devan memejamkan mata.
"Tentu saja lelah," jawabnya sudah tidak ada tenaga.
"Kenapa tidak istirahat?"
Bagaimana aku mau istirahat, ada kau di situ. (Kuni)
"Nanti saja, aku mau ganti pakaian dulu."
Devan pun merubah posisinya, duduk. Lalu menepuk-nepuk sisi sebelahnya. "Duduk sini."
Kunia menggeleng.
"Sini– aku akan membantu melepaskannya."
"A–apa?" Kunia menyilangkan kedua tangannya, menutupi area dada. "Aku bisa melepaskannya sendiri kok."
"Yakin kau bisa melepaskan semua atribut di kepala mu itu–" Devan menunjuk ke kepala Kunia, mahkota yang lumayan besar juga beberapa atribut kepalanya yang lain.
Otak ... kau berfikir apa? –Kunia merasa malu sendiri karena yang dia pikirkan tadi Devan akan membatu membuka gaunnya.
"Sini–" menepuk-nepuk lagi.
"Tidak usah aku bisa sendiri," gadis itu menyentuh mahkotanya.
Kuat sekali, bagaimana ini?
"Ku bilang sini, ku bantu." Devan beranjak, mendekati Kunia, setelah itu memutar paksa tubuh itu hingga menghadap ke arah cermin. Devan pun melepaskan beberapa jepit lidi yang menjadi penyematnya. "Tangan mu."
Salah satu tangan Kunia, menengadah. Menerima penjepit itu. Setelah semua terlepas, Devan mengangkatnya hingga mahkota itu pun terlepas juga.
Fiuuuhhh rasanya enteng sekali. (Kunia)
Devan meletakkan mahkota itu di atas meja. Setelah itu mencengkeram pelan kedua bahu Kunia, memandangi wajah wanita yang sudah menjadi istrinya.
"a–apa? sudah selesai kan?" tanya Kunia.
"Tanggung... Mau sekalian ku lepaskan resleting yang di belakang? Kali saja kau kesulitan."
"Eh..." Kunia beranjak. "Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Yakinkah? Aku berbaik hati loh, sini ku bantu lepaskan semuanya juga."
Kunia terkekeh aneh, lalu mendorong tubuh Devan pelan. Ia pun berjalan cepat menuju tandas. Devan sendiri langsung geleng-geleng kepala, seraya tersenyum tipis.
__ADS_1