I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
mencari Nenek


__ADS_3

Sekelebat bayangan masalalu mulai bermunculan. Nenek yang bersedia bermain walaupun hanya sebentar-sebentar saat dirinya masih kanak-kanak. Membuat Devano mengangkat tangannya menyentuh bagian dada.


Aku sangat merindukanmu, Omah... berharap Omah dalam keadaan baik-baik saja.


Devano sudah hampir putus asa. Ketika mendapati


Ruangan itu nampak terbuka, begitu saja. Terlihat pula beberapa orang keluar masuk.


Sang Dirut nampak bernafas lega. "Anda lihat sendiri, 'kan? Banyak pekerja yang lalu lalang Tuan. Kamar ini sedang di cat, dan di ganti kacanya."


Devan kembali melanjutkan langkahnya, bersama dengan Andre tetap masuk ke ruangan itu.


Benar yang di katakan pihak rumah sakit, jika ruangan itu tengah mengalami renovasi.


Beberapa pekerjaan yang sedang mengganti kaca, juga ada yang tengah mengecat pagar dinding.


Omah benar-benar tidak ada?


Lunglai, Devan berdiri di antara orang-orang yang tengah sibuk di sana.


Tidak mungkin Bu Asmia salah, karena aku juva mendengar rekaman itu. Apa mungkin, mereka telah memindahkannya?


Atau jangan-jangan, omah sudah?


Devan semakin lemas, ketika membayangkan sesuatu yang buruk telah membuat omah-nya sampai meregang nyawa.


Matanya mulai mengembun. pandangnya menyapu semua sudut ruangan ini.


Berbeda dengannya, Andre sendiri malah justru fokus pada pintu kamar mandi.


Ia pun berjalan pelan, lalu menekan handle pintunya.


Kraaakk... Kraaakk...


"Ini di kunci?" Tanyanya sembari menoleh.


"Emmmm... Maaf, pintu itu sepertinya rusak Tuan," jawab sang Dirut.


"Kalau begitu, boleh saya mendobraknya?"


"Sebaiknya jangan, Tuan."

__ADS_1


"Kenapa jangan?"


"Sebab?"


"Dobrak saja, saya yang akan menggantinya. Apabila pintu ini rusak–" titah Devan.


Sang Direktur utama sudah tidak bisa berkutik. Saat Andre mulai menyingsingkan lengannya hingga ke siku.


Ia mulai mundur dua langkah, mengambil ancang-ancang. Sebelum mendobrak keras pintu tersebut.


Braaaakkkk... Pertama gagal, yang kedua pun sama. Sampai akhirnya yang ketiga, Andre mencoba lebih kuat lagi.


BRAAAAAKKK.... pintu itu pun berhasil terbuka.


Andre mengusap-usap lengannya yang sedikit nyeri, lalu mempersilahkan Devan untuk masuk lebih dulu.


Pria itu masuk ke dalam ruangan tersebut. Kamar mandi yang luas, namun kosong di dalamnya.


"A– apa saya bilang, Tuan? Ruangan ini kosong."


Devan menghela nafas, rasanya seperti sesak. Ketika ia tak berhasil menemukan apa-apa di sini.


"Andre, periksa semua ruangan lain."


Lantas terpaku pada sebuah sudut, yang dindingnya terdapat garis-garis berlubang di sisi kanan.


"Itu pintu kah?" Menunjuk.


"Bukan Tuan, itu alat untuk memfilter udara. Agar toilet ini tidak pengap," jawabnya.


Devan mengamati lebih seksama. Karena ia seperti melihat sesuatu di dalam kegelapan itu.


Bentuknya memang seperti lubang keluar masuknya udara. Namun kenapa seperti ada bayangan di dalamnya?


Sementara di dalam tempat yang pengap dan lumayan sempit, sepasang tangan seperti tengah berusaha keras untuk di gerakan. Bibirnya yang terkatup itu pun semakin tidak bisa bersuara akibat tangan yang membungkam mulutnya.


Ya, sesuatu yang tengah di tunjuk Devan rupanya adalah sebuah lemari yang amat luas, namun pintunya bisa di bilang mampu memanipulasi mata manusia.


Tak nampak seperti pintu lemari. Lebih seperti sebuah alat ventilasi udara.


Itulah kenapa, tempat tersebut bisa di bilang aman di jadikan tempat untuk menyembunyikan Nyonya Briana.

__ADS_1


Pihak rumah sakit sebelum ini khawatir. Ketika sekertaris Erik meminta mereka untuk segera memindahkan Briana ke sebuah apartemen yang sudah di siapkan. Dan belum sempat dia di pindahkan? Devan sudah menemukannya lebih dulu. Itulah alasan, mereka menyembunyikannya lebih dulu.


Menunggu Devan keluar dari rumah sakit ini, lalu setelah itu mereka pun akan segera mengeluarkan Nyonya Briana.


...


Dari dalam sana, Briana masih bisa melihat seseorang yang tengah berdiri di dekat lemari tempatnya di sembunyikan.


Dev... benarkah pemuda itu Devano? Cucuku?


Wanita tua yang berada di dalam lemari bersama seorang perawat pria itu membatin.


Tangan satunya masih berusaha keras ia gerakkan, agar berharap mampu menggebrak walaupun pelan serta dapat mengeluarkan suara.


Namun sia-sia... Ia kedua tangan itu hanya mampu di angkatnya, namun tak bisa bergerak lagi setelah sang perawat yang berada di depannya memegangi tangan wanita itu dengan satu tangannya yang lain.


Devan sendiri masih terdiam, ia mengambil langkah amat pelan untuk mendekati. Karena bayangan di dalamnya seperti bergerak.


Tangannya sedikit terangkat, hendak menyentuh pintu itu. Yang hanya satu kali tekanan sudah membuatnya terbuka.


Sang direktur utama, nampak keringat dingin. Ia benar-benar tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menghalangi tangan Devano menyentuh pintu itu dan menghalaunya agar segera keluar.


"Mohon maaf, Tuan. Kami hendak memasang kaca." Seorang pekerja membuat tangan Devan terhenti. Lalu menoleh.


"Tu– Tuan... Anda sudah memeriksa seluruh ruangan ini. Dan tidak ada apa-apa, 'kan? Mohon maaf sekali lagi Tuan. Pekerjaan kami harus segera di selesaikan."


Devan termenung, ia menoleh lagi ke pintu tersebut. Memandangi cukup lama.


Wajah itu... Wajah Hari. Posturnya pun benar-benar mirip Hari. Dia cucu ku... Devano.


Dev– Omah disini. Tolong Omah... Tolong Omah Dev. (Nyonya Briana)


Pria itu menggeleng, setelahnya keluar dari ruangan itu bersamaan dengan sang Dirut yang langsung mengusap dadanya, merasa lega. Sementara tangan satunya memberi isyarat pada pekerja itu agar langsung masuk membawa kacanya.


Tidak... Tidak... Jangan pergi, jangan pergi Dev–


Sepasang mata sepuh itu mengerjap. Air matanya menitik deras dari kedua sudut matanya. Ketika melihat Devano sudah benar-benar menghilang dari pandangan.


Keringat yang mengucur, juga rasa sesak akibat merasakan panas dan sedikit pengap di dalam lemari itu.


Membuat tubuhnya yang rentan semakin lemas. Beliau berfikir?

__ADS_1


Jika saja ia bisa mati di tempat yang panas dan pengap ini? Itu lebih baik dari pada di buat seperti mayat hidup, oleh dua manusia keparat itu.


__ADS_2