
Belum sampai pada kamar mereka, Kunia merasakan ada yang aneh pada tubuhnya.
Hanya pusing, tidak begitu parah. Sebab, sakit itu masih bisa di tahan.
Ia tetap berjalan, menaiki anak tangga yang hanya tersisa berapa lagi. Sebelum sampai puncak.
Perasaan aku tidak telat makan hari ini. Juga aku tidak merasakan stress... Tapi, kenapa rasanya seperti ini, ya?
Kunia menggeleng cepat, menghalau pusing yang tiba-tiba menyerangnya. Dia memang punya riwayat asam lambung, yang jika tengah kambuh akan merasakan pusing yang menjadikan tubuhnya seperti kurang keseimbangan.
Aku hanya butuh istirahat sebentar. Nanti pasti sembuh. Benar... Mungkin aku sedikit kelelahan.
Kunia masih menapaki lantai tersebut, mengikuti langkah Devan yang masih menggandengnya.
Devan sudah membuka pintu kamar. Tanpa di suruh, Kuni memutuskan untuk masuk lebih dulu. Dia langsung duduk di ranjang itu sembari bersandar.
Di susul Devan setelahnya, pria itu berdiri di sisi meja menuang air dari teko kaca, ke dalam gelas yang sudah ia balik lebih dulu setelah tadi tertelungkup.
"Besok aku akan pergi agak siangan, kau tidak apa-apa kan, jika ku tinggal?" Ucapnya setelah menengguk airnya. Ia sendiri belum menyadari, sang istri yang sedang merasakan tubuh yang tidak nyaman.
"Emmm..." Kunia memijat keningnya, pusing yang ia rasakan seperti semakin terasa saja. Namun raut wajahnya sama sekali tak berubah. "pergi kemana? Lama tidak?"
"Tidak tahu... Sepertinya akan lumayan lama, ada urusan penting." Devan naik ke atas ranjang, lantas merebahkan kepalanya di pangkuan Kuni.
Ia pun tersenyum, membiarkan pria itu melakukan apapun. Dan jika di pikir-pikir, Devan itu manja juga.
"Dev– Aku boleh minta izin... untuk pulang kerumah ku, tidak?" Kunia semakin merasakan sakit, bahkan mendadak lemas akibat menahan sensasi tak biasa yang di tunjukkan tubuhnya.
Keringat dingin bahkan sudah mulai keluar di tengkuk dan juga keningnya.
Sepertinya aku harus mengkonsumsi obat lambung, tapi aku tidak bawa obatku. Tapi benarkah ini karena asam lambung ku naik?
Kunia menutup mulutnya cepat, ketika rasa mual tiba-tiba hadir.
"Kenapa minta izin, tentu saja boleh. Memang kau tawanan, ku?" Devan memiringkan tubuh, memeluk pinggang sang istri, mengusap wajahnya dengan manja di perut ramping Kunia.
__ADS_1
Sementara Kunia sendiri, saat ini tengah memejamkan matanya. Tidak fokus pada kelakuan manja Devano, yang secara tiba-tiba itu. Sebab pandangannya yang sedikit kabur lalu kembali normal.
Yang ia rasakan pun bertambah, sensasi mual kini justru semakin mengaduk-aduk isi perutnya.
Devan yang menyadari ada yang aneh ketika ia melihat satu tangan Kunia seperti tengah meremas kain seprai.
"Kau kenapa?" Mendongak.
"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit...? Merasa tidak nyaman." Menekan-nekan dadanya yang terasa panas dan sesak.
Mendengar jawaban itu, Devan segera bangkit. Ia melihat keringat Kunia yang bercucuran di keningnya, wajahnya bahkan berubah pucat.
"Hei, kau sakit?" Memegangi wajah sang istri.
"Tidak tahu. Aku mau ke kamar mandi dulu. Rasanya?" Kunia menurunkan kedua kakinya beranjak, lantas melangkah menuju kamar mandi. Namun sebelum sampai pada pintu ruangan ganti, pandangannya semakin kabur, putih, lalu berubah menjadi gelap kemudian.
Bruuuukkk... Kunia terjatuh, tak sadarkan diri.
***
Liliana masih duduk di ruangan santai, tepat di bawah Void bangunan. Membaca majalah bisnisnya.
Bersamaan dengan itu, suara keras Devano terdengar. Memanggil seorang kepala pelayan, atau siapapun yang ada di luar.
Matanya melirik pelan kearah atas, setelah itu kembali lurus kedepan sembari tersenyum dan menutup majalahnya.
Hanya tinggal menunggu, Devan keluar membawa istri miskinnya itu ke rumah sakit. Lalu si bodoh Erik mengerjakan apa yang perlu ia lakukan, maka sampailah pada puncak perjuangan ku.
Liliana meraih segelas anggur yang berada di atas meja, memandangi pantulan dirinya di sebuah cermin bulat besar yang berada di ruangan tengah itu. Ia mengangkat sedikit gelasnya seperti tengah melakukan cheers pada dirinya sendiri.
Show time...
batin Liliana, sembari menengguk minumannya. Setelah itu tersenyum lagi.
–––
__ADS_1
Kembali ke kamar...
"Kuni, Kunia? Bangun, bangun Kunia?" Devan nampak panik. Lalu menoleh lagi ke arah pintu. "WOY... APAKAH KALIAN SEMUA TULI...?!! ATAU MEMANG TIDAK ADA SATUPUN ORANG DI RUMAH INI? FENDI....!!!"
Tergopoh-gopoh, pria itu masuk. Juga dua orang pelayan.
"Apa yang terjadi, Tuan?" Fendi sudah masuk kedalam kamar Devano, mendekati.
Melihat Devan yang panik, mencoba terus untuk membangunkan Kunia. "Nona muda?"
"Bodoh!! Kemana saja kau?" Gusar.
"Maaf Tuan, tadi saya di ruangan bawah. Apa yang terjadi pada nona muda?"
"Tidak usah bertanya! sekarang, suruh supir di depan untuk bersiap...!"
"Baik, Tuan." Fendi bergegas keluar. Sementara dua pelayan pria itu menghampiri hendak membantu Devan. Namun tangan-tangan itu di tepisnya.
"Aku bisa sendiri...!" Devan mengangkat tubuh Kunia, membawanya keluar dari kamar itu, terburu-buru. Bahkan sampai membiarkan pintu kamarnya masih terbuka begitu saja, ia sama sekali tidak menyadari jika cincinnya masih tergeletak di meja sisi samping ranjang.
Setelah mereka semua keluar dan menuruni anak tangga. Sekertaris Erik masuk dengan santai, ia sudah mematikan seluruh CCTV di rumah ini sebelumnya. Membuatnya leluasa untuk melakukan apapun.
Di dalam kamar, tujuan utamanya adalah laci kerjanya. Namun sebelum masuk lebih dalam ke sudut kamar yang terdapat meja kerja Devan?
Mata jelihnya sudah menangkap satu barang yang ia cari selama ini.
Erik mendekati, lantas meraih cincin tersebut. Lalu mencoba untuk membukanya. matanya sedikit melebar saat melihat benda tersebut.
Benar dugaan Liliana, cincin itu adalah stempel emas milik Nyonya Briana. Ia pun kembali menutup bagian batu permatanya. Lalu memasukkan cincin tersebut kedalam saku celananya.
Ia sama sekali tak menyentuh apapun yang ada di kamar itu, bahkan saat mengambil cincin pun, Dia menggunakan sarung tangan.
Pintu kembali di tutupnya, nampak sekertaris Erik berdiri cukup lama di depan kamar Devan.
Tak bergeming, hanya tengah memikirkan sesuatu. Setelahnya kembali melanjutkan langkahnya, menuju ruangan kerja tempat Liliana menunggu.
__ADS_1