
Di tempat lain...
Liliana masih berusaha untuk terus menghubungi Sekertaris Erik. Pria yang ia percayai memegang kendali semua kaki tangannya.
Ia bahkan sudah lama tidak memberikan laporan, atas gerak-gerik Devano.
Membuatnya meraksakan ketidak beresan ini.
Tangan Liliana terkepal kuat, saat sang seseorang menghampirinya. Mengabarkan jika jet pribadi sudah siap untuk take-off.
Lihat saja apa yang akan ku lakukan jika rupanya kau tidak becus bekerja.
Liliana beranjak dari kursinya, baru beberapa langkah sebuah pesan singkat pun masuk.
Ia mengangkat sedikit tangannya, menahan langkah sang ajudan. Agar memberinya waktu untuk membuka pesan tersebut.
Kaki tangan A: "Nyonya, selama beberapa hari ini. Tuan Erik sama sekali tidak menjawab telfon kami. Tuan Erik bahkan beberapa kali membatalkan seluruh pekerjaan kami."
"Erik!!!" Sergahnya lirih, penuh kekesalan.
Beberapa foto susulan masuk. Liliana membukanya. Terdapat foto-foto Andre dan Devano yang di ambil dari beberapa engle.
Anak itu semakin gencar mencari Brianna... Namun Erik sepertinya tidak peduli dengan itu. –Liliana menghela nafas kasar. Ia kembali melanjutkan langkahnya, tidak sabar untuk segera kembali ke Indonesia.
***
Pagi ini, Kunia sudah bersiap untuk rencananya.
Karena Devan akan bertemu dengan Nyonya Liliana ia pun mencoba mendatangi salah satu apartemen yang di katakan Devan semalam.
Sinar mentari yang sudah mulai terik membuat matanya menyipit, memandang ke salah satu lantai yang cukup tinggi.
Omah... Ku harap, Anda benar-benar di dalam.
Kunia melangkah maju, namun ia langsung menghentikan langkahnya. Ketika mendengar satu notifikasi pesan chat.
"Devan kah?" Ia tak bisa menunda lama untuk membuka pesan chat tersebut. Kening Kunia berkerut, ketika yang ia dapati adalah nomor asing.
Unknown number: "tempat itu kosong, carilah ke gedung B. Di pertigaan jalan sana... Nyonya Brianna baru saja di pindahkan malam tadi. Kamar nomor 17..."
Deg...!
Siapa yang mengirim pesan singkat ini? (Kuni)
Kunia, mencoba untuk menelponnya. Namun sudah tidak aktif. Lagi ia mencoba menghubungi, tetap tidak bisa.
Ini bukan pesan main-main, kan? Mana yang harus ku percayai? Pesan ini, atau alamat yang di berikan Devano?
Wanita itu masih berdiri, di depan gedung apartemen. Berpikir keras sebelum memilih untuk masuk...
––
Di tempat lain...
__ADS_1
Devan, Andre, dan notaris Evans sudah berada di dalam lift kantor pusat Diamond's corporation.
Wajah tegang Devano benar-benar nampak.
Tangan notaris Evans menyentuh pundaknya pelan.
"Tenangkan diri Anda, Tuan. Ingat, untuk tidak terburu-buru. Serta jangan dulu membahas yang lain. Selain pemindahan hak kepemipinan." Notaris Evans memberikan ketenangan.
Devan menghela nafas, tangannya sudah terasa dingin. Ia pun mengangguk setelahnya.
Ting...
Lift terbuka, Andre menoleh ke arah Devano. "Silahkan Tuan–"
"Hemmm..." Devan jalan lebih dulu, keluar dari lift tersebut.
–––
Di dalam ruangan Liliana.
Sekertaris Erik terdiam, sembari memasukkan ponselnya pelan setelah mengirimkan pesan singkat pada Kunia. Ketika Liliana sedang fokus pada komputernya.
Setelah itu menatap kearah Erik, sembari tersenyum manis. Beliau beranjak dan berjalan perlahan mendekati suaminya itu.
"Kenapa kau hanya diam saja? Ayo di minum tehnya, suamiku." Liliana merengkuh pundak Sekertaris Erik dari belakang.
Pria paruh baya itu hanya diam saja, tak bergeming.
"Tenang saja aku tak membubuhkan apapun pada minumanmu. Seperti ketika kau melakukannya dengan orang-orang yang menjadi incaran ku." Lili mengusap lembut bahu Sekertaris Erik.
"Ku dengar Cincin itu ada padamu, benarkah begitu?" Bisiknya kemudian.
Sekertaris Erik terdiam, ia lantas menurunkan cangkir tersebut.
"Ya– itu benar."
Seulas senyum terpancar di bibir tipisnya Liliana. "Kau bisa serahkan itu sekarang? Sebelum aku benar-benar murka padamu."
Erik menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman dinginnya seperti biasa.
"Cincin itu sudah tidak ada lagi padaku."
"Tidak ada, apa maksudmu?"
"Ya Dia sudah kembali kepada pemilik aslinya."
"Erik?" Liliana menekan kata itu, menahan murka yang sudah di tangannya.
Tok... Tok... Tok...
Wanita paruh baya itu menoleh, ia berdiri dengan normal sebelum pintu ruangan tersebut di buka oleh Andre dari luar.
"Devano?" Air wajahnya berubah ramah. Senyum pun ia berikan kepada putra Hari itu. Mendekati tubuh pria muda di hadapannya, lalu memeluknya. "Kau datang sepagi ini? Mamih rindu padamu."
__ADS_1
Devan hanya berdiri kaku, tak membalas pelukan wanita yang masih mendekapnya erat.
Mata Lili pun sedikit melebar, saat mendapati notaris Evans rupanya turut hadir.
"Ka– kau?"
"Selamat pagi, Nyonya."
Lili melepaskan pelukannya langsung, lalu menggeser pandangannya cepat ke arah Devano.
"Dia– untuk apa kau datang membawanya turut serta."
Devan mengangkat map merah di tangannya, wajah dinginnya itu memunculkan aura kebencian yang sudah sangat ingin ia luapkan.
Bahkan dengan tangannya, ia sudah sangat gatal ingin mematahkan batang leher wanita paruh berhati iblis di hadapannya.
"Sesuai surat wasiat yang di tulis langsung oleh Omah Brianna..." Devan mengulurkannya kepada Andre, dengan tatapan masih terhunus kepada wanita yang sudah nampak sedikit pias. Sementara Andre dengan sigap meraihnya. "Aku ingin mendapatkan semua hak ku sekarang... jadi, bisakah saya masuk dan duduk dulu, sebelum berbicara, Mamih?"
Liliana memundurkan langkahnya, "masuklah," gumamnya kemudian.
Sekertaris Erik sigap beranjak dari tempatnya duduk. Memberikan ruang untuk tiga orang itu.
Setelah mereka semua duduk, dengan Liliana yang juga turut duduk di hadapan mereka.
Devan sama sekali tak mengalihkan pandangannya.
"Andre, baca poin- poin terpenting isi dari surat wasiat itu."
"Baik Tuan." Andre membukanya, lalu mulai membaca. "Saya yang bertanda tangan di bawah ini, di atas stempel emas yang ku tempelkan. Sebagai bukti keaslian dari surat wasiat ini. Menuliskan bahwa, hak kepemilikan harta keluarga Atala seluruhnya tanpa terkecuali. Jatuh pada putra tunggal Harison Atala, yaitu Devano Atala. Namun apabila, sang penerima hak waris mengalami kemalangan hingga nyawanya terenggut... Maka seluruh harta warisan akan di serahkan pada negara. Tanpa terkecuali"
Andre hanya merangkum sebagain dari isinya. Liliana yang di hadapan mereka kembali menebar senyum.
"Ya Mamih tahu wasiat itu, sayang."
Devano mendengus dingin, membungkus seringai itu berupa senyum kesinisan.
Kini tinggal notaris Evans yang berbicara, membacakan semua persyaratan penyerahan warisan kepada yang berhak.
Tak lupa pula beliau mengeluarkan stempel emas, tersebut.
Stempel emas...? (Liliana)
"Dengan ini, Tuan muda Devano akan resmi menjadi Tuan komisaris di perusahaan Diamond's. Sebagai pengganti Nyonya Brianna."
Mata Liliana melebar, ketika Evans siap untuk menempelkan stempel emas tersebut di kolomnya.
"Tunggu!!!" Sergah Liliana cepat. "Apa yang kau lakukan, hah!!"
"Maaf Nyonya, saya hanya melakukan apa yang menjadi tugas saya."
Lili pun menoleh ke arah Sekertaris Erik, namun pria itu diam saja sama sekali tak membantunya.
Brengsek...!!! Apa yang kau lakukan, kenapa kau hanya diam saja di sana?
__ADS_1
Kembali ia menatap kearah Devano. "Dev– kenapa kau sangat berambisi sekali untuk menduduki kursi komisaris. Bukankah kau masih terlalu muda? Kenapa tidak kau menikmati dulu masa mudamu bersama istrimu. Menjadi pemimpin itu tidak mudah."
"Aku bukannya terlalu berambisi... hanya saja, Anda sudah cukup kenyang memakan apa yang tak seharusnya menjadi milik Anda. Kini saatnya Anda memuntahkan segalanya..." Telak Devan menghunus kata-kata itu pada Liliana yang tak bisa berkata-kata lagi.