
Antara Devan dan Mamih Liliana masih beradu pandang, dingin dan menusuk. Sama-sama seperti menghunuskan aura bengis antara satu sama lain.
Devan sendiri sebenarnya sudah tidak bisa menahan. Justru saat ini, ia ingin sekali membuka semuanya secara sekaligus.
Lantas menyeretnya bersama dengan suaminya itu, ke dalam sel tahanan.
Namun, seperti semua rencana yang sudah di susun. Ia harus sudah lebih dulu, mendapatkan hak kepemilikan harta itu lebih dulu. Barulah, rencana selanjutnya ia jalankan.
"Memuntahkannya?" Dengan santai Lili membuka suara.
Balik bertanya, maksud dari kata-kata Devan barusan. Ia menarik nafas pelan, sebelum kembali tersenyum. "Dev– Mamih tidak pernah menyangka, Kau bisa berkata demikian. Tapi mamih memahami, Kau memang selalu merasakan luka karena Mamih yang kurang memperhatikanmu."
Jemari cantiknya menyeka sudut mata yang nampak berair. Tatapan itu kembali sendu, mengarah pada pemuda yang sama sekali tak nampak rasa iba-nya seperti biasa.
"Maafkan Mamih, sayang–" lirihnya.
Sekertaris Erik sedikit berdehem tanpa suara, ia paham betul. Bahwa Liliana memang sangat pandai mengeluarkan air mata tanpa harus merasakan sedih.
Itulah salah satu kelebihannya, saat berperan.
"Tidak perlu meminta maaf, kita akan sambung pembicaraan ini nanti. Sekarang? Sebaiknya kita lanjutkan ini.
"Devano–" lirih memanggil, air matanya sudah kembali menetes. "Apa kau tak menganggap Mamih di sini? Setidaknya kau perlu berunding, sebelum melakukan ini..."
"Aku tidak perlu berunding apapun." Devan menarik kertas tersebut lalu meminta stempel emasnya. "Karena memang seharusnya, aku yang memimpin Diamond's. Bukan Mamih."
Anak tidak tahu diri... Dan Sekertaris sialan itu, kenapa Dia sedari tadi hanya diam saja. Tidak melakukan apapun? (Liliana meruntuk)
Taaap.... sontak netra hitam itu nampak membulat. Ketika Devan menempelkan stempel resmi tersebut di kolomnya. Setelah itu Evans pun menyerahkan penanya yang langsung di terima Devano.
Kedua tangan Liliana terkepal kuat, tatkala Devan mulai mengguratkan tanda tangannya, hingga menabrak stempel tersebut.
"Sekarang, Anda sudah tidak perlu lagi pusing memikirkan ini. Dan mulailah berkemas, aku masih memberi waktu sampai siang nanti, untuk mengeluarkan semua barang-barang Anda dari ruangan kantor saya." Hunus Devano langsung.
Wanita itu menarik separuh bibirnya, mengguratkan senyum tidak terimanya. Baginya, kata-kata Devan adalah sebuah penghinaan.
"Kau berbuat seperti ini pada Mamih mu sendiri?"
__ADS_1
Devan diam saja tak menjawab, hanya melawan tatapan kemarahan Liliana tanpa berkedip sekalipun.
"Memang benar kata orang, membesarkan seorang anak adalah pekerjaan sia-sia. Karena setelah dewasa Dia akan menjadi sebiji kacang yang akan lupa pada kulitnya."
"Aku, atau kau... yang tidak tahu diri di sini?"
"Apa maksudmu?"
"Ya... Kau yang tumbuh besar dari uluran tangan seseorang, menempuh pendidikan tinggi, namun malah justru merebut kebahagiaan putrinya? Bahkan tega menghancurkan satu keluarga demi sebuah ambisi..."
"Devano– Mamih rasa, kau sudah berbicara terlalu jauh."
"Berhentilah menyebut dirimu sebagai Mamih!!"
"Dev– kau telah menyakiti Mamih!"
Sraaaakkk... Devan melemparkan beberapa lembar foto Mamih kandungnya dengan sang ayah, hingga sedikit tercecer. Lalu tersisa beberapa lembar di atas pangkuan Liliana.
Sebuah foto pernikahan Harison dengan Karlina.
Tubuh Liliana gemetar, memandangi foto itu. Berbungkus topeng dinginnya seperti biasa.
"Ayahku terlalu baik, tidak pernah mau membuka siapa dirimu sebenarnya." Netra kecoklatan itu memandang nanar wanita di hadapannya.
Pelan, terangkat kepala itu. Mencoba untuk kembali tersenyum, walau kini gugupnya tak bisa lagi ia sembunyikan.
"Ini foto lawas. Kau pasti mendengar cerita ini dari seseorang, kan?" Lili menoleh ke arah Erik, namun pria itu tetap tidak bergeming. Membuat Liliana merasa frustasi.
"Sudah cukup Anda berpura-pura, setelah rentetan perbuatan keji Anda terhadap keluargaku. Kini saatnya Anda berhenti bersenang-senang... Lalu silahkan, menelan pahitnya hasil dari perbuatanmu."
Liliana kembali menoleh kearah Erik. Dan pria itu masih sama, tak bersuara sama sekali. Ia pun tertawa. Tawa yang amat mengerikan, seolah tengah membalut jurang kekalahan yang sudah siap untuk membuatnya terjatuh.
"Kau bilang apa? Perbuatan keji? Perbuatan yang mana yang kau maksud?" masih tertawa kecil, "Devan– berhentilah bermain-main. Mamih benar-benar sibuk–" beliau beranjak, namun seketika langkahnya terhenti, ketika mendengar suara langkah kaki beberapa orang mendekati pintu ruangan tersebut.
Pintu pun terbuka, dimana Bu Asmia datang dengan beberapa aparat kepolisian.
Mata Liliana membulat. "Asmia?"
__ADS_1
Wanita bertubuh tambun itu datang tidak dengan tangan kosong. Ia memeluk sebungkus garam kasar yang sudah terbuka.
Sementara tangan satunya menggenggam garam tersebut, lantas melemparinya kepada wanita berkelas itu beberapa kali.
"Hentikan!!! Apa yang kau lakukan?" Hentaknya sembari menutupi wajahnya dengan lengan.
"Saya harus menabur garam, untuk menghalau wanita berbisa seperti Anda, Nyonya..." kembali Bu Asmia mengambil segenggam garam tersebut lalu melemparkannya lagi beberapa kali, membuat Liliana semakin geram.
"Bedebah!!" mendekatinya, sembari mengangkat tangan. Hendak menampar keras pipi Asmia. Namun tangannya tertahan, ia menoleh cepat. "Ka– kau? Apa yang kau lakukan."
"Hentikan semuanya." ucap Sekertaris Erik, yang masih memegangi pergelangan tangan Lili.
Wanita itu mendesah sinis, menarik tangannya paksa. "Kau berbelok mengkhianati ku? Hah!!!"
"Aku tidak mengkhianatimu. Aku hanya ingin kau berubah. Jadilah ibu yang baik untuk anak-anak kita. Sementara aku? akulah yang akan mempertanggungjawabkan perbuatan ku."
"A– apa?" Lili tidak mengerti, bahwa Erik sudah sempat bertemu dengan Asmia sebelum ini. Ia jugalah yang akan menyerahkan diri pada pihak kepolisian, sebagai penebus kesalahannya terhadap Tuan Harison dan Nyonya besar Brianna.
"Tidak hanya untuk dirimu, Sekertaris Erik. Namun aku mau, dalang yang sesungguhnya lah yang turut mempertangungjawabkan perbuatannya." Hunus Devano. Dimana Andre kini telah memutar rekaman percakapan mereka berdua yang sempat di ambil oleh Brianna Atala dulu.
Tentang rencana lanjutannya yaitu menyingkirkan Sang Nyonya komisaris serta putra tunggal Harison itu. Bola mata Lili bergerak-gerak, keringat dingin pun mengucur deras di tengkuk dan keningnya.
"Anak yang tidak tahu diri..." gumam lirih Liliana, dengan satu tangannya yang terkepal kuat. "Seharusnya kau berterimakasih pada ku, karena aku tetap merawat mu dengan baik. Saat kau masih bayi, hingga sebesar ini."
"Aku menyayangkan hal ini... Kenapa bisa kau melakukannya. Padahal, aku sudah dengan tulus mencintaimu selayaknya ibu kandung. walaupun Kau hanya menatapku dengan senyuman. Tapi aku sadar, kau tidak pernah mau bermain lama ketika Papih tidak dirumah. Kau terlalu banyak menipuku."
Lili tersenyum sinis. Tak bisa lagi menjawab.
"sekarang Kau sudah kalah... Jadi terimalah buah, dari hasil yang kau tebar sendiri." sambung Devano.
Liliana kembali tertawa sembari berjalan pelan, mundur. Menghampiri meja kerjanya. Membuka laci meja, lantas dengan gerakan cepat mengeluarkan pist*l serta menodongkannya ke arah jantung Devano.
Andre yang bergerak cepat langsung memasang badan. Berdiri di hadapannya, melindungi Devano.
"Turunkan pist*l Anda, Nyonya." Tandas seorang polisi yang juga turut menodongkan s*nj*ta, memberi perintah.
Liliana tak peduli, ia masih saja menodongkan senj*tanya kepada mereka berdua.
__ADS_1
"Seharusnya, aku sudah melakukan ini sejak awal. Jadi aku tidak perlu merasakan pemberontakkan dirimu ini. Aku sudah mendaki setinggi ini, dan aku tidak ingin jatuh begitu saja."