
"Ckckckck.... Aku baru tahu, kau seperti ini. Ku pikir tadi kau takut karena dadaku terbuka. Rupanya kau malah menikmatinya? Sungguh aku tidak menyangka." Ledeknya sembari berjalan menuju tempat jas dan dasinya yang tergantung. Ia pun meraih dasi tersebut lalu melemparkannya pada Kuni.
"Aku tak meminta mu memasangkan kancing di dadaku juga. Tapi kau malah mengerjakan apa yang tak ku suruh, tangan mu itu mulai lancang ya?"
Kunia masih tak bergeming, wajahnya masih merah padam akibat malu.
"Jadi sekarang selesaikan saja. Pasangkan juga aku dasi. Untuk melatih diri, sebelum statusmu berubah menjadi seorang istri."
"A–apa?" Kunia masih memegangi dasi tersebut.
Devan mencondongkan tubuhnya lebih mendekat pada wajah Kunia.
"Kita berlatih sebagai sepasang suami istri mulai sekarang. Ayo pasangkan itu disini, untuk ku." Devan tersenyum.
Hei bocah... Tolong jauhkan wajahmu itu. Kau membuat jantung ku berkerja lebih cepat, tahu!!!
"Ayo...!"
Tangan Kunia gemetar. Ia pun mulai menaikkan ke bagian leher Devan, setelahnya memasang dasi itu. Berusaha fokus, walaupun tatapan Devan membuatnya susah untuk fokus.
Devan menyeringai. Sepertinya ia semakin gemar mengerjai gadis yang usianya lebih tua darinya. Tubuh Kunia yang kecil dan sedikit pendek membuatnya nampak imut, bahkan tak terlihat ia adalah wanita yang lebih tua darinya. Devan menggeleng cepat, lalu memalingkan wajahnya.
"A– aku sudah selesai. Walaupun kurang rapih tapi aku sudah berusaha." Kunia mundur dua langkah, menyambar nasi uduknya setelah itu keluar dengan cepat.
Devan menghembuskan nafasnya panjang. Sembari menyandar di meja kerjanya. Ia geleng-geleng kepala dengan bibir tersungging tidak jelas.
"Tiba-tiba gerah." Mengipasi diri, setelah itu menuju kearah cermin. Dasi yang di pasang Kunia memang tidak rapih, namun itu membuatnya tersenyum lagi sembari menyentuhnya. "Lumayan."
Tuturnya sebelum merapikan pakaiannya, lalu memasang jasnya sendiri.
–––
Sementara di luar, gadis itu berlari cepat hingga ke lorong panjang arah pantry.
Gila... Gila ini gila. Aku– aku harus menghindari pertemuanku dengan bocah itu. Sungguh, dia tidak sehat. Dia membuatku tidak sehat.
Kunia mengangkat ke-dua tangannya. Salah satunya menenteng bungkusan nasi uduk.
"Astaga... Astaga... Tanganku gemetaran seperti ini. Kaki ku?" Kunia menoleh kebawah. "Lututku juga. Semuanya. Aku rasa Dia punya Kodam khusus. Aku bisa mati, perlahan dengan caranya itu."
__ADS_1
Kunia tidak menyadari apa yang terjadi pada tubuhnya. Justru ia membayangkan, jika Devan masih dendam atas perbuatannya dulu di kampus. Dia pasti tengah mengatur rencana untuk membunuhnya secara halus.
Greeeppp... Kunia menyentuh dadanya.
"Aku, aku pasti akan mengalami serangan jantung. Dan mati– ja...jadi dia sejahat itu? Astaga. Bagaimana ini, aku terpesona tampang manisnya saat melamar ku di tepi jalan layang. Namun rupanya?"
Bayangan Devan yang tersenyum jahat dengan efek langit gelap dan kilatan petir di belakang tubuh pria itu mulai membuatnya merasa ingin berteriak.
Matilah kau senior tengik... kau harus mati di tanganku. Dan hiduplah menjadi Kunti yang sesungguhnya. Hahaha... (Devano bertanduk iblis di bayangan Kunia.)
"Aaaaaaarrrrhhhhhhhh....." Gadis itu menutupi kedua telinganya sembari menjerit. Membuat dua orang pekerja pantry langsung berlari menghampirinya.
"Mbak... Mbak... Apa yang terjadi, ada apa?" Tanya salah satu dari mereka. Yang mendapati gadis itu sudah berjongkok sembari menutupi kedua telinganya. Karena suara Devano yang tertawa jahat itu seolah menggema di telinganya.
Perlahan Kunia mengangkat kepalanya, menangkap dua pasang mata yang sudah menatapnya dengan perasaan khawatir.
Kunia pun terkekeh kemudian, lalu berusaha bangun. "Aku tidak apa-apa. Hanya? Hanya saja habis menonton drama pembantaian. Jadi kebawa. Hehehe."
"Ya ampun, kami pikir kenapa. Memang suka seperti itu, Mbak... Mbak pasti habis menonton film Hollywood yang bertemakan dendam masa Kuliah ya?"
"A...ah?" Kunia bertingkah seperti orang bodoh, "dendam masa kuliah?"
"Iya... Jadi kisah seorang adik kelas yang menikahi seniornya karena dendam. Setelah sebelumnya dia pernah di bully saat masih kuliah."
"Iya, karena juniornya menjelma menjadi pria yang tampan dan kaya. Sudah gitu terlihat manis akhirnya mau deh di nikahi."
"Lalu setelahnya?" Kunia penasaran, namun juga merinding.
"Ya... Setelah menikah, wanita itu di tawan oleh suaminya. Lantas di siksaaaa" sang Ob bercerita dengan ekspresi menegangkan. Membuat Kunia kembali menelan ludah. "Rupanya, pria itu menjadi psikopat setelah mengalami tekanan akibat bully-an dulu."
"A– apa? Disiksa bagaimana? Coba jelaskan."
"Ya mbak... Seperti di sunduti rokok, di silet-silet kulitnya. lalu yang paling mengerikan... Dia dipaksa makan kotoran hewan peliharaan si pria itu."
Hooeeeekkk... Kunia menutup mulutnya. Mengingat jika Devan juga punya banyak hewan peliharaan.
"Mbak... Baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja... Tenang, aku biasa begini hahaha." Wajahnya mulai pucat. "Setelah itu endingnya bagaimana?"
__ADS_1
"Si wanita disetrum setiap hari, hingga tubuhnya lemas, dan kurus kering. Setelah itu mati mengenaskan karena tegangan yang tinggi."
"Huwaaaaaaaaaa...." Kunia merengek kencang, membuat dua OB itu sedikit terkejut. "Huuuuuhuuuu... Aku tidak mau mati seperti itu, hiks. Tolong aku. Tolong aku... Siapapun tolonglah aku."
Kunia memutar tubuhnya setelah itu melenggang pergi meninggalkan mereka yang masih memandanginya dengan ekspresi bingung.
.
.
.
Epilog...
Perjalanan meeting kali ini membuat Andre sedikit merasakan bingung. Lataran pria di belakang nampak tak henti-hentinya mengembangkan senyum, sembari memegangi simpul dasi di bagian kerahnya.
Sebenarnya apa yang sedang ia lamunkan, dan apa yang membuatnya seperti senang sekali.
"Andre– kau tahu martabak yang enak dimana?"
"Emmmm, di kawasan X ada martabak Bangka yang cukup terkenal."
Bu Sukaesih bilang, Kunia dan ayahnya amat menyukai martabak. Jadi nanti aku akan berkunjung dengan membawa itu Sembari membahas pernikahan. (Devan tersenyum)
"Kira-kira petang nanti acaraku sampai jam berapa?"
"Pukul tujuh malam, Tuan."
"Kalau begitu, nanti pulangnya mampir ya."
"Emmm, mampir kemana?"
"Hei– tadi aku menanyakan lokasi martabak yang enak, kan?"
"Oh... Iya Tuan, maaf. Tapi di sana pasti akan mengantri lama."
"Tidak masalah," jawabnya kemudian, sembari mengusap-usap simpul di dasinya.
Sepertinya dia menyukai pekerjaan Kunia. Bahkan sampai di penghujung hari saat Andre menyinggung tentang dasi beliau yang harus di benahi di tolak oleh Devan.
__ADS_1
"Aku tidak akan melepaskan simpul ini sampai aku pulang ke rumah," katanya sebelum melanjutkan langkahnya menuju salah satu tempat meeting. Andre yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menghela nafas.
Bersambung...