I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
setelah mereda


__ADS_3

Di tepi ranjang, Devan duduk. Sementara Kunia duduk di kursi kecil menghadapnya.


Baru selesai ia mengobati luka di tangan Devan, lantas menutupnya.


"Sudah–" Kuni tersenyum masih menggenggam tangan itu di atas pangkuannya. "Kau sudah baik-baik saja kan?"


Devan mengangguk pelan. Ia lantas menepuk-nepuk sebelahnya meminta Kunia berpindah di sisinya.


Menuruti, ia pun beranjak dan pindah ke sisi Devan yang lantas merebahkan kepalanya di pangkuan Kunia.


Tangan itu mengusap lembut kepala sang suami. Nampak mata Devan terpejam, ia sudah pasrah saja saat tahu cincinnya tidak di temukan. Menunggu apa yang akan terjadi setelah ini.


Karena sebelum menemui Notaris Evans, Dia sudah sempat menghubungi Kunia untuk mencari cincinnya. Namun tidak ada.


Kecerobohan yang amat dia sesali, tapi mau bagaimana lagi? nasi sudah menjadi bubur, begitulah pikirnya.


"Kau ini sebenarnya kenapa? Aku jadi takut tadi." Gumamnya. Membuat mata Devan kembali terbuka, namun hanya merubah posisinya saja memeluk lingkar pinggangnya.


Dalam situasi tertentu, tingkahnya memang nampak tak terlihat dewasa. Namun, entah mengapa dia membuatku nyaman walau terkadang menyebalkan. lebih nyaman ketimbang saat bersama Anwar.


"Tidak apa-apa jika kau tidak mau bercerita sekarang," ucap Kuni yang membuat Devan semakin memeluknya erat.


Kunia menghela nafas, memandangi langit di luar. Dari dinding kaca di hadapannya.


"Kau tahu, seorang wanita sangat menyukai sebuah perhatian." Tuturnya, mata Devan masih terbuka. Ia amat nyaman dengan posisinya itu. Membuat hatinya jauh lebih tenang.


"Di Manja, dan berlaga sok manis. Sebagiannya lagi, kami para wanita juga suka memanjangkan pasangannya. Memperlakukannya seperti seorang anak kecil yang manis. Seperti ini." Kunia mengusap pipi Devano.


"Kau menyukainya?" gumam Devan sedikit tidak jelas.


"Emmm?"


"Memanjakan ku?"


Kunia tersenyum. "Tentu saja, walaupun kadang kau menyebalkan. Tapi?"


"Tapi apa?"


"Tidak..." ragu-ragu untuk menjawab bahwa dia sayang.


"Jangan sukanya berbicara setengah-setengah."


Kunia terkekeh, geli. Saat Devan usap-usap wajahnya di bagian perutnya. Ia lega sekaligus senang, sepertinya suasana hati Devan sudah mulai membaik.


Dev beranjak, duduk. Menatap sang istri yang tengah membalasnya, dengan senyuman.


"Jawab dulu yang tadi."


"Apanya?"


"Tapi yang kau maksud tadi itu, apa lanjutannya?"


"Oo... Aku tidak mau menjawabnya duluan."


"Kenapa? Kau mau membuatku penasaran?"


"Tidak, sayang–" Itu sudah satu kode dari Kunia. Dia hanya ingin, Devan yang menyatakannya duluan.

__ADS_1


"Kau sekarang semakin enteng memanggilku sayang, ya?"


"Hehehe... karena aku suka," menyentuh pipinya.


Dev... Seharusnya kau peka dengan ini. (Kunia)


Pria itu terdiam... meraih tangan itu kemudian, lalu menciumnya.


Ya ampun... Dia mencium tanganku? (Kuni)


"Kau menyukainya ya? Ini balasan dari tangan mu yang sudah seenaknya menyentuh pipiku tanpa izin."


"Hehehe, habis kau menggemaskan."


Devan tersenyum tipis, merasa gemas juga.


"Kuni? Aku mau bercerita satu fakta yang baru ku temukan hari ini. Kau mau mendengarkannya?"


"Iya..." Duduk bersila. Devan menghela nafas, dadanya kembali sesak saat mengingat itu. "Kenapa, jadi diam?"


"Rasanya, aku takut kau menganggap ku pria lemah."


Kunia menggeleng, "tidak akan aku menganggap mu seperti itu... Kau tahu kan, sekarang kau dan aku sudah jadi kita? Kau boleh mengutarakan semuanya, padaku. Itu jika kau menganggap ku, orang yang berarti dan perlu untuk menjadi bagian dari kesedihanmu."


"Kita?"


"Ya– kita."


Devan termenung. benarkah? aku boleh mengatakannya?


Termenung lagi, setelahnya mulai membuka suara. Devan menceritakan hampir seluruhnya, dari apa yang ia dengar.


Nampak Kunia mendengarkan dengan takzim. Ia bahkan tak bersuara, sedikit ngeri sekaligus simpatik pada sang suami. Di sana ia jadi tahu, alasan Devano kuliah di Sekolah Tinggi tempatnya menimba ilmu dulu.


namun kembali keningnya berkerut, saat Devan mengatakan. salah satu alasan dia menikahinya.


jadi, maksud Dia mengajakku menikah karena ingin mendapatkan jabatan komisaris itu?


air wajahnya menampakkan dia sedikit kecewa.


"maaf– kau pasti, kecewa?"


"ya, sedikit... namun tidak apa. Aku selalu percaya pada takdir, yang tak akan mengecewakan ku. karena ketika aku menerimamu serta masuk ke rumah ini, aku sudah menaruh harapan yang baik. hanya tinggal menanti, kebaikan itu benar-benar tercipta di antara kita."


Devan yang mendengar itu tak bisa berkata-kata lagi. ia tertunduk.


Kunia pun meraih tangannya, membuat kepala Dev kembali terangkat.


"ayo sambung lagi–"


"kau masih mau mendengarkan?


gadis itu mengangguk. Devan lantas kembali bercerita tentang hilangnya nenek dan yang terakhir masalah cincinnya, dan stempel emas.


Ia mengangkat tangannya, menunjuk tempat cincin itu melingkar sebelumnya.


"aku baru tahu fakta cincin itu, hari ini. Namun, malah justru hilang. Entah siapa yang mengambilnya."

__ADS_1


Kunia tertunduk. "Aku yang salah, aku yang telah menyarankan cincin itu untuk dilepas. Namun aku tak menyimpannya dengan baik."


"Tidak perlu merasa bersalah– aku sama sekali tak menyalahkanmu."


"Lalu bagaimana? kalau cincin itu benar-benar hilang?"


"mau bagai lagi? Hanya tinggal menunggu saja, apa yang akan terjadi setelah ini."


"Hei– kau tidak boleh pasrah seperti ini."


"Aku tidak pasrah. Namun jika cincin itu rupanya sudah berada di tangan Sekertaris Erik dan Mamih? Maka aku tidak akan bisa melawan mereka. Yang ada? Aku akan tersingkirkan dari rumah ini tanpa membawa apapun... sebab harta keluarga Atala sudah jatuh seluruhnya kepada mereka."


Kunia meraih tangan Devan, menggenggamnya erat.


"Semangat lah... Aku akan setia mendampingimu, apapun yang akan terjadi. tapi paling utama adalah, Omah. ayo kita sama-sama mencari tahu keberadaan Omah."


Devan tersenyum... "kau tidak perlu ikut mencarinya. situasinya tak seperti apa yang kau bayangkan. mencari Omah, tidak semudah mencari orang hilang biasa. ada banyak mata dan telinga yang akan mengintai kita. ketika kita sudah menjadi ancaman untuk mereka, kita tidak akan selamat. makanya aku tidak mau bercerita, sebab aku khawatir akan terjadi hal buruk kepadamu jika kau ikut-ikutan."


"kau mengkhawatirkan aku? kau pikir hanya diam saja tidak malah justru membuat ku khawatir apa? aku tidak mau, hanya kau yang terluka."


"Kunia?"


"aku dan kau sudah jadi kita, kan? dia Omahku juga. aku akan tetap membantumu. seperti janjiku tadi, yang akan selalu setia mendampingimu. dalam situasi apapun."


Devan mendekati wajah itu, hanya mendekat saja.


Dan itu membuat Kunia gugup, reflek menjauh sedikit.


Cuupp... Devan mengecup kening yang tertutup poninya, lembut. Sampai-sampai mata Kunia terpejam.


"Kau tadi bilang, akan setia mendampingi, ku?"


Kunia mengangguk pelan.


"Bisa kau pegang janji mu itu?"


"Aku tidak bisa janji seratus persen. Tapi hanya mengusahakan."


"Jangan hanya di usahakan, tapi harus."


"Iya–"


"Walaupun, aku kehilangan semuanya. Hartaku, bahkan kedudukan ku?" Devan menyentuh pipi Kunia.


"Aku tak pernah tertarik dengan harta, mu. Untuk apa banyak uang jika aku tidak mendapatkan ketenangan serta kebahagiaan dari mu. Asal kau selamat, Omah juga. aku sudah bahagia. Lantas, aku bisa hidup bersama mu."


Devan tersentuh. "benar ya? asalkan hanya hidup dengan ku. Kau bersedia, walau tanpa uang?"


"Ya, asal kau tetap tanggung jawab atas hidup ku. Walaupun hanya makan seadanya, tidak masalah. Yang penting kita aman dan baik-baik saja, aku tidak salah bicara, 'kan...?"


Devan terkekeh. "tidak, kau tidak salah bicara. hanya aku masih berpikir. Kalau aku tidak memberimu nasi, hanya mampu memberikanmu rumput dan batu, bagaimana? masih tetap mau hidup denganku?"


"Hei– keyakinan macam apa itu? Kau tega memberikan istrimu batu dan rumput? Dasar! Bicaralah yang realistis, kita juga butuh uang untuk makan. kau ini...!"


Devan tertawa lagi, lalu meraih tubuh Kunia mendekapnya erat. sudah cukup untuk membuatnya yakin dan tenang, Dia tetap akan bergerak untuk mengambil alih haknya. apapun yang terjadi, demi orang-orang yang ia kasihi.


Aku memang kehilangan cincinku. Namun aku punya kau, Kunia. Ku harap, kau mampu menguatkanku. Untuk merebut semuanya kembali. Agar aku bisa membahagiakanmu seutuhnya, serta Omah. (Devano.)

__ADS_1


__ADS_2