
Di food truck milik Bu Asmia...
Gadis itu menyantap rice bowl yang sudah ia rindukan setelah beberapa Minggu tidak makan di sana.
Kunia menghabiskan tiga wadah, dan saat ini tengah mencicipi minuman coklat dingin. Sebuah menu baru yang di buat oleh Bu Asmia.
"Enaaaak... Huhuhu, sungguh senangnya ketika aku bisa makan ini lagi, dan minuman barunya juga. Wah wah aku tengah beruntung." Puji Kunia pada Bu Asmia yang tengah tersenyum.
"Apakah sekiranya akan laku?" Tanya beliau.
"Tentu saja. Sayang sekali aku sudah tidak bekerja lagi di Diamond's sudah begitu jarak dari rumah ku jauh. Jadi tidak bisa mencicipinya setiap hari. Namun walaupun begitu aku akan sesekali berkunjung. Karena rice bowl Bu As adalah yang terbaik."
"Mbak Kuni bisa saja," Bu Asmia terkekeh begitu pula dengan Kunia.
Riiiiiiiiing...
Suara telfon berbunyi, membuat gadis itu bergegas mengeluarkan ponselnya. Lalu mendengus Sejenak sebelum menerimanya.
"Apa?" Jawabnya ketus. Sementara Bu Asmia sendiri hanya tersenyum, lalu beranjak dari meja Kunia.
"Kau di sekitar kantor?" Tanya Devano.
Lah ... bagaimana bisa Dia tahu?
"Iya, hanya merindukan rice bowl yang biasa ku makan di sini."
"Rice bowl? Kau makan siang di sini tanpa mengajak ku?"
"Untuk apa aku mengajak orang sibuk seperti, mu?"
Yang ada aku tidak bisa makan dengan tenang. (Kuni)
"Kau ini selalu banyak alasan. Sekarang datang kemari. Dan bawa rice bowl yang sama seperti apa yang kau makan."
"Kau bisa memerintahkan orang lain kan? Lagi pula ini sudah siang, aku harus pulang setelah di sini lebih dari dua jam."
"Yang ku mau itu? kau kesini, dan bawakan rice bowl itu untuk ku. Bukan orang lain!!"
"Haaaaah... Ya, iya." Kunia mematikan ponselnya, tidak ingin panjang lebar lagi sebelum titah yang lainnya keluar.
"Bu! buatkan Dua rice bowl lagi ya, topingnya chicken katsu, saus teriaki. Sama minuman cokelatnya juga. Dua." Seru Kunia pada wanita paruh baya yang sedang melayani pelanggan lain di dalam trucknya.
"Baiklah, tunggu sebentar ya?"
Kunia mengangguk...
–––
Di depan pintu masuk lobby. Dua orang security mengangguk sekali, ia terlihat lebih sopan dari sebelumnya. Mungkin karena kabar pernikahannya dengan Devano sudah mulai menyebar, membuat mereka jadi lebih menghormatinya.
Dua resepsionis di depan yang tengah duduk langsung berdiri dan membungkuk padanya memberi salam.
"Selamat siang, Nona Kunia." Sapa mereka.
__ADS_1
Kuni pun terkekeh, ia mendekati keduanya lalu menepuk bahu si laki-laki dan perempuannya.
"Heeeeiii– Formal sekali sih? Di buat biasa saja."
"Hehe, iya Nona."
"Panggil Kunia seperti biasa. Jangan ada embel-embel nona di belakang. Geli aku mendengarnya, hahaha." Kunia masih Tertawa santai. Namun yang di ajak bercanda malah menjadi kaku.
Kunia menoleh kearah lift. "Ohhh... Pak Didi–"
Berseru sembari melambaikan tangan, pada pria paruh baya yang biasa bercanda dengannya di saat ia masih bekerja.
"Si– siang Nona Kunia." Membungkuk, sesaat setelah Kunia setengah berlari menghampirinya. Gadis itu lantas menepuk bahu pria yang masih berdiri dengan sopan.
"Kapan kita karaokean lagi? bersama yang lainnya juga. Kita duet lagi bagaimana? Madu dan racun seperti biasa, hahaha."
"Hehe, ka– kapan ya? Sepertinya akan sulit."
"Sulit kenapa?"
"Ya, ya sulit. Hehehe."
"Aiiihhh... Kenapa jadi kaku seperti ini? Di mana pak Didi yang ku kenal. Yang biasa memasukan dua batang pena kedalam lubang hidung, untuk mengagetkan ku di saat lembur? Anda benar-benar seperti seekor Walrus. Hahaha."
"Hehe... Yang saat itu saya memperagakan adalah drakula. Namun Anda malah mengira saya memperagakan spesies mamalia laut itu."
Kunia tergelak, ia memukul lagi bahu pak Didi dengan santai.
"Sungguh aku merindukan momen-momen bekerja di sini."
"Ayo sama-sama."
"Tidak Terimakasih, silahkan anda duluan saja."
"Tidak apa-apa ayo masuk." Kunia menarik lengan Pak Didi, namun pria itu menolaknya. Ketika Lift satunya terbuka, lalu keluar seorang pria yang kini sudah berdiri di belakang Kunia. Pak Didi pun gelagapan.
"Terimakasih Nona. Namun saya baru ingat, bahwa saat ini saya sedang di minta untuk banyak bergerak. Jadi saya mau naik tangga darurat saja."
"Eh...? Tapi ini?"
"Hei...!" panggil pria di belakangnya, yang lantas membuat Kunia menoleh. "Kau ku suruh cepat, untuk membawakan makanan ku. Tapi malah mengobrol dengan beberapa karyawan? Kau pikir saat ini tengah melakukan reuni?"
"Aku hanya mengobrol sebentar. Kau ini kenapa sih?" Kunia menyodorkan dua bungkusan di tangannya. "Ambil itu punya, mu."
Devan yang masih menyilakan kedua tangannya di depan dada hanya diam saja.
"Apa ini?"
"Makanan yang kau pesan lah, apa lagi?"
"Kenapa di serahkan pada ku. Bawa ke atas."
"Bisa kan kau bawa sendiri? Jadi ambil ini, karena aku harus pulang."
__ADS_1
"Ckckck... Aku tidak suka dengan orang seperti mu ini, yang tidak mau menyelesaikan dengan tuntas, ketika di suruh. Bawa ke atas sana!!"
"Kau kan sudah di sini. Kenapa pula aku harus naik lagi?"
"Ku bilang bawa ke atas." Devan menarik tangan itu, setelah menekan pintu lift di dekatnya. Menunggu sejenak dan setelah terbuka ia kembali menariknya untuk masuk.
–––
Di dalam ruangan Devan...
Kunia meletakkan bungkusan itu di atas meja.
"Kau ini sedang apa? Buka!"
"Haiiiih....!" Kunia meraih kantong kresek putih itu lagi, lamtas mengeluarkan satu kotak kecil berisi nasi dan lauknya.
Membuka lalu memandangi sejenak, sebelum menyerahkan nasi dengan toping daging sapi lada hitam pada Devan. Karena isinya tidak sesuai dengan apa yang ia pesan.
"Perasaan, tadi aku pesannya chicken katsu saus teriaki. Kenapa jadi sapi lada hitam? Apa beliau salah kasih ya?" gumam Kunia. Namun segera Devan merebutnya.
"Tampilannya rapi sekali? Apa kau membeli ini di restoran?" Devan mengendus, aromanya seperti ia kenal.
"Tidak, ini hanya makanan jalanan. Penjualnya membuka lapak dengan truck kuliner."
"Aku suka daging sapi lada hitam. Sepertinya enak."
"Jelas enak, penjualnya sangat pintar memasak. Food truck itu pun ramai, tapi herannya beliau sama sekali tak memperkerjakan orang untuk membantu. Aku saja melihatnya sampai engap sekali. Dia benar-benar hebat."
Devan tak mendengarkan, ia mengamati potongan daging sapi yang sama rata. Dan jika di lihat, sepertinya sangat juicy.
Masuklah satu suapan pertama, nasi beserta dagingnya. Devan mematung sejenak.
"Ada apa?" Kunia penasaran dengan ekspresi pria itu yang tiba-tiba diam.
Apa Dia tidak suka?
Devan sama sekali tak menjawabnya, dan malah kembali memasukkan satu sendok makanannya ke dalam mulut. menaikan sedikit posisi box makanannya, hanya untuk membaca tulisannya.
Rice bowl, Bu As. (Devan)
"Kau membeli ini di mana?" Tanyanya secara tiba-tiba.
"Di gang sana, agak jauh sih. Kenapa memangnya?"
"Ini enak," jawabnya kemudian.
"Apa kau suka?" Tanya Kuni, Devan pun mengangguk.
"Itu buatku semua. Kau jangan memakannya."
Ya, Ya ... makan saja semua. Aku sudah kenyang setelah menghabiskan tiga wadah. (Kuni)
Ia melihat pria itu makan dengan lahap, dan hanya beberapa suapan saja. Nasi dalam paper bolw itu sudah habis.
__ADS_1
Sementara itu Devan kembali membaca tulisan di wadah yang tengah ia pegang.
Mungkin hanya kebetulan. Yang ku tahu, Bu Asmia kan pergi ke luar negeri. Dan menetap di sana. –Devan menggeleng, lalu kembali menyantap makanannya.