I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
terbaik untuk Andre dan Sarah


__ADS_3

Hari yang penuh dengan cerita menarik, yang tak pernah ia bayangkan akan terlibat didalamnya.


Malam sebelumnya, Andre menghubungi hanya untuk meminta bantuan pada Sarah. Mengawasi Kunia yang akan mendatangi salah satu gedung apartemen.


Takutnya terjadi apa-apa, kalau saja hanya Kunia sendiri yang datang ke tempat tersebut.


Berhubung itu permintaan Devano, ia tidak menolaknya. Rencana di awali dengan menghubungi pihak kepolisian, dengan beberapa bukti yang di bawanya dari Andre.


Setelah itu mendatangi TKP bersama tiga aparat kepolisian.


Sarah menghela nafas, ketika Andre datang dengan nampan berisi makanan.


"Sesuai pesananmu..." Semangat ia meletakkan nampan tersebut di atas meja, memberikan nasi plus ayam geprek dihadapan Sarah. "Makanan disini sudah siap saji, jadi tidak hangat. Mungkin hanya nasinya."


Sambung Andre Kemudian, sembari meletakkan es teh dengan gelas cantel besar.


"Terimakasih–" Sarah menarik lebih dekat gelasnya, menyedot isinya cukup banyak dengan sedotan.


"Kau haus sekali?"


"Emmm..." menjawab singkat, tanpa meliriknya.


Andre mengguratkan senyum di bibirnya dengan tulus, tatapannya tak terlepas dari wanita yang sudah mengangkat sendoknya, siap untuk menyantap makanannya.


Betapa ia mengagumi wanita seperti Sarah. Awal mula Dia menyukai wanita itu ketika ia tak sengaja melihatnya di perempatan lampu merah.


Seorang wanita berwajah garang yang tak asing, tengah duduk di trotoar bersama beberapa anak jalanan.


Suaranya yang terdengar samar walaupun tidak nampak lembut tapi ia terkesan akrab dengan mereka.


Memborong dagangan di salah satu gerobak asongan. Lantas membelanjakan anak-anak kumuh yang amat antusias memilih-milih Snack dan es.


Kau memang seperti pelit dan perhitungan ... galak juga, tapi tidak untuk mereka-mereka yang bagi orang-orang sepertimu membutuhkan perhatian kecil dari kalangan seperti kita.


Andre menyeruput minumannya, masih sembari memandangi Sarah.


"Hei–" hentak Sarah yang langsung memecahkan lamunan Andre. "Bisakah kau makan saja? Tidak usah memandangi ku seperti itu. Kau tahu, wanita bisa risih, kan?"


"Maaf-maaf... aku hanya tengah ingat, satu masa ketika aku melihatmu di jalan Senayan."


Sarah mengangkat satu alisnya.


"Ketika kau mendatangi mereka, para anak-anak jalanan. Kau itu berjiwa sosial ya?"


"Sudah berapa kali kau melihatku?"

__ADS_1


"Baru sekali."


"Baru sekali tapi kau menyebutku manusia berjiwa sosial?"


"Ya ... aku yakin lebih dari itu sih?" Garuk-garuk kepala. "Sar– mengenai malam itu, aku minta maaf ya."


"Minta maaf untuk apa?"


"Sudah memaksamu untuk menerimaku. Tapi sungguh, aku mengagumimu yang berujung jadi cinta. Awalnya aku tertarik untuk menggodamu yang garang itu ... namun?"


"Sudah hentikan. Aku ingin bicara padamu?"


Andre bersemangat, ia menggeser makanannya lalu duduk dengan sikap tenang. Kedua tangannya menumpuk di atas meja.


Sumpah ya? Melihatnya seperti ini aku malah ingin melempari wajahnya dengan kue. (Sarah)


"Laki-laki suka bunga yang masih kuncup, atau baru mau mekar, kan?"


"Ummm ... laki-laki tak suka bunga," jawabnya langsung. Sepertinya pria itu tidak memahami istilah.


Sulitnya berbicara dengan orang bodoh. Sarah tak jadi melanjutkan, ia hanya melirik dengan tatapan datar.


"Ah ... mungkin yang kau maksud bunga yang lain. Ayo lanjutkan–" Andre terkekeh.


"Sar? Memangnya umur harus menjadi patokan sebuah hubungan. Bukankah banyak ya, wanita yang menikah dengan laki-laki yang usianya lebih muda tapi mereka bahagia hingga tua bersama?"


"Aku tidak seperti itu... Kau mungkin tidak akan betah dengan perangai ku yang buruk."


"Aku sudah mengenalmu. Aku tahu kau orangnya seperti apa? Jadi apa masalahnya."


Masalahnya, aku takut gagal lagi, Ndre... Sarah membalas tatapan keseriusan Andre, namun ia masih belum bisa menjawabnya dengan pasti walau hatinya mengatakan ya Dia bersedia.


Andre tersenyum. "Lanjutkan saja makanmu. Setelah ini ku antar pulang."


Andre tidak ingin membuat Sarah tidak nyaman ia lantas melanjutkan makannya. Walaupun ia masih ingin berusaha meyakinkan Sarah tentang hatinya yang tulus itu.


Cukuplah waktu yang akan membuktikan semuanya Sar ... untuk saat ini, yang paling terpenting Kau sudah tahu isi hatiku. Tidak sesompral kelakuan ku di depanmu.


Sedikit getir, Andre melahap nasinya. Bahkan nasi yang sudah menjadi dingin itu, pun semakin menambah rasa tak berseleranya.


***


Mobil sudah sampai di pelataran rumah. Tubuhnya belum beranjak dari tempatnya duduk memandangi hujan yang turun dengan derasnya.


"Langit tahu aku belum mandi," runtuknya kemudian sebelum akhirnya melepaskan seat beltnya, pelan.

__ADS_1


"Pakai saja jaketku untuk masuk ke dalam," sigapnya langsung melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya.


Hening sejenak, dimana pikirnya masih gamang untuk mencetuskan apa yang hendak ia katakan.


"Mengenai apa yang kita bicarakan tadi," gumamnya sembari memandangi wiper yang bergerak-gerak membersihkan air yang menghujani kaca di depannya. "Mungkin kita bisa menjalaninya."


Andre yang masih sibuk melepaskan jaketnya langsung mematung.


"Ya itu jawabnya..." Lirih, Sarah yang malu setelah menyatakan ia menerima Andre langsung menyentuh handle pembuka pintu mobil.


Graaakkk...


Andre menahan tangan itu sebelum terbuka, membuat Sarah langsung menoleh pelan.


Di mana tangan pria itu lantas menarik lagi pintunya dan mengunci rapat.


"Katakan lagi–"


"Aku?" Pupilnya bergerak-gerak menahan gugup. "Aku?"


Keheningan lantas tercipta, ketika Andre mendaratkan kecupan pertamanya di kening.


Membuat mata Sarah melebar. Ia tercenung cukup lama, belum lagi dengan debaran jantung yang terpompa lebih cepat dari biasanya.


Di angkatnya dagu itu naik. Hingga matanya mampu menangkap senyum manis Andre kepadanya.


"Jangan terpaksa menerimaku... karena aku tulus saat mengharapkanmu. Aku tahu kau pernah punya luka di masa lalu, dan aku siap menjadi plester luka hatimu."


Bulir bening itu turun perlahan dari netranya. Bahkan tanpa ia sadari.


"Aku mencintaimu, Sarah." Cuppp... Andre mencium tangannya lembut, membuat Sarah semakin tergugu bahkan ia tak bisa berbicara apapun selain air matanya yang terus turun tanpa bisa ia hentikan.


"Boleh aku memelukmu?" Ia bertanya lebih dulu, karena Sarah masih nampak diam saja. "Karena kau diam berarti boleh ya." Andre merengkuh tubuhnya, memeluk Sarah.


"Hiks– curut. Jangan kesulitan memelukku karena aku gemuk." Sarah membalas


"Kau tidak gemuk hanya berisi, dan bagiku saat memeluk tubuhmu aku seperti tengah memeluk boneka beruangku." Terkekeh.


"Bedebah!" Runtuk Sarah, yang masih membalas pelukannya.


"Aku hanya bercanda, wanitaku."


Wanitaku? –Sarah tersipu. Ya hari yang di awali dengan hal mencekam, kini berujung manis.


Sehingga hujan pula menjadi alasan mereka bertahan di dalam mobil, berdua.

__ADS_1


__ADS_2