
Di sebuah lobby kantor...
Kuni duduk dengan sopan, sesekali ia membuka kamera ponselnya. Sebagai alat untuk bercermin, memastikan jika penampilannya masih rapi.
Karena kata ibu, penampilan menarik bisa memberi nilai plus untuknya saat bekerja. Dan mungkin berikanlah kesan imut serta sedikit menggoda pada atasan.
Ah... Tidak untuk yang terakhir. Aku tidak akan melakukan itu. Cukup menjadi karyawati yang rajin saja sudah cukup. Bergumam sendiri dalam hati. Menghalau gugup yang mulai menghinggapi. Karena apapun yang terjadi, bagian personalia sudah memastikan dia di terima di perusahaan ini jadi tidak perlu lagi cari muka.
Pasti mereka sudah membaca CV. ku yang pandai di bidang IT. Hahaha... Itulah kenapa mereka menerima ku. Masih terus bergumam dengan tingkat kepercayaan dirinya yang tinggi.
Hingga seorang pria yang menggunakan jas berwarna hitam pun keluar, ia lantas mendekati dan berdiri di hadapan Kunia.
"Nona Kunia Rahayu."
Refleks, Kuni langsung berdiri. "Saya pak."
Pria itu tersenyum, "silahkan duduk kembali."
"Oh, iya." Gadis itu kembali duduk. Ia melihat pria yang berpenampilan rapi itu tengah meletakkan sebuah map berwarna merah di atas meja, lalu kembali menghadap Kunia.
"Perkenalkan nama saya Andre, wakil personalia di sini. Apakah Anda sudah siap untuk interview, hari ini?"
"Ya... Sangat siap pak Andre."
"Baiklah, tapi sebelum itu. Silahkan tandatangani surat kontrak kerjanya dulu."
"Tanda tangan dulu? Sebelum interview?"
"Iya– ada yang salah?"
"Sedikit, karena setahu ku. Biasanya interview dulu baru tanda tangan kontrak." Kuni menggaruk kepalanya yang tak gatal, sembari terkekeh. Sementara pria di hadapannya hanya tersenyum.
"Silahkan." Andre menyerahkan penanya kepada Kuni, gadis itu pun meraihnya.
"Di mana saya harus tanda tangan?"
"Di bagian sini, sini, sama sini." Andre Menunjuk kolom tanda tangannya satu persatu. Dan seperti dugaan Devan gadis itu sama sekali tak membacanya, ia menurut saja mengguratkan tanda tangannya di atas kertas bermaterai itu.
"Anda tidak ingin membacanya lebih dulu?"
"Saya rasa tidak perlu. Saya paham selogan di kantor. Time is money hehehe, bukankah begitu?"
Andre terkekeh. "Iya benar."
__ADS_1
Sayangnya Nona ini benar-benar tidak teliti. Kasihan sekali. Gumam Andre dalam hati sembari menutup penanya dan menata map itu lagi.
"Nah sekarang silahkan ikuti saya, kita ke ruang kepala personalianya. Karena beliau lah yang akan mengintreview Anda."
"Oh baiklah." Kuni beranjak, sedikit menata pakaiannya lalu mengikuti langkah pria di hadapannya masuk ke dalam lift.
–––
Di depan ruangan personalia Kunia sedikit berdebar, walaupun dia sudah latihan semalam, tetap saja rasa gugup membuatnya semakin ciut nyali.
Sebuah pintu terbuka. Membuat Kuni menghela nafas panjang, rasa mulas akibat gugup, di tambah keringat dingin di tengkuknya mulai muncul. Namun hebatnya gadis itu masih nampak tenang.
"Silahkan masuk nona." Andre mempersilahkan gadis itu masuk.
"Terimakasih–" Kunia berjalan masuk, ia melihat pria di balik kursi itu tangah duduk menghadap jendela. Pria berpostur tinggi dan tegap. Sepertinya dia masih muda?
"Silahkan duduk saja Nona." Andre mempersilahkan gadis itu untuk duduk, sementara dirinya menyerahkan stop map pada Devan yang sudah menunggunya. Pria itu pun membuka map merah tersebut melihat semua tanda tangan yang berada di atas materai. Ia pun menutup kembali sembari tersenyum, lalu memutar kursinya menghadap Kunia.
Seketika mata gadis itu melebar, saat melihat pria yang menjadi atasannya itu adalah sosok yang amat familiar.
"Ka... Kau?"
Sekilas ingatannya kembali ke masa lalu.
Ditambah rentetan Bulian lain yang pernah ia lakukan hanya karena tidak suka dengan pria sok tampan yang selalu mendapatkan perlakuan istimewa dari para dosennya.
Aiiih... Kenapa Dia? Kenapa pria ini bos ku?
Devano mengulurkan tangannya, "selamat bergabung di kantor kami, Mbak Kunti."
Gleek.... Tangan Kunia gemetaran, ia tidak berani menjabat tangan itu. Terlebih tatapan pria di hadapannya, di tambah seringai mengerikan yang tersungging di bibirnya.
Dunia ini kenapa begitu sempitnya...? perlahan Kunia meraih tangan Devano menjabatnya, sedikit berusaha ia untuk tersenyum.
"Mulai hari ini, kau bekerja sebagai pengasuh Richie, Boy, dan Alexa."
"Baik..." Kuni manggut-manggut. "Eh... Tunggu? Pengasuh, maksud anda?"
"Ya... Tiga hewan peliharaan ku itu." Devan menunjuk ke arah depan, Kuni pun menoleh kebelakang. Ada tiga sangkar di sana, satunya berisi iguana, yang ke dua buaya berukuran sedang, dan satunya lagi kucing Alaska yang terkenal garang.
Gadis itu pun menoleh lagi. "Anda pasti bercanda kan? Hahaha"
"Aku tidak pernah bercanda untuk itu." Devan melemparkan map merah tadi pada Kunia. "Baca ulang isi surat kontraknya."
__ADS_1
Dengan cepat Kunia membukanya dan membacanya, matanya bergerak cepat dan perlahan-lahan mulai melebar lalu menatap Devan dengan gusar.
"Anda membohongi saya?"
"Membohongi? Apakah ada paksaan saat kau menandatangani itu?"
"Tidak ada, tapi tetap saja anda tidak memberitahukan lebih dulu."
"Apakah wakil ku tidak meminta mu untuk membaca dulu?"
Kuni mengingatnya. Saya rasa tidak perlu, time is money, bukan begitu? hehehe.
"Sial...!" Gumam Kuni lirih.
"Kau harus melakukannya, terima ini. Karena Richie belum mandi. Jangan lupa kau gosok giginya hingga bersih." Devan menyerahkan sebuah sikat pada Kunia.
"Anda gila ya? Saya bekerja sebagai karyawati. Bukan pengasuh hewan... Kalau seperti ini lebih baik saya batalkan untuk bekerja disini." Kunia beranjak.
"Hei Mbak Kunti– bisakah anda baca ulang di lembar ketiga yang kau tandatangani itu?"
Kuni menoleh, kembali ia membuka map tersebut dan membacanya.
Dan apabila saya, selaku pihak kedua memutuskan untuk berhenti bekerja selama kontrak masih berjalan? Maka saya bersedia membayar denda sebesar satu milyar rupiah. Mata Kuni seolah hendak keluar dari tempatnya. Ia pun menggebrak meja.
"Apa-apa ini? Tidak bisa di biarkan... Anda hanya personalia di sini, ini pasti permainan anda kan? Saya akan laporkan pada atasan anda. Saya akan laporkan pada komisaris di sini!!"
Alis Devano terangkat sebelah, ia menatap dengan santai.
"Silahkan saja." Devan mempersilahkan dia untuk keluar dengan isyarat tangannya itu. "Karena apapun yang akan kau laporkan itu tidak akan berpengaruh. Malah justru sebaliknya, kau akan mendapatkan masalah lebih dari pada ini."
Kedua tangan Kunia terkepal geram. Ia tetap keluar dari ruangan Devano mencoba untuk menemui siapapun yang lebih berwenang di perusahaan tersebut, sembari membawa surat kontrak kerjanya itu.
Devan tersenyum sinis. "Andre?"
"Ya Tuan–"
"Apakah hari ini si penyihir dan suami brengseknya itu, jadi ke California?"
Andre paham siapa yang ia maksud. Yang tak lain adalah ibunya Nyonya Liliana dan sang ayah tirinya sekertaris Erik.
"Iya Tuan, hingga dua bulan kedepan."
"Bagus– semua akan berjalan lancar. Hahaha." Devan tertawa puas, ia benar-benar tidak sabar ingin menjadikan wanita itu mainannya selama di kantor. Walaupun dari awal dia tak bermaksud untuk balas dendam, tapi hadirnya Kunia di perusahaan itu bisa menjadi alatnya membuang suntuk selama tuntutan ibunya yang menginginkan dia memegang kendali perusahaan.
__ADS_1
Bersambung....