I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
tabir yang terbuka


__ADS_3

Di rumah sakit lain...


Sekertaris Erik masih terdiam memandangi wajah Delia yang terbaring di ruangan ICU khusus.


Kecelakaan yang ia alami amat parah, membuat gadis itu harus mengalami pendarahan otak hebat yang membuatnya menjadi koma.


Mengingat kembali ketika ia meminta Liliana untuk datang, karena kondisinya yang amat parah.


Flashback is on


"Dokter membutuhkan donor darah untuk Delia. Kau harus kemari, berikan darahmu untuk anak kita." Sekertaris Erik memohon.


"Kenapa meminta padaku, rumah sakit biasanya menyediakan."


"Dia punya tipe golongan darah AB+, sangat langka. Rumah sakit serta PMI tak memiliki stok. Dan hanya kau yang cocok, Zaeni ataupun aku tak memiliki golongan darah itu."


"Ck... memang dinegara ini hanya aku dan Delia yang memiliki jenis itu? Kau bisa mencarinya orang lain kan?"


"Liliana."


"Sudahlah... Aku ada meeting, pagi ini aku harus ke Dubai. Kau tahu sendiri kan jadwalnya." Liliana di seberang. Karena pada saat itu, mereka berbicara via telepon seluler.


"Apa tidak bisa, kau menyempatkan waktu mu? Tidak lama Lili, hanya beberapa menit."


"Tidak bisa...! Seperti yang ku bilang tadi, cari saja orang lain. Bayar saja seberapapun jangan menggangguku." Pikk...


Flashback is off


Sekertaris Erik mengepalkan tangannya, geram.


*Seperti ketika kau tak peduli pada Zaeni dulu. Saat memutuskan untuk menikah dengan Tuan Hari.


Sekarang kau melakukan hal yang sama. Kau bilang demi masa depan Zaeni, tapi sekarang? Ketika Delia sedang memperjuangkan hidupnya, kau bahkan tidak mau membantu*.


Erik mengeluarkan cincin tersebut, memandanginya kemudian. Setelah itu melirik kearah Delia yang masih memejamkan matanya, dengan serangkaian alat bantu medis yang memenuhi tubuhnya.


Ia pun kembali menatap cincin tersebut lalu menggenggamnya erat. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, yang pasti ia tengah melamun memikirkan sesuatu.


***


Devan sudah tiba di taman pemakaman.


Mereka berdua berjalan menapaki batu paving yang tertata rapi. Menyusuri area yang luas, hingga sampailah di tempat yang di tuju.


Seorang wanita bertubuh gemuk berdiri di depan makam yang sempat ia pertanyaan, milik siapanya.


"Bu Asmia–" panggilannya ragu-ragu. Wanita itu lantas menghela nafas pelan, sebelum memutar tubuhnya.


"Tuan Muda?" Bu Asmia membungkuk sopan.


Bibir Devan tersungging, senang. Rupanya dugaannya benar, bahwa wanita itu adalah Bu Asmia yang pernah menjadi koki di rumahnya dulu.


"Senang bertemu, Bu Asmia lagi."

__ADS_1


Bu Asmia tersenyum. "Saya pun demikian."


Devan berjalan lebih mendekat, ia menyentuh bahu wanita paruh baya tersebut.


"Ibu sehat kan? Kenapa ibu berpenampilan seperti ini? Maaf, soalnya saya sampai tak mengenali."


"Karena saya harus merubah penampilan saya. Demi keamanan diri saya sendiri saat berada lebih dekat dengan Tuan."


"Keamanan, maksudnya?"


Bu Asmia menyerahkan sebuah amplop coklat kepadanya. Yang dengan ragu di terima oleh Devan.


"Ini apa?"


"Buka saja, Tuan Muda akan melihatnya sendiri."


Devan tak berpikir panjang, Dia langsung membukanya. Rupanya di dalamnya terdapat beberapa lembaran foto.


"Ini foto siapa?" Tanyanya merasa asing, sembari menunjukkan.


"Tuan bisa melihatnya, satu persatu."


Devan menuruti, ia kembali menatap foto tersebut. Di tumpukan paling atas adalah potret seorang gadis. Ia hanya menganggap tidak kenal, jadi menggantinya dengan yang kedua.


Sama, namun dengan pose yang berbeda. Setelahnya yang ketiga, barulah ia membeku.


Ketika yang ia dapati adalah, foto gadis itu dengan mendiang ayahnya. Sepertinya gambar ini diambil saat mereka masih muda, nampak dari busana yang di kenakan.


Devan membuka lagi tumpukan selanjutnya, mereka berdua berpose mesra dengan gaun pengantin yang amat anggun.


Devan semakin di buat penasaran, ia kembali membuka yang lain. Wanita yang perutnya semakin besar, nampak Tuan Harison memeluknya dari belakang sembari memegangi perutnya itu.


Devano kembali membuka yang terakhir. Seorang wanita yang terkulai lemah di atas ranjang rumah sakit.


"Bacalah, catatan di belakangnya." Titah Bu Asmia.


Devan membalik lembar foto itu kemudian.


(Tanggal 23 bulan Januari tahun XX. Hari kelahiran pangeran kecilku, namun sekaligus hari terakhirku melihat permaisuri dalam hidupku.)


Tak bisa berkata-kata, ia mengangkat lagi sebatas telinga.


"Apa maksudnya... ini semua, Bu?" Suaranya serak.


"Wanita itu, adalah yang sesungguhnya ibunda mu, Tuan muda."


Deg...!


Sedikit oleng, ia melangkah mundur sembari menggeleng. Foto-foto itu terjatuh dan berceceran di rumput.


"Tidak mungkin. Itu tidak mungkin..." gumamnya.


"Lihatlah makam ini." Bu Asmia menujuk makam tersebut. Devan memandanginya, matanya kini menganak sungai. "Beliau, Nyonya Karlina... Istri tercinta Tuan Harison Atala, Ibunda Tuan muda yang sesungguhnya."

__ADS_1


"Tidak Bu...!! Mamih ku itu Liliana. Anda pasti bohong. Papih tidak pernah bercerita apapun selama ini." Bulir bening pun mengalir begitu saja, Devan tak lagi mau mendengarkan.


Bu Asmia terdiam sejenak, karena memang sejak kecil tidak ada yang boleh mengatakan fakta siapa Liliana. Tuan Harison melakukan itu demi kebahagiaan putranya, yang sangat menyayangi Liliana pada saat itu.


"Sepertinya saya telah salah menemui Anda disini, saya tidak tahu apa tujuan Anda mengarang cerita seperti ini?" Dev memutar tubuhnya, merasa kesal dan tidak terima. Lantas memilih pergi.


"Tidak ada seorang ibu kandung, yang lebih menyayangi putra tirinya, melebihi putra kandungannya sendiri. Terkecuali jika putra tirinya itu adalah anak kandung dia yang sesungguhnya."


Devan menghentikan langkahnya...


"Apa maksudmu?" Devan menoleh cepat.


"Tuan muda perlu tahu, Nyonya Liliana sudah pernah menikah dengan Sekertaris Erik sebelum menikah lagi dengan Tuan Hari. Mereka sudah punya anak, yaitu Tuan muda Zaeni."


Devan mendesah. "Jangan coba-coba untuk mengarang cerita konyol. Anda pikir saya akan langsung percaya begitu saja?"


"lantas apa Tuan muda tahu, jika selama ini Nyonya Liliana tak memberikan pendidikan untuk Anda secara adil, seperti dirinya memberikan pendidikan eksklusif untuk Tuan muda Zaeni, ke Manchester?"


Deg...!


Devan menoleh. "Manchester?"


Itu Negara yang ku inginkan, untuk lanjut mengambil studi di sana. Namun Mamih melarang dengan dalih, jika yayasan Diamond's lebih baik. (Devan)


"Zaeni mengambil spesialis di Surabaya. Itu yang ku tahu," sambung Devan.


"beliau tidak mengambil studi spesialis di Surabaya. Melainkan diluar negeri, negara yang saya ucapkan tadi."


"A–apa?"


"Ketahuilah Tuan. Nyonya Lili dan Sekertaris Erik adalah dua orang yang telah bersekongkol sejak awal. Demi mendapatkan harta keluarga Atala, mereka bahkan tega melenyapkan ayah dan ibu kandung anda. Bahkan Nyonya besar Briana pun sejatinya tidak menghilang, melainkan karena di sembunyikan oleh mereka."


"Hentikan Bu Asmia!! Sudah cukup anda berbicara omong kosong!"


"Saya tidak bicara omong kosong, Tuan." Potong Bu Asmia. "kalau benar beliau seorang ibu. Dia tidak akan membuat putranya berada pada posisi karyawan biasa."


Devan terdiam, jika di pikir-pikir itu benar... Mamihnya selama ini seperti tengah menghalangi posisinya untuk naik ke kursi komisaris.


"Bukalah matamu Tuan. Karena Beliau tetap akan nampak seperti ibu yang baik hati, sebelum mendapatkan apa yang ia cari. Yaitu stempel emas."


Devan membeku, Stempel emas?


"Apakah Anda sudah tahu, jika cincin yang pernah saya berikan adalah sebuah stempel emasnya?"


Deg...!! Mata Devan membulat.


"Stem– stempel emas?"


"Iya Tuan."


Devan menoleh cepat, kearah tangannya. Seketika itu ia baru menyadari jika cincin masih tergeletak begitu saja di meja.


"Ya Tuhan..." gumamnya sembari mengangkat sedikit tangannya. Hanya tersisa bekas lecet di jari tengahnya itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2