I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
jalan-jalan ke taman


__ADS_3

Mentari senja menyoroti tubuh mereka yang tertutup kain selimut tipis.


Tak ada suara dari bibir manis Kunia, ia hanya memejamkan matanya di dalam dekapan Devano.


Rasa kantuk di tambah lelah yang teramat, setelah beraktivitas seharian ini. Di sambung dengan dirinya yang harus menuruti kemauan sang suami selama beberapa menit, bermain di atas ranjang.


Benar-benar membuatnya ingin tidur. Tidak peduli dengan bibir suaminya yang tak henti-hentinya menciumi area wajah. Lelah sekali... Itu yang ada di benaknya.


Devan mengecup keningnya lembut, sekali lagi.


Sembari mengusap punggung sang istri, lalu mendongak ke sisi jendela.


Seperti menantang sinar itu. Matanya tak menyipit sama sekali, terus memandangi dengan tajam. Memikirkan rencana selanjutnya.


Dia hanya kalah kekuasaan, itu saja. Yang membuatnya tak mampu melangkah lebih maju. Hanya bisa memutar otak lebih keras, agar bisa memasuki celah sempit di benteng kokoh yang di bangun oleh Sekertaris Erik dan isterinya.


Usapan tangan itu berganti pada wajah di bawahnya. Devan menunduk, memandangi wajah tenang yang nampak menggeliat pelan.


Kenapa aku jadi khawatir padamu, sekarang?


Menurunkan wajahnya. pelan... mengangkat dagu itu lebih naik. Lantas mencium bagian bibirnya dengan lembut. Bersamaan dengan matanya yang mulai terpejam, menikmatinya.


Aku benar-benar Khawatir, hal buruk akan menimpanya juga. Jika Omah rupanya sudah tidak ada. Lalu kau pun terseret pada lingkaran mematikan ini? Mungkinkah aku masih bisa bertahan hidup, apabila nyawamu terenggut juga?


Ia takut, sangat takut. Bahkan semakin takut saja. Matanya kian basah, tidak peduli yang di cium sudah meremas lengannya. Sebab merasa tidurnya terusik.


Apa ku lepaskan saja, semuanya. Dan hidup dalam kesederhanaan bersamanya?


Semakin dalam ciuman itu di berikan Devan, membuat Kunia membuka matanya. Ia mendorong pelan dada itu, agar segera melepaskannya.


Setelah itu saling tatap, dalam kehangatan senja ini.


Kunia menangkap kekhawatiran di sorot mata Devano, luka, juga kesedihan. Membuatnya menyentuh pipi sang suami dengan lembut.


"Sayang?" Panggil Kunia. Membuat sepasang biji mata tajam itu bergerak-gerak, lalu menitik. Kunia mengusapnya. "Kau kenapa? Apa harimu tidak baik?"


Tak ada jawaban selain membalas tatapan sang istri yang turut mengkhawatirkannya.

__ADS_1


Devan meraih tangan itu, lalu menciumnya. Kemudian berpindah kebagian kening cukup lama.


Kuni mendengar rintihan kecil di bibirnya yang gemetaran.


Dev, menangis?


"Sayang?" Panggil Kunia lembut, membuat Devan melepaskan kecupannya. Lalu memeluk erat tubuh sang istri.


Aku tidak mau. suara ini tak bisa lagi ku dengar. Turut terkubur bersama jasadnya, seperti yang lain. (Devan)


Perlahan Kunia mengangkat tangannya, mengusap punggung pria yang sedang tidur dalam posisi terkurap, mengungkung tubuhnya. Wajah yang terbenam di ceruk lehernya, sama sekali tam bergerak. Selain guncangan tubuh yang tengah menangis tanpa suara.


Aku tidak tahu separah apa masalahmu, namun aku paham. Pasti sakit sekali rasanya...


"Menangis lah... Tidak apa-apa suamiku. Kau tidak terlihat lemah karena ini. Aku tetap mencintaimu. Kau tetap suamiku yang terbaik."


Kunia menepuk-nepuk, pelan punggung yang tak berbalut busana itu. Membiarkan sampai beberapa saat pria itu menyembunyikan wajahnya. Semakin sesenggukan.


***


Langit di luar mulai temaram...


Membuat tempat itu nampak cantik.


Langit yang cerah, membawa keceriaan bagi para pengunjung taman kota. Ada banyak komunitas yang berkumpul di sana.


Live music, dari beberapa pengamen jalanan yang membagi tempat mereka di beberapa sudut.


Serta kawasan kuliner yang berada tak jauh. Sengaja di siapkan oleh pengurus kota setempat, agar tidak semerawut.


Kunia, dan Devan turut menikmati suasana indah di kolong langit yang mulai menggelap menjadi malam.


Tangan mereka saling bertaut. melangkah bersama, menghabiskan waktu temaram yang indah.


Lain halnya dengan Kunia yang berceloteh kesana kemari, berlagak seperti tour guide yang tengah menjelaskan setiap sudutnya kepada Devan yang justru banyak diam, ia hanya tersenyum tipis saat Kunia mengajaknya bercanda.


Suasana hatinya masih tidak baik. Kunia membatin, berusaha memahami.

__ADS_1


"Kita duduk di bangku yang kosong, di sana yuk." Ajak Kunia. Devan mengangkat kepalanya pria jangkung itu mengamati, anak-anak komunitas sepatu roda tengah bermain dengan riangnya.


"Aku lebih suka bermain, itu. Ayo kita main."


"Itu?" Kunia menunjuk, kumpulan anak-anak yang sedang bermain sepatu roda di arenanya.


"Iya– ayo." Devan mengajaknya jalan lagi.


"Tunggu-tunggu... Kita kan tidak bawa sepatu roda."


"Kita bisa menyewanya kan?"


"Ya... Iya sih, tapi... Aku lebih suka kita jalan-jalan saja, jajan, dan duduk jika lelah." Kunia nyengir kuda.


Seringai tipis itu mulai keluar dari bibir Devano.


"Kau takut?"


"Aku?"


"Ya, kau takut main itu kan?"


"Emmm... Sebenarnya karena? Aku pernah jatuh beberapa kali, dan terakhir masuk kedalam selokan. Itu yang membuat ku tidak mau bermain sepatu roda lagi," gumam lirih. Ia masih ingat teriakan Bu Sukaesih yang memarahinya saat tubuh Kunia hitam semuanya sehabis tercebur ke selokan.


Devan mengepalkan tangannya, menutup mulutnya yang tengah membayangkan tubuh hitam legam Kunia dulu.


"Jangan menertawakanku..."


"Tidak, kok." Memalingkan wajahnya.


"Itu apa?" Gusar.


"Iya-iya. Itu kan dulu, sekarang ada aku. Aku yang akan memegangi tanganmu."


"Aaaa... Aku tidak mau. Kita main yang lain saja, sepeda pasangan itu mungkin." Menawarkan yang lain.


"Itu bisa nanti, istriku. Sekarang yang ini dulu." Devan tersenyum lebih manis dari biasanya. Membuat Kunia terpanah, belum lagi dengan sebutan istriku, tadi. "Ayo–"

__ADS_1


Menarik tubuh, sang istri yang masih bengong itu kemudian. Membawanya ke arena sepatu roda itu.


__ADS_2