I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
hidup dua orang yang berbeda


__ADS_3

Hati yang masih teriris di bungkusnya dengan tatapan tabah kepada seorang pria paruh baya di hadapannya.


Sebab beliau pun tengah mengembangkan senyum kelegaan, sembari berkata: bahwa ia bersyukur tinggal di dalam jeruji besi. Setidaknya mampu membayar sebagain dari apa yang sudah ia lakukan. Walaupun tetap saja, itu tidak bisa di jadikan kifaratnya.


Namun itu lebih baik, memberikan ruang kembalinya Brianna agar mampu berkumpul dengan cucu dan cucu menantunya.


Kini hanya tinggal menanti sidang putusan untuk dirinya, hukuman apa yang akan ia terima setelah ini.


"Kita tak pernah mengobrol seperti ini ya?" Terkekeh, Zaeni pun sama.


"Aku jadi merasa, seperti tengah menyantai bersama ayah berdua di rumah kita yang dulu."


Sekertaris Erik tertawa miris, ia menyesali semuanya. Andai saja ia tidak menuruti semua keinginan gila Liliana di masa lalu, mungkin anak-anak mereka tidak akan merasakan sengsara seperti sekarang. Harus benar-benar berpisah.


"Bagaimana dengan, Delia?" tanyanya ketika mengingat Delia.


"Beberapa hari yang lalu, Dia memang nampak tak membalas telfon serta pesan ku. Namun aku melihat, Dia di hari-hari belakangan ini lebih ceria. Mungkin karena Kunia, Delia jadi tidak merasakan sendiri. Wanita itu datang setiap hari."


Erik tertawa santai. Hal yang membuat heran, selama ini Zaeni tak melihat wajah setenang dan sebahagia ini dari ayahnya.


"Salah satu alasan, Ayah memilih untuk meletakkan cincin stempel itu di tasnya adalah ini."


Senyumnya berubah pasi. Nanar menghadap ke meja, dengan tatapannya yang kosong.


"Dia wanita yang bisa ku percayai, akan menjadi peri baik hati untuk Delia. Selama ini Putri kecilku tak pernah menerima kasih sayang dari ibunya secara sungguh-sungguh. Sekarang, Dia akan mendapatkannya dari Kakak iparnya."


Zaeni tercenung, mengguratkan senyum tipis. Ini amat sakit baginya, melihat ayahnya tersenyum namun dengan baju tahanan yang ia kenakan.


Belum lagi memikirkan nasib ibunya, yang terakhir ketika di temui hanya banyak terdiam dengan tatapan kosong. Ia bahkan membelakangi jeruji besi. Memeluk kedua lututnya, menghadap tembok. Tak ingin sama sekali di temui oleh siapapun.


"Liliana–" gumamnya kemudian. Zaeni terlengak, lamunannya lantas bercerai-berai. Seperti paham jika dirinya tengah memikirkan sang ibu. "Bagaimana nasibnya? Sebenarnya Ayah tak ingin ibumu turut merasakan dinginnya tembok penjara. Namun?"


Zaeni menggenggam tangan ayahnya. "Aku sudah bernegosiasi dengan Devan. Untuk meringankan hukuman ibu."

__ADS_1


"Apa katanya?"


"Devan tetap akan mengikuti prosedur hukum lebih dulu. Tapi Dia tetap menengok ibu setiap hari."


Erik menghela nafas. "Anak itu, sangat mencintai ibumu. Karena selama ini yang Dia tahu, ibumu adalah ibu kandungnya."


"Ya, Ayah benar." Hening pun melingkupi ruangan jenguk tersebut. Mematikan suasana untuk sesaat, sembari membiarkan sesak di hati masing-masingnya sedikit mereda.


***


Liliana yang sedang bergumam tak jelas merancau sembari memeluk lututnya. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan dengan keringat yang bercucuran di keningnya.


"Aku harus keluar dari tempat busuk ini, aku harus pergi dan mengambil kembali harta yang sudah susah payah ku raih."


Klaaaaaanggg...


Suara Gembok yang sedang di buka, tak serta-merta membuatnya menoleh. Ia bahkan masih bergumam tidak jelas sembari memeluk kedua lututnya.


Devano yang berdiri di sana hanya menatap penuh keprihatinan. Ia mengusap pelan matanya yang basah, lalu berjalan pelan menghampiri Liliana.


"Hari...!" Tercengang, ia berhalusinasi mengira Devano adalah Harison Atala. Ia pun menggeleng cepat, sembari menyeret sedikit tubuhnya menjauh. "Untuk apa kau kesini, kau sudah mati– KAU SUDAH MATI...!!" hunusnya bengis, setelah itu tertawa.


"Mamih–"


"jangan mendekat!!! kau sudah sudah mati. Orang mati tidak akan bisa mendatangi ku yang masih hidup, tidak akan bisa. Hahahaha."


"Mamih, ini aku. Devano–"


"Kau tidak akan bisa mengambil kembali hartamu– itu milikku. MILIKKU HARI...!"


Devan memegangi kedua tangannya. "Mamih, sadarlah–"


"Kau tidak perlu khawatirkan dengan ibu dan anak mu. Aku akan mengirim mereka juga, ke alam baka. Hahahaha." Suara tawa Lili menggema, membuat Devan tidak bisa menahan tangisnya.

__ADS_1


Menunduk sejenak lalu mencengkeram bajunya kasar. Mengguncangkan tubuh yang masih langsing dan bagus itu sekuat mungkin.


"SADARLAH, DAN JELASKAN! KENAPA KAU LAKUKAN ITU PADA KELUARGAKU...!!!" Teriak Devano di hadapannya, membuat wanita itu terdiam.


Sepertinya kesadarannya mulai kembali, ia melihat kembali itu Devano bukanlah Harison.


"Kau tahu aku mencintaimu, sebagaimana seorang anak mencintai ibunya...!! KENAPA KAU LAKUKAN INI. KENAPA?!"


"Karlina– aku membencinya!" Senyum sinis itu mengembang di bibirnya. Membuat Devano terdiam, seraya melepaskan genggamannya.


"Apa salah, ibuku?"


"Karena Dia terlalu banyak memiliki kebahagiaan, sementara aku tidak. Tapi aku puas, ketika melihatnya kesakitan selama berminggu-minggu, setelah menenggak racunku."


"Bukankah Dia berteman baik denganmu?"


Liliana menggeleng, "teman macam apa? Yang menerima perjodohan dengan laki-laki yang Dia sendiri tahu aku mencintainya. Dia bukan temanku–" kembali tertawa kemudian.


Devan kembali mencengkeram kuat bajunya, "lalu kenapa kau membunuh ayahku juga?"


"Apa ya?" Lili tertawa lagi, setelah itu berbisik dengan sedikit menaikan kedua bola matanya. "Dia tidak berguna sih, lebih berguna hartanya. Hahahaha."


"Bedebah...!!!" Devan mengangkat satu tangannya hendak menampar pipi Liliana.


"Tamparlah– tamparlah sepuasmu. ya... aku ini ibu yang amat kau cintai. Tanganmu tidak akan mampu menempel dengan kasar di pipi Mamih mu ini."


Devan hanya menghela nafas kesal, seraya kembali menurunkan tangan.


"Benarkan kataku, kau itu anak laki-laki yang bodoh dan tidak berguna. Hidupmu sangat lemah, dan mudah untuk dibodohi."


"TUTUP MULUTMU...!!!" Devan mendorongnya hingga tubuh Liliana tersungkur. Wanita yang sudah sedikit tidak waras itu kembali tertawa keras.


"Kekal saja kau disini, dan membusuklah." Devan beranjak lalu melenggang pergi. Berhenti sejenak di depan pintu jeruji, menoleh kebelakang melihat wanita itu masih pada posisi yang sama memiringkan tubuhnya sembari meringkuk. Sementara tawanya yang mengerikan pun masih terdengar.

__ADS_1


Devan menyeka kasar air matanya, ia segera berlalu dari sana membiarkan petugas polisi kembali menggembok jeruji besi tersebut.


__ADS_2