I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
tidak di sangka


__ADS_3

Seorang gadis yang tengah memegangi payung di depan sebuah butik, langsung menghentikan langkahnya, tatkala melihat sesuatu yang membuatnya membeku. Ia menoleh tidak percaya, setelah sekilas melirik lalu kembali memastikan bahwa ia tidak salah lihat.


Gadis itu tercenung, kemudian mengusap wajahnya yang basah akibat terciprat air hujan, walaupun dengan payung yang menaungi tubuhnya. Tapi tetap saja, angin yang berhembus cukup kencang membuat air tetap membasahi wajah seorang gadis yang tengah menatap lurus ke depan, dengan sendu.


Kak Anwar dan?


Reni?


Mata Kuni, sedikit mengembun. Ketika melihat dua orang yang ia kenal tengah berbincang mesra bersama di dalam butik tersebut.


Lebih fokus pandangannya terarah pada tangan yang melingkar di lengan pria yang ia kenal.


kaki Kunia lemas, terseret dua langkah maju lagi. Bahkan payung yang berada di tangannya pun terjatuh tatkala melihat pria yang ia cintai mengecup pucuk kepala Renita, dengan gemas. Kunia mengerjap, yang bersamaan dengan itu, air mata di salah satu kelopak matanya terjatuh ia menunduk karena sepertinya Reni melihatnya.


Di dalam...


"Kuni?" Reni menunjuk ke depan. Sementara Anwar langsung menoleh, matanya sedikit melebar saat menangkap Kunia yang masih berdiri menatap mereka, dengan tubuh sedikit basah.


Reni menyunggingkan senyum, ia lantas menarik tangan Anwar pelan untuk mengajaknya keluar.


Kini mereka berdiri berhadapan... Dimana Kuni yang hanya diam saja, mencoba untuk tersenyum.


"Kuni, tidak ku sangka kita bertemu disinu, kau dari mana?" Tanya Reni tanpa rasa takut apalagi rasa bersalah.


"Aku, habis?" Kata-katanya menggantung, ia tidak ingin berkata jujur jika ia habis membeli sebuah Tablet untuk Anwar. "Dari tempat servis di ujung gang sana."


Kuni menunjuk dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegangi paper bag. Pandangannya masih tertuju pada Anwar.


"Owh...?" Tersenyum lebar, dengan tangan masih melingkar di lengan Anwar.


"Kalian, sedang apa?"


"Fitting baju," jawab Reni blak-blakan, dia sepertinya amatlah percaya diri dengan cara menganggap bahwa apa yang dia lakukan bukanlah sebuah kesalahan. Lain halnya dengan Anwar yang nampak pias, tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Bibir Kunia mendadak kaku.


"Fitting ... baju?" Suaranya serak, kembali bulir bening itu terjatuh yang segera di hapusnya sendiri. "Ba–baju apa?"


"Baju pengantin– untukku dan Kekasihku." Reni semakin memperkuat pegangan tangannya. "Kuni, tidak apa kan aku dengan Kak Anwar? Kalian kan sudah putus."


"Putus?" Bertanya dengan suara lirih bahkan hampir tak terdengar akibat menahan sesaknya, tatapan matanya sama sekali tak terlepas dari wajah pria yang semakin salah tingkah di sebelah Reni. "Kapan? Kapan kita putus, Kak?"


"Setahun lalu, beberapa bulan yang lalu, bahkan satu bulan sebelum ini, sudah tak terhitung berapa kali aku mengatakan kata putus padamu." jawab Anwar tiba-tiba. Kuni pun tercengang. "Karena sebenarnya, dalam satu tahun terakhir ini pun, aku sudah tidak pernah menganggap mu kekasih ku. Itu kenapa, tak hanya sekali, dua kali aku meminta agar hubungan kita berakhir, tapi kau tetap tidak mau. Jadi malam ini, kita benar-benar resmi berpisah. Karena secepatnya aku akan menikahi Renita."


Deg...! Kuni menatap nanar pria di hadapannya. Seolah semuanya berputar dalam pikirannya.


Teganya Dia melakukan ini, setelah semua yang kuberikan padanya?


Renita menoleh kearah Anwar, dengan sedikit mendongak manja. "Sayang, kita kan pacaran sudah lama. Berarti, saat kamu bilang sudah putus itu? Tidak benar-benar putus ya?"


"Bukan begitu, aku sebenarnya sudah tidak ingin bersamanya. Tapi dia yang selalu mengejar ku, dan selalu menangis jika aku mengatakan putus. Jadi mau bagaimana lagi?"


Kunia mendesah, ia terkekeh sesak seraya geleng-geleng kepala.


Gadis itu menatap tajam kearah Anwar, dengan air mata yang berderai-derai namun bibirnya menebar senyum.


"Bagus deh kalau kalian jadian apalagi mau menikah. Woaaahhh... Selamat ya." Kuni mengacungkan kedua ibu jarinya lantas mengusap air matanya.


"Kuni, kau tidak marah kan?"


"Kenapa aku harus marah, kau benar-benar Sahabat baik ku. Teman curhat yang malah? Hahaha... Astaga, sungguh aku salut pada mu Reni, pilihan bagus kau mau dengannya, kalian cocok." Kuni masih terkekeh geli.


"Ren, ini sudah terlalu lama. Kita masuk yuk, dingin juga di sini." Anwar mulai merasa tidak nyaman.


"Iya, sayang sebentar ya." Ia berjalan keluar dari payung yang sedang di pegang Anwar lalu meraih payung milik Kuni yang terjatuh, memayungi tubuh Kuni yang sudah terlanjur basah kuyup. "Pegang ini, kau kan mudah sakit. Nanti Bibi Sukaesih marah pada mu."


Kunia menatap penuh kekecewaan, namun ia masih berusaha tenang dan meraih dengan perlahan payung di tangan Renita.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum tanpa rasa malu setelah merebut kekasih sahabatnya sendiri.


Sekarang, payung yang ia serahkan sudah di terima Kunia. Ia lantas berjalan cepat kembali mendekati Anwar.


"Kami masuk dulu ya, kamu hati-hati pulangnya. Nanti ku ceritakan semuanya pada mu, hal indah yang ku lakukan bersama Kak Anwar. Bye Kunia..." Kedua sejoli tidak tahu diri itu pun kembali masuk ke dalam butik.


Di dalam terlihat Keduanya tertawa, dimana Anwar yang langsung mengeluarkan saputangan dari sakunya. Mengusap wajah serta rambut Reni yang sedikit basah.


Kuni yang melihat itu mendesah sinis, dengan salah satu tangan terkepal erat.


"Sungguh muaknya... Saat melihat mu melakukan itu pada Reni. Sedangkan bersama ku? Melihat aku tidak sengaja terjatuh, akibat terpeleset di salah satu jalan saja, boro-boro kau menolong ku. Yang ada kau pura-pura tidak kenal...! Dasar benalu BRENGSEK!" umpat Kunia yang geram, ia pun putar badan dan pergi dari sana dengan perasaan yang tak karuan.


–––


Di salah satu gerbong kereta yang lumayan lengang. Kunia duduk dengan lemas, bajunya yang basah membuatnya sedikit menggigil. Berkali-kali ia mengusap lembut kedua pipinya secara bergantian.


Kepalanya tertunduk, sembari memeluk paper bagnya.


kita putus saja (Anwar)


Kau yakin ingin tahu, siapa kekasih ku? (Reni)


Kuni mengingat dua ucapan itu dari mereka berdua. Lalu mulai mengingat semua hal yang menurutnya agak nyambung dengan hal yang di lakukan Reni akhir-akhir ini.


Aku ingin pinjam uang? Aku ada rapat penting, dan aku malah justru tidak membawa cash. Sementara ATM yang ku bawa malah yang tidak ada isinya. (Anwar)


Akan akan jalan dengan kekasihku. (Reni)


Lalu ia mengingat bungkus kue di rumah Reni.


Ibuku sangat suka croissant, tapi aku tidak bawa dompet bagaimana, ya? (Anwar)


Kue ini, kekasihku yang memberikan. (Reni)

__ADS_1


Kunia menyandarkan kepalanya, sembari mendesah. Lalu membentur-benturkan pelan ke kaca gerbong, setelah rentetan hal yang menurutnya masuk apabila di cocokan.


"Bodoh– sungguh kau bodoh sekali, Kuni. Pantas saja dia semakin sering meminjam uang? Rupanya, untuk menyenangkan hati wanita lain." Kunia kembali tertunduk lesu, sangat ingin dia terisak namun sebaiknya ia tahan karena ini adalah tempat umum.


__ADS_2