I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
sepenggal kisah masa lalu


__ADS_3

#flashback is on


Berpuluh tahun yang lalu...


Liliana yang tengah belajar untuk studinya menyambut kedatangan Karlina yang nampak gugup memasuki kamarnya.


Namun ada pancaran lain yang nampak, ia seperti lebih antusias saja.


Wanita dengan rambut keriting sepunggung, beserta kacamata tebalnya tersenyum. Ia mematikan sejenak komputer di hadapannya.


"Kau datang, tidak mengabari ku lebih dulu."


"Ya, hanya ingin mengabari sesuatu." Senyumnya mengembang indah di bibir manisnya.


"Apa?" Liliana tidak sabar ingin mendengarkan. Ia langsung menggandeng tangan sahabatnya itu membawanya duduk di atas ranjang. "Ayo katakan."


"Hehehe, hanya sebuah perjodohan konyol. Namun aku menyukainya."


"Apa, serius?"


"Ya serius."


"Kyaaaaaa, Linaaaa." Jerit manja Liliana yang merasa senang sekaligus tidak sabar. Menunggu, siapa nama laki-laki yang akan menjadi calon temannya itu.


"Tapi aku tidak menikah secepat ini. Aku harus menyelesaikan studi S1 ku lalu S2 juga."


Lili manggut-manggut. Bersemangat. Memang masih lama sih, Dia saja masih semester satu.


"Kau tahu Lili, aku tidak menyangka pria yang ku harapkan selama ini malah justru yang memilihku jadi calonnya."


"Wah ... aku jadi penasaran. Memang dari keluarga mana?"


Karlina tak menjawab, ia hanya diam saja sembari senyum-senyum.


"Hei–Kasih tahu aku." Lili menggerak-gerakkan kedua tangan Karlina penuh semangat.


"Masih rahasia ... tebak dulu kira-kira siapa?"


"Uuummm ... sebentar, biar ku tebak?"


Karlina tertawa, melihat tingkah Lili yang sedang mengetuk-ketuk dagunya dengan jari telunjuk. Namun tak lama pandangannya bergeser, menangkap sebuah potret pria yang ia kenal.


"Lili, itu kan?"


Liliana yang menoleh langsung kearah yang di tunjuk Karlina langsung menutup mulutnya, ia lantas berlari kecil menelungkupkan bingkai foto tersebut.


"jangan dilihat. Aku malu–"


Karlina nampak tercenung sejenak, masih menunjuk kearah bingkai foto yang sudah di telungkupkan oleh Lili.


"Itu benar foto sang Pewaris tunggal keluarga Atala, kan?"


"A–anu..."

__ADS_1


Apakah, Liliana menyukai Hari?


Ia mencoba untuk mengulas senyumnya, menepis sejenak semua dugaan yang ada di kepalanya.


"Kau menyukai pria yang masih menjabat sebagai CEO di perusahaan tersebut?" Tebak Karlina hati-hati.


Liliana tersipu, ia menunduk sembari mengatup bibirnya rapat. Mengangguk malu-malu.


Deg...


Senyum jahil Karlina meredup ... padahal ia hanya mau bercerita tentang dirinya yang akan di jodohkan dengan Hari.


Pria yang memang sudah terlihat keseriusannya mendekatinya selama ini. Namun siapa di sangka Liliana juga rupanya menyukainya.


"Lina, kau tahu? Aku kagum dengan kecerdasannya. Sejak Dia mengadakan seminar di SMA milik keluarga Atala. Dia nampak berwibawa sekali."


Begitu ya, bagaimana ini. Aku sudah terlanjur menerima perjodohan ini.


Karlina tersenyum kecut. Ia merasa bersalah sekali saat melihat Liliana dengan semangatnya bercerita tentang Hari dan Hari, bahkan ada keinginan untuknya merubah total penampilannya yang cupu itu.


Hingga beberapa bulan setelahnya...


Gadis itu datang dengan matanya yang sembab, menghampiri Karlina di kelasnya.


Langit senja membuat ruangan itu nampak sedikit gelap dan senyap. Mereka berdiri berhadapan dengan perasaan yang berbeda.


"Lili?" Ia melihat gadis itu seperti kacau sekali. Membuat Karlina merasa bingung.


"Kenapa harus kau membohongiku?"


"Kau jahat, Lina. Mendengarkan segala ceritaku namun kau malah mau menikah dengan laki-laki yang ku kagumi."


"Lili, aku bisa menjelaskannya. Aku pun sempat menolak perjodohan ini. Tapi, Hari?"


Lili menarik separuh bibirnya, tersenyum sinis. "Selamat untukmu."


"Lili, aku akan berbicara lagi dengan orangtuaku."


"Tidak perlu. Dia lebih cocok denganmu yang memang sudah berasal dari keluarga terpandang. Sementara aku? Hanya gadis yatim-piatu yang hanya bisa bertahan hidup di bawah belas-kasih orang tuamu."


"Tidak seperti itu, Lili."


"Kita berakhir...! Jangan temui aku lagi. Kau bukan temanku." Lili melepaskan kalung persahabatan mereka, setelah itu melemparkannya ke arah Lina.


"Lili, tolong jangan seperti ini." Lina berusaha keras untuk menahan sahabatnya. Namun gadis itu sudah memilih untuk putar haluan, lantas melenggang pergi meninggalkan Lina di ruangan kelas itu. "LILIANA–"


Lili yang sudah tidak ingin mendengarkan ucapan sahabatnya itu memilih untuk semakin berlari, menjauh dari kejaran Lina yang turut berlari di belakangnya.


Aku membencimu ... aku membencimu Lina.


–––


Di sebuah club malam...

__ADS_1


beberapa pria berkumpul di satu meja, tengah mengadakan party kecil-kecilan.


"Erik ... hebatnya, diam-diam jabatan mu kini sudah naik saja, ya." Puji salah seorang teman. Sementara Erik hanya tersenyum tipis.


"Aku yakin sih, kau akan mudah menjadi Sekertaris pribadi seperti mendiang ayah mu."


"Aku tidak ingin se-ambisi itu. Ada pada posisi ini pun sudah baik," jawab Erik sembari menadahkan gelas kecil yang sedang di tuangkan minuman beralkohol oleh temannya.


"Sok merendah sekali kau– sudahlah minum saja yang banyak. Hahaha." Terkekeh, mereka pun menikmati minumannya.


Dimana Erik langsung menenggaknya dalam sekali tegukan. Ia menoleh kearah lain, mendapati seorang wanita muda tengah duduk sendirian dengan posisi sudah mabuk berat.


Wanita itu siapa ya, kok seperti tidak asing?


Jelas Erik tidak asing karena ia pernah melihat gadis itu beberapa kali di ruang praktek seorang dokter.


Gadis kecil yang pendiam dan keriting.


Karena penasaran, ia pun meletakkan gelasnya lalu mendekati gadis itu. Mencoba untuk berbicara, walaupun Liliana menjawab ngaco karena mabuk tak membuat Erik lantas meninggalkan gadis itu.


senyum tipisnya menandakan ia tertarik dan menikmati obrolan yang terkadang tidak nyambung ini.


Setelah mengobrol selama kurang lebih satu jam, ia pun memutuskan untuk mengantarkan gadis itu.


Membawanya kesebuah hunian yang tak bisa di sebut sederhana namun tak terlalu mewah juga.


Lilia yang masih sedikit sadar menarik jaket yang dikenakannya.


"Kenapa buru-buru, disini saja. Bersamaku."


Seperti seekor kucing yang di berikan ikan, Erik yang juga sedikit terpengaruh alkohol pun menuruti.


Ia menurunkan wajahnya, mendekati bibir sang gadis muda yang amat menggodanya.


hingga membuat mereka tanpa sadar melakukan hubungan terlarang itu.


Sebuah bencana besar pun harus di alami Liliana, karena hubungan satu malamnya dengan Erik. Membuatnya harus hamil di luar nikah.


Saat itulah, Erik bertekad untuk bertanggung jawab dan menikahinya diam-diam sesuai kemauan Liliana.


Hingga terlahir lah Zaeni kedunia.


Namun, bukan berarti menikah menjadi akhir dari kisahnya. Liliana tetap menuntut banyak hal, termasuk keinginannya melakukan operasi plastik di negara gingseng.


Hingga pertemuannya lagi dengan Karlina, di saat wanita itu sedang mengandung putera dari Harison.


Ia bercerita jika selama ini Dirinya bukanlah menghilang, namun hanya sedang menempuh pendidikan di negeri ginseng.


Dan di situlah kelicikan Lili di mulai, ia hanya ingin balas dendam saja karena menganggap semuanya itu gara-gara Karlina. Hidupnya jadi tidak baik, ia bahkan harus menikah dengan laki-laki yang tak pernah ia cintai sepanjang pernikahan diam-diamnya itu.


Walaupun laki-laki itu sudah seperti hewan peliharaan yang menurut saja, apapun kehendaknya.


Namun ia tak memandang itu sebagai cinta, melainkan sebuah kebodohan. Sebab dalam hatinya ia tetap menginginkan Hari, hingga sebuah rencana jahat pun ia rancang sedemikian rupa.

__ADS_1


Barulah, ia bisa berhasil masuk kerumah itu dengan status sebagai isteri dari Harison Atala.


#flashback is off


__ADS_2