I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
sebuah ujung persimpangan


__ADS_3

Kunia memang pergi sedari siang. Dan ketika langit sudah gelap ia baru saja tiba di rumah.


Namun beruntung, ia tak mendapatkan ocehan dari sang ibu karena pulang telat.


Ya... Bu Sukaesih dan Pak Gayus kini tengah berkunjung ke rumah salah satu kerabat mereka, mungkin akan pulang larut malam.


––


Di dalam kamar.


Gadis itu melemparkan pelan paper bag ke atas ranjang lalu duduk di atas kursi, melepaskan jaket yang masih basah dengan lunglai, setelahnya menghela nafas sembari memutar sedikit tubuhnya.


Pandangannya sendu terarah kepada sebuah kalender lipat di atas meja. Ada sebuah lingkaran merah yang tebal di salah satu angkanya.


Tangan Kunia terangkat, meraihnya pelan. Bersamaan dengan itu, bulir-bulir bening pun menetes bersama dari kedua netranya.


Waktu yang tidak singkat bagiku. Namun rupanya, kita telah sampai pada sebuah ujung persimpangan. Dimana rumus kebahagiaan yang sudah ku susun kini menjadi absurd. Tak bisa ku duga, kau yang memilih persimpangan yang berbeda. Dan mengakhiri semuanya.


Tes... Tes...


Tetesan air mata, berjatuhan di angka-angka itu. Kedua tangannya melemas, sehingga menjatuhkan kalender itu ke lantai. Kuni terisak lagi, ia menekuk kedua lututnya lantas memeluk kemudian.


"Hiks... Kak Anwar, aku tidak bisa seperti ini. Aku tidak bisa Kak..." Gadis itu semakin tersedu-sedu. Bukan kesalahan Anwar yang berputar-putar di otaknya, melainkan mencari-cari? Di mana letak kesalahannya sendiri. Sehingga Anwar lebih memilih Renita.


Tidak salah bukan?

__ADS_1


Ketika seseorang telah berhasil menanamkan sebuah rasa cinta di dalam hati seseorang selama bertahun-tahun, tidaklah semudah itu pula di cabut layaknya tanaman yang masih baru. Akar-akar cinta itu sudah menjalar semakin dalam dan erat di hati.


Ya... mungkin banyak manusia yang memandang itu adalah sebuah kebodohan untuk si pelaku percintaan yang di rasa toxic. Namun, lain halnya dengan si pelaku. Sesuatu yang menyakitinya tidak lah lebih besar dari rasa cintanya.


Hingga si pemilik hati itu harus menerima, segala konsekwensinya dalam bercinta. Yang tidak akan selamanya mulus, walaupun harus berkali-kali terlempar dan di banting dengan kasarnya. Ia tetap bisa memaafkan, begitulah cinta, dengan segala kebutaannya.


Beberapa menit kemudian, tangisnya sudah sedikit mereda. Kini Dia sudah merubah posisinya. Yang tengah merebahkan kepala di atas meja, menatap ke arah ponsel yang ia sandarkan di sebelah vas bunga dengan posisi berdiri.


Menatap layar yang menyala itu, di sebuah aplikasi chat. Dimana air matanya masih berlinang. sebab, secepat itu nomor Kunia di blokir oleh Anwar. Sesekali Dia mengusap air matanya sendiri yang tak henti-hentinya mengalir tanpa tahu cara untuk menghentikannya.


"Aku masih butuh kepastian, aku masih butuh jawaban pasti. Dimana letak kesalahan ku?"


Ia pun memilih untuk beranjak saja dari posisinya, meranggai handuk lalu berjalan memasuki kamar mandi untuk bebersih dan mengganti pakaian.


Setelah itu berjalan keluar menuju salah satu toserba yang berada di luar gang.


Hujan yang sudah berhenti, meninggalkan jejak becek di jalan beraspal.


Kota Jakarta memang tidak pernah tidur dari segala hiruk-pikuknya. Walaupun ini adalah malam Senin, namun mereka para muda-mudi masih asik berkeluyuran di luar. Bersenda gurau dengan pasangan masing-masing di kursi-kursi yang di sediakan oleh pihak toserba, tanpa peduli waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit.


Kunia memasuki toserba tersebut, memilih beberapa mie instan dalam cup. Dengan varian ayam pedas, milik salah satu brand ternama asal Korea Selatan.


Berjalan lagi menuju rak para keju. Ia meraih satu keju slice jenis cedar dan mozarella yang dipadukan, tak lupa Nori keringnya juga. ia pun berjalan lagi hingga ke deretan lemari pendingin, meraih tiga kaleng minuman rasa buah persik serta tiga sosis jumbo. Dan setelah semua yang ia inginkan sudah di ambil, kini tinggal membawanya menuju kasir untuk di bayar.


Pip... Pip... Pip...

__ADS_1


"Totalnya, jadi seratus dua puluh sembilan ribu lima ratus. Kak," ucap sang kasir setelah semua belanjaan Kunia masuk ke dalam kantong keresek. Kunia pun menyerahkan uang senilai seratus lima puluh ribu rupiah. Dimana sang kasir langsung mengetik sesuatu meraih kembalian serta kertas struknya. "Ini, kak. Terimakasih sudah berbelanja."


Gadis itu tak menjawabnya selain meraih kantong keresek berisi belanjaan dan membawanya keluar.


Setelah melangkah cukup jauh, ia kini sudah berada hampir dekat dengan rumahnya.


Namun seketika berhenti, saat melihat mobil Anwar di depan rumah Reni. Tapi bukan itu yang membuatnya mematung, melainkan bayangan dua sejoli itu yang terlihat dari jarak Kunia berdiri. Tengah menyatukan bibir mereka di dalam mobil.


Gadis itu menggigit ujung bibirnya sendiri, sementara satu tangannya meremas baju di bagian dada. Haruskah mereka berbuat seperti itu di depan rumah?


Sementara rumah Kunia berhadapan dengan rumah Reni. Kunia kembali menitikkan air matanya. Hatinya benar-benar sakit menyaksikan secara live kemesraan keduanya.


Hingga Reni keluar dari mobil itu, pun menangkap Kunia yang masih berdiri di belakang mobil Anwar berjarak lima meter.


"Oh... Kunia?" Gadis itu tersenyum sembari melambaikan tangannya. Seolah tidak ada masalah dengan apa yang ia lakukan terhadap gadis yang masih membeku di tempatnya.


Kuni pun melanjutkan langkahnya, ia hanya melewati mobil Anwar dan masuk kedalam rumahnya sendiri tanpa bersuara apapun.


"Hemmm, aku lega ketika dia sudah tahu semuanya. Jadi kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi." Reni tersenyum pada Anwar.


"Iya... Aku pun begitu. Masuklah, sudah malam. Sampai ketemu besok sayang."


"Iya, untuk mu hati-hati di jalan. Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu. my sweetie, muaaahh..." balas Anwar.

__ADS_1


Reni pun tersenyum, lalu menutup pintu mobilnya. Setelah itu masuk ke dalam rumah, sementara Anwar langsung membawa laju mobilnya.


"Cih...! my sweetie?" gusar, Kunia yang masih berdiri di balik pagar pun mengepalkan tangannya, ia mengusap air matanya dengan kasar lalu kembali melangkahkan kakinya masuk.


__ADS_2