I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
tertangkapnya sang Durjana


__ADS_3

Di tempat lain...


Kunia memilih untuk mengikuti petunjuk dari pesan chat misterius. Gedung yang nampak lebih kumuh,


Bahkan, lebih pantas di sebut Rusun. Bukanlah sebuah apartemen.


Ia melangkah pelan, menghitung nomor-nomor yang tertempel di samping pintu.


Kamar nomor 17... 17... 17... (Kunia)


Menyusuri di antara pintu-pintu tersebut. Dari sekian banyaknya, ia kembali menyadari jika lantai ini amatlah sepi. Seperti tidak di huni?


Lantai ubin yang kotor, serta beberapa pintu yang terbuka... seolah membenarkan bahwa lantai ini memanglah kosong.


Lima belas... Enam belas?


Kunia berhenti sejenak, setelah sampai di pintu paling ujung.


Sepertinya sepi. Benarkah Omah di sini?


Kunia mencoba menempelkan telinganya pelan ke daun pintu, yang sama sekali tak terdengar suara apapun dari dalam.


Hingga sebuah tangan pun menyentuh bahunya membuat dia terperanjat, kaget.


Sarah menempelkan jari telunjuknya di bibir, Ketika Kunia hendak menjerit.


Tentunya ia datang tak sendirian. Melainkan dengan tiga orang aparat kepolisian.


Kunia menghela nafas. "Ku pikir, siapa?" Bisiknya kemudian.


"Aku melihat mu pergi dari gedung J, lantas kesini. Bukankah seharusnya kita ada di sana?"


Kunia menggeleng, ia pun mengeluarkan ponselnya. Lalu menunjukkan pesan chat misterius tadi.


"Aku mendapatkan ini, dan feeling ku mengajakku untuk tetap mengikuti petunjuk dari pesan chat ini."


"Kalau begitu biar kami yang mencoba mengetuknya," tutur salah satu polisi tersebut, membuat Kunia menepi.


Tok... Tok... Tok...


"Permisi, adakah orang di dalam?" Seru polisi A. Sementara di dalam tidak ada sahutan, Beliau lantas mengetuk lagi.


"Tidak ada jawaban, Nona."


"Bisa tolong dobrak saja?" Kunia mengusulkan.


Polisi A pun mengangguk, ia memerintahkan si B untuk mendobraknya.


BRAAAAAKKK...


Kunia lantas masuk lebih dulu berjalan lebih kedalam, lalu ia mendengar seperti suara air yang mengalir di dalam bilik kamar mandi.

__ADS_1


Ia berlari cepat, mencoba membuka pintu kamar mandi tersebut.


"Terkunci."


"Biar saya dobrak, Nona."


"Hati-hati pak." Kunia khawatir benar-benar ada orang di dalamnya.


Hitungan satu sampai tiga pun di serukan, polisi B kembali mendobraknya.


Braaaakkkk...


"Di dalam ada orang–" seru polisi B yang langsung melihat seorang wanita Tua sedang duduk di lantai, di sebelah ember yang terisi air.


"Ya Tuhan–" Kunia melepaskan jaketnya, ia menutupi tubuh wanita yang nampak lemas dan menggigil. Kunia merengkuhnya, memeluk tubuh yang mulai mengalami hipotermia. "Ya Tuhan, Omah..."


walaupun ia tak pernah sekalipun tahu seperti apa Omah Brianna, dan hanya melihat sekilas-sekilas dari fotonya dulu. rupanya tak menyulitkan Kunia untuk mengenali wanita tua.itu.


Mata sepuhnya nampak sayu, dan perlahan-lahan mulai tertutup. Ia tak sadarkan diri di pelukan Kunia.


🍂


🍂


🍂


Kembali ke kantor Diamond's...


Liliana masih mengarahkan senjata itu ke arah Devan, sementara Andre masih mencoba untuk memasang badan.


"Tidak Tuan. Saya tidak akan membiarkan peluru itu mengenai, Anda."


"Andre– ku bilang menyingkir saja. Ini perintah."


Andre dengan ragu, pun sempat terdiam. Namun tangan Devan sudah menyentuh pundaknya, meminta ia untuk menjauh.


Dan dengan berat hati, Andre bergeser dua langkah dari posisinya tadi.


Tangan Liliana gemetar, tergantung sesaat.


Seruan seorang polisi yang sedari tadi turut mengarahkan senjata sebagai peringatan pun tak di gubrisnya.


Nanar, Devan terus membalas tatapan itu.


Membuat Liliana tak kunjung menekan pelatuknya.


Nampaknya Dia seperti tengah berpikir mempertimbangkan sesuatu. Hanya saja... sudah kepalang basah menodongkan senjata, tidak mungkin ia menurunkan lagi.


Sementara tatapan Devano sama sekali tak menunjukkan rasa takut.


Apa yang tengah ku lakukan... bukan seperti ini seharusnya. Aku terlalu takut dengan serangan dadakan dari Devano, sementara Sekertaris bodoh itu sudah tidak lagi membantu ku.

__ADS_1


Tapi aku tidak mau masuk penjara. Reputasi ku akan hancur, dan semua yang sudah ku dapatkan pun akan terlepas begitu saja. (Liliana)


"Lili, tolong hentikan ini. Turunkan senjata mu." Erik mencoba menenangkan, namun malah justru membuat Liliana naik pitam.


"DIAM KAU PENGKHIANAT!!!" Lili membelokkan senjatanya, mengarah pada Sekertaris Erik. "Ini pasti kau, kan? KAU YANG TELAH MENGHANCURKAN SEMUANYA!!!"


Kraaakk... Liliana menekan pelatuknya. Memutuskan untuk menembak mati Sekertaris yang menurutnya sudah tidak berguna lagi.


DOOOOORRRRR......!!!


Mata Sekertaris Erik terpejam. Tak selang beberapa lama, Lili mengerang kesakitan. Rupanya polisi sudah menembakan peluru ketangannya lebih dulu. Hingga senjata itu terhempas ke lantai.


"Lili–" Sekertaris Erik bergegas mendekati, seraya melepaskan dasinya. Mengikat pergelangan tangan Liliana yang mengeluarkan banyak darah segar.


Mata Devan pun sedikit melebar, kakinya hendak maju juga, menolong wanita yang selama ini ia jadikan cinta pertamanya dalam hidup. Namun tidak jadi, tatkala mengingat perbuatan keji-nya. Tidaklah pantas untuk ia kasihani lagi.


"LEPASKAN AKU... LEPAAAAAS!!!" Salah satu petugas kepolisian memegangi kedua tangannya, mengikat kebelakang.


Mamih...


Gumamannya dalam hati, seolah menampik jika wanita itu tidak pernah sedikitpun menanamkan kebahagiaan untuknya di masalalu.


Bagaimanapun juga, Lili pernah menjadi wanita yang membuatnya merasakan bahagia sebagai seorang anak di keluarga Atala.


Tidurlah sayang– putra terbaikku. Sang raja akan terlelap, sebelum terjaga untuk meniti waktu di hari yang baru.


Senandung lirih Liliana yang selalu ia berikan sebagai lagu Nina Bobo dirinya saat masih kecil tiba-tiba terngiang-ngiang. Menari-nari indah di atas kepalanya. Membuat sesak seolah menyeruak di dalam relung hatinya.


Kenapa harus seperti ini... Kenapa harus kenyataan ini yang ku terima darimu, Mamih? (Devan)


Berbarengan dengan suara teriakan Liliana yang tetap tidak mau keluar dari ruangan itu. Membuat Dev menyentuh dadanya.


Ia pun langsung memalingkan wajah, ketika tatapan Liliana tertuju padanya sembari menitikkan air mata.


Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus kau membuatku melakukan ini. –Tubuhnya terhuyung, ia tiba-tiba pusing. Bu Asmia pun langsung memegangi lengannya.


"Tuan Muda, Anda tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa." Devan melepaskan tangannya, berjalan beberapa langkah untuk menjauh sembari menyeka air matanya.


Sepertinya Bu Asmia paham, perasaan anak asuhnya itu.


Mamih...


lagi Devan bergumam dalam hati. Ia benar-benar tidak bisa mendengarkan suara itu.


Ya... suara Liliana masih memanggil-manggil namanya. Hingga membuat mata Devan terpejam.


Jiwa kemanusiaannya, membuat Dia tidak tega ketika melihat wanita itu di seret keluar.


Sempat berpikir juga, andai saja Mamih Liliana tidak melakukan semua kejahatan itu, ia mungkin akan tetap menerimanya dan menganggap beliau sebagai ibu kandung. Seperti apa yang ia kira kan selama ini.

__ADS_1


Namun perbuatan yang tidak bisa di tolerir lagi, membuatnya harus tega memenjarakannya langsung.


Bersamaan dengan Sekertaris Erik yang turut mendapatkan borgol di kedua tangannya. Setelah beliau menyodorkan dua lengannya itu, sebagai tanda Dia benar-benar menyerahkan diri.


__ADS_2