
Pintu ruangan ICU di ketuk dua kali.
"Permisi Dok." Seorang perawat masuk, seraya membawa hasil dari sampel darah yang di berikan dokter Zaeni tadi.
"Bagaimana?" Tanya beliau yang tengah memeriksa kondisi, Delia.
"Hasilnya cocok, Dok," jawabnya.
Senyum Zaeni mengembang, matanya pun nampak berbinar. Ia benar-benar bersyukur, rasanya ingin segera menghampiri Kunia saat ini juga.
"Terimakasih, kau boleh kembali."
"Iya, Dok." Perawat tersebut membungkuk sopan, sebelum keluar.
"Kau sudah menemukannya?" Tanya Erik. Zaeni menoleh dengan senyum masih mengembang, kemudian mengangguk.
"Benarkah?"
Mengangguk sekali lagi. "Iya yah..."
"Ya Tuhan, syukurlah. Siapa– siapa orang itu?"
Zaini belum mau menjawab, ia hanya menyentuh lengan sang Ayah. "Nanti, akan Zaeni beritahu. Sekarang, aku harus menghampirinya lebih dulu, untuk pengambilan dua kantung darahnya."
Erik mengangguk. "Lakukanlah, jika Delia benar-benar bisa selamat. Aku akan berterimakasih sekali kepadanya."
"Iya Yah." Zaeni tak membuang-buang waktu, bergegas ia keluar dari ruangan ICU tersebut. Untuk kembali ke ruangannya.
***
Kembali ke ruangan kerja dokter Zaeni...
Kunia tengah asik bermain game online di ponselnya, mabar dengan Gentar dari jarak jauh. Dengan toples di pelukannya, berisikan camilan yang selalu tersanding di meja tamu.
Krauuus... Krauuus... Suara kunyahan keripik kentang yang terdengar renyah, di tabah dengan bumbunya yang amat gurih. Membuat Kunia tidak bisa berhenti, bahkan tanpa sadar ia sudah menghabiskan lebih dari separuh isinya.
"Dasar– aku tahu senjata rahasiamu Gentar," gumamnya asik, sembari terkekeh, ia mulai memasang bom di beberapa titik. "Bersiaplah untuk ku runtuhkan kerajaan mu."
Duaaaar... Duaaaar... Riuh suara dari ponselnya membuat Kunia tertawa. Ia benar-benar puas sekali.
"Tunggu beberapa saat, pasti anak itu akan menelfon ku untuk protes." Tebakannya tepat, ponselnya lantas berdering. Kunia tertawa lebih lepas lagi, namun ia belum mau menerima panggilan telepon tersebut saking puasnya menertawakan kemarahan Gentar.
Cklaaak...
__ADS_1
"Aay... Astaga!" Kunia terperanjat. "Ma... Mas Zaeni?"
Ia melihat ruangannya sedikit berantakan. Padahal baru di tinggal beberapa menit.
"Kau bersenang-senang ya? Padahal aku sempat khawatir." Zaeni memandang aneh ke arah Kunia. Walaupun bibirnya tersungging.
"Ma– maaf. Tadi aku keasikan main, aku juga mencicipi sedikit ini." Kunia mengangkat toples dalam pelukannya sedikit tinggi. "Astaga..."
Ya Tuhan, tadi penuh. Sekarang tinggal segini?
Zaeni meraih toples dari tangan Kunia. Memutar-mutar sedikit.
"Kau suka sekali ngemil ya? Toples itu baru di isi pagi ini loh, kalau tidak salah. Sekarang sudah hampir habis." Ledeknya kemudian, sembari terkekeh.
"Ya ampun... Maafkan saya, Mas. Saya tidak sengaja menghabiskannya."
"Hahaha... tidak apa-apa." Zaeni meletakkan lagi ke atas meja. Lalu duduk dengan santai di sebelah Kunia. Wanita yang masih merasa tidak enak hati itu bergeser sedikit. "Hasilnya sudah keluar," kata dokter Zaeni Kemudian.
"Be– begitukah? Lalu, bagaimana hasilnya?"
"Cocok."
"Co– cocok?" Kunia kembali tegang.
"Iya, cocok. Aku bersyukur sekali."
Mendadak pucat lagi.
"Kita cek HB sama tekanan darahnya dulu ya?" Zaeni beranjak. Ia meraih alat tensimeter digital dan kembali melanjutkan pemeriksaan. Zaeni melirik sekilas lalu tersenyum, menertawakan Kunia yang diam saja melawan rasa takutnya. "Okay HB mu normal, dan tekanan darah mu mencapai seratus dua puluh ya?"
"Hah!! Aku biasanya darah rendah karena tidak pernah sampai ke angka seratus. Ini malah lebih."
"Hahaha, tidak apa. Ini masih normal kok," jawabnya sembari melepaskan perekat di lengan Kunia. "Bagaimana?"
"Heeeem?" Menoleh.
"Apakah Kau benar-benar yakin, ingin mendonorkan darahmu, untuk Adik ku?"
Kunia mengangguk pelan. "Aku yakin, walaupun aku nampak tegang sekalipun. Aku tidak akan pingsan, aku berjanji."
Zaeni meraih tangan Kunia. Membuat wanita itu terkejut, "terimakasih."
Kunia yang merasakan sedikit tidak nyaman pun menarik pelan tangannya sendiri.
__ADS_1
"I– iya Mas." Tersenyum aneh, lalu memalingkan wajahnya dari pandangan dokter Zaeni.
Ya ampun, tidak perlu memegangi tangan serta menatapku seperti ini. Kalau Devan lihat? Aku bisa di gantungnya. (Kunia)
Sebuah ketukan pintu terdengar, keduanya menoleh ke arah sumber suara.
"Ruangan sudah siap dokter."
Zaeni tersenyum tipis, lalu menoleh lagi ke arah Kunia. "Ikut saya, yuk. Aku akan mengambil darahmu."
Kunia mengangguk kaku, lalu perlahan beranjak. Bersamaan dengan Zaeni, mereka pun keluar dari sana ke tempat lain.
.
.
.
Beralih ke rumah sakit khusus kejiwaan.
Devan melamun memandang langit, ia menghela nafas panjang. Nampak sedikit frustasi saat ini, lantas berdiri. Ketika sang direktur utama di rumah sakit itu terdengar banyak mengoceh kesana-kemari.
Seperti tengah mengulur-ulur waktunya.
"Saya kesini tidak untuk mendengarkan pencapaian rumah sakit ini." Devan berdiri. "Andre, kita periksa sendiri saja. Tidak perlu menunggu lagi."
"Baik, Tuan." Sigap turut berdiri.
"Emmm... Tuan, tehnya baru saja tiba. Kita bisa memeriksa kamar itu nanti." Dirut di sana berjalan tergesa, mengimbangi langkah Devano yang sudah hampir sampai di pintu. Lalu membuka pintu tersebut tanpa mendengarkannya.
Ia mengusap keningnya yang berkeringat, buru-buru untuk membujuknya lagi masuk keruangannya. Namun Devan tetap tak menggubris, pria itu sudah berdiri di depan lift. Sementara Andre tengah menekan-nekan angkanya, menunggu lagi hingga pintu lift itu terbuka.
"Tu–Tuan?"
"Ada apa dengan ruangan VVIP utama itu?" Devan menoleh ke samping setelah mereka masuk dan lift itu menutup kembali.
"Tidak ada apa-apa... Tidak ada..."
"Kalau begitu kenapa kalian menghalangi kami?"
"Tuan, bukan bermaksud kami menghalangi Anda. Namun, ruangan di sana sedang di renovasi. Wajar jika kami khawatir... ketika Anda ingin memaksa masuk seperti ini. Kalau ada apa-apa, bagaimana?"
Devan kembali diam, tidak peduli. Menunggu lagi hingga pintu lift itu terbuka.
__ADS_1
Semuanya keluar, menyusuri koridor panjang hingga sampailah pada ujungnya. Salah satu kamar yang bisa di bilang paling istimewa.
Kaki Devan bergetar, ia bahkan langsung menghentikan langkahnya saat ini.