I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
kejutan besar


__ADS_3

Beberapa saat sebelum Devan senyum-senyum di dalam mobil...


Ia sempat berkirim pesan singkat di ruang meetingnya. Ia memikirkan sesuatu tentang apa yang di utarakan gadis itu saat membantunya memasang kancing baju. Tentang memberikan apresiasi untuknya di hari terakhir kerja.


Apa yang dia maksud dengan melakukan perayaan? (Devan)


Di ruangan itu, salah seorang tengah berdiri di depan. Mempresentasikan hasil kerja mereka dalam satu tim.


perayaan? Perayaan apa ya, yang perlu ku berikan. Selama ini aku tidak pernah berhubungan dengan seorang gadis. Tapi menurut cerita yang ku dengar, wanita kan suka shopping?


Devan mulai mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik sesuatu.


Devan: Petang nanti aku akan berkunjung ke rumah mu.


Tatapannya seolah tak lepas dari ponselnya. Dari sejak layar itu menyala hingga padam lagi cahayanya, belum ada balasan. Devan mendesah, ia kembali menekan tombolnya powernya.


Tiiiing...


Oh... akhirnya Dia membalas juga. –segera Devan membukanya.


Kuni: untuk apa?


Devan: Mengajak mu shopping.


Kuni: kenapa kau selalu mengajakku shopping, sih? Barang mahal yang kau belikan saja, hampir semuanya belum terpakai.


Devan: bukankah wanita menyukai shopping?


Kunia menyematkan moticon kucing menghela nafas. Lalu tulisan mengetik kembali terlihat.


Kunia: Kau pikir semua wanita menyukai shopping, emas dan berlian?


Devan menggaruk keningnya, sebelum membalas. Dalam pikirannya, wanita itu terlalu sulit untuk di cari tahu kesukaannya.


Devan: Berarti kau tidak begitu suka, jika ku ajak belanja?


Kuni: jelas iya... Walaupun sejatinya suka. Tapi tidak melulu harus belanja. Bagiku, hanya jajan martabak, siomay atau es boba saja itu sudah senang.


Devan yang masih di ruangan meeting mulai berfikir sejenak. Lalu tersenyum kemudian, ia tak lagi membalas pesan chatnya. Karena ia tahu apa yang hendak ia lakukan setelah ini.


–––


Meeting di beberapa tempat sudah selesai, ia pun menilik kearah jam tangannya.


"Hei, Andre? Kau bilang jam tujuh sudah selesai. Ini sudah lewat tahu," protes Devan.

__ADS_1


"Maaf Tuan. Karena pembahasan perancangan proyek kan memang harus mendetail," jawab Andre. –Apa sih anda ini Baru juga lewat sepuluh menit.


"Ya sudah, cepat kita cari beberapa jajanan. Aku akan membuat kawasan kaki Lima dirumah Kunia, terutama martabak itu." senyum-senyum sembari membuka pintu belakang dan masuk. Sementara Andre menghela nafas.


Sebenarnya pekerjaan ku itu apa? Wakil personalia, Sekertaris, atau asisten sih. Haaaah... (Andre)


Pria itu menggerutu dalam hati, namun dia tetap senang. Pasalnya semenjak ia di minta untuk mendampingi Devan di cabang Diamond's. Membuatnya merasa lebih baik.


Bagaimana tidak demikian, gaji yang di tawarkan Devan jauh lebih tinggi dari pada pekerjaan sebelumnya yang sama-sama menjabat sebagai wakil personalia di cabang yang lain.


***


Malam hari yang begitu indah...


Nampak seorang gadis yang baru saja pulang dari kantornya. Dengan pakaian yang lebih berkelas dari sebelum-sebelumnya, berkat Devan yang mendanai.


Okay, ia mungkin tidak ingin menyebutkan dirinya aji mumpung. Namun, jika sudah di berikan? Masa iya tidak di pakai. Begitulah caranya menghargai pemberian orang. Karena jika di tolak pun sayang, bukankah begitu Kunia? Mungkin dia akan menjawab iya. Hehehe


Dia sebenarnya tidak lembur hingga jam segini. Namun satu penyebabnya kenapa bisa pulang terlambat adalah, ketika Kuni harus melakukan perayaan kecil-kecilan dengan beberapa teman-teman satu tim, termasuk Bu Sarah di food truck milik Bu Asmia.


Sebagai tanda perpisahan, Dia harus bersedia mentraktir teman-temannya. Walaupun yang ia harapkan, perayaan itu ya, seperti mereka memberikan kado sebagai kenang-kenangan. Tapi– selayaknya ulang tahun di masa sekolah.


Ucapan selamat memang membanjiri, namun yang mereka tunggu bukanlah ingin memberikan kado padanya yang berulang tahun. Namun lebih ke menunggu, momen makan gratis yang akan mereka tagih secara paksa.


Benar-benar teman yang baik. (Kunia)


Karena memang, Rukun Tetangga di sana melakukan sistem kerja bakti rutin setiap minggunya.


Ada pula peraturan tertulis tentang sampah harus di buang pada tempatnya. Juga ada larangan ketat agar tidak membuang sampah di dalam selokan. Semua selokan pun di tutup rapat dengan beton tidak permanen. Yang apa bila hendak di bersihkan masih bisa di buka lagi.


Kembali pada seorang gadis yang sengaja berjalan santai, sembari membawa satu bungkus cimol pedas di tangannya.


Makan jajan sembari jalan kaki memang rasanya lain, berasa kembali ke masa kanak-kanak. Di tambah lagi dengan es teh dalam kemasan plastik.


Haaaaah... Hidup itu memang harus di nikmati seperti ini.


Kunia menusuk, tiga butir sekaligus cimolnya lalu memasukkan kedalam mulut, secara sekaligus.


"Enyaaaaaakkk..." Bersenang-senang Kunia menyusuri jalan gangnya. Tidak peduli beberapa ibu-ibu gang tengah bergosip sembari melirik ke arahnya. Karena memang? Bukan ibu-ibu namanya jika tidak melakukan itu.


Bergosip lah... kalian emak-emak... karena tanpa adanya kalian, dunia akan menjadi monokrom.


Tidak peduli, apapun yang sedang mereka bahas. Yang penting ia bahagia, karena untuk beberapa hari kedepan. Tidak akan ada titah Devan yang selalu membuatnya dongkol.


"Kunia–" panggil seorang gadis, membuat bunga-bunga yang tadinya berjatuhan secara slow motion tadi tiba-tiba jatuh dengan cepat seluruhnya. Begitu pula dengan aura yang berwarna pink bercampur putih, berubah menjadi hitam dan abu-abu. (Penggambaran perasaan Kunia saat ini)

__ADS_1


Suara yang tak ingin ku dengar. –kunia menoleh dengan malas ke belakang, sembari menghentikan langkahnya. Benar apa yang ia pikirkan, wanita yang tak ingin ia lihat malah justru menghampirinya dengan semangat.


"Kau baru pulang?" Tanya Reni, yang tanpa permisi langsung menggaet tangannya.


Masih saja Dia sok akrab dengan ku. (Kunia)


"Iya," jawabnya dengan malas, ia kembali melanjutkan langkahnya.


"Kenapa tidak pulang dengan bos mu?"


"Memang harus aku pulang setiap hari dengannya?"


"Tidak juga, tapi kan? Masa iya, dia membiarkan mu jalan kaki seperti ini? Katanya dia calon suamimu." Keduanya berjalan santai.


"Memang apa masalahnya?" Masih malas Kunia menanggapi. Bahkan ia pun masih berusaha untuk melepaskan tangan Reni.


"Tidak ada sih, hanya aneh saja. Jadi seperti bukan calon yang sesungguhnya."


Kunia mendengus. "Kau sendiri, sedang apa di sini? Bukannya kau bilang mau ke Singapura ya?"


"Emmmm...?" Reni terdiam sejenak. "Kau Tahu nenek Kasih, sakit-sakitan kan? Nah dia melarang kami untuk berlibur sementara waktu ini."


"Oh..." Kunia menghentikan langkahnya, melirik ke kiri dan kanan. Dan mendapati kantong belanja di tangan Reni. "Lalu? Apakah kau jalan ke minimarket sendirian? Mana suamimu?"


"I– itu, kau kan tahu, suami tengah merintis usaha. Jelas dia sedang sibuk di kantornya sendiri."


Lebih baik menjawab seperti itu, aku tidak mau Kunia tahu kalau aku tengah pergi dari rumah mertuaku yang menyebalkan itu. Dan kembali kerumah Mama, karena Anwar bangkrut sekarang. (Reni)


"Oh... Ya kah?"


"Ya, kenapa? Apakah kau tidak percaya? Kau harus tahu, bisnis suamiku itu sedang berkembang. Ia bahkan mulai membangun cabangnya di luar kota. Jadi ya, mungkin akan lebih sibuk setelah ini."


Kunia menatap miris, karena terakhir kali saat pergi dengan Devan ia melihat Kantor Anwar sudah tutup. Lalu terdapat tulisan di sita oleh bank. Belum lagi beberapa orang yang tengah berdemo, meminta uang yang mereka investasikan kembali.


Aku tahu posisi mu saat ini tengah tidak baik-baik saja. Tapi kau masih bertingkah sombong seperti ini.


Kunia bergumam dalam hati, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Membiarkan gadis itu berbicara omong kosong sampai puas.


Hingga sebuah keributan terdengar di belakang mereka. Suara bising mobil, serta klakson.


Namun yang paling membuatnya menoleh dengan cepat adalah bunyi pengeras suara.


~ Hei ... kunti berambut pendek di depan. Menepilah! Jangan menghalangi jalan kami. ~


Terjatuhlah dagunya seketika. Ketika melihat mobil mewah berhenti di belakangnya. Dan yang membuat ia lebih tercengang, tiga truk pembawa makanan berderet di belakang mobil mewah milik keluarga Atala.

__ADS_1


Dari sana ia paham, siapa pelaku keributan itu. setelah melihat Devan yang masih memegangi alat pengeras suara. Tengah tersenyum seringai di kursi samping kemudi, sembari menatapnya.


Si sinting ini, apa yang tengah ia lakukan....? (Kunia)


__ADS_2