I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
shopping


__ADS_3

Denting jam terus berputar. Melewati waktu, menanggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang karyawan. Kuni bukannya tidak sadar ia sudah melewati waktu lebih dari satu jam setelah janjinya tadi.


Namun saat dirinya memberitahukan kepada Sarah, dia malah menjawab dengan santai. –Bersenang-senanglah kau jangan mengkhawatirkan yang disini.


Ya, antara rasa tidak enak dan beruntung. Semua berkecamuk di dadanya. Rasanya tidak adil, dia hanya seorang pegawai yang sama seperti yang lainnya. Namun hanya karena hendak di nikahi Devan, ia menjadi wanita yang tidak profesional.


Ini bukan mau ku, karena ingin memanfaatkan situasi. Namun bos kalianlah yang seenaknya sendiri– Uummm maksudku, bos ku juga. (Kunia)


Mereka sudah mulai memasuki area departemen store. Sambutan hangat sudah di berikan pada manajer di sana. Mereka menganggukkan kepalanya sekali dengan sopan. Membuat Kunia sedikit tersanjung. Lagi-lagi mendapatkan perlakuan yang amat baik dari mereka. Semua berkat bocah sultan satu ini. –Ya...ya..ya Sebelumnya aku tak pernah mendapatkan perlakuan istimewa seperti ini.


Awalnya Kunia merasakan sedikit keraguan, saat tahu pria itu membawa masuk dirinya ke salah satu toko khusus brand ternama, dan terkenal mahal.


Tidak perlu di tanyakan bagaimana Tampang Anwar yang semakin pucat saat ini, ketika sang istri sudah memaksanya turut masuk juga ke dalam.


Di sisi Devan dan Kunia, selain Andre yang membuntuti di belakang mereka. Ada dua orang pegawai yang membantu membawakan pakaian yang cocok untuk Tuan muda dari keluarga Atala itu.


Devan memilih sejenak, lalu meraih beberapa pasang pakaian tanpa melihat bandrol harga yang tergantung. Mencocokannya pada Kunia kemudian.


"Coba pakai ini," titahnya yang langsung menyuruhnya masuk ke dalam ruangan ganti.


Reni yang tak mau kalah langsung meraih beberapa juga.


"Aku coba yang ini, ya?" ucapnya sembari menunjukkan lima setelan baju. Anwar sempat mengusap keringatnya, walau dia sedang berada pada ruangan ber-AC. Namun tetap terasa gerah.


"Sayang– kita bisa lihat-lihat saja kan? Ini Dior mode." Anwar berbisik.


"Memang kenapa kalau Dior? Pokoknya aku mau semua ini."


"Ren?" Tak bisa menahannya lagi, gadis itu sudah masuk ke dalam ruang ganti. Anwar pun lemas dan memilih untuk duduk saja.


Matanya lantas tertuju pada Devan yang masih memilih-milih tas, sembari mendengarkan ucapan sang manajer yang tengah menawarkan serta menjelaskan, barang-barang Edisi terbatas mereka.


Sial, kenapa di saat seperti ini. Reni harus menyamakan ku dengan calonnya Kunia. Rekening ku sudah kosong, aku pun bahkan sampai menjual mobil demi membayar limit kartu kredit ku.


Anwar menepuk keningnya. Dia benar-benar ingin kabur dari situasi ini, sebelum Reni membuatnya semakin malu karena tak bisa membayar tagihan belanjaan lagi.


Belum lagi kabar sang ayah yang sedang tidak baik. Bagaimana nasibnya kedepan, ia benar-benar seperti sedang berada di ujung jurang. Tinggal menunggu jatuh dan hancur.


Kuni kembali Keluar. Menggunakan salah satu busana anggun yang membuatnya nampak cantik. Sepasang mata Anwar memandangi mereka yang berdiri berhadapan.


*Dia lebih cantik sekarang. Bahkan, sikapnya lebih baik daripada Reni. Tabiat baiknya itu pun tak membuatku kesusahan, malah sebaliknya.


saat ini? Ia justru beruntung bisa bersama pria kaya seperti Devano. Sementara aku*?

__ADS_1


Benar-benar habis-habisan untuk Reni, yang bahkan belum juga memberikan hak ku sebagai seorang suami.


Anwar mengeluh dalam hatinya. Ia benar-benar sudah hilang cara untuk membuat Reni mengerti tentang kondisi keuangannya yang sekarang. atau mungkin muncul pula rasa menyesal dalam hatinya, setelah memilih Renita. ia menghela nafas.


Mungkin kantor ku yang satu lantai itu. Memang harus di jual. Lagi pula, aku sudah tidak punya karyawan sekarang. usaha kecilku benar-benar bangkrut (Anwar)


Kuni memperlihatkan penampilannya itu pada Devan. Pria itu menatap sembari tersenyum tipis.


"Okay, kita ambil yang ini. Sekarang coba yang lain."


"Ta–tapi... Apa ini tidak berlebihan?"


"Ini tidak berlebihan."


Kuni menarik lengan Dev, membawanya dua langkah menjauh lalu berbisik. "Hei– ini mahal kan?"


"Kau meragukan ku ya?"


"Bukan begitu, aku hanya bingung kenapa kau membelikan ini?"


Devan mendesah. "Nanti malam itu akan ada acara besar di rumah. Semua kolega dari keluarga Ku akan datang."


"Lalu?"


"Apa lagi? Aku mau mengenalkan mu pada mereka. Karena kita akan menikah bulan depan."


"Yaapp... aku sudah berdiskusi dengan ayah dan ibumu, dan mereka setuju."


heeeh... cepatnya dia mendiskusikan itu ke ayah dan ibu? (Kuni)


"I–itu, apa tidak terburu-buru?"


Devan tak menjawab, ia hanya menempelkan tas yang ia pegang. Terlihat sekilas bandrol yang bertuliskan harganya, mata Kunia mendelik.


"Ini untuk apa?"


"Itu cocok untuk mu, ambil saja. Dan aku akan memilih lagi." Devan membalik badan, melihat-lihat lagi.


Bisa-bisanya beli pakaian seharga puluhan juta, sudah seperti membeli kacang goreng. Bahkan tas ini? Rasanya seperti mau pingsan, saat membaca harganya.


Kuni memutar badan kembali menuju ruang ganti.


–––

__ADS_1


Devan dan Kuni hanya duduk di sebuah ruang tunggu, dan yang mengatur pembayaran adalah Andre.


Rampung dengan urusan pembayaran, Andre membawa sekitar enam paper bag besar berisi pakaian, tas, dan sepatu.


Ia mengangguk Sejenak pada Anwar dan Reni, dengan sopan. Setelah melenggang pergi menuju ruang tunggu menghampiri Tuannya.


Menyebalkan... Kunia harus dibelanjakan segitu banyak. –Reni menggerutu sembari meletakkan lima setelan pakaian yang sudah ia pilih, bersama dengan tasnya.


"Ada lagi Nona?" Tanya sang kasir.


"Iya itu saja." Matanya masih melirik sinis kearah ruangan khusus berdinding kaca. Terlihat Kunia benar-benar di perlakukan bak putri. Melihatnya tersenyum benar-benar membuatnya semakin kesal. Ia pun menghentakkan kakinya, karena rasa iri yang sudah hampir memuncak ke ubun-ubun.


ck...!! (Reni)


"Apakah pembayarannya mau pakai Debit?" Tanya kasir wanita tersebut. Anwar mendekati.


"Jika cash kira-kira berapa?"


Wanita itu melirik kearah layar monitor. "Totalnya Dua ratus delapan puluh lima juta, Tuan."


Anwar menjatuhkan dagunya. Boro-boro uang segitu, sementara di dalam dompetnya hanya ada lembaran senilai tiga ratus ribu rupiah.


"Be–be–berapa? Ham–hampir tiga ratus juta?"


"Iya Tuan. Ini sudah mendapatkan potongan senilai dua ratus ribu."


gleekkk....!


Potongan segitu untuk apa? Sama sekali tidak pengaruh.


Anwar lemas. Tangannya yang gemetaran mulai mengeluarkan dompet dan membukanya.


"I– ini... Pakai Kartu kredit saja." Masih gemetaran ia menyerahkan kartu kreditnya.


"Baiklah Tuan." Meraih kartu kredit tersebut, setelah itu mengembalikannya lagi. "Maaf, adakah kartu lain? Yang ini tidak bisa."


Anwar mengusap peluh di keningnya. Kembali mengeluarkan Platinum Card miliknya. Walaupun dia tahu, kartu itu kosong setelah di pakai untuk belanja Renita sebelumnya.


"Sama saja tidak bisa Tuan, saldo tidak mencukupi."


Reni menoleh, ia menarik sejenak lengan sang suami.


"kenapa tidak bisa di pakai? aku tidak mau tahu pakaian ini harus di bayar?"

__ADS_1


"A–aku benar-benar tidak ada uang, Ren. Bahkan hanya satu setelan saja, aku tidak mampu membayarnya."


"A...apa?" Renita nampak pias, saat mendengar pengakuan Anwar. Jika seperti ini, dia pasti akan semakin merasakan malu. Sudah mengambil beberapa barang lalu tidak bisa membayarnya.


__ADS_2