I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
seorang pendonor 2


__ADS_3

Zaeni membawanya cukup jauh dari pintu.


Berbelok sedikit, menyusuri koridor rumah sakit. Dan berhenti di depan ruangannya.


Melepaskan tangan Kunia sejenak, sebelum membuka pintu itu kemudian. Lantas, mempersilahkan wanita di hadapannya untuk masuk.


"Ini, ruangan siapa?" Tanya Kunia. Enggan untuk melangkahkan kakinya, masuk.


"Ruangan ku," jawabnya.


Kuni menoleh ke atas sedikit, menyadari kalau ada nama Dr. Zaeni di sana.


Ragu-ragu, ia belum berani masuk. Lantas kembali menatap Zaeni.


"Tujuan ku kesini, hanya ingin menjenguk Delia sebentar saja."


Zaeni tersenyum tipis. "Aku tahu... masuklah dulu, aku tidak ada niatan untuk macam-macam kok." Mempersilahkan lagi Kunia untuk masuk, dengan isyarat tangannya.


Pelan... wanita itu melangkahkan kakinya, masuk. Yang kemudian di susul Zaeni sembari menutup pintu itu.


Di dalam...


"Duduklah– mau minum apa?"


"Terimakasih, sebaiknya tidak usah. Aku tidak lama," jawab Kunia sembari menghempaskan bokongnya ke permukaan sofa. Zaeni pun tersenyum, ia turut duduk.


"Kau di sini, sudah lama?" Tanya Zaeni.


"Tidak... sekitar dua puluh menit, kurang lebihnya. Sebelum Anda datang tadi."


Zaeni manggut-manggut. "Bukankah tadi kau pergi dengan Devan?"


"Ya, ke rumah ibuku. Setelah itu Dia pergi lagi, karena ada pekerjaan. Dan aku pun juga langsung pergi kesini, setelah mendapat kabar bahwa Delia sakit," jawab Kunia.


"Sebelum itu, aku berterimakasih karena kau sudah peduli pada Delia. Namun, apakah Devan tahu jika kau kesini?"


Kunia menggeleng, pelan.


"Kalau Dia marah bagaimana?"


"Tidak akan sih sepertinya. Tapi tidak tahu juga..."


Pria itu tersenyum tipis, saat mendengar jawaban Kunia.


"ku pikir, mas Zaeni sudah tiba lebih dulu."


"Aku tadi ada urusan di sekolahnya Delia... makanya baru tiba."

__ADS_1


"Oh..." Manggut-manggut. Ia ingin bertanya perihal apa yang ia dengar, namun ragu.


"Ku pesankan teh saja ya," ucapnya hendak beranjak namun di tahan Kunia.


"Tidak usah... tidak perlu, mas. Aku tidak lama kok. Aku hanya ingin tahu saja kondisi Delia, rupanya separah itu. Kalau boleh tahu, bagaimana kronologis kejadian naas itu bisa menimpanya?"


"aku tidak tahu pastinya... yang kutahu, Dia mengalami kecelakaan tunggal di ruas tol, dalam kondisi mabuk."


"Mabuk?"


Zaeni mengangguk. "Jujur saja, aku menyayangkan sekali. Maklum lah, gadis itu tidak banyak mendapatkan perhatian dari Mamih ataupun ayah ku. sementara akhir-akhir ini aku mulai jarang di rumah."


Ya Tuhan, pantas saja anak itu nampak kasar sekali. Rupanya, Dia memang kesepian dan membutuhkan perhatian. Mungkin ini juga alasan Dokter Zaeni amat memperhatikan adiknya itu.


Sementara Devan? Pria itu tetap dingin, namun Dia juga gemar memberikan barang-barang manis. Ya... Intinya mereka punya cara masing-masing untuk memberikan perhatian pada adik mereka.


Kunia masih tercenung, mendengarkan ucapan Zaeni.


"Bagian depan mobilnya saja sampai ringsek. Hanya berharap pada mukjizat saja. Semoga Dia bisa siuman, kalaupun iya... Bisa jadi gadis itu akan lumpuh permanen."


"Ya Tuhan–" gumam Kunia prihatin.


Hening sejenak, ketika Zaeni tidak bisa melanjutkan ucapannya.


Selama ini ia sudah menyimpan luka, dan kecelakaan yang di alami adiknya adalah luka paling pedih dalam hidupnya.


"Maaf, aku terlalu banyak bercerita." Zaeni menghela nafas. Kunia pun mengangkat kedua tangannya sebatas dada.


"Tidak kok, aku malah justru prihatin. Jadi benar-benar ingin menjenguknya."


Jujur saja aku ingin membawamu, namun aku khawatir ayah akan menolaknya. Karena ia tak ingin siapapun memasuki ruangan ICU tersebut. –Zaeni membatin, dengan bibir tersungging lalu menunduk Kemudian.


"Mas?"


"Hemmm?"


"Ku dengar. Delia butuh donor darah?"


Pria itu mengangkat alisnya. "Tahu dari mana?"


"Maaf, hanya tidak sengaja mendengarnya. Dari Tuan Erik... saat di depan pintu tadi."


"Ya... Itu benar. Sekitar dua kantong minimalnya. Namun amat sulit mencari yang dapat di terima tubuhnya."


"Memangnya, golongan darah apa yang di butuhkan?"


"AB+... PMI tak memiliki stok, sekalinya ada pun tidak cocok."

__ADS_1


"AB+...?" Bergumam.


Sebenarnya, ia memiliki golongan darah yang sama. Namun, ia sendiri cukup takut dengan jarum suntik. Terakhir kali Dia sampai pingsan saat masih duduk di bangku sekolah menengah Atas. Di saat ada acara donor darah masal, saking takutnya.


Zaeni menatap wanita yang tengah termenung di dekatnya. Lalu berdeham.


"Kau tengah memikirkan apa?"


"Tidak ada–" terkesiap. Membuat Zaeni Tersenyum lagi.


"Bagaimana menikah dengan anak itu? Apa kau bahagia?" pertanyaan Zaeni membuat wanita itu mengerutkan keningnya. "Maksudku, Devan yang ku kenal masih seperti anak-anak. Emosional, dan tidak bisa bertutur kata lembut."


Kunia tertawa lebih lepas. "Ya memang seperti itu. Terkadang membuat ku stress... namun tak bisa di pungkiri. Kalau masih ada sisi manis, yang membuatku merasakan kebahagiaan saat didekatnya."


"Begitu ya?"


"Iya..." Kunia masih mengembangkan senyumnya. Tiba-tiba saja ia merindukan suaminya. Tingkah manja Devan saat sedang berduaan. Membuatnya merubah kesan buruk pria itu selama ini.


Wanita ini selalu membawa aura positif, dari tawa cerianya. Serta tutur kata yang selalu menggebu-gebu... Bisa dibilang? Devan beruntung, memiliki pasangan seperti Dia? (Zaeni)


Drrrrttt... Drrrrttt...


Telpon seluler milik Zaeni bergetar. Pria itu lantas mengeluarkannya, membaca sebentar nama yang tertera di layar.


"Tunggu sebentar ya?"


"Ya, mas..."


"Hallo, Ayah?" Zaeni beranjak, ia membawa langkahnya pelan menuju dinding kaca menatap keluar. "Aku sudah di rumah sakit, sebentar lagi aku ke sana?"


Kunia terdiam, menikmati suasana ruangan yang menurutnya nyaman. AC yang tak terlalu dingin, serta aroma dari pengharum ruangan yang segar. Membuatnya merasa rileks.


"Aku belum menemukan, pendonor darah untukmu Delia... iya aku tahu, Dr. Yang memeriksanya sudah memberitahukan kondisinya yang semakin menurun."


Kunia menoleh, lalu tertunduk lagi memandangi lengannya.


Aku amat takut jarum suntik Tapi jiwa kemanusiaan ku tidak bisa membiarkan kondisi gadis itu semakin memburuk.


"Baiklah..." Piiikk....


"Mas?" Panggil Kunia, membuat Zaeni menoleh.


Wanita dengan rambut sebawah bahunya itu sudah berdiri.


"A– aku... Aku?" Kunia tergagap, jujur saja ia takut sekali. Namun menggeleng cepat setelahnya. Sembari mengulurkan sedikit, satu tangannya. "Tolong periksa darahku. Kali saja cocok... Karena aku memiliki golongan darah yang sama. De– dengan Delia."


Termenung, tatapan Zaeni masih tertuju pada wanita yang nampak tegang. Tengah memaksakan untuk tersenyum saat ini.

__ADS_1


__ADS_2