I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
kepedihan hati, Delia.


__ADS_3

Delia melamun, Setelah beberapa hari siuman dari komanya.


Kondisinya juga sudah mulai stabil walaupun masih harus memakai alat-alat medis. Ada beberapa yang sudah dilepaskan, juga.


Gadis itu merasakan dunianya yang sedikit hampa dan tanpa gravitasi. Memandang kosong ke arah dinding kamar perawatan tersebut.


Sekertaris Erik keluar dari kamar mandi. Mendekatinya lalu menempelkan kecupan di keningnya, lembut.


"Sudah saatnya makan siang, ayo makan dulu–" Sekertaris Erik membuka penutup makanan di atas meja, menyendokkan sedikit bubur di atas mangkuk keramik. "Buka mulutmu, sayang."


Wajah Delia berpaling, menolaknya. Bibirnya terkatup rapat, ia tidak ingin makan apapun.


"Sayang, kau belum makan siang. Kau harus minum obat juga."


"Mamih– mana Mamih?" Lirihnya, membuat Erik menghela nafas.


"Tunggulah, Mamih pasti akan datang."


"Ini sudah hampir satu pekan semenjak aku siuman. Mana Mamih!!!"


"Delia?"


Gadis itu menutupi telinganya dengan kedua tangan. Tampang bengisnya menolak semua alasan yang akan di lontarkan sang ayah. Karena yang ia mau hanya Mamihnya...


Hanya itu.


Erik pun meletakkan sendok itu di dalam mangkok. Lalu meraih ponselnya, mencoba untuk menghubungi Liliana.


*S*etidaknya Kau harus menjawab telfonku Lili.


Tuuuuuuuuuuut.... Tuuuuuuuuuuut...


Erik beranjak ia sedikit menjauh, dari ranjang Delia.


"Ada apa? Aku sedang meeting. Telfon saja nanti," jawab Liliana dari sebrang.


"Tunggu– tunggu sebentar. Apa kau tidak bisa? Paling tidak menyapa anakmu. Walaupun via telepon..."


"Aku sudah sempat menyapanya kan, kemarin."


"Ayolah Lili, setidaknya kau beri dia semangat. Ku mohon–"


"Ck...! Ya sudah berikan telfonmu pada anak itu."


Erik tersenyum, ia berjalan lagi mendekati Delia.


"Ini Mamih, sayang." Menyerahkan telfonya. Wajah Delia berubah senang, ia meraih ponsel itu lalu menempelkannya ke telinga.


"Mamih?"


"Sayang, bagaimana kabar mu?"


"Delia tidak sehat... Mamih kan tahu, kondisi Delia."


"Tapi Kau sudah baik-baik saja, kan?"


"Tidak, sampai Mamih pulang. Mamih kapan pulangnya?"


"sayang, Mamih benar-benar sangat sibuk. Lebih-lebih ayahmu tidak mendampingi. Mamih jadi harus mengurus semuanya sendiri. Mengertilah ya... mungkin Mamih akan pulang bulan depan."


"Apa?" Tangan gadis itu terkepal kuat. "Kenapa tidak sekalian saja Mamih tidak pulang untuk selamanya? Mamih lebih betah dengan pekerjaan Mamih kan?"

__ADS_1


"Delia?"


"Mamih tidak peduli dengan ku, bahkan aku di sini saja Mamih tetap tidak bisa pulang? Di mana hati nurani Mamih. Jangan menyesal jika Mamih tidak bisa melihatku lagi!" Cecar Delia, kesal.


"CUKUP!! apakah kau sudah puas berbicara?" Hentak Liliana dari sebrang, hingga membuat Delia membeku. sebab, baru kali ini ia mendengar mamihnya membentak. "dengar ya, Mamih tidak ada waktu untuk meladeni rengekanmu. Kau sudah ada ayah, dan Zaeni juga. Jadi Mamih tidak perlu lagi untuk datang. Lagi pula, Mamih bekerja untuk kalian juga. Jadi tidak usah berlebihan hanya karena ini...!!!" PIK....


Delia menurunkan ponselnya, dengan bulir bening yang menetes dari kedua netranya.


"Apa yang Mamih katakan?" Tanya Erik khawatir. Namun Delia tak menjawabnya, selain menyerahkan ponsel itu pada ayahnya. Dan merebahkan kembali tubuhnya. "Putriku?"


"Delia mau tidur... Ayah bisa keluar sebentar kan?" Gadis itu memejamkan matanya. Hatinya benar-benar merasakan sakit, teringin ia memiringkan tubuhnya. Namun berat, sebab kedua kakinya yang yang sudah mati rasa tak bisa di gerakan.


***


Sinar senja menyoroti tubuhnya yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.


Delia mengerjapkan matanya, ia mencari-cari. Tidak ada orang di ruangan itu, selain dirinya.


Gadis itu pun duduk, menghalau pusingnya sejenak. Setelah itu menyibak selimut yang menutupi kedua kakinya.


Mencari sesuatu lagi... Kursi roda ada cukup jauh dari tempat tidurnya. Pandangan hampa itu hanya menggeleng pelan.


Aku tidak lumpuh, jadi aku tidak butuh alat sialan itu.


Ia mencoba menggerakkan kakinya. Menyeret paksa. Namun tetap tidak bisa.


"Brengsek!!! Ayo bergeraklah... Bergerak cepat. Aku harus ke toilet sekarang." Menepuk-nepuk kasar kedua kakinya, setelah itu mengangkatnya dengan kedua tangan satu persatu. "Aku bisa, aku pasti, bisa–"


Gadis itu nekat merosot turun dari ranjangnya, tanpa peduli selang infus masih terpasang di punggung tangannya.


Bruuuukkk.... klaaaaaanggg....


"Aaaaaaaaa...." Mengerang. Ia merasakan sakit saat bokongnya terhempas keras ke bawah, menghantam lantai keramik. Belum lagi tiang infus yang rubuh, serta selang yang tertarik. Hingga mengeluarkan darah dari jarum lunak yang hampir tercabut seluruhnya di punggung tangannya.


Air seninya yang tertahan sedari tadi keluar begitu saja. Hingga menggenang di lantai.


"Tidaaaak... Tidaakkk..." Menangis tersedu-sedu, meratapi semua ini.


Hingga dua orang perawat datang. Delia menoleh cepat.


"Nona–"


"KELUAAAAAAR!!! KELUAR DARI SINI...!!!" seru Delia, bengis.


namun mereka tetap menghampiri. menggeser pandangannya pada cairan kuning di lantai. Hal itulah yang membuat Delia semakin gusar.


"Apa yang kau lihat, hah!!! KU BILANG KELUAAAAAAR!!!"


"Nona, kami harus membantu Anda."


"TIDAK PERLU, KELUAR SAJA SANAAAAA... AKU TIDAK BUTUH BANTUAN KALIAN..."


diluar... Kunia yang baru tiba terpaku di depan pintu, mendengar teriakan Delia sembari melontarkan umpatan-umpatan kasar untuk dua perawat tersebut.


Ia pun masuk setelah mengetuk pintu dua kali.


Mereka yang di dalam menoleh, sama halnya dengan Delia yang semakin bengis mengusir Kunia juga yang sudah berdiri di bibir pintu.


"Kalian, keluar saja. Ini biar jadi urusan ku."


"Baik, Nona." Mereka mengangguk singkat lalu keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


Cepat, Kunia menutup pintu itu dan menguncinya. Setelah itu mendekati Delia. Melepaskan infus yang memang sudah terlepas, lalu menutupnya dengan plester milik perawat tadi, yang tertinggal di atas meja.


"APA YANG KAU LAKUKAN? AKU TIDAK BUTUH KAU DI SINI– AKU TIDAK MAU KAU ADA DI SINI."


Kunia menatap tajam si gadis remaja di hadapannya. Setelah itu memukul bahunya.


plaaaaaakkkkkkk.


"Aaaaaa..."


"Sakit?" Tanyanya dingin.


"Kau pikir, Hah!!!"


Plaaaakkk....


"Aaaaaaa... Dasar wanita jelek yang dungu!!!"


Plaaaaaakkkkkkk....


"KU BILANG SAKIT, BODOH!!!"


Tangan Kunia terangkat lagi. Hingga reflek mata Delia terpejam.


"Kau mau ku pukul lagi, lebih dari ini? atau ku siksa... Aku bisa melakukan apapun loh. Karena saat ini hanya ada kau dan aku."


Gleeekk... Delia ciut.


Kedua tangan Kunia menyusup masuk ke bagian ketiak. Lalu mencengkeram kuat dua lengan itu.


"Kau mau apa? Hei–"


"Memandikan mu, kau butuh mandi. Tubuh mu bau."


"Aku tidak mau, lepaskan aku... Aku bisa sendiri...! LEPAAAAAS...."


tidak peduli teriakan itu. Kunia tetap menyeretnya pelan. Hingga gadis itu masuk ke dalam bilik kamar mandi.


Dari dalam terdengar suaranya shower serta teriakan Delia yang tak henti-hentinya melontarkan kata-kata kasar pada wanita yang hanya diam saja. melecuti pakaian yang di gunakan gadis remaja itu.


"DASAR LANCANG...!! BERANINYA KAU, MELAKUKAN INI PADA KU..."


plaaaaaakkkkkkk...


"Aaaaaa...!!" Delia mengusap bahunya yang lebih pedih karena pukulan yang langsung menyentuh kulitnya.


"kenapa kau seperti ini, Hah!!!" Kunia menuangkan sabun di tubuh Delia. lalu mengusapnya. "kau pikir aku takut dengan segala ancaman, mu? kau tidak ada apa-apanya di bandingkan anak buaya peliharaan Devano!!"


"kau menyamakan ku dengan hewan peliharaan Kak Devan... dasar Wanita jelek!!"


Kunia mengangkat tangannya lagi. sigap tangan Delia menutupi bahunya itu.


"singkirkan tanganmu."


"Tidak mau, sakit–"


"kalau sakit ya sudah, tutup mulutmu dan menurut saja. aku akan menjadi pengasuh mu mulai sekarang."


"A–apa?"


"kau mau menolaknya, mau ku pukul lagi?"

__ADS_1


Delia menggeleng cepat. "jangan pukul lagi– sakit." rengeknya kemudian.


Kunia pun tersenyum, ia mulai melanjutkan pekerjaannya. memandikan Delia hingga bersih.


__ADS_2