
Di luar sebelum Devan membuka pintu mobilnya, ia berdiri lebih dulu. Menunggu Kunia yang tak kunjung keluar. Lantas menoleh kebelakang.
Mobil Zaeni masuk, dan berhenti tepat di belakangnya. Seorang pelayan, sigap membukakan pintu.
"Aku akan pergi lagi, biarkan mobil ku tetap di sini," katanya terburu-buru. Sang pelayan mengangguk.
Ada apa, tumben sekali dia tidak menyapa, dan nampaknya Dia seperti tengah terburu-buru.
Devan tercenung, terpancar aura kebingungan yang ia sematkan di garis wajahnya.
Kembali Devan fokus pada ponselnya, tidak peduli.
Kunia yang baru saja hendak keluar terdiam. Ketika berpapasan dengan Zaeni.
"Mas–" sapanya ramah. Zaeni pun tersenyum, dan melewatinya. Hingga seorang pelayan menghampirinya .
"Tuan, saya sudah membawakan pakaian untuk Tuan Erik."
Kunia urung melanjutkan langkahnya, saat mendengar itu.
"Masukkan saja langsung kedalam mobil," jawabnya. Ia berjalan cepat, setengah berlari menaiki anak tangga.
Sepertinya Dia buru-buru sekali. (Kunia)
Wanita itu bergegas menahan langkah kaki sang pelayan.
"Maaf, bolehkah saya bertanya?"
"Ya, Nona." Membungkuk sopan.
"Itu pakaian Tuan Erik...? Mau di bawa kemana?"
"Ke rumah sakit, Nona. Sebab, sudah sejak semalam Tuan berada di sana."
"Rumah sakit, apa Tuan tengah menderita sakit?"
"Bukan, Nona. Melainkan nona muda Delia yang sakit. Beliau di rawat secara intensif, akibat kecelakaan."
"Apa... kecelakaan? Kapan?"
"Kabarnya, kemarin malam. Saat Nona Kuni di bawa ke rumah sakit oleh Tuan Devano."
"Ya Tuhan." Kunia menutup mulutnya, merasa prihatin. Kenapa ia baru tahu hari ini?
Pantas saja semalam nampak sepi, begitu pikirnya.
"Permisi Nona, saya harus meletakkan tas ini ke mobil Tuan Zaeni." Membungkuk, sopan.
"Tunggu sebentar, apa kau tahu di mana Delia di rawat?"
"Kalau itu saya tidak tahu pastinya nona, mungkin di RS. Royalti. Tempat Tuan muda Zaeni menjabat sebagai direktur utamanya di sana," jawabnya lagi dan melenggang pergi, kemudian.
Kunia manggut-manggut. Setelahnya bergegas keluar dari rumah itu. Menghampiri Devano.
__ADS_1
–––
Di depan rumah...
"Lama sekali...?"
"Maaf, aku mencari-cari dulu ponselku tadi." Beralasan, namun Devan tetap percaya. Ia pun membukakan pintu untuk Kunia.
"Masuklah," titahnya.
Setelah Kunia masuk serta Dia juga, mobil pun kembali melaju.
Dalam perjalan, Kunia tercenung. Mungkin tidak ya? Dia memberitahu Dev, tentang kondisi Delia saat ini.
Namun jika di pikir-pikir, lebih baik nanti saja. Ia akan mencari tahu sendiri kondisi Delia, dan mencoba untuk mendatangi rumah sakit itu sendirian, setelah Devan mengantarnya.
***
Di rumah sakit...
Sekertaris Erik sama sekali tak melepaskan pandangannya, tangannya mengusap lembut tangan sang anak.
Sampai detik ini, belum ada tanda-tanda anak gadisnya akan terbangun. Dokter pun sudah memberitahukan, jika kondisi anak itu sudah semakin drop. Dia benar-benar butuh transfusi darah, saat itu.
Sudah melakukan segala cara, untuk mencari pendonor darah. Ada beberapa yang sama, namun saat di cek jenisnya? Rupanya tidak cocok.
Karena tipe dara Delia, bisa di sebut cukup langka
Ia menaruh harap pada Liliana.
Jikalau Delia tidak selamat, pun? Itu takdirnya. Toh, bukankah aku memang tidak pernah mengharapkan anak itu ada. Kau yang mau Delia tetap terlahir, kan? Bukan aku.
Ucapan Liliana kembali terngiang, itu pula yang membuatnya semakin gusar. Ia mengingat momen malam itu...
# Flashback is on..
Di London, Inggris.
Liliana membeku, memegangi alat tes kehamilan.
Tak puas dengan satu saja, ada sekitar dua puluh batang yang tergeletak di meja wastafelnya. Setelah berkali-kali memeriksanya demi meyakinkan dirinya jika Dia benaran hamil.
"Bedebah tidak berguna, itu...!!!" Geram, ia meraih semuanya. Lalu membawanya keluar.
Sekertaris Erik baru saja masuk ke dalam kamar mereka. Di mana ia langsung mendapatkan lemparan puluhan alat tes kehamilan di dadanya.
"Apa ini, maksudnya?"
"Kau masih tanya itu apa?"
Plaaaaaakkkkkkk....! Menampar keras wajah Sekertaris Erik.
"Apa salah ku?"
__ADS_1
"Brengsek!" Mencengkeram kuat, pakaian Erik. "katakan dengan jujur....! Apa kau tak memakai pengaman saat melakukannya terakhir dengan ku?"
Erik diam, memandangi wajah sang istri.
"JAWAB!!!"
"Iya–"
"APA KAU GILA!!!"
"Aku ingin punya anak lagi dari mu."
"Bedebah tidak berguna...!" Menampar lagi pipi Erik. "Sudah ku bilang, berhati-hatilah. Jangan kau buat aku hamil... Aku tidak mau punya anak lagi, semuanya akan berantakan jika orang tahu aku hamil. Kau mau semua orang meyakini rumor pernikahan kita!!!"
"Aku akan menyembunyikannya. Dan akan membinasakan orang yang berani menyebarkan berita buruk tentangmu seperti biasa..."
"BAGAIMANA CARANYA, BODOH!!! PERUTKU PASTI AKAN MEMBESAR!!" Menepuk-nepuk perutnya keras, membuat Erik menahan itu.
"Lili– jangan kau lakukan itu pada anak kita."
"Aku tidak peduli, aku ingin Dia mati saja. Aku tidak mau janin ini menghancurkan semuanya."
"Lili, lepaskan. Jangan lakukan itu."
"LEPASKAN AKU, BODOH!!! biarkan aku membunuhnya. Cepat carikan aku sesuatu yang bisa menggugurkan kandungan ini."
"Aku tidak akan mau melakukan itu... Ini benihku Lili. Jangan kau bunuh Dia." Erik memeluknya, erat. "Aku mencintaimu, itu kenapa aku ingin menambah anak lagi dari mu. Ikatan kita harus semakin kuat. Aku tidak mau kehilanganmu lagi."
"Lepaskan aku!!! Kau benar-benar tidak berguna, tidak punya otak! Mencintaiku bukan berarti harus menghamili-ku."
"Terserah kau mau mengecamku seperti apapun, karena aku tetap punya hak atas ini. Sebab kau isteriku."
"Isteri katamu? Hei– ingatlah lagi. Status ini hanya ada antara kau dan aku, dalam catatan negara? Kau bukan suamiku. Aku masih berstatus janda dari Tuan Harison. KAU HARUS INGAT ITU!!"
Erik diam saja, dia tidak peduli. Hanya terus berusaha meredam kemarahan Liliana malam itu.
# flashback is off
Sekertaris Erik menatap sendu ke wajah sang anak.
"Bukan perkara mudah, mempertahankan mu hingga terlahir ke dunia ini. Kau tidak boleh pergi meninggalkan ayah begitu saja..."
"Tunjukan pada ayah, bahwa kau sekuat saat dirimu berada di kandungan ibumu. Menahan semua obat serta ramuan untuk melunturkanmu. Kau kuat Delia... Kau pasti kuat, sampai ayah bisa menemukan pendonor darah untukmu." Sekertaris Erik mengecup tangan Delia.
Bersamaan dengan itu, Kunia yang akhirnya menemukan mereka terdiam. Di depan pintu yang sedikit terbuka.
Delia membutuhkan donor darah? –kuni tercenung.
"Kunia–" suara Zaeni membuat Kunia sedikit terperanjat, ia menoleh kearah laki-laki yang baru saja tiba.
Pria itu memang terlambat karena harus mengurus sesuatu dulu, sebelumnya. Itu sebabnya, Kunia sampai lebih dulu dari pada dia.
"Ma– Mas Zaeni?" Zaeni menutup pintu ruangan ICU khusus itu rapat. Setelah itu menggandeng Kunia, membawanya ketempat lain.
__ADS_1
bersambung...