
Selesai bebersih, Kunia segera menyantap hidangan makan paginya.
Dia menyantapnya sendiri, karena ibu dan ayah sudah selesai. Namun tetap di temani sang ibu di dekatnya.
"Makan lagi yang banyak," titah Beliau.
Seperti biasa, Bu Sukaesih akan memisahkan daging ikan dengan durinya. Lalu meletakkan di atas nasi milik Kunia.
Kunia lantas membuka mulutnya yang kosong itu. Di mana Bu Sukaesih langsung tersenyum sinis.
"Nih... Ambil ikan mu," ucapnya sembari menjejalkan langsung, daging yang besar itu ke dalam mulut anak semata wayangnya. "Enak?"
"Enak..."
"Ambil lagi ini."
"Mulutku masih penuh." Kunyah-kunyah cepat, telan. Lalu membukanya lagi. Yaaaammm. Daging tanpa duri itu sudah masuk kembali kedalam mulut Kunia.
"Uhukkk... Uhukkk..." Kunia menepuk-nepuk dadanya, di mana mulut itu masih terisi penuh. Sementara Bu Sukaesih langsung sigap menuangkan air ke dalam gelas.
"Minum ini." Menyodorkan langsung ke dekat mulut Kunia. Gadis itu meminumnya, setelah menelan makanan tersebut.
"Haaaaaa.... Makan dari tangan ibu memang enak."
"Enak? Apa lagi yang tinggal makan tanpa perlu mengolahnya ya?" cibirnya.
"Hahaha, ibu benar."
"Dasar–" Bu Sukaesih menoleh ke arah pintu, saat mendengar bel di depan pagar rumahnya berbunyi. "Siapa pula yang bertamu?"
Hendaknya Ia beranjak, namun seketika di tahan pak Gayus yang memintanya untuk di sana saja. Karena beliaulah yang akan membukakan pintu.
–––
Di luar...
Seorang kurir sudah berdiri di depan pagar. Segera pak Gayus membukanya.
"Benarkah ini rumah Bapak Gayus Ukan Tambunan?"
"Benar, saya sendiri."
"Ini ada kiriman Hadiah dari keluarga Atala."
"Oh," beliau melirik ke arah mobil. Ada banyak boks berwarna biru di dalam. Juga beberapa paper bag belanjaan.
"Yang mana ya? Barangnya?" Pak Gayus berfikir hanya satu atau dua.
"Semua yang ada di mobil ini milik keluarga bapak Gayus," jawabnya.
"Se–semua? Sebanyak ini?" Tanya Pak Gayus tak percaya.
"Iya benar pak. Ini surat dari sang pengirim. Atas nama Tuan Devano Atala."
"Ya ampun." Pak Gayus pun menerimanya langsung dan membacanya.
__ADS_1
Teruntuk keluarga Pak Gayus. maaf ini mungkin tidak banyak, dan belum bisa di sebut sebagai hantaran pernikahan. Hanya hadiah biasa untuk kalian.
*Semoga Ayah dan ibu suka. Dan apabila ada yang kurang, katakan saja. Ayah bisa menghubungi ku kapanpun.
Tertanda Devano Atala*.
"Astaga– sebanyak ini, dia bilang hadiah kecil? Haduh." Gumamnya sembari geleng-geleng kepala.
"Ini mau di bawa masuk sekarang, Pak."
"Silahkan." Pak Gayus membuka pagarnya lebih lebar lagi. Membiarkan dua kurir itu membawa masuk semua hadiah yang jumlahnya bahkan sampai memenuhi kursi depan, belakang juga bagasi.
–––
Di ruangan tamu yang penuh dengan hadiah. Kunia mematung heran, sementara sang ibu tengah membuka beberapa hadiah yang menurutnya mencolok, terlihat dari logo besar sebuah brand ternama di paper bagnya.
Tak heran, seperti apa yang di ucapkan Devan.
Sebelum pulang kemarin malam. Pria itu mencoba untuk berbicara lagi pada kedua orang tua Kunia, bahwa pernikahan akan benar-benar di gelar tanpa perlu orang tuanya mendatangi mereka.
Beberapa hadiah pun sudah di siapkan untuk keluarga itu, sebagai salah satu tanda keseriusannya menikahi Kunia. Itu yang ia ingat, dari semua ucapan Devano semalam.
Dan pagi ini Gadis itu mematung. Memandangi semua hadiah yang membuatnya merasa semakin tidak yakin.
Bahkan, sangat ingin Dia mengembalikannya.
"Haduh... Semua tas ini, harganya tidak murah. Puluhan bahkan ratusan juta, mungkin. Kalau ibu menggunakan ini, apakah ibu tidak jadi incaran para jambret?" Bu Sukaesih bingung sendiri.
"Kita kembalikan saja, Bu. Aku pun tidak mau menerima hadiah sebanyak ini."
Kunia mengangguk.
"Hei– kau ini bagaimana, masa di kembalikan?"
"Ya mau bagaimana lagi. Kita tidak bisa menerima semua ini. Ibu tidak menyadari, tidak ada satupun keluaganya yang mendatangi kita? Apakah mereka benar-benar setuju Devan menikah dengan ku?"
"Ayah setuju dengan pemikiran, Kunia." Sambung sang ayah, menyetujui.
"Ya– iya sih, tapi kok tetap sayang, ya?"
"Ibu, jangan seperti ini. Kunia saja masih takut untuk menerima Devan. Keluarga Devan tidak ada satupun yang menemui ku untuk membicarakan ini, walaupun hanya mengirim pesan. Itu yang membuat ku masih merasa khawatir."
"Haaaahh..." Bu Sukaesih beranjak, lalu duduk di Sofa. "Ya sudah lah. Jangan dulu di sentuh. Tunggu saja dia mengkonfirmasi." Tuturnya kemudian, Kunia pun mengiyakan.
Ya, aku memang amat khawatir. Lebih-lebih dengan sikap ibunya Devan.
*Walaupun pernah sekali mereka berbicara. Namun setelah tahu pekerjaan ayah. Tidak ada lagi kata yang keluar dari mulut ibunya sampai aku pulang.
Termasuk acara kolega tempo hari, sama sekali tidak ada yang mengajakku bicara. Terkecuali cibiran berupa hinaan dari adiknya atau mungkin sapaan ramah dari Mas Zaeni*.
Kunia tiba-tiba teringat malam itu, malam di mana Devan mendeklarasikan niatnya untuk menikahi dirinya waktu itu.
Kala itu, semua bertepuk tangan. Namun ada beberapa orang yang saling berbisik, dengan pandangan aneh.
Namun yang membuatnya merasa terkesan adalah, sikap ramah dokter Zaeni.
__ADS_1
masa bodoh dengan orang-orang itu.
Benar, pesona kalem serta baiknya pria itu membuatnya merasa tidak begitu asing, di sana.
Ahh... Kenapa aku jadi mengingat dokter baik hati itu? Ngomong-ngomong dia itu dokter hewan kan? Tapi kenapa dia punya gelar Dokter spesialis penyakit dalam? Entahlah untuk apa aku berfikir tentangnya...
Kunia mendadak merinding, saat melihat kesalnya Devan yang tidak suka melihatnya amat akrab dengan Zaeni. satu lagi ancamannya.
Jangan coba-coba kau dekat dengannya. Jika kau masih ingin aku memperlakukan mu dengan baik. Harus selalu kau ingat, dan kau tanam baik-baik dalam otak mu itu, bahwa aku tidak suka pengkhianatan...! (Devano)
Haaaaah... Ya, ya... terserah pria itu lah. Memangnya siapa yang akan mengkhianatinya? Mungkin bisa jadi dia sendiri, setelah bosan dengan ku.
.
.
.
Di taman pemakaman khusus keluarga Atala...
Bu Asmia, meletakkan bunga sedap malam di kedua makam yang berbeda. Beliau membalik badannya, berjalan beberapa langkah lalu kembali memutar tubuhnya memandangi kedua makam itu dari jarak yang lumayan jauh, dengan nanar.
"Semoga, Tuan dan Nyonya hidup dengan tenang di sana. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan Tuan muda. Karena Tuhan pasti akan melindunginya. Juga mengirimkan malaikat baik, yang akan menemani sisa hidupnya di sini."
Matanya mulai berkaca-kaca. Bagaimana tidak, nyonya Karlina adalah wanita baik hati yang tak pernah memandang sesiapapun dari status sosialnya. Walaupun ia terlahir dari keluarga terpandang juga.
Sementara Liliana yang ia dengar adalah anak perempuan yang terlahir dari seorang dokter yang meninggal karena kecelakaan.
Liliana kecil di rawat oleh orang tua dari Karlina, jarak usia yang tak terlampau jauh hanya dua tahun membuat mereka menjadi akrab.
Mereka juga di sekolahkan, di sekolah yang sama. Yaitu yayasan milik keluarga Atala. Di sana pula takdir mempertemukan antara Karlina dan Tuan Harison.
Pria yang baru saja mendapatkan gelar sarjananya di Colombia university, tengah mengadakan seminar di sekolah itu.
Sementara Karlina sendiri, menjadi satu-satunya murid yang paling banyak melontarkan pertanyaan.
Ya... Mungkin dari sanalah, Harison mulai tertarik pada gadis cerdas yang selalu bisa membalikkan setiap jawabnya. bahkan sampai dia sendiri tidak bisa lagi menjawab pertanyaan yang terlalu mendetail itu.
Beberapa tahun, setelah pertemuan antar keluarga keduanya akhirnya menikah. saat itu Karlina masih duduk di bangku kuliah.
Walaupun gadis itu tetap melanjutkan kuliahnya di LA. Dan baru memiliki momongan di usia lima tahun pernikahan mereka. Namun siapa di sangka, kematian Karlina seolah merenggut separuh dari kehidupan Tuan Harison.
Beliau yang tegar di depan Devano, sebenarnya diam-diam mengkonsumsi obat anti depresi. Karena tidak bisa menahan segala lukanya, kala itu.
Asmia paham betul, beberapa kali pria itu mencoba bunuh diri. Karena tidak satu, dua kali beliau memergoki. Namun selalu gagal ketika mengingat adanya Devano, juga ibu yang masih membutuhkannya.
Walau di ujung, ia tetap kalah. Kematian tetap merenggutnya akibat seorang wanita iblis yang tamak akan harta di rumah itu.
Harapanku?
semoga saja, aku di pertemukan dengan Tuan muda.
Asmia mengusap air matanya, lalu memutar tubuhnya. Beliau berjalan pelan keluar hingga ke area parkiran. Lantas masuk ke dalam mobil, dan pergi.
Bertepatan dengan itu, mobil sports milik Devan tiba. Pria yang berada di dalam mobil itu menoleh sejenak kebelakang, setelah menghentikan mobilnya. Ia yakin mobil itu baru saja diri tempat pemakaman ini. masih memandangi body mobil yang sudah mulai menghilang dari pandangan. Ia pun mengangkat kedua bahunya, setelah itu melanjutkan perjalanan masuk kedalam gerbang utama, Tamam makam tersebut.
__ADS_1