I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
hati yang mulai goyah


__ADS_3

Kau selalu mendapatkan apapun yang kau mau. Namun apa balasan yang ku dapatkan, sama sekali tak setimpal dengan segala resiko yang ku hadapi.


Sekertaris Erik merenung cukup lama, hingga genggaman cincin itu mengendur. Ia melepaskannya.


"Aku tak menemukan cincin itu." Erik mengatakannya dengan sengaja, melihat reaksi Liliana.


Hingga senyum manis itu berubah pasi, sorot matanya pun berubah.


"Kau bercanda?"


"Tidak. Dikamar Devan, aku tak menemukan apapun."


Liliana terkekeh, ia geleng-geleng kepala.


"Kau pasti bercanda, sudah sini serahkan padaku. Aku tidak melihat cincin itu melingkar di jari Devano. Dia pun tidak membawa tas selain dompetnya."


Erik masih diam saja, berdiri tanpa ekspresi. Selain pandangan yang terus menjurus pada wanita paruh baya yang masih nampak cantik dengan kesempurnaan bentuk tubuh yang ia miliki.


"Erik?"


"Aku sudah mengatakan yang sesungguhnya. Sudah ku cari ke tempat-tempat yang memungkinkan untuknya menyimpan. Tetap tidak ku temukan."


Greeeppp...!!


Liliana mencengkeram kedua kerah disisi kanan dan kiri milik Erik.


"Katakan dengan jujur!!" Memandang bengis. "Mana– cincin– itu!!"


"Kenapa tidak kau coba cari sendiri?" Tanyanya santai.


"Jangan bermain-main dengan ku ya, kau tidak sebodoh itu kan?? Tidak mungkin kau tidak menemukannya!!"

__ADS_1


Hening sejenak...


"Kenapa kau selalu seperti ini?" Erik menggenggam kedua tangan Liliana, lalu melepaskannya, pelan. "Sudah banyak yang kau dapatkan dari hasil kerja ku yang baik, selama ini. Apakah hanya karena satu kesalahan, kau tidak bisa menerimanya? Dimana kata-kata itu, yang bilang kau mencintaiku? Apakah hanya berlaku, ketika aku berhasil melakukan apapun yang kau suruh?"


Deg...!


Liliana mengendur, ia melangkah mundur sekali. Lalu tersenyum, dan terkekeh.


"Maafkan aku... Aku hanya terlalu senang saat tahu cincin itu adalah stempel emasnya. Makanya agak sedikit merasa kecewa saat kau bilang tidak menemukannya," memandang sendu kemudian. "Maafkan aku sayang–"


Semakin kesini, aku semakin paham caramu bermain. Air wajah yang mudah berkamuflase.


Dihadapan khalayak kau seperti malaikat cantik yang lembut. Namun di belakang? Kau layaknya iblis betina.


Sekertaris Erik tak bergeming, sepertinya ia mulai lelah mengikuti aturan main yang di buat oleh Liliana. Janji pernikahan memang sudah di tepati, namun tak seperti selayaknya pasangan suami-isteri. Dia tetap seperti ajudan yang bekerja pada bosnya.


"Kita cari lagi... Ku mohon," mengusap dada pria diharapkan dengan lembut. Memunculkan gesture menggoda.


Sekertaris Erik masih memandanginya lalu mengangguk, pelan. Hingga sebuah dering ponsel membuatnya menghela nafas.


"Hallo–" sapanya setelah mengeluarkan ponselnya lalu menekan tombol terima.


Traaaakk.... Ponsel itu terjatuh begitu saja. Membuat Liliana terkejut sekaligus bingung.


"Ada apa?"


"De– Delia."


"Kenapa dengan Delia?"


Mata sekertaris Erik bergerak-gerak. Tubuhnya tiba-tiba menjadi oleng, membuatnya membungkuk menjadikan meja di dekatnya sebagai tumpuan kedua tangannya.

__ADS_1


"Erik?"


"Delia mengalami kecelakaan di jalan tol. Mobilnya ringsek karena dia mengemudi dalam keadaan mabuk," lemas, ia benar-benar belum mengetahui kondisinya saat ini. Di cengkeramnya kemudian pergelangan tangan Liliana. "Ayo kita ke rumah sakit. Kita lihat kondisi putri kita."


"Aku?"


"Iya... Kau ibunya, 'kan? Ayo..."


Liliana melepaskan tangannya. "Tidak!! Kau tahu, setiap penerimaan raport atau pertemuan apapun, aku selalu membayar orang lain untuk menjadi ibunya? Orang hanya tahu aku cuma punya satu anak, Devano."


"Lili kau masih memikirkan itu? Ini keadaan genting, kalau terjadi apa-apa dengan putri kita bagaimana?"


"Kenapa kau harus se-khawatir ini? perintahkan saja orang lain, untuk memeriksa kondisinya. Yang terpenting saat ini adalah stempel emasnya... Kita harus menemukan itu. Sebelum Devano dan istrinya pulang."


Mendengar jawaban itu, Erik geleng-geleng kepala.


"Sepenting itukah harta bagimu? Lalu bagaimana dengan Delia? Kalau dia tidak selamat, bagaimana?" Mata Erik sudah mengembun, batinnya begitu sesak. Namun ia masih menahannya.


"Jelas itu amatlah penting dan berarti untuk ku, yang sudah berjuang selama ini. Jikalau Delia tidak selamat, pun? Itu takdirnya. Toh, bukankah aku tidak pernah mengharapkan anak itu ada. Kau yang mau Delia tetap terlahir, 'kan? Bukan aku."


BRAAAAAKKK....!!! praaaaang....


Liliana terkejut bukan kepalang, sekertaris Erik menggebrak meja kerjanya dengan keras. Menimbulkan guncangan kuat, hingga beberapa barang bahkan papan bertuliskan nama Liliana, yang ia pesan secara khusus itu jatuh dan pecah.


"Apa yang kau lakukan? Kau menghancurkannya."


Sekertaris Erik tak menjawab sembari menatap tajam selama beberapa detik. Hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan itu tanpa sepatah katapun. Ia memilih untuk bergegas menuju rumah sakit sendirian, tempat Delia di rawat.


Liliana mendesah, ia memijat keningnya. Tangannya yang gemetaran menandakan bahwa ia sudah benar-benar menahan emosinya sedari tadi.


Wanita paruh baya itu duduk lunglai, menjadikan kedua sikunya sebagai tumpuan tangan yang bertaut menopang dagunya, menatap lurus kedepan.

__ADS_1


"Kalau saja kau sudah tidak ku butuhkan? Aku bisa dengan mudah membinasakan mu, Erik!" Gusar.


__ADS_2