
Beberapa hari berlalu...
Sudah semakin dekat pula Kunia dengan habis masa kontrak kerjanya. Ia pun mulai merasa nyaman dengan hewan yang sejatinya memang sudah jinak.
Setelah selesai menyisir bulu kucing Alaska. Ia pun kembali memasukkan hewan tersebut ke kandangnya. Lalu beranjak, dan membersihkan helaian bulu yang rontok dan menempel di bajunya.
Kini semua sudah selesai. Dan sepertinya sang personalia semakin sibuk saja dengan pekerjaannya, sehingga ia mulai semakin jarang di kantor.
setidaknya perlakuan tengilnya itu, agak mulai jarang nampak. Apalagi segala titahnya yang bikin emosi itu. Hihihi
Kuni bergumam sendiri, dalam hati. Merasa bebas, dan lepas, dari segala beban yang di limpahkan di pundaknya oleh sang bos. Sembari senyum-senyum sendiri, ia pun meraih tasnya dan memakainya.
~ Dasar Boneka chucky, yang aneh ~
"Eh... Siapa di situ?" Kuni menoleh ke kiri dan kanan. Depan belakang, setelah menghentikan kekehanya.
~ Kau mencari apa, bodoh! ~
Suara itu? Haiiiih... sesaat aku lupa kalau di sini ada alat canggih lainnya. –Kuni memajukan bibir bagian bawahnya, lalu menoleh kearah sudut ruangan di bagian atas dekat plafond.
Ya, suara itu berasal dari salah satu speaker pemantau di sudut yang terdapat CCTV. Membuat Kunia sedikit terperanjat tadi, walaupun Dia tahu bahwasanya kamera pengawas itu mampu mengeluarkan suara dari jarak jauh melalui ponsel Devano. Tapi suara Devan yang tiba-tiba muncul selalu sukses membuatnya terkejut.
~ Haaah, wajah jelek mu itu semakin jelas terlihat. hahaha ~
"Tertawa saja sana– tertawa sepuas mu. Dasar menyebalkan," runtuknya.
~ emmm... kau sudah mau pulang? ~
Menghela nafas. "Ya– aku sudah selesai."
Ngomong-ngomong aku jadi seperti orang gila, berteriak di ruangan ini sendirian sembari menatap kamera pengawas. (Kuni)
~ Bagus, besok jangan lupa berangkat lebih pagi lagi. ~
"Untuk apa?"
~ Apalagi? Kau itu punya pekerjaan tambahan. ~
"Pekerjaan tambahan apa lagi? Sepertinya kau semakin giat menyiksa ku, apakah karena ini pekan terakhir ku di kantor."
Heeeeh... Dasar tidak jelas. (Kunia)
~ Intinya datang saja lebih pagi. Ingat ya, tak kurang dari jam lima Kau harus sudah di sini. ~
"Apa? Hei zionis!! Jangan mengada-ada ya, dari rumah kesini saja membutuhkan waktu satu jam. Pukul tujuh pagi saja aku sudah sangat terburu-buru. Ini pukul lima? Kau mau aku melakukan patroli di kantor ini kah, karena menyuruh ku datang sepagi itu."
~ Disini bosnya aku apa kau? Jangan banyak tingkah selayaknya senior Kunti ya? Kau itu bawahan ku sekarang. ~
Lagi-lagi mengandalkan jabatannya itu. Benar-benar memuakkan! (Kunia)
~ intinya berangkat saja, aku tidak mau tahu! ~
__ADS_1
"Devan!!" Kuni menutup mulutnya seketika.
~ Ahaaa!! kau panggil namaku, di kantor!! ~
Kunia menggeleng, ia lantas memukul mulutnya sekali.
"Tuan– ya, tadi aku mengatakan itu di belakang dengan nada yang amat lirih, makanya tak terdengar."
~ Alasan klise. Besok terima hukuman mu. Awas kau ya...! ~
Sial... Hukuman apa setelahnya? jangan kau suruh aku kuras aquarium di lobby lagi, menggunakan gelas bekas air minum kemasan. Please, jangan. –kunia berharap dalam hati. Ia pun membungkuk berkali-kali.
"Maafkan saya Tuan... Tidak lagi-lagi saya melakukan itu."
Di sebrang...
Devan masih berada di dalam mobil yang melaju.
Ia sedikit tersenyum, melihat tingkahnya yang masih membungkuk untuk yang terakhir kali lalu berpamitan pergi, keluar dari ruangan itu. Memang benar, ia amat jarang ke kantor saat ini. Namun jangan salah, walaupun jarang. Pria itu tetap memantaunya menggunakan CCTV
Ia pun memikirkan sesuatu, dengan tab yang masih berada di pangkuannya. Sembari mengusap-usap dagunya.
Hukuman apa untuknya ya? Yang sulit, yang akan membuatnya frustasi.
Terkekeh jahat pria itu, sembari terus memikirkan hal apa yang pas untuk memberikan hukuman padanya.
.
.
.
"Wah, kau habis kena hardik seseorang ya? Sampai berdarah seperti ini." Kunia nampak iba, ia pun membawa anjing itu ke suatu tempat.
"Tak jauh dari sini, ada klinik hewan jika tidak salah." Kuni menoleh, ke arah kiri. Ia pun kembali melangkah, mencari tempat tersebut.
Setelah cukup jauh, bibirnya tersenyum. Iapun segera masuk ke dalam klinik hewan tersebut, mengunjungi sang dokter hewan. Mendaftar sejenak, karena hanya ada dua pasien termasuk dirinya, membuat gadis itu tak perlu menunggu lama.
Kaiiing... Kaiiing.... Suara anjing itu seperti merintih, ketika di ajak masuk keruangan praktek, oleh Kunia.
"Selamat sore dokter–"
"Sore–" Zaeni mengangkat kepalanya, mereka pun sedikit tertegun.
"Anda?" Bersamaan mengatakan itu, lalu terkekeh Kemudian.
"Astaga, bukankah kau Mbak yang meninggalkan tab di gerbong MRT?"
Kunia tersenyum, lalu mengangguk.
Ya ampun, aku bertemu pria baik hati ini lagi. sudah gitu, Dia dokter? Wah... (Kunia)
__ADS_1
"Ya ampun, penampilan anda lain. Membuat saya hampir tidak mengenali."
"Dokter bisa saja." Kuni tersipu.
"Mari silahkan masuk.
"Ya–"
"Eh sebentar... Itu kan, anak anjing milik saya."
"Loh?" Kunia bingung.
"Sebentar, biar ku cek." Zaeni mendekati, lalu melihat kalung yang bertuliskan Olvie. "Ya ampun, bagaimana ini bisa bersama Anda?"
"Hanya tidak sengaja, menemukannya di trotoar. Ia terluka–"
"Begitu ya?" Ia mengambil alih, menggendong anak anjing tersebut. "kapan kau keluar?" gumam beliau sebelum bmemeriksanya. Memberikan penanganan cepat, setelah itu membiarkannya beristirahat di kandang khusus.
"Haaaah...." Zaeni menoleh kearah Kuni yang masih di sana. "Maaf ya, sejenak saya jadi melupakan Anda."
"Ohooo... Tidak masalah. Hehehe, kalau begitu saya permisi dokter."
"Tunggu– apakah anda luang saat ini?"
"Eh–"
"Maaf, hanya ucapan terimakasih. Jadi, saya mau mentraktir Anda, ke kafe dekat sini."
Kuni masih terdiam, ragu-ragu.
"Minum kopi, itu saja."
Gadis itu tersenyum. "Baiklah–"
Jawaban Kuni membuat Zaeni tersenyum.
"Mari–" ajaknya kemudian. Mereka pun berjalan bersama menyusuri jalan trotoar, setelahnya masuk ke salah satu kafe. Yang bersamaan dengan itu, lewatlah mobil Devan. Pria itu menoleh cepat.
"Stop... Stop..." Titah Devan secara tiba-tiba. Membuat Andre sedikit terkejut, dan secepatnya menginjak pedal rem. "Sial... Kenapa dia bisa bersama bedebah itu?"
tanpa pikir panjang lagi, Devan segera membuka pintu mobilnya.
"Tuan mau kemana?" Andre bingung.
"Bukan urusanmu. Kau kembali saja ke kantor...!"
"Eh, tapi meeting setelannya bagaimana?"
"Urus itu nanti..." Braaaaakkk, Devan membanting pintunya lalu melenggang pergi menghampiri kafe tempat Zaeni dan Kunia masuk, tadi.
Bersambung...
__ADS_1