I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
kejutan besar 2


__ADS_3

Kunia masih mematung, sementara itu beberapa orang sudah berkerumun.


Bahkan yang berada di dalam rumah pun keluar tanpa terkecuali. Menyaksikan sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


Truk mewah yang hanya mereka lihat dalam drama ataupun di kawasan kuliner elite. Belum lagi mobil yang menjadi pemimpinnya.


Kunia menoleh ke sekeliling. Bahkan yang berdiri di balkon lantai dua pun tak luput dari pandangannya.


"Astaga...!!" Kunia melepaskan tangan Renita yang masih mematung, dengan mulut terbuka. Bahkan belanjaannya pun terjatuh dari genggaman tanpa ia sadari.


Braaaaakkk...


Devan keluar dari mobilnya.


Pria yang masih menggunakan jas rapi itu menyambut gadis yang tengah berjalan cepat, dengan mimik wajah geram seperti biasa.


"Apa yang sedang kau lakukan, Hah!!"


"Surprise–" jawabnya santai.


"Apa katamu?" Kunia benar-benar ingin memukuli pria di hadapannya. Jika tidak ingat kalau dia adalah seorang anak konglomerat.


"Ya, kejutan untuk mu. Sebagai apresiasi hari terakhirmu bekerja di Diamond's. Ini kan yang kau inginkan? Jajan? Aku bawa semua, sesuai apa yang kau sebutkan dalam pesan chat." Devan menujuk ke arah mobil-mobil besar di belakang.


Gila... Dia benar-benar tidak waras. Bolehkah aku memukulinya sekarang? Tanganku benar-benar gatal.


Kunia menepuk keningnya sendiri, lalu mengusap wajahnya. mendadak ia menjadi lemas akibat hal yang tak pernah ia bayangkan bisa di lakukan pria itu.


Bagaimana bisa dia hanya berkata jajan bisa membuatnya senang. Lalu dia memborong semua makanan itu dan membawa ke komplek tempat tinggalnya.


Tin... Tin... Tin... Suara motor dan mobil yang tidak bisa lewat di belakang membuat Kunia tersadar.


Ia pun menarik lengan Devan, membawanya ke samping cukup jauh.


"Kau lihat apa yang kau lakukan? Kau membuat macet gang ini. Astaga!!" Kunia menelungkupkan kedua tangannya, meminta maaf pada mereka yang terus saja membunyikan klakson.


"Oh... aku tak memikirkan itu sebelumnya," Devan menjawab dengan santai. "Kita langsung saja jalan ke rumah mu. Aku berniat membuat kawasan kaki lima di depan rumah mu."


"A–apa?"


Bocah tengil ini ya. Bisa-bisanya berpikir hal seperti ini. Untuk apa coba? Apakah dia pikir gang tempat tinggal ku itu amat luas?


"Kau pikir kawasan tempat ku tinggal, seluas apa, hah?! Hisssshhh....!!" Kunia menghentakkan kakinya. Merasa bingung sendiri.


Karena tidak mungkin tiga truk itu di sini terus. Mundur pun juga tidak bisa. Gadis itu semakin kelabakan. Dan akibat dari keributan itu lantas mengundang ketua RT bahkan RW setempat.


Mereka berdiskusi sejenak, sementara Andre lah yang menjadi juru bicara Tuannya itu.


Hingga timbul kesepakatan, ketika mereka mendapatkan izin memakai lapangan voli di gang mereka untuk membangun tenda-tenda makanan. Yang sudah di siapkan oleh Devano juga.

__ADS_1


Dan semuanya sepakat, belum lagi antusias warga yang merasa senang ketika mendapati adanya pesta kuliner gratis di sana. Hal itu bahkan sampai mengundang warga dari gang lain, yang turut datang ke sana.


Akibatnya, lapangan voli jadi penuh sesak dengan beberapa warga yang mulai berebut meminta makanan.


"Kau lihat hasil dari perbuatan mu ini kan?" Bisik Kunia merasa sebal.


Berbeda dengan Devan yang malah justru tertawa puas, tanpa dosa.


"Aku pikir ini menyenangkan, dan aku akan melakukannya lagi."


"apa katamu?"


"ya... aku akan membuat yang seperti ini lagi. Bahkan, aku akan memesan lebih banyak makanan. Sebagai perayaan pernikahan Kita. Bagaimana, apakah ibu setuju?"


Bu Sukaesih yang berada di sana menepuk tangannya sekali. merasa amat bahagia.


"Memang menantu terbaikku. Hahaha..." Bu Sukaesih seperti mendapatkan cara balas dendam terpedih. Terlihat dari caranya menjawab, sembari menatap Bu Pujiastuti yang sedang duduk juga di meja panjang yang sama, dengan mimik wajah tidak suka.


Puasnya aku mendapati tatapan kekalahan dari si janda genit itu. (Bu Sukaesih)


"Ayo semuanya, makan apa saja yang ada. Calon menantu ku inilah, yang mentraktir kalian. Hahaha."


semua yang di sana bertepuk tangan sembari bersorak-sorai bahagia.


Apa-apaan ibu ini...!!!


–––


Acara makan-makan mereka sudah selesai.


Ketua RT dan bahkan RW setempat mengucapkan banyak terimakasih. Karena baru kali ini ada pesta rakyat dadakan di kawasan mereka.


"Jadi, benar kalian mau menikah?"


Devan menoleh, lalu merangkul gadis itu cukup kencang. "Benar, tidak lama lagi. Pernikahan kami akan di gelar."


"Waaah... Selamat kalau begitu untuk kalian."


"Terimakasih pak, kalau begitu kami permisi dulu. Hendak ke rumah." Ucap Devan, dengan sopan.


"Oh... Silahkan," jawab mereka sembari terkekeh. Devan pun membungkuk sekaligus menarik kepala Kunia agar turut membungkuk juga bersamanya.


Bocah sialan...!! Leher ku sakit tahu...!! Batin Kunia yang semakin gusar.


Hingga mereka pun berjalan lebih dulu. Menuju rumah Kunia yang tidak jauh dari sana.


Dalam perjalanan Devan menghela nafas panjang, dengan bibir tersungging.


Kunia melirik sebal. "Kau senang, hah!!"

__ADS_1


"Yuppp... Sangat," jawabnya.


"Cih...!"


"Aku baru tahu kehidupan kalian si rakyat jelata, seperti ini..."


Sungguh mulutnya ya? (Kunia)


"Rasanya seperti lebih hidup. Ketika bisa menikmati kehangatan warga. Mereka benar-benar akur."


Itu bukan akur, bodoh. Itu rusuh namanya. Kau tidak lihat apa? Banyak anak-anak nangis akibat terhimpit tubuh orang-orang dewasa? Dasar!!! (Kunia)


Devan menoleh, sembari menghentikan langkahnya. Lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Nampak dasi yang di pasang Kunia tadi pagi masih utuh. Hanya sedikit lebih berantakan saja.


"Tangkap ini–" Devan melemparkannya. Sementara Kunia yang gelagapan langsung menangkapnya.


"Apa ini?"


"Buka saja, kau kan bisa membukanya sendiri."


Kunia melirik sinis, lalu perlahan mulai membukanya. Seketika itu pula mulutnya turut terbuka lebar.


"Apa? Kau terpesona hanya karena kalung murahan itu?"


Murahan katanya? Bisa-bisanya dia menyerahkan ini dengan cara di lempar. (Kunia)


"Sini biar ku pasangkan. Kau itu bodoh soalnya."


Terserah apa katamu lah... Gadis itu sudah pasrah saja, saat Devan membuka pengaitnya. Lalu memasangkan kalung berlian yang amat cantik di lingkar lehernya.


Dari kejauhan, Reni melihat itu dengan ibunya.


"Hiiiiss.... Aku benci melihatnya. Kenapa harus Kunia sih?" Renita menghentak kakinya. sementara sang ibu hanya mengusap lembut bahunya dengan tatapan tak kalah sinis.


Kembali pada Devan yang tersenyum memandangi kalung itu sudah terpasang sempurna di leher gadisnya. Ya– itu pengakuan di dalam hatinya.


"Kau semakin jelek memakainya ya, Mbak Kunti."


Kunia mendengus. "Kalau jelek kenapa di pasangkan. Lepas saja kalau begitu."


"Hei...!!! Berani kau lepaskan, lihat saja nanti ya? Bukan kalung yang akan melingkari leher mu, melainkan rantai kapal. Kau mau!!"


"Haaaah..." Kunia tidak peduli, ia pun berjalan lebih dulu. Namun segera di susul Devano. Yang lantas berjalan di sebelahnya, pria itu sedikit gugup ia ingin menggandeng tangan wanita di sebelahnya namun ragu.


Terlihat dari tangannya yang bergerak pelan, lalu naik menggaruk kepalanya sendiri.


Bedebah, jangan dulu... Jangan dulu bodoh...!!Ckckckck. (Umpat Devano pada dirinya sendiri.)


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2