
Di dalam toilet...
Devan mendapati kekacauan yang ia lakukan tadi sore sudah tak nampak. Sepertinya Kunia memanggil pelayan untuk membersihkan saat Dia tidur.
Lantai yang sudah bersih, serta kaca yang sudah di ganti. Seolah tidak habis terjadi apa-apa, sebelumnya.
Masih di pintu toilet, Ia mengangkat tangannya. Memandangi balut luka yang di pasang Kunia tadi, membuatnya tersenyum.
Mengecupnya sejenak, setelah itu berjalan masuk sembari menutup pintunya.
Ia membuka atasannya, lalu memandangi dirinya yang hanya menggunakan celana training di depan cermin.
Devan tersenyum, ia menyalakan air di wastafel. Membasuh muka beberapa kali setelah itu memandangi wajahnya.
"Memang bukan sebuah waktu yang tepat, untuk melakukan hubungan ini sekarang. Namun... semoga dengan ini, Dia paham. Kalau aku mencintainya, dan aku mau dia terus bersama ku."
Keran air masih menyala, ia meraih sikat dan pasta giginya. Devan menghela nafas.
"Mendadak gugup begini?" Ia terkekeh sendiri, setelah mengeluarkan pasta giginya dan mulai menyikatnya hingga bersih.
Tak lupa cairan mouthwash. Selesai dengan membersihkan gigi dan mulut. Ia mencoba mencium nafasnya sendiri.
"Okay... Sudah segar." Ia menyentuh dagunya, "aman... Tidak ada rambut di rahangku. Apa lagi ya?"
Devan mengendus aroma tubuhnya...
"Tidak ada aroma tak mengenakan. Aman juga."
Meskipun begitu dia tetap meraih deodorant spray. Menyemprotkan ke ketiak.
"Benar, tidak bau badan kan? Aaaaa... Kenapa aku jadi berlebihan seperti ini?"
Ia menata rambutnya sedikit dengan tangan.
Semua serangkaian treatment sudah di lakukan. Hanya tinggal keluar saja, menemui sang istri.
Masih di ruang ganti, Devan sudah mengganti pakaiannya. Menggunakan celana tidur panjang, serta kaos putih polos yang melekat di tubuhnya. Ia kembali terdiam di depan pintu, kembali mengecek bau mulutnya serta badannya.
"Aman–" mengatur nafasnya beberapa kali, untuk membuang gugupnya. "Okay!! Kau pasti bisa."
Pintu pun di buka, Devan keluar dengan tubuh yang lebih segar.
Ia berjalan santai menghampiri ranjang itu, namun seketika terdiam. Saat melihat Kunia sudah tidur dengan posisi terlentang, satu kakinya berada di atas bantal guling, dan kedua tangannya terangkat di atas kepalanya.
Devan mendesah, sembari berkacak pinggang...
Apa-apaan itu? Dia tidur?
Devan mendekatinya, menyentuh lengan Kunia.
"Hei...!!"
"Zzzzzzt... Zzzzzzt..."
"Cih... Benarkah kau tidur? Kunia!!!" Menepuk lengan itu. Kunia masih tak bergerak. Devan berkacak pinggang, merasa konyol.
Setelah persiapan yang ia lakukan, demi memanjakan sang isteri rupanya malah sudah di tinggal tidur. Devan pun duduk di sisi Kunia, membelakangi wanita itu.
Sementara yang sedang tidur itu mengintip sedikit dengan satu matanya.
Dev... jangan sekarang, tidur saja sana... Aku belum siap. (Kuni)
Devan menoleh ke belakang, dimana mata Kunia segera tertutup lagi.
__ADS_1
Namun posisi menutupnya itu di pergoki oleh Devan. Membuatnya tersenyum sinis.
"Kau benar-benar tidur ya, Mbak Kunti? Aku kan sudah bilang kalau aku akan bebersih, dan kau di larang tidur..!" Devan mencolek tangan itu, Kunia sama sekali tidak bergerak.
Devan pun mengusap-usap dagunya.
"Baiklah, tidak peduli kau tidur atau tidak. Aku akan membuka paksa semua yang membalut tubuhmu itu."
A... apa katanya? Apa Dia sudah gila?
Kunia semakin panik, namun Dia masih berusaha diam.
"Baiklah, dari mana dulu ya?" Devan menyentuh pipi itu, tangannya berjalan turun hingga ke bagian kancing dadanya.
Astaga!! (Kuni)
"Nah... Yang paling mudah dulu saja. Kau tidur terlentang seperti ini. Sudah suatu tanda, jika kau membebaskan aku untuk melakukan apapun... Baik, aku akan mencabik-cabik dari bagian sini dulu."
Gleekkk... Dia tidak serius kan?
"Lihatlah, apa yang akan Ku lakukan..." Devan hendak melepaskan kancing itu, namun tangan Kunia langsung menahannya. Ia membuka mata, lalu menggeleng.
"Jangan–"
"Kenapa jangan?"
"Ya jangan... Ku bilang jangan ya jangan..."
"Aku tidak peduli, kau kan isteri ku." Devan menepis tangan Kunia.
"Ku bilang jangan...!" Kunia merubah cepat posisi tidurnya, menjadi miring. Kedua tangannya menutupi area dadanya kuat.
"Hei–"
"Tidurlah, tidur saja sana."
"I... itu."
Devan mendekati telinga Kunia. "Aku itu pria normal, tidak mungkin mampu menahan diri dari hasrat bercinta. Terlebih ada wanita tidur di sebelah ku setiap malam.."
Gleeeekkk...
"Ka... kau bilang tidak akan menyentuhku, 'kan?"
"Iya jika belum ada keyakinan."
"Lalu, kenapa kau tiba-tiba minta i... itu? Hah!"
Devano tersenyum, "ku bilang jika belum ada keyakinan kan, kalau aku mau sekarang itu artinya apa?"
"Emmm... Emmm...?" Kunia tidak bisa berpikir, ketika hembusan nafas Devan sudah mengenai telinganya.
"Aku mau... Berarti aku sudah yakin."
"Ta... tapi. Kenapa mendadak? Aku... Aku kan jadi, aaaa..."
Ya Tuhan, Dia mencium ceruk leher ku. (Kunia)
reflek menjauh dan beranjak, merubah posisinya menjadi, duduk.
"kenapa kau menjauh?"
"Jangan sentuh aku dulu, beri aku waktu. Untuk ke toilet..."
__ADS_1
"Baiklah, sepuluh menit."
"Te... terlalu cepat itu."
Devano menghela nafas. "Baiklah, pakailah waktumu itu. Namun jangan lama-lama, kalau tidak mau pintu kamar mandi itu ku dobrak."
Kunia mengangguk cepat, dan segera bergegas turun dari ranjangnya. Ia pun berjalan cepat menuju toilet, untuk menenangkan hatinya sejenak.
Devan tersenyum, ia benar-benar gemas melihat tampangnya yang gugup itu.
–––
Di dalam kamar mandi, Kunia mondar-mandir. Ia bingung sendiri, belum siap sebenarnya untuk melakukan itu.
Namun, kata ibu? Akan sangat berdosa jika seorang isteri menolak ajakan suaminya untuk berhubungan badan.
Kunia menggaruk kasar kepalanya...
"Ck...! Dia bocah. Tapi tetap saja Dia laki-laki normal. benar katanya, kami sudah tidur satu kamar, dan satu ranjang pula selama beberapa hari. Jelas saja kan? Mau bukan tipenya sekali pun, aku wanita sementara Dia laki-laki. Tidak mungkin tidak ada hasrat baginya?"
Kunia berjongkok lunglai... "Tapi aku belum siap untuk melakukannya. Hiks...! Bagaimana ini?"
Ia pun kembali beranjak, menatap dirinya ke cermin untuk beberapa saat. Setelahnya rambut yang sudah melebihi bahu ia ikat sejenak.
Keran air pun di nyalakan. "Semoga bukan hal buruk yang akan menyertai kami."
Kunia menengadah ke air yang masih mengalir, lalu membasuh wajahnya. Ia mulai membersihkan sedikit dirinya. Sebelum akhirnya keluar menghampiri Devano yang masih duduk di atas ranjang itu sembari memandangi ponselnya.
Kunia keluar dengan sedikit merias diri...
Bibir Devan tersungging saat melihatnya, sembari mematikan layar ponselnya. Lalu meletakkannya di atas meja, menunggunya berjalan malu-malu menghampiri.
Berdiri di hadapan, sang suami. berjarak setengah meter.
"Kau tidak bercanda kan? Kita masih bisa memikirkan ini."
Devan tak menjawab ia hanya menarik tangan Kuni. Membawanya hingga terjatuh kepangkuannya. Devan melingkari pinggangnya, memeluk dari belakang.
"Tidak akan menjadi sebuah penyesalan..." Mengecup punggung Kunia, membuat matanya terpejam. "Aku mau, Karena aku yakin."
Tangan Devan mulai menyentuh kancing baju paling atas di dada Kunia.
Wanita itu tak menjawabnya, ia masih merasa kecupan lembut Devan di punggungnya.
"Bagaimana dengan dirimu? Mau, 'kan… melakukan ini dengan ku?"
Kunia menoleh, terdiam sejenak ketika mata mereka saling bertemu. Lalu mengangguk pelan.
"Aku mau, karena aku mempercayaimu."
Devan tersenyum, ia lantas merubah posisi mereka.
Menanggalkan apa yang melekat di tubuh bagian atasnya. Setelah itu menyentuh pipi Kunia.
"Aku mencintaimu, Mbak Kunti." ucapnya, bernada lembut.
"aku tak hanya butuh ungkapan. karena itu amat mudah untuk di ucapkan," sorot matanya memandang dengan gugup kepada Devano.
"aku pun tak ingin menjanjikan apapun, yang pasti hanya berusaha untuk membahagiakan mu."
Kunia tersenyum "pegang janji mu."
"hemmm... akan ku usahakan." Menurunkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dengan lembut.
__ADS_1
Jarum jam sudah mulai lewat dari angka dua dini hari.
Tak menyurutkan kehangatan malam pertama mereka. Yang berjalan lebih indah dari apa yang keduanya bayangkan, walaupun cukup telat. Namun tetap memberikan kesan cinta yang amat dalam.